
Apa Istri Saya bersalah Pak?” Sambung Pak Didit yang ikutan bergemetar. Dia pun takut untuk di bawa ke kantor Polisi.
“Sebenarnya tidak ada hukum yang dilanggar di sini. Lebih baik sebelum bertindak Ibu bisa pikirkan dahulu sebab dan akibat dari sebuah tindakan itu agar tidak repot seperti ini. Lain kali jika ada hal yang berhubungan dengan Pak Alex dan orang banyak, baiknya Bapak dan Ibu didampingi pihak kepolisian. Karena keramaian ini tentu menganggu warga sekitar, semenjak kejadian ini, sejak pagi telepon ke kantor Kami terus berbunyi dari warga sekitar. Ada yang mengeluh macet dan lain sebagainya. Mereka semua merasa terganggu dari keramaian ini.” Terang Komandan yang berkumis tebal itu.
“Begini saja Pak, bisakah Bapak membantu Kami untuk mengamankan orang-orang itu. Sisakan saja dua belas orang yang resmi mendaftar.” Ujar Pak Didit sambil menempelkan kedua telapak tangannya menjadi satu seakan memohon.
“Bapak tenang saja, memang tugas Kami untuk menertibkan masyarakat.” Sahut Pak Komandan. Lekas ke tiga Polisi itu keluar dari rumah Pak Didit sedangkan Bu Tanjung dan Pak Didit mengikuti dari belakang para Pak Polisi itu.
Ada rasa lega dalam hati Pak Didit, apalagi Bu Tanjung, hampir saja Dia kencing di celana tadi sangking takutnya. Bu Tanjung pun mengelus-ngelus dada sekarang, “Alhamdulillah terima kasih ya Allah Aku Engkau selamatkan.” Ucap syukur Bu tanjung dalam hati.
Tinggal selangkah lagi Komandan itu untuk keluar dari rumah Pak Didit, Dia menghentikan jalannya. Sontak lima orang di belakangnya ikut menghentikan langkah. Komandan itu menoleh ke belakang memandangi Bu Tanjung, seketika jantung Bu Tanjung berdebar-debar.
“Ada apa Pak?” Tanya salah seorang anak buahnya.
“Beritahukan kepada Bu RT itu untuk menyiapkan nama-nama daftar dari dua belas orang itu.” Perintah Komandan kepada bawahannya.
“SIAP PAK!” Jawab Bu Tanjung sigap. Nah loh? Yang ditanya siapa yang jawab siapa? Lagian itu Pak Komandan kenapa ngomong ke bawahan padahal orangnya yang disebut ada di situ dan mendengar pembicaraan itu. Pak Komandan berkumis tebal ini ada-ada saja.
Tanpa basa-basi Bu Tanjung berlari masuk ke dalam, sedangkan yang lain melanjutkan langkah keluar rumah.
Komandan dan dua orang bawahannya berdiri di pinggir jalan depan rumah Pak Didit. Tak lupa di sana ada Pak Didit dan Bu tanjung yang sedang berdiri pula.
“Rumah Alex yang mana sih?” Ujar salah satu perempuan dari keramaian itu. Perempuan itu memakai kemeja berwarna biru dongker dengan celana dasar Panjang berwarna hitam.
__ADS_1
“Yang itu! Masa lu engga tau sih!” Jawab salah seorang di samping perempuan tadi. Perempuan ini memakai longdress semata kaki berwarna cokelat dengan jilbab berwarna senada.
“Loh kok lu tau?” Sahut perempuan yang berbaju biru dongker tadi.
“Ya tau lah, lu engga follow Bu Tanjug ya?” Jawab salah seorang perempuan yang lain lagi. perempuan ini mengenakan rok hitam selutut dan kemeja pujih lengan Panjang.
“Engga sih.” Jawab perempuan berbaju dongker.
“Lah elu tau info lowongan ini dari mana?” tanya perempuan berbaju kemeja putih kepada perempuan berbaju biru dongker itu.
“Dari forward pesan di Wa, temenku yang ngasih info.” Jawab perempuan berbaju dongker.
“Lumayan rame juga yang daftar ya.” Sahut perempuan berbaju cokelat.
Sementara itu, Komandan menoleh ke arah samping dan melambaikan tangan memberi kode kepada bawahannya untuk mendekatinya. Salah seorang dari bawahannya itu berlari-lari kecil mendekatinya.
“Iya ada apa Komandan?” Tanya Polisi itu. Dia Polisi muda berwajah manis bernama Angga Saputra.
“Angga siapkan pengeras suara, dan berikan kepada Saya.” Perintah Pak Komandan kepada Angga.
“Siap Pak!” Jawab tegas dari Angga. Kemudian Dia berlari ke arah mobil Polisi yang terparkir jauh dari rumah Pak Didit. Dia berlari melewati ratusan orang yang tengah berkumpul di satu jalan blok rumah Alex. Kendaraan yang terdiri dari roda empat dan dua terparkir di pinggiran jalan perumahan itu menyebabkan kemacetan. Bahkan mobil dinas yang dari ke tiga Polisi itu tidak bisa mendekat dan parkir tepat di depan rumah Pak RT.
Tak lama Angga datang dengan membawa pengeras suara bermodel Toa.
__ADS_1
“Permisi Pak, ini pengeras suaranya.” Ujar Angga dengan memberikan pengeras suara yang biasa digunakan di genteng masjid itu.
Nginggg….. suara storing dari pengeras suara terdengar. Keramaian itu yang didominasi oleh perempuan langsung menoleh ke arah suara Toa berasal.
“Perhatian semuanya, himbauan ini Kami sampaikan kepada siapapun yang sedang berada di area Blok rumahnya Pak Alex. Himbauan ini tidak ditujukan kepada masyarakat setempat atau penghuni dari perumahan ini. Himbauan ini dikhususkan bagi siapa saja yang ingin bertemu ataupun mendaftarkan diri untuk bekerja dengan Pak Alex.” Pak Komandan berbicara menggunakan Toa yang diberikan Angga tadi.
Gemaan suara itu didengar oleh semua orang yang ada bahkan terdengar hingga rumah-rumah warga sekitar. Alex yang tengah mengintip di jendela rumahnya pun jelas mendengar suara itu bersama dengan ke tiga anaknya.
“Ayah kenapa ada Pak Polisi?” Tanya Indra yang mencoba mencerna kejadian apa yang terjadi di depan rumahnya.
“Ayah juga tidak tahu nak, mungkin karena orang-orang yang banyak itu.” Sahut Alex kepada Indra. “Kita tunggu saja sebentar lagi, sepertinya Pak Didit sudah mengurusi hal ini.” Tambah Alex. Andra dan Indra diam sambil menyimak dan ikut mengintip di balik gorden rumah.
Hendra mengangkat kedua tangan seraya berkata Ayah tolong gendong Aku namun Alex tidak menyadari tingkah Anak bungsunya itu. Hendra pun menarik-narik ujung baju Alex hingga Alex melihat ke bawah dan mata Alex tertuju pada Hendra.
“Ayah endonggg.” Hendra berkata dengan kurang jelas tetapi dipahami oleh Alex. Hendra sudah bisa berbicara namun belum begitu jelas. Segera Alex menggendong Hendra dan kembali memperhatikan ke arah luar rumahnya.
“Untuk siapa pun yang Saya sebutkna namanya tolong berpindah dan berdiri di halaman rumah ini.” Komandan itu melanjutkan berteriak di Toa yang dipegangnya sambil menunjuk ke halaman tempat Pak Didit dan Bu Tanjung berdiri.
“Atas nama Marni Sus, Tiara Andari, Anabelle, Tukiyem, Paijah, Susanti, Alexandra, Puji Astuti, Tuti Miranda, Ariana, Kaila Embara, Lailatul. Bagi nama-nama yang Saya sebutkan tadi harap segera ke tempat ini.” Kembali Komandan itu menunjuk halaman rumah Pak Didit.
Satu persatu orang yang disebutkan tadi berlari dan segera mereka berdiri di halaman Pak Didit. Bu Tanjung sigap dengan mengatur para calon Babysitter Alex.
“Di sini Ibu-ibu, Emba-emba, Nona-nona.” Bu Tanjung berteriak sambil menunjuk tanah tempatnya berdiri. Para pelamar pekerjaan itu menurut kepada Bu Tanjung dan segera mengisi tempat yang ditunjuk tadi.
__ADS_1
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam …. Dua belas. Siap sudah cukup Pak.” Teriak Bu Tanjung sembari memandang ke arah Komandan.