Duren Kampus

Duren Kampus
Lama tidak jumpa


__ADS_3

Tok… tok… tok… “Assalamualaikum.” Salam Alex yang sudah menunggu di teras rumah Bu Tuti. “Walaikumsalam.” Gemaan suara Aisyah terdengar dari dalam. Aisyah membuka pintu dan tersenyum. Dia sudah mulai terbiasa dengan kedatangan Alex.


“Alex, Hendra tertidur. Apa seharusnya menunggu Dia bangun dulu baru Kamu jemput?” Kata Aisyah lembut. Wajah putih, hidung mancung, alis tebal, bibir merah muda dan lesung pipih di kedua pipinya membuat Alex bungkam.


“Alex?” Tegur Aisyah lagi. “Ahh iya, tadi Kamu bilang apa?” Alex tersadar dari lamunannya kala memandangi perempuan soleha itu. “Hendra masih tidur, jadi tetep mau bawa pulang ya?” Tanya Aisyah. “Oh seperti itu, biarkan saja. Satu jam lagi Saya akan ke sini lagi.” Terang Alex.


Alex pun permisi dan pulang. Sesampainya di rumah Dia mendapati rumahnya masih rapi. Hari ini Andra dan Indra pulang lebih lama karena ada les yang harus mereka hadiri. Duda itu langsung masuk ke kamarnya dan terbaring. Dia meletakkan tas punggung miliknya tepat di samping kasurnya kemudian Alex terlelap.


Dingdong! Suara bel rumah membangunkan Alex. Duda keren itu bergegas untuk mencuci muknya dan membuka pintu. “Hai Alex..” Sapa Abipraya. “Hai juga Abi, lama tidak jumpa.” Sahut Alex.


Abipraya masuk ke dalam saat Alex berbalik badan. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. “Iya akhir-akhir Aku sibuk dengan perusahaanku jadi jarang kemari.” Jawab Abipraya sembari melipat kaki saat duduk. Tangannya memanjang menyusuri sudut sofa, Dia sedang duduk santai di sofa lembut itu.


“Oh ya, kalau begitu berarti bagus. Karena dengan begitu usahamu pasti sedang lancar. Selamat!” Kata Alex yang juga ikutan duduk. “Oh ya, mau minum apa Kamu?” Tanya Alex.


“Tidak usah repot Alex, jika haus Aku akan mengambilnya sendiri. Seperti Aku ini orang lain saja.” Terang Abipraya. “Ehh.. sepertinya ada yang kurang di rumah ini. Kemana perginya Anak-anakmu Alex?” Tanya Abipraya heran. Biasanya saat ke rumah Alex selalu saja ada yang berlarian kesana kemari di depannya saat mengobrol dengan sahabatnya itu.


“Andra dan Indra pergi les bahasa inggris sedangkan Hendra di sebelah rumah Bu Tuti.” Jelas Alex tersenyum. “Eits ada apa dibalik senyum itu Alex? Apa Kau menyukai Bu Tuti?” Sahut Abipraya.


“What the..” Alex hampir mengumpat lalu beristighfar “Astaghfiullah.” “Abi apa seleraku terlihat seperti itu?” Tanya Alex heran. Bisa-bisanya sahabatnya itu menyangka dirinya menyukai Bu Tuti.


“Hahahaha…” Seketika Abipraya tertawa terbahak-bahak. “Aku hanya bercanda brooo..” Terang Abipraya meninju ringan sudut bahu Alex. “Okay lupakan!” Sahut Alex.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Adiknya Aisyah? Bukankah Dia cantik? Bukankah Dia muslim yang taat sama sepertimu?” Tanya Abipraya lagi. Dia tahu betul bahwa teman semasa kecilnya itu merasakan sesuatu yang tak mau ia ceritakan.


Alex hanya terdiam. Saat Abipraya menyebut nama Aisyah, entah mengapa ada tiga orang perempuan yang ada dibenaknya. Eliana sang pujaan hati, Aisyah sang calon istri soleha dan yang paling jelas bayangan Nindi lebih besar diantara kedua perempuan itu.


“Ada apa Alex? apa Kamu masih mengingat sepupuku Nindi?” Tanya Abipraya kala melihat sahabatnya terdiam dan menatap kosong ke lantai. “Aku tahu Nindi adalah Istri yang baik. Dia bahkan memberikanmu tiga putra yang sangat luar biasa. Tapi Alex jika Kamu tidak membuka hatimu untuk orang lain, Maka Kau akan seperti ini selamanya.” Terang Abipraya.


Alex masih terdiam seribu bahasa. “Alex! Sadarlah, dengan Kau menikah lagi bukan berarti Nindi akan tergantikan. Tidak Alex! Nindi akan selalu ada dihatimu, Aku tahu itu. Tetapi jangan menutup diri dari perempuan lagi. Aku bahkan iri denganmu yang selalu dikelilingi dengan jutaan fans perempuan yang siap untuk Kau pilih. Tapi? Yahhh hanya perempuan matre yang mendekat, lalu Aku hanya bisa bermain dan tak ingin berkomitmen dengan mereka.” Jelas Abipraya panjang lebar.


“Yah sudahlah Alex, Aku hanya bisa memberikanmu saran sebagai sahabat. Jujur, Aku sangat prihatin melihatmu semenjak pertama kali Kita bertemu. Laki-laki tidak ditakdirkan untuk mengurus Anak Alex.” Kata Abipraya sembari berdiri dan melangkahkan kaki untuk pulang.


“Mau kemana Abi?” Tanya Alex. “Aku mau pulang saja. Tidak ada gunanya berbicara dengan orang yang bisuuu.” Sahut Abipraya tegas.


“Abi bisakah kau menolongku?” Alex bertanya sambil berdiri mengimbangi Abipraya. “Nah gitu donggg…” Abipraya membalikkan badannya hingga Dia telah berhadapan dengan sahabatnya itu. “Mau minta tolong apa? Aisyah atau ada yang lain nih?” Tanya Abipraya kegirangan.


Lalu Alex memasang wajah sok imut, mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Abipraya. “Tolonggg yaaa pleaseee… teman kuliahku sudah pada masuk ke grup kelas. Sisa Aku yang belum” Kata Alex menadahkan ponselnya kepada Abipraya.


“Ahhh.. baiklah.” Sahut Abipraya pasrah. Dia mengambil ponsel Alex dan tak sanggup menolak permintaan sahabatnya itu. Sebentar saja WA itu sudah selesai. Tak lupa Abipraya memberitahukan cara pemakaian media sosial yang satu itu.


“Okay Terima kasih Abipraya.” Jawab Alex sesaat sudah mengerti dengan penjelasan Abipraya. “Jadi gimana dengan Aisyah?” Tanya Abipraya memastikan. “Soal itu Aku masih akan berpikir lagi. Sebenarnya masih ada satu lagi yang belum kau ketahui. Ada Eliana di Kampus yang menarik perhatianku juga Abi.” Jelas Alex.


“Nahhh itu keren. Jadi Kamu akan menikahi keduanya?” Tanya Abipraya serius. “Ya ampun Abipraya ide gila apa itu? Apa Kamu pikir perempuan bisa dinikahi berdua seperti itu. Jangan ngaco Kamu.” Tegur Alex tak menyangka.

__ADS_1


“Bukankah di dalam agamamu itu diperbolehkan? Bahkan kudengar dibolehin sampai empat Istri.” Ujar Abipraya sembari menyentuh sisi kanan keningnya dengan jari telunjuk dan jari tengah seakan mengingat sebuah ingatan.


“Benar, tapi mana ada perempuan yang mau diduakan. Ada-ada saja Kamu. Ya sudah katanya Kamu mau pulang.” Ucap Alex. “Oh jadi ngusir nih ceritanya.” Abipraya memutar bola matanya.


“Hahaha iya ku usir.” Jelas Alex sambil tertawa ringan. “Baiklah bye Alex, besok Aku kesini lagi.” Kata Abipraya tak mengambil hati dengan kalimat sahabatnya itu.


Abipraya pulang, pintu rumah kembali Alex tutup. “Oh iya Hendra!” Alex tepok jidat dan membuka pintu lagi berncana kerumah Aisyah.


“Assalmualaikum.” Teriak Alex sesaat setelah berada di teras rumah tetangganya itu. “Walaikumsalam.” Jawab Bu Tuti. Melihat yang membuka pintu bukan Aisyah membuat Alex sedikitk kecewa.


“Hendra sudah bangun Bu Tuti?” Tanya Alex. “Silahkan masuk dulu Alex, jangan mengobrol di depan pintu.” Bu Tuti mempersilahkan Alex untuk masuk. Duda itu pun masuk ke dalam rumah Bu Tuti dan duduk di kursi tamu. Dia tidak mendapati Hendra di ruangan itu.


“Hendra ke mana Bu?” Tanya Alex lagi. “Ada di kamar Aisyah, apa Kamu ingin melihatnya di kamar?” Bu Tuti menggoda Alex dengan mengajaknya untuk masuk ke kamar Adiknya walaupun Dia tahu Alex pasti menolaknya.


“Tidak usah Bu, Saya tunggu di sini saja.” Kata Alex yang sudah duduk di kursi tamu Bu Tuti. “Aisyaahhh…” Seketika Bu Tuti berteriak sembari meninggalkan Alex di ruang tamu. Gemaan suara Bu Tuti lebih besar dari toa masjid, membuat Alex menutup kedua kupingnya.


“Huaaa…” Hendra yang mendengar jeritan nama Aisyah itu pun mulai menangis. Aisyah yang sejak tadi berada di kamarnya bersama Hendra langsung menggapai Hendra dan menggendongnya.


Bu Tuti pun masuk ke kamar Aisyah yang pintunya sedang terbuka itu. “Aisyahhh bawa keluar Hendra.” Kata Bu Tuti sesaat setelah masuk ke kamar Hendra. Aisyah tak menghiraukan lagi perintah dari Kakaknya itu.


“Uni! Bukankah Uni sudah berjanji untuk tidak berteriak.” Mata Aisyah membulat. Bibirnya bergetar, seakan sebentar lagi kemarahannya akan meluap. “Hehehe… maaf sayang, tadi kelepasan.” Ucap Bu Tuti tertawa ringan dan memelas.

__ADS_1


Melihat maaf itu tidak membuat kekesalan Aisyah runtuh, hanya saja hatinya kembali tenang dan tak jadi untuk marah. “Ayo cepat bawa Hendra keluar.” Perintah Bu Tuti lembut.


__ADS_2