Duren Kampus

Duren Kampus
Ayat ayat cinta


__ADS_3

Duda keren itu mencuci piring, membereskan rumah, menyapu dan mengepel. Dia membutuhkan waktu satu jam lebih untuk membereskan itu semua.


Alex mendekati Hendra, membawa beberapa snack atau cemilan untuk menemaninya bermain. Tak lupa Alex menghidupkan TV agar Hendra tak merasa kesepian bermain, agar suara TV itu bisa menemani Hendra yang sedang bermain sendiri.


Duda itu melanjutkan lagi pekerjaan rumahnya. Dia mengambil dua canting ke dalam beras. Mencucinya lalu memasaknya menggunakan rice cooker listrik. Tak lupa Dia menekan tombol cooking agar nasi bisa masak dengan matang.


Kemudian Alex membuka kulkas, melihat apa saja isi dari kulkas tersebut. Dia mengeluarkan sepotong besar labu dan ikan nila. Lalu Alex memasak. Tiga puluh menit berlalu, makanan telah siap saji dengan menu sayur labu bening dan ikan nila goreng.


Alex menghidangkan lauk yang telah Dia masak itu di meja makan yang ditutup rapat agar tidak ada hewan kecil yang masuk. Lalu Alex membuatkan Hendra susu formula dan memberikannya kepada Hendra.


Tak butuh banyak basa-basi, saat Alex memberikan susu itu Hendra langsung mengambilnya dan terbaring serta menyusu. Alex menggapai Hendra agar Hendra menyusu dan berbaring dalam pangkuannya, lalu Hendra menurut dipangku dan melanjutkan menyusu.


“Ergh!” Hendra sendawa. Botol itu telah kosong. Dia pun memberikan botol susu kosong itu kepada Alex. Alex mengambilnya, Hendra masih terbaring sambil menonton TV.


Ayah dari tiga anak itu berdiri dan melangkah menuju tempat cuci piring. Langsung saja Dia mencuci botol susu habis pakai itu hingga bersih dan meletakkannya pada tempatnya.


Kemudian Alex menghampiri Hendra, sepertinya Hendra masih Asyik menonton. Tak lama terdengar gemaan suara Adzan dari masjid. Alex pun bersiap untuk mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat Zuhur.


Setelah sholat, Alex mengadahkan kedua tangannya. Dia berdoa kepada sang pencipta, sang maha penguasa langit dan bumi, Tuhan semesta Alam, Allah SWT.


“Ya Allah, sungguh ujianMu ini sangatlah berat. Kuatkan Aku ya Allah. Biarkan Aku mampu melewatinya. Karena sesungguhnya hanya kepadaMu lah Aku bergantung. Tiada tempatku mengadu selain padaMu ya Allah.” Alex berdoa dengan memejamkan kedua matanya.


Air matanya jatuh dengan deras. Bahkan pileknya pun ikutan mengucur dan langsung ditahan oleh Alex. Setelah berdoa, Alex lekas berdiri dan mengambil tissue di atas meja samping kasurnya. Dia mengelap semua air mata dan pileknya yang setengah mengering itu.


Alex melanjutkan dengan melepaskan sarung, peci dan melipatnya di dalam sajadah lalu diletakkan di kursi yang ada di dalam kamar itu.

__ADS_1


Duda keren itu keluar kamar dan menghampiri Anak bungsunya. Hendra masih menonton TV dengan posisi terbaring miring dan dengan kuku jempol yang digigit. Lekas Alex melepaskan jempol Hendra.


“Jangan ya Hen.. engga boleh mengisap jari ya nak ya. Belum tentu bersih tangannya.” Kata Alex. Hendra hanya manut dan terduduk. Alex menggapai tangan Hendra yang membuat Hendra berdiri. Kemudian mereka berdua berjalan keluar rumah.


Alex dan Hendra duduk di teras bersebelahan. “Ayahhh.. Kita ngapain di sini?” Tanya Hendra dengan suara vokal yang masih belum terlalu fasih. “Kita lagi nungguin Abang Andra dan Abang Indra pulang sekolah.” Jawab Alex sembari tersenyum.


“Hendra mau sekolah juga kayak Abang?” Tanya Alex sambil memegang kedua tangan Anak bungsunya. “Iya mau…” Jawab Hendra sambil mengangguk.


“Nah, kalau begitu makannya yang banyak ya. Biar cepat gede, jadi bisa sekolah seperti Abang Andra juga Abang Indra.” Tambah Alex.


“Baik Ayahhh…” Sahut Hendra. Hendra turun dari kursinya menuju kursinya Ayahnya. Dengan sigap Alex mengerti maksud Hendra yang mendekatinya. Duda itu langsung saja menggapai Hendra dan memangku Anak bungsunya itu.


Tiba-tiba seseorang lewat di depan rumah Alex. Hendra yang melihat orang itu langsung berlari dan menghampiri orang itu.


Hendra tersenyum riang saat menghampiri Aisyah. Kedua tangannya ia angkat seraya berkata ingin digendong oleh perempuan berhijab itu.


“Ahhh.. sini sayang.” Aisyah senang melihat Hendra yang meminta digendong itu dan tanpa pikir panjang Dia pun menggendong Hendra.


Alex yang melihat itu terenyuh. Dia kagum dengan apa yang baru saja dilihatnya. Hendra adalah anak satu-satunya yang tak mau bersama orang lain selain dirinya. Bahkan Eliana tidak begitu diminati oleh Hendra, tetapi Aisyah? Hendra lengket bagaikan Ibu sendiri.


Aisyah masuk ke halaman Alex. Hendra diturunkan di teras, tetapi Anak itu enggan untuk turun. “Nooo…” Kata Hendra sambil mengggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hendra sayang, Kakak mau pulang. Nanti Kakak dicariin sama Uni kalau pulangnya lama.” Ujar Aisyah lembut.


“Iya engga apa pulang lahhh..” Sahut Alex dengan nada yang melemah. “Yang ditanya Hendra kenapa yang jawab Kamu.” Aisyah menyeru dalam hati.

__ADS_1


Untuk yang kedua kalinya Aisyah berusaha untuk menurunkan Hendra tetapi tetap saja Hendra enggan untuk melepaskan Aisyah. Akhirnya Alex mendekat dan menawarkan lengannya untuk menggendong Hendra.


Karena yang ingin mengambilnya itu Alex, langsung saja Hendra berpindah dan digendong oleh Alex. “Dag Dig Dug.” Detakan jantung Alex yang semakin kencang jelas terdengar dikupingnya sendiri.


Alex yang telah menggendong Hendra itu tidak menjauh dari Aisyah. Melihat hal itu Aisyah langsung menjauh dan menjaga jarak karena takut bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya.


“Terima kasih Aisyah.” Kata Alex. Mereka sempat beradu pandang yang kemudian dihindari oleh Aisyah yang langsung menatap lantai. “Sama-sama” Jawab Aisyah cuek dan meninggalkan Alex bersama Anak bungsunya.


Sesaat Aisyah telah keluar dari halaman rumah Alex dan sudah berada dijalan tiba-tiba Hendra memanggilnya. “Kakak…” Teriak Hendra. Seketika Aisyah menoleh.


Alex yang melihat Aisyah menoleh, Dia melihat Aisyah yang menoleh secara perlahan seperti Slow Motion. Diiringi dengan backsound dari film Ayat-ayat cinta “Desir pasir dipadang tandus. Segersang pemikiran hati. Terkisahku diantara, cinta yang rumit.” Alunan lagu dari Rossa tersebut terngiang-ngiang di telinga Alex.


Aisyah hanya memandang heran kepada Alex. Alex menatapnya tajam, mematung, dan senyum-senyum sendiri. Seketika Aisyah merinding dan berlari pulang hingga menghilang dibalik pagar pembatas rumah Alex.


“Ayahhhh…” Hendra memanggil Ayahnya sambil menarik baju Ayahnya. Sontak Alex tersadar dan mulai mencari-cari Aisyah lagi.


“Ternyata Dia sudah pulang.” Gumam Alex dalam hati. Hendra hanya terdiam melihat dari tingkah Ayahnya itu. Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Alex.


“Ayahhhh…” Dua orang Anak Alex berlari mengenakan seragam sekolahnya. Tas punggung yang mereka bawa pun terlihat miring dan melorot sampai ke lengan. Baju yang tadi pagi dipakai rapi dan masuk ke dalam celana. Sekarang sudah keluar dan kusut.


Andra dan Indra memeluk Alex. “Tumben Ayah nungguin di depan rumah.” Cetus Andra. “Iya tadi Ayah lagi kepengen duduk disini bareng Hendra nungguin Kamu.” Sahut Alex.


Pak Didit yang menyusul dibelakang dua Anak itu menghampiri dan memberikan kunci mobil kepada Alex. “Terima kasih Pak Didit.” Ucap Alex saat menerima kunci mobil tersebut. “Sama-sama.” Jawab Pak Didit singkat.


“Saya Pamit ya Pak Alex.” Kata Pak Didit. “Enggak mau masuk dulu Pak? Makan bareng.” Alex berbasa basi. “Tidak usah Pak, Istri Saya lagi nungguin soalnya. Hehe..” Sahut Pak Didit. Kemudian Pak Didit pulang. Sedangkan Duda ganteng dengan tiga orang Anak itu masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2