
Pagi ini matahari bersinar hangat. Terlihat Pak Didit sedang mengantar tas punggung Alex, gendongan Hendra dan tas sekolah milik Andra juga Indra ke dalam mobil.
“Sudah semua kah Pak Didit?” Tanya Alex yang sejak tadi duduk di mobil bersama Anak-anaknya. “Sudah Pak, waktunya jalan.” Ujar Pak Didit kala duduk di bangku supir.
Mobil itu melaju santai, melewati jalan raya yang padat merayap. Tujuan pertama yaitu sekolah Andra dan Indra. Setelah sampai, kedua Anak dari Alex itu berpamitan kepada Ayahnya beserta dengan supirnya.
“Ayah Kami sekolah dulu ya.” Andra mencium punggung tangan Alex. “Iya belajar yang giat ya Andra.” Ucap Alex sambil mengusap rambut Andra.
“Indra Kamu juga belajar yang serius dan jangan banyak main di dalam kelas.” Pesan Alex kepada Indra. “Iya Ayahhh..” Jawab Indra lucu.
“Kalau gitu Ayah tinggal ya, dadahhh..” Kata Alex sambil melambaikan tangan lalu dibalas oleh kedua Anaknya sembari mobil berjalan meninggalkan sekolah itu.
“Kira-kira Kita bisa sampai tepat waktu tidak Pak?” Tanya Alex kepada supirnya itu. “Asal tidak macet parah, InsyaAllah Kita bisa sampai lebih awal Pak Alex.” Terang Pak Didit.
Selang satu jam akhirnya Alex sampai ke Kampus. Dia datang dengan waktu setengah jam lebih awal. “Alhamdulillah masih banyak waktu Pak.” Ujar Alex sembari menatap jam tangan miliknya.
“Pak Alex hari ini mau Saya tungguin atau gimana nih?” Tanya Pak Didit memastikan. “Sebagai wanti-wanti Pak Didit tunggu saja seperti kemarin Pak.” Perintah Alex. “Iya baik Pak.” Jawab Pak Didit singkat.
Duda itu turun dari mobil, lalu memasang gendongan dan memasukkan Hendra dalam gendongan itu. Tak lupa Dia memakai tas punggungnya, Dia terlihat seperti naik gunung dengan tas dan gendongan yang seperti itu.
Hari ini Alex mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam. Baju kemeja hitam lengan panjang yang dilipat hingga ke siku. Kacamata hitam dan topi hitam, hanya sepatunya yang berwarna merah hati. Sungguh Damage Alex luar biasa tampan.
(Eitsss… karena ada Hendra yang sedang digendong Damage-nya berkurang satu point nih hehe. Atau bertambah satu point? Gimana Kamu yang komen deh hehe.)
Alex berjalan mulai dari parkiran Kampus hingga ke kelas. Dalam perjalanan berjalan kaki itu tidak semulus yang dibayangkan Alex. Kupingnya memanas saat mendengar komentar yang tak disukainya.
__ADS_1
“Ehh.. itu siapa sih? Anak band? Ganteng sih tapi… itu bawa Anak xixixi.” Ucap seorang gadis ketika melewati Alex.
“Eh itu loh Si Alex, mahasiswa ajaran baru. Dari kemarin Dia itu ke Kampus bawa Anak loh. Emang tukang nyari sensasi nih.” Ujar seorang pria yang dilewati oleh Alex.
“MasyaAllah, om itu ganteng sekaliiii… mimpi apa Aku semalam bisa ketemu om om ganteng.” Kata seorang gadis yang sedang berjalan bersama temannya.
“Udah fix nih, wajahku sudah om-om.” Alex menyeru dalam hati.
“Eh itu bukannya Si Alex Youtuber itu nggak sih?” Tunjuk seorang gadis saat dilewati oleh Alex.
“Ah masak sih? Mirip aja kali.” Sahut temannya. “Iya Gue yakin banget soalnya selain ganteng, jelas terlihat Dia sedang bersama Hendra. Itu pasti Alex!” kembali gadis itu meyakinkan temannya.
“Eh iya bener itu Alex. sekali liat Aku sudah pasti yakin.” Kata gadis yang berasal dari fans Alex garis keras.
“Alex….” Seketika para gadis berteriak saat mengetahui identitas Alex serta langsung mengejar Duda keren itu.
Mendengar hal itu Alex mengencangkan larinya. Nafasnya terengah kala dikejar oleh para gadis. Dia berusaha menghindari para gadis itu bukan karena tidak suka terhadap fans nya sendiri melainkan untuk menghindari Hendra dari keramaian. Kalau-kalau Hendra menangis histeris lagi.
Pagi itu terjadi insiden kejar-kejaran tom and jerry. Si Tom adalah Alex yang berlari sendiri dan dikejar oleh jerry yang berjumlah sekitar sepuluh orang.
“Ehhh.. ada apa ini?” Tanya seorang Dosen perempuan yang merasa ganjil melihat adegan itu. “Itu Bu ada Alex!” Tunjuk mahasiswi itu. “Ha Alex? Duda ganteng itu?” Dosen itu pun masuk ke dalam geng jerry dan ikut mengejar Alex.
Duren itu mulai kewalahan. “Ya Allah tolong Anakku, Hendra tak suka keramaian.” Alex berdoa dalam hati.
“Ada apa ini?” Teriak seorang Bapak, suaranya cukup menakutkan. “Memalukan mahasiswa berlarian seperti ini di dalam Kampus.” Bapak itu mengendus nafas. Mata membulat terbelalak. Giginya menggerutu satu sama lain.
__ADS_1
Seketika geng jerry berhenti berlari dan diam di tempat. “Bu bisa tolong jelaskan ada apa ini sebenarnya?” Tanya Dosen kepada Dosen perempuan yang ikutan berlari bersama mahasiswi.
“Hm.. itu Pak Kami sedang melihat Alex.” Jawabnya jujur. “Alex? Siapa itu Alex?” Pak Dosen terasa asing dengan nama Alex.
“Itu Pak Youtuber yang sedang naik daun.” Jawab seorang mahasiswi. “Kami ini ngefans sama Dia Pak. Jadi boleh tolong minggir Pak.” Sahut seorang gadis lagi.
“Apakah kalian lebih mementingkan Dia dari pada Pendidikan kalian?” Bapak Dosen itu sedikit membentak. Bu Dosen memisahkan dirinya dari kelompok dan berdiri sendirian. Geng jerry yang lain terdiam dan menatap ke bawah.
“Tidakkah kalian sadar bahwa kalian sedang berada di lingkungan Kampus. Tolong jaga wibawa kalian sebagai mahasiswa. Kalian bisa memintanya baik-baik tanpa mengejar seperti itu. Apalagi jika orang itu berlari, berarti secara tidak langsung Dia sedang tidak ingin diganggu.” Terang Pak Dosen.
Geng jerry masih mematung, terdiam, dan menatap ke bawah. Sedangkan Bu Dosen sedikit demi sedikit melangkah kesamping meninggalkan Bapak itu dan geng jerry hingga menghilang dari tempat itu.
“Saya harap ini tidak terjadi lagi.” Bapak itu masih mendengus nafasnya lalu pergi meninggalkan geng jerry. Geng jerry pun membubarkan diri.
Alex yang sejak tadi berlari sedang berada dibalik tembok belakang Gedung. Dia sedang bersembunyi.
“Alex Kamu ngapain di sini?” Tanya seorang mahasiswa. “Tidak apa-apa Aku hanya mencari udara segar.” Sahut Alex. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Tambah Alex.
“Aku baru saja selesai pipis.” Kata mahasiswa. “Sepertinya Aku pernah melihatmu tetapi di mana ya?” Tambah mahasiswa.
“Bukankah Kamu mahasiswa yang bernama Alex? orang yang menunjukkanku arah kantor Dosen kemarin.” Ujar Alex sembari memiringkan kepalanya seraya berpikir.
“Iya benar, tetapi namaku bukan Alex.” Pria itu menutup resleting celananya lalu melangkah meninggalkan Alex. “Tu..tunggu.” Teriak Alex.
Mahasiswa itu berhenti dan menoleh. “Ada apa Alex?” Tanyanya. “Jadi namamu siapa kalau bukan Alex.” Alex ingin memastikan.
__ADS_1
“Namaku Alex! hahaha…” Pria itu pergi setelah tertawa terbahak-bahak. “Dia menyebalkan.” Alex bergumam dalam hati.
Sementara itu Hendra selalu tersenyum dan tertawa. Dia sangat menikmati saat dibawa lari oleh Alex. Baginya Dia sedang bermain bersama Ayahnya.