Duren Kampus

Duren Kampus
Tiga Bidadari?


__ADS_3

Menyusuri jalanan padat merayap, Mobil LC mewah itu menuju jalan pulang. Abipraya yang kelelahan sekarang tertidur pulas. Pak Didit pun mulai sedikit oleng. Menyadari hal itu Alex berniat untuk menggantikan Pak Didit menyetir.


“Pak Didit, apakah Bapak sedang mengantuk?” Tanya Alex sopan.


“Iya Pak Alex, saya mulai mengantuk.” Jawab Pak Didit jujur. Mata supir pribadi Alex itu berkedip-kedip dan melotot-lotot, berharap matanya tidak tertutup karena mengantuk.


“Kalau begitu biar saya yang gantikan menyetir Pak.” Ujar Alex yang masih merasa segar tanpa mengantuk. Kemudian Pak Didit mulai mengambil jalanan di pinggir, mencari-cari tempat pemberhentian mobil yang aman. Setelahnya Alex turun bersamaan dengan Pak Didit dan berganti posisi tempat duduk. Alex duduk di bangku depan untuk menyetir sedangkan Pak Didit duduk di kursi tepat di belakang Alex. Tak lama Pak Didit pun tertidur.


Beruntungnya, ketika Alex yang menyetir mobil, jalanan tidak macet lagi. Dengan mendengarkan lagu Tak Ingin Usai dari Keysia Levronka, Alex menyetir santai, seketika terbayang wajah Nindi dibenaknya.


Mata Alex berkaca-kaca sekarang namun dia tidak sanggup meneteskan air mata. Perasaan yang begitu dalam, rindu yang teramat, membuatnya lebih sakit. Dibandingkan meneteskan air mata dia hanya merasa mual. Menahan segala kerinduan yang telah lama dia rasakan. Terlebih lagi tidak ada tempatnya untuk bersandar. Kesibukannya mengurus ketiga anaknya lah yang membantunya untuk mengalihkan kerinduan itu.


Alex menaikkan volume tipnya, pas di saat Keysia Levronka bernyanyi pada nada ‘ooo..uwooo..uwooo’. Nada yang tinggi itu membangunkan Abipraya. Dia mengucek-ngucek kedua matanya dan menoleh ke arah Alex.


“Loh? Kamu yang nyetir Lex?” Kata Apribaya yang sekarang berkaca di spion mobil. Dia mengencek kedua matanya kalau-kalau ada kotoran kecil dipinggir mata itu setelah tertidur tadi.


“Iya Pak Didit ngantuk, itu dia sudah tidur nyenyak mungkin di belakang.” Sahut Alex yang berkata tanpa menoleh ke arah Abipraya.


“Pak Didit bangunnnn…” Teriak Abipraya kepada Pak Didit.


“Biarkan saja Abi, dia itu baru tiga puluh menit tidurnya.” Ucap Alex yang telah menyetir tiga puluh menit lamanya.


Tak lama menyetir akhirnya Alex sampai di perumahan. Alex memarkir mobil mahalnya itu tepat di depan rumahnya.


“Pak Didit bangun pak.” Kata Abipraya berusaha membangunkan Pak Didit namun tampaknya Pak Didit belum juga bangun.


“Pak Didit dicariin sama Bu Tanjung Pak!” Teriak Abipraya kali ini. Seketika Pak Didit terbangun dan menoleh kiri dan kanan mencari istrinya.

__ADS_1


“Hahahaha itu PRANK saja Pak. Ayo cepat bangun sudah sampai Pak.” Ujar Abipraya yang sekarang merasa senang karena Pak Didit sudah terbangun.


Pak Didit yang tekejut itu terbangun tanpa tahu apa arti dari kata Prank yang disebut oleh Abipraya. Yang dia tahu bahwa ketika istrinya datang setidaknya dia harus siap siaga, mana tahu kupingnya dijewer lagi tanpa dia tahu sebab kesalahannya.


Alex turun dari mobil disusul dengan Abipraya, melihat hal itu Pak Didit pun bergegas turun. Mereka bertiga keluar dari mobil bersamaan. Alex dan Abipraya masih mengenakan kacamata hitam miliknya.


*


*


Mba Temble yang sejak tadi memantau dari kaca jendelanya akhirnya menemukan Alex tiba. Dia pun terkesima melihat kedua pria ganteng yang sedang turun menggunakan kacamata hitam itu. Menyadari hal itu, secepat kilat dia menyeret Andra untuk pergi ke rumah Alex.


*


*


“Aisyah Alex pulang! Pulangkan Hendra sekarang.” Perintah Bu Tuti kepada Aisyah. Aisyah yang sedang tak berhijab akhirnya masuk untuk memakai hijabnya dan bergegas untuk membawa Hendra pulang.


*


*


Alex melangkah maju menuju rumahnya diikuti oleh Abipraya dan Pak Didit. Dia mencari-cari kunci rumah di dalam ventilasi udara di atas pintu yang tak kunjung dia temukan.


“Ada Apa Alex?” tanya Abipraya.


“Kunci rumahku Bi.” Jawab Alex ringkas. Pak Didit yang mendengar percakapan itu langsung mengerti. Tangan memencet bel rumah Alex, Abipraya dan Alex menoleh dan memandang heran kepada Pak Didit.

__ADS_1


Ketika Alex membuka mulut untuk bertanya kepada Pak Didit atas tingkahnya itu, tiba-tiba saja pintu rumahnya terbuka. Seketika Alex menoleh dan melihat Indra bersama dengan Eliana.


Dengan sedikit pandangan yang slow motion, Alex melihat Eliana membuka pintu sambil mengibaskan rambut halusnya seraya tersenyum manis dan menunggu dengan hangat kedatangan Alex. Alex mengkhayal!


Walaupun tidak seperti lamunan Alex saat bertemu lagi dengan Eliana, dia tetap saja terdiam terkesima. Wajah cuek itu ternyata telah lama dia rindukan. Bahkan Alex sengaja masuk ke universitas yang sama dengan Eliana berharap bisa selalu bertemu dengannya.


“Nah kamu sudah pulang, akhirnya aku bisa pulang!” Ucap Eliana cuek. Lamunan Alex pun ambyar! Ketika Eliana berbicara cuek kepadanya, berharap dia disambut hangat oleh Eliana. Tetapi Alex jelas terlihat salah tingkah, matanya jelas tak berkedip dan tersenyum lebar. Abipraya dan Pak Didit memperhatikan tingkah Alex.


“Alexx…….. bang Alex…..” Mba Temble memangil dengan nada sayang kepada Alex. Dia berlari-lari kecil menuju rumah Alex. Alex pun memutar badan dan melihat dengan seksama lalu mengedipkan mata, dia seakan melihat bola besar yang memantul perlahan. Anak dan bapak sama saja, imajinasi mereka sama. Imajinasi itu hilang saat Andra tepat berada di depannya dan langsung memeluk Alex.


Setelahnya, Aisyah datang dengan menggendong Hendra. Angin sepoi-sepoi tertiup membuat selendang Aisyah terbang melambai. Ada wajah sendu namun damai disana, Alex kembali terkesima. Dia berdiri tegak sambil memandang Aisyah tak berkedip hingga Aisyah sampai ke rumahnya. Abipraya dan Pak Didit memperhatikan.


Andra yang masih memeluk ayahnya kini disusul oleh Indra. Hendra yang mencari sosok ayahnya sedari tadi juga mengangkat kedua tangannya berharap digendong oleh Alex. Tanpa basa basi langsung saja Alex mengambil Hendra dari Aisyah.


“Mba Eliana dirumah menunggu bersama Indra, lalu Mba Temble datang berlari bersama Andra. Sekarang ada Mba Aisyah yang sedang menggendong Hendra. Ini disebut apa ya? Tiga bidadari!” Ujar Pak Didit. Abipraya tersenyum dan menutup mulut, menahan diri agar tidak tertawa.


“Tiga bidadari?” Alex menjawab ringkas sekaligus bertanya. Mba Temble yang mendengar hal itu senyum-senyum sendiri sekarang. Dia bahkan menjilat kedua bibirnya, agaknya dia merasa senang dipanggil tiga bidadari oleh Pak Didit dan Alex. Dia menggoyangkan bahunya dan memukul ringan ke arah Pak Didit.


Abipraya yang melihat hal itu tak bisa menahan tawanya.


“Hahahaha….” Akhirnya tawanya pecah. Abipraya pun tertawa sambil memukul ringan pundak Pak Didit. Andra yang sudah mulai paham dengan pembicaraan itu akhirnya berbicara.


“Ha…? Tiga bidadari…? Yang ada hanya DUA BIDADARI kali!” Sahut Andra kesal. Bagaimana mungkin Mba Temble disebut bidadari? Penampilan dan parasnya yang seperti ditambah lagi dengan sikapnya kepada Andra. Andra sangat merasakan tiada ketulusan darinya.


“Hahahahah….” Pak Didit tertawa terbahak-bahak bersama Abipraya. Kini Abipraya tidak tertawa sendiri lagi.


Mendengar hal itu sontak Alex menutup mulut Andra agar dia tidak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


__ADS_2