
Setelah menceritakan kronologi diseretnya Aisyah. Orang-orang yang berkerumun itu segera menuju rumah Aisyah. Dituntun oleh Bu Tuti, orang-orang datang dengan membawa berbagai peralatan tambahan seperti kayu, sapu, dan lain sebagainya.
Gandy tengah duduk di meja makan. Duduk di kursi sambil mengangkat kakinya di atas meja. Dia meneguk sebotol minuman keras dan melihat Aisyah terbujur kaku di lantai.
Gandy tersenyum sinis! Seakan puas melihat istrinya sedang tidak sadarkan diri. Kayu yang dia letakkan di samping kursi di gapainya. Dengan memegang kayu itu, dia menyentuh tangan Aisyah menggunakan kayu itu. Memastikan Aisyah tidak sadarkan diri.
“Ayo.. ayo di mana dia!” Suara gemuru terdengar di dapur. Gandy menyadari ada suara orang banyak di luar rumahnya. Dengan menghabiskan sisa minuman itu dia berjalan keluar.
“Ini pak dia, dia pelakunya. Dia yang menyeret adik saya!” Ujar Bu Tuti berteriak sembari menunjuk Gandy.
“Di mana perempuan itu? Di mana istrimu?” Kata seorang Bapak yang terlihat marah.
“Dia ada di dalam sedang memasak untukku” Gandy berkata leye-leye. Dia terlihat sangat mabuk. Matanya terlihat sendu dan memerah. Kepalanya goyang-goyang seperti menari.
“Ini bapak lihat kan? Orang ini tidak waras! Ayo cepat selamatkan Adik saya.” Teriak bu Tuti. Orang yang ramai itu langsung saja masuk. Semuanya masuk tanpa terkecuali. Gandy yang sedang oleng karena mabuk di senggol dan jatuh. Gandy kemudian tertidur pulas.
__ADS_1
“Aisyahhhhhhh…!” Bu Tuti berteriak histeris. Dia beteriak sambil menangis. Sembari memangku kepala Adiknya dia menepuk-nepuk pipi Aisyah. “
“Aisyah bangun Aisyah.” Tutur Bu Tuti lembut.
Tak jua adiknya bangun.
“Pak ayo Pak, kita harus membawa adik saya ke rumah sakit sekarang juga.” Ujar Bu Tuti yang masih menangis dan terlihat panik.
“Ayo cepat Bu.” Segera Bapak-bapak itu bekerja sama mengangkat Aisyah. Salah satu dari Bapak itu sempat mengambil kunci mobil di kantong celana Gandy. Kemudian segera mereka membawa Aisyah ke rumah sakit untuk diselamatkan.
Gandy ditinggalkan sendiri yang sedang tertidur pulas di lantai. Dia tertidur sambil mendengkur keras. Terlarut dalam mimpinya, lalu lupa dengan realitas yang baru saja terjadi.
Sekarang Bu Tuti berdiri menemani Aisyah terbaring di kasur rumah sakit. Masih diruangan unit gawat darurat, dokter datang menghampiri. Memeriksa kondisi Aisyah yang tengah terbaring tidak sadarkan diri.
“Maaf Bu, apa Ibu keluarganya?” Tanya dokter itu kepada Bu Tuti.
__ADS_1
“Iya benar Pak. Saya kakak kandungnya.” Jawab Bu Tuti. Dia masih saja menangis sekarang.
“Bu melihat kondisi pasien, kami harus segera melakukan operasi. Tulang rusuknya patah, dan sepertinya Ibu ini sedang hamil bu. Dia keguguran jadi harus segera ditangani Bu.” Dokter itu berusaha menjelaskan dengan tenang.
Mendengar hal itu, Bu Tuti langsung menangis histeris.
“Malangnya kamu Aisyahhhh…!” Bu Tuti berteriak tidak memperdulikan lagi bahwa dia sedang berada di rumah sakit. Beberapa perawat berusaha menenangkan dengan mengelus punggung Bu Tuti.
“Aisyahhhhh… kenapa mau kau dinikahi Gandy.” Kembali Bu Tuti berteriak.
“Maaf Ibu sebaiknya Ibu menenangkan diri. Sekarang kami membutuhkan persetujuan Ibu untuk melakukan operasi.” Dokter berkata dengan lembut.
“Baik Dok, silahkan saja Dok. Lakukan yang terbaik untuk Adikku Dok kumohon.” Kata Bu Tuti seraya memohon kepada Dokter tersebut.
Kemudian perawat membawakan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Bu Tuti. Lekas Bu Tuti mengelap air matanya. Menenangkan diri dengan menghela nafas lalu menandatangi berkas yang diberikan kepadanya.
__ADS_1
Operasipun dilaksanakan saat itu juga.
Flashback off