
Mba Temble yang sudah memegangi Andra langsung saja membawa anak itu keluar Mall. Andra menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Mba Temble.
“Tante siapa?” Tanya Andra curiga. Dia memutar badan dan berniat mendekati keramaian yang di tengahnya ada Alex itu.
“Ehhh jangan sayang, jangan kesana! Entar susah lagi Tante dapatin kamunya. Eh maksudnya tidak usah kesana nanti kasian Ayahmu mencari-carimu kalau hilang.” Ujar Mba Temble mencoba meyakinkan. Dia menarik lagi lengan Andra, dia seakan tak ingin kehilangan Andra, ini kesempatan emas baginya untuk mendekati Alex.
“Kamu ikut Tante aja ya, kita pulang. Ini nama tante Temble Tekewer, Tante adalah tetanggamu. Tidakkah kamu mengingat Tante?” Tanya Mba Temble. Indra terlihat berpikir dan mencoba mengingat namun sayang dia tidak mengingat tetangganya itu. Yang dia ingat hanya nama yang Mba Temble sebutkan tadi.
“Temble Tekewer-kewer? Itu nama ya Tante? Atau bibir?” tanya Andra polos tapi dia juga merasa lucu. Dalam benaknya apa ada orang bernama tekewer-kewer?
“Haduh bukan Tekewer-kewer tapi Tekewer tidak pake kewer-kewer, jadi Temble Tekewer!” Jelas Mba Temble sedikit kesal. “Ini anak nyebelin juga, kalau bukan anak Alex tak buang kamu!” Gumam Mba Temble dalam hati.
“hemm… Tante Temble Tekawer?” Tanya Andra lagi. Baginya nama itu terlalu aneh untuk seorang manusia.
“Haduhhhhh bukan-bukan. Sudahlah panggil saja Tante Temble. Intinya Tante ini tetanggamu sama seperti Pak Didit, Om Abipraya dan yang lain.” Ujar Mba Temble yang mulai kesal sekarang. Melihat hal itu Andra hanya tertawa geli.
“Ternyata Tante ini selain namanya jelek wajahnya juga jelek.” Andra bergumam dan tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Agaknya dia lucu melihat wajah berlemak itu kesal.
“Eh kenapa tertawa kamu?” Tanya Mba Temble ingin marah lalu dia mengingat Alex dibenaknya. Berharap Alex akan berterima kasih dan menyalami tangannya disertai dengan kecupan lembut. Seketika Mba Temble merasa terbang.
“Halo Tante Tembleeee tetanggaku!” Ucap Andra sembari melambai-lambai di depan wajah Mba Temble. Mba Temble termenung menganga bahkan mengences sekarang.
__ADS_1
“Sruttt….!” Mba Temble menarik encesnya masuk lagi dan menelannya. “Tidak apa, ayo sekarang kita pulang. Biar kamu tidak cemas, Sekarang juga saya telpon Pak Didit. Tapi janji setelah Tante menelepon Pak Didit kamu ikut Tante ya.” Kata Mba Temble sembari mengambil benda pipih di dalam kantong celananya.
“Halo Pak Didit, Andra bersama saya sekarang di rumah.” Ujar Mba Temble dengan nada cempreng. Tanpa menutup panggilan suara itu Mba Temble kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana levis yang dipakainya.
“Nah tuh liat, sudah kan? Sekarang ayo ikut Tante. Mending kamu sama Tante daripada hilang ditelan oleh kerumunan orang-orang itu” Ujar Mba Temble yang sekarang berjalan ke parkiran bersama Andra.
Andra mengikuti Mba Temble, setelah melihat realita yang ada, logikanya mulai menerima kondisi itu. Dan setelah dia ingat-ingat lagi memang benar Mba Temble adalah tetangganya. Dia ingat di salah satu pagi sebelum berangkat ke sekolah Mba Temble pernah sedang mencuci mobil di depan rumahnya sendiri.
Dengan berlari-lari kecil Mba Temble melepaskan tangan Andra. Andra sudah cukup besar untuk mengikutinya berlari kecil tanpa dipegangi. Andra mengikuti Mba Temble dari belakang, dia berimajinasi melihat bola besar yang memantul perlahan. Seketika Andra menggeleng-gelengkan kepalanya. Berharap imajinasi ekstrim itu segera berakhir. Andra sadar bahwa itu manusia bukan bola hanya saja hampir mirip dengan bola karena badannya yang gemuk dan berlemak.
“Ayo cepat naik!” Perintah Mba Temble yang berkeringat. Dia masuk ke dalam mobil miliknya. Untuk badan yang sebesar Mba Temble sebenarnya tidak cocok menggunakan mobil Karimun yang sedikit kecil dibanding mobil yang lain. Badannya sungguh pas-pasan masuk dan duduk di kursi mobil itu. Tetapi Mba Temble sangat menyukai model mobil itu, baginya mobil itu berdesain unik dan cantik.
“Iya Tan.” Jawab Andra singkat. Andra masuk mobil dan menaruh Ipad yang sedari tadi dipegangnya lalu menaruhnya di kursi belakang. Dia pun menurunkan punggung kursi dan meluruskannya. Setelah itu dia terbaring dan memejamkan mata.
Benar! Seketika Andra tertidur. Sepertinya Andra kelelahan dua kali harus menghadapi ratusan fans Alex. Di tambah perutnya sudah kenyang setelah makan siang tadi. Tanpa memperdulikan Mba Temble yang tekewer-kewer itu dia cuek dan tidur.
Mba Temble menyetir dengan santai sambil memikirkan strategi apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Alex. Namun otaknya buntu! Cukup dengan membawakan anak sulungnya Mba Temble sudah merasa memenangkan hati Alex.
Untuk mehilangkan kejenuhannya menyetir di dalam mobil tanpa ada teman bicara Mba Temble memasukkan CD dan memutar lagu Cinta Satu Malam dari Melinda. Dia berjoget perlahan sambil menyetir. Mobil berjalan di jalan raya mulus tapi naik turun akibat jogetan halus Mba Temble.
Setelah beberapa waktu yang berlalu, akhirnya Mba Temble sampai juga di rumah.
__ADS_1
“Andra bangun….!” Mba Temble berteriak membangunkan Andra. Seketika Andra terbangun dan terduduk, dia terkejut.
“Ayah suara apa itu?” Tanya Andra entah kepada siapa.
“Tidak ada ayah di sini kita masih menunggunya pulang, ayo turun.” Perintah Mba Temble. Nadanya sangat tidak bersahabat, Andra yang mendengarnya langsung memasang wajah yang cemberut.
Andra dan Mba Temble turun dari mobil. Mba Temble langsung saja melangkah menuju rumahnya. Tapi dia tidak mendengar suara kaki mengikutinya, jadi dia membalikkan badan dan mencari Andra.
“Andraaa…..” Teriak Mba Temble dengan suara yang melengking. Dia melihat Andra berjalan menuju rumahnya.
“Andraaaaa… di situ gak ada orang!” Kembali Mba Temble meneriaki Andra. Langkah Andra terhenti dan menoleh ke arah Mba Temble.
“Dari pada ke rumah Tante Andra nunggu di rumah saja Tan.” Jawab Andra sambil berteriak ke arah Mba Temble.
“Ke rumah Tante saja ada es krim mau?” Teriak Mba Temble lagi, tetapi kali ini nadanya sedikit membujuk.
“Okay!” Jawab Andra tergiur. Dia melangkah ke arah rumah Mba Temble sekarang.
Mereka berdua masuk kerumah Mba Temble. Andra membulatkan matanya ketika masuk dan melihat isi dari rumah Mba Tekewer itu.
“Ha ini rumah atau rumah kucing ya?” Andra bergumam, dia mendapati rumah Mba Temble penuh dengan warna pink dan gambar kucing berkumis yang biasa di sebut Hello Kitty.
__ADS_1
Rumah itu dipenuhi dengan riasan Hello Kitty dari mulai sofa, wallpaper dinding, elap kaki juga berwarna pink berbentuk Hello Kitty. Tv Mba Temble juga berikan hiasan berbulu berbentuk Hello Kitty, selimut gallon juga Hello Kitty.
Mungkin jika Andra harus masuk lagi ke dalam bisa syok melihat semua benda yang berbentuk Helli Kitty sehingga dia enggan melangkah masuk lebih jauh. Tanpa di suruh dia duduk di sofa berbulu milik Mba Temble. Bulu kuduknya merinding! Bukan karena hantu melainkan bulu-bulu sofa yang menusuk.