Duren Kampus

Duren Kampus
Home sweet home


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Alex tengah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Di bantu dengan perawat yang berjaga. Alex di dorong keluar menggunakan kursi roda. Belum sempat keluar pintu masuk rumah sakit. Pak Didit menghampiri dan menggantikan perawat untuk mendorong kursi roda tersebut.


“Bagaimana keadaan nya sekarang pak Alex?”


Tanya pak Didit sembari mendorong Alex keluar rumah sakit.


“Alhamdulillah sehat pak. Bagaimana dengan anak-anak pak?.”


Tanya Alex bergantian. Seminggu di rumah sakit, sendirian, sedikit membuatnya stress dan bosan. Selama setahun lebih dia di sibukkan dengan mengasuh ketiga anaknya selama dua puluh empat jam. Dan seminggu itu? Dia lalui dengan makan, tidur. Nonton TV, masuk wc, di jenguk perawat dan dokter. Seminggu itu di habisi kebanyakan dengan sendirian.


Kadang-kadang di penghujung malam Alex bahkan tidak bisa tidur memikirkan anak-anaknya. Dia tidak bisa menghubungi anak-anaknya. Alex di RS itu tak membawa telepon genggamnya.


Masuk RS pun dia tidak tahu siapa yang mengurusnya. Yang dia tahu, dia mendapat pertolongan dengan cepat hingga akhirnya selamat.


“Oh ya pak, kalau boleh tahu siapa yang menyelamatkan saya?”


Ujar Alex yang mulai menggali informasi pasca jatuh nya dari atap rumah.


“Para tetangga pak Alex. Kami semua berusaha menolong bapak. Agak sulit kami lakukan. Karena kondisi bapak di sudut rumah dan di antara tedmon dan dinding.”


Jelas pak Didit yang sekarang menggandeng Alex membantunya untuk masuk kedalam mobil. Alex kewalahan agaknya. Rasa sakit pasca operasi masih sangat dia rasakan. Setelah duduk di kursi depan. Tak lupa Alex mengucap terima kasih kepada pak Didit. Di balas pak Didit dengan senyuman lebar.


Mobil berjalan pulang. Menuju rumahku istanaku. Home sweet home. Walaupun rumah sakit sangat enak karena tidak harus repot untuk memasak dan mengurus anak serta membereskan rumah. Tetap saja baginya rumahnya yang menjadi tempat ternyaman. Yang walaupun terkadang berantakkan penuh mainan dan bekas makan ketiga anaknya.


“Oh ya pak saya lupa bilang. Yang menyelamatkan bapak memang para tetangga. Tetapi yang melihat dan melaporkan bahwa bapak terjatuh adalah gadis tetangga baru kita itu pak.”


Kata pak Didit yang memulai percakapan di mobil lebih dulu.


“Gadis itu? Memang nya siapa nama gadis itu pak Didit?.


Alex bertanya sedikit penasaran. Alex merasa harus mengenal gadis itu. Di luar perlakuan nya yang kurang baik. Tetapi dia lah yang melaporkan nya jatuh dan menyelamatkannya. Terlebih lagi dia yang sedang mengurus anak-anak Alex saat ini.


“Namanya Eliana pak. Satu-satunya tetangga kita yang beragama kristen. Dia itu mahasiswi di Universitas Indonesia. Masih semester awal katanya. Dia membeli rumah di perumahan kita karena jarak antara perumahan dan kampus nya dekat pak Alex.”


Jawab pak Didit dengan detail. Di tanya satu ternyata di jawab dengan sepuluh jawaban. Paling tidak itu membuat Alex mendapat info lebih lanjut. Lagipula memang pak Didit pak RT di lingkungan tempat tinggal Alex. Jadi Alex merasa itu hal yang sah-sah saja.

__ADS_1


“Oh ya pak, saat saya sedang pingsan waktu itu bapak ada melihat HP saya tidak pak?.”


Tanya Alex lagi. Selama dirumah sakit dia tidak membawa Hp sehingga tidak bisa menghubungi Eliana.


“Oh ya itu pak, maaf saya lupa memberikannya kepada bapak. Ini pak!.”


Segera pak Didit mengambil telepon genggam Alex yang sedari tadi memang di bawa nya. Dia menggapai telepen itu yang taruh di pintu samping mobil tempatnya duduk.


Tapi sayang, telepon itu baterainya habis. Alex tidak bisa berharap banyak kepada pak Didit. Masih untung pak Didit mau menyimpan dan memberikan nya lagi telepon itu. Ditambah membantunya di rumah sakit untuk di rawat dan keluar seperti yang terjadi saat ini.


“Hmm… pak Alex. Kemarin ketika anak-anak bapak di urus sama mba Eliana saya sempat memberi nya uang untuk biaya anak-anak pak. Boleh saya minta ganti uang saya pak?.”


Kata pak Didit ragu. Tapi harus dia sampaikan. Bisa mengomel bu Tanjung kalau tidak ada setoran lagi minggu ini.


“Oh iya pak nanti saya transfer. Berapa uang yang bapak berikan ke mba Eliana?.”


Tanya Alex untuk memastikan berapa jumlah uang yang dia ganti. Walaupun faktanya dia mengetahui jumlahnya. Eliana mengembalikan uang itu saat datang marah-marah di rumah sakit. Uang merah selebaran berjumlah lima ratus ribu.


“Saya kasih dua juta pak. Karena saya tahu bapak akan lama di RS jadi itu untuk kebutuhan selama seminggu.”


“Baik pak, nanti sekalian saya transfer dengan gaji bulan ini. Saya juga mau mengucapkan terima kasih atas bantuan bapak selama ini.”


Ujar Alex berterima kasih. Mengetahui kebohongan pak Didit tentang uang saku Alex tidak ambil pusing. Tetapi tetap saja akhirnya kedok pak Didit terbongkar. Pantas saja, saat di suruh isi bensin mobil full terkadang kurang satu atau dua balok.


Namun Alex berniat untuk tetap memberikan sesuai yang di sebut pak Didit. Sebagai rasa terima kasih nya selama ini membantu Alex yang sudah kewalahan mengurus anak-anaknya.


Macet panjang terjadi di jalan kota jakarta. Alex kelelahan dan mengantuk. Seketika Alex mulai menoleh ke arah kiri dan tidur. Sedangkan pak Didit, melihat Alex tertidur, dia membelok mengambil jalan pintas. Jalan tikus menghindari kemacetan agar sampai dengan cepat.


*


*


“Kakak ini.”


Indra memberikan Eliana baju yang ingin di pakainya. Baju tidur, sedangkan ini adalah pagi yang cerah.

__ADS_1


“Bukan sayang, ini baju tidur yang di pakai di malam hari. Sini yuk kita ambil sama-sama.”


Langsung saja Eliana menarik tangan Indra dan menuju kamar. Di kamar ada Andra yang sedang bermain permainan lego. Andra sudah pandai mengurus dirinya sendiri. Berbeda dengan Indra yang masih manja. Apalagi Hendra bukan? Hehehe.


Huaaa…huaaa..huaaa. Hendra menangis. Sontak Eliana meninggalkan Andra dan Indra. Berlari menuju kamar Alex. Ternyata Hendra terbangun dari tidurnya. Segera Eliana merangkul Alex dan meninabobokkan nya lagi. Hendra pun tertidur kembali.


Eliana menuju kamar Andra dan Indra. Dia melanjutkan dengan mengurus Indra yang menunggu untuk di pakaikan baju.


Selama seminggu ini Eliana memutuskan untuk mengurus ketiga anak itu dirumahnya sendiri. Agar tidak ada rasa was-was yang mereka rasakan. Paling tidak ketika mereka tidak menemui ayahnya, mereka merasa nyaman berada dirumahnya.


Dan juga semua perlengkapan meraka ada dirumah itu. Jadi, Eliana tidak perlu mengangkat atau mengambil baju dari rumah Alex menuju rumahnya. Eliana hanya perlu membawa satu koper perlengkapan nya sehari-hari kerumah Alex.


Tetapi bagaimana jika barang ketiga bocah itu yang mau di ambil. Apa perlu tiga koper yang di bawa?. Lagipula rumah itu di penuhi dengan kebutuhan tiga anak Alex. Dari makanan, pakaian, dan fasilitas lainnya.


Eliana tidak butuh berpikir banyak untuk mengurus Andra bersaudara. Karena agak mudah mengetahui apa saja yang di makan dan di lakukan Andra dan adik-adiknya. Tinggal membuka channel Youtube Alex. Menu makanan sehari-hari mereka ada disitu.


Di tambah lagi, beberapa berita yang menayangkan keseharian Alex mengurus anak. Eliana hanya perlu belajar dan menyimak semua video itu. Dan cukup menyediakan tenaga ekstra dari sebelumnya. Mengingat ini adalah kali pertama Eliana mengurus anak orang, dan di urus seperti anak sendiri.


Selama satu minggu Eliana memiliki kesibukan sendiri. Membantunya melupakan Fredrick mantan pacarnya. Dia juga dengan senang hati tak masuk selama tujuh hari itu. Tentu lega jika tidak perlu bertemu Fredrick pasca putusnya hubungan mereka.


*


*


Akhirnya mobil terparkir di depan rumah Alex. Pak Didit bergegas turun lebih dulu dan membantu Alex turun. Dengan memberikan kunci mobil pak Didit pamit.


“Tidak usah pak. Bapak pegang saja kunci mobil dan bawa pulang. Lagipula untuk saat ini saya belum bisa menyetir. Saya belum pulih seutuhnya pak. Nanti ada perlu saya telpon bapak saja ya.”


Ujar Alex yang sedikit memohon. Pak Didit memaklumi. Juga pak Didit kegirangan dalam hati. Mobil itu bisa dia pakai bersama keluarganya. Berencana membawa cucu-nya untuk pergi jalan-jalan. Tak lupa, perginya setelah uang dua juta mendarat ke rekening pak Didit. Diluar karakternya tentang uang, Pak RT itu adalah type lelaki penyayang keluarga.


Alex berjalan memakai tongkat yang di sarankan oleh dokter Sito. Sesampainya di depan pintu Alex mencoba membuka pintu dengan kunci yang dia pegang. Tetapi tidak bisa. Dia mencoba nya kembali. Tetap tidak bisa.


Akhirnya dia memilih untuk memencet bel. Rumah itu pasti berpenghuni. Pikirnya.


Ningnong.. bel berbunyi. Pintu terbuka. Dan Eliana bertatap wajah dengan Alex.

__ADS_1


__ADS_2