
Alex berjalan masuk ke dalam restaurant setelah memberikan kartu kreditnya ke security yang berjaga. Menyusuri kursi ke kursi serta meja-meja yang tampak kosong. Di meja panjang yang memiliki enam kursi, Alex menemukan anak-anaknya bersama Abipraya dan Pak Didit. Terlihat Abipraya yang melambai memberi sinyal seraya berkata cepat kemari. Alex mempercepat langkahnya, hingga akhirnya sampai ke meja itu.
“pesan apa kamu Alex?” Tanya Abipraya sembari memegang menu yang terbuka di tangannya. Tanpa menjawab Alex hanya mengambil menu itu dan mulai membaca satu pertsatu dari menu yang tersedia. Alex melambaikan tangan ke arah waitress/ pelayan restaurant. Kemudian waitress itu mendekati meja tempat Alex berada.
“iya mau pesan apa ya pak?” Ujar pelayan itu sambil membungkuk.
“saya pesan Cheese Platter satu, AUS Striploin, Spinach Cream Soup dan Organic Roast Chicken with Roast Vegetables and Potatoes. Minumnya mineral water lima, Mixed Juice dua dan Watermelon Juice satu. Oh ya jangan lupa berikan saya satu babychair ya Mba.” Ujar Alex sembari menunjuk Hendra.
“baik pak, Apa ada pesanan lagi?” Sahut pelayan itu sembari mencatat pesanan Alex di Tablet milik restaurant.
“Abi, Pak Didit mau pesan apa?” Tanya Alex sambil melirik mereka berdua dibarengi dengan memberikan Menu kepada Abipraya.
“saya pesan Lady Germain satu dan Lobster Bique satu porsi” Kata Abipraya dilanjutkan memberikan Menu itu kepada Pak Didit. Palayan itu menyimak, setiap perkataan pelanggannya dia catat dengan cermat.
Pak Didit mengambil Menu yang diberikan Abipraya kepadanya. Dia membaca satu persatu tulisan dari buku Menu itu. Dia berpikir dan bertanya-tanya dalam hati.
“tulisan apa ini? Kenapa susah sekali dibaca?” Gumam Pak Didit dalam hati. Dia pun mengambil kacamata rabun dekatnya yang berada tergantung di dada kancing bajunya. Kacamata hitam dengan lensa cokelat yang dia pesan di Optik Tamrin City. Menggapai kacamata itu, langsung saja Pak Didit mengenakan kacamata itu.
Ternyata bukan matanya yang salah tetapi otaknya barangkali. Seumur-umur baru kali ini dia memasuki restaurant itu. Menunya dipenuhi dengan bahasa inggris dan Pak Didit tidak mengerti sama sekali dengan bahasa asing itu. Yang dia tahu hanya bahasa jawa, bahasa yang dia pergunakan sehari-hari sewaktu kecil serta bahasa Indonesia yang digunakannya berkomunikasi setiap hari. Bahkan bahasa Padang yaitu bahasa kedua istrinya pun tidak dia pahami. Walaupun anak-anak dan cucu Pak Didit mengerti bahasa Padang tersebut.
__ADS_1
“bapak pesan nasi goreng saja ya dek. Minumnya sudah dipesan sama pak Alex tadi, air mineral atau air putih.” Ujar Pak Didit singkat.
“Indonesian Fried Rice with Seafood” Abipraya menambahkan.
“iya itu!” Sahut Pak Didit sambil tertawa menye-menye.
Lekas pelayan restaurant itu melanjutkan dengan menambahkan catatan yang dia tulis. Sebentar saja, secepat kilat terlihat dia telah selesai mencatat. Kemudian pelayan itu mengulangi setiap pesanan yang disebutkan tadi agar tidak ada kesalahpahaman.
“Baiklah saya ulangi ya lagi pak. Cheese Platter-nya satu, AUS Striploin-nya satu, Organic Roast Chicken with Roast Vegetables and Potatoes-nya satu, Lobster Bique-nya satu, Indonesian Fried Rice with Seafood-nya satu. Minumnya mineral water lima botol, Watermelon Juice-nya satu, Mixed Juice-nya dua dan Lady Germain-nya satu. Sudah lengkap dan benar ya pak?” Pelayan itu berkata memastikan pesanan pelanggan restaurant itu.
“iya sudah benar Mba.” Sahut Alex sembari mengangguk.
“kalau begitu saya permisi ya pak.”Kata pelayan itu sambil mengambil semua buku Menu yang tergeletak di meja. Setelah dia melangkah mundur dan berbalik meninggalkan meja Alex.
“Abi..” Alex memanggil Abipraya sambil memutar bola matanya mengarah ke ketiga anak-anaknya.
“Oh iya okay.” Abipraya langsung saja mengerti. Arahan Alex adalah agar Abipraya merokok di tempat yang terbuka serta jangan merokok didekat ketiga anaknya. Mengingat bahwa anak-anak Alex masih kecil dan di bawah umur. Supaya memberikan contoh agar tidak merokok, paling tidak jangan merokok di samping mereka. Lagi pula merokok dapat merusak Kesehatan, terlebih perokok pasif atau yang menghirup asap rokok itu sendiri tanpa harus merokok.
Abipraya berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.
__ADS_1
“Pak Abipraya mau kemana?” Tanya Pak Didit penasaran. Langsung saja Abipraya memberikan sinyal dengan mengangkat sebungkus rokok dan koset di tangannya. Pak Didit mengerti sekarang.
“oh ya, saya ikut ya Pak Abi, saya juga mau, saya tidak membawa sebatang pun hehehe.” Ujar pak Didit jujur untuk merokok tanpa bermodal kepada Abipraya. Pria keturunan Bali asli itu hanya mengangguk memberi isyarat boleh kepada Pak Didit. Lalu mereka berdua berjalan mencari tempat untuk merokok dengan aman.
Tinggallah Alex bersama ke tiga anaknya. Dia mulai mengajak bermain ke tiga anaknya agar tidak bosan menunggu pesanan yang datang. Para pelayan yang ada memperhatikan Alex, sesekali mereka ikut tersenyum melihat tingkah Alex yang sedang melucu di depan ketiga anaknya.
Tak lama Abipraya dan Pak Didit datang. Mereka berdua telah selesai menghabiskan sebatang rokok. Mereka menduduki kursi masing-masing sama persis seperti yang mereka tinggalkan tadi. Kemudian pelayan restaurant datang dengan membawa makanan pesanan dari mereka.
Pertama, pelayan itu meletakkan Lady Germain dan Lobster Bisque tepat di depan Abipraya. Air mineral yang diletakkan masing-masing satu di depan setiap orang. Tak lupa Hendra yang berganti kursi biasa menjadi babychair. Pelayan itu melanjutkan dengan menaruh nasi goreng pesanan Pak Didit. Lalu membalikkan badan untuk pergi mengambil pesanan selanjutnya.
Abipraya dan Pak Didit belum menyentuh makanannya. Walaupun perut mereka berdua sudah mulai mengeluarkan bunyi keroncongan. Mereka menunggu pesanan keluarga Alex agar dapat makan siang bersama.
Pelayan itu datang Kembali dengan membawa nampan yang diisi beberapa pesanan. Kali ini pelayan itu membawakan pesanan Alex. Spinach Cream Soup dan Watermelon Juice diletakkan di depan Hendra. Cheese Platter dan Mixed Juice diletakkan di depan Indra. Organic Roast Chicken with Roast Vegetables and Potatoes dan Mixed Juice diletakkan di depan Andra. AUS Striploin diletakkan di depan Alex.
“sudah lengkap semua ya pak?” Tanya pelayan itu. Sekarang yang datang bukan Mba melainkan Mas.
“Sudah dek, terima kasih ya dek. Tengkiyuuuu…” Pak Didi yang menjawab. Seakan tahu saja dia dengan semua pesanan itu. Pesanan sendiri saja dia bingung untuk memesan. Mendengar jawaban Pak Didit seketika Abipraya menutup mulut dengan tangan dan tertawa kecil.
“Sudah, sudah lengkap semua. Terima kasih.” Jawab Alex ringkas.
__ADS_1
“baiklah kalau begitu saya permisi ya Pak.” Ujar pelayan lelaki itu sambil mundur selangkah dan membalikkan badan lalu pergi.
Alex bersama anak-anaknya dan sahabatnya serta Supir pribadinya melanjutkan dengan makan siang yang tenang. Tanpa diganggu oleh para fans fanatic dari Alex. Semuanya terlihat makan dengan lezat beserta hidangan yang sesuai dengan pesanan masing-masing.