
“Ih itu siapa ya? Keran amat.” Ujar salah satu mahasiswi yang tak diketahui namanya. “Iya sih keren, tapi bawa anak gitu jadinya agak gimana gitu.” Jawab mahasiswi yang lain. “Bawa Anak aja tetep keren ga sih itu orang.” Kata mahasiswi yang lain lagi.
Seketika Alex menjadi sorotan mahasiswa Fakultas Hukum. Rata-rata orang melihat ke arahnya baik itu mahasiswi maupun mahasiswa. “Itu orang siapa ya?” Tanya seorang mahasiswa berambut keriting. “Halah.. paling orang yang lagi cari sensasi kali.” Sahut temannya yang berkepala botak.
Alex terus bejalan entah kemana arahnya. “Mati Aku! Harus kemana Aku mencari kelas.” Gumamnya. Alex berjalan menyusuri Gedung Fakultas UI dari Gedung pertama dekat parkiran hingga ke Gedung FHUI yang lainnya.
Bukannya berkuliah, Alex malah berkeliling dan jalan-jalan bersama Hendra. Hendra sangat menikmati acara jalan keliling kampus FHUI itu. Sedangkan Alex masih dengan keringat yang bercucuran. Keringat yang keluar karena nerveous yang ia rasakan disertai rasa capek jalan kaki keliling sambil menggendong Hendra.
Langkah Alex terhenti di depan Gedung C FHUI. “Fiuh.. fuhhh…” Nafas Alex tak beraturan Dia kelelahan. Selama dua tahun lebih Dia tak pernah lagi berolahraga, hari-harinya sibuk dengan akun Youtube dan mengurus Anak.
“Elianaa.. Eliana.. hanya Eliana yang bisa menolongku. Fuhhh..” Dengan nafas yang ngos-ngosan Alex mengingat Eliana. Alex meraba kantong celananya dan mengambil ponselnya. Bibirnya sudah kering, Dia mulai kehausan tapi rasa haus itu diabaikannya.
Keringat dari Duda keren ini masih bercucuran. Bahkan saat Alex mencari kontak Eliana pada ponselnya setetes keringat menetes di atas layar ponsel tersebut. Alex mengusap keringat itu dengan jempol dan mengelap layarnya pada kemeja yang Dia kenakan.
“Ayo Eliana tolong angkat…” Alex menelepon Eliana selama tiga kali tetapi belum juga mendapatkan jawaban panggilan. Alex kembali mengulangi panggilan itu lagi dan lagi hingga akhirnya diangkat oleh Eliana.
“Halooo..” Sahut Eliana pada panggilan suara yang tak dikenalnya itu. “Halooo Eliana ini Alex!” Dengan sigap Alex menjawab Eliana, Duren itu takut kalau-kalau panggilan itu terputus dan tak bisa lagi menelepon Eliana.
__ADS_1
“Alex? Kenapa Kamu menelepon?” Eliana terkejut kala mengetahui bahwa yang menelepon adalah Alex. “Alex?” Dinda berkata dalam hati, tak sengaja Dia mendengar saat Eliana menyebut nama Alex. Dinda yang sedang berada disamping Eliana itu langsung mendekatkan kupingnya ke ponsel Eliana.
“Eliana bisa tolong Aku?” Kata Alex dengan tergesa-gesa dan nafas yang tidak beraturan. “Ada apa Alex, bisa Kamu tenang terlebih dahulu. Nafasmu jelas terdengar sepeti orang yang baru selesai lari pagi.” Ujar Eliana pada panggilan itu.
“Iya benar, eh tidak. Maksudnya benar Aku seperti orang yang habis lari tapi tidak sehabis lari pagi. Aku hanya sedang kelelahan berjalan mengelilingi FHUI. Eliana Aku ada di Kampus UI sekarang.” Terang Alex. “Ha… Ngapain Kamu ke sini Alex?” Tanya Eliana was-was. Eliana mulai curiga akan direpotkan lagi oleh Alex.
“Ahhhh…” Dinda menganga mendengar percapakan itu dan segera menutup mulutnya yang terperanga dengan dua telapak tangannya. “Alex di sini? Mau ngapain Alex ke sini?” Dinda menyeru dalam hati. Dua sejoli ini memiliki pertanyaan yang sama kepada Alex.
“Aku sedang mencari kelas, hari ini Aku masuk kuliah.” Jelas Alex. “Apa? Kamu kuliah di sini?” Eliana menjawab kaget lalu melirik Dinda. “APPAA?” Dinda yang tak bisa menahan rasa kagetnya akhirnya nampak terperanga oleh Eliana.
“Husss.. tutup dulu mulutmu Din, nanti lalat masuk.” Ujar Eliana kepada sahabatnya itu. Seketika Dinda tersadar lagi dan menutup mulutnya. Ingin sekali rasanya Dinda merebut ponsel Eliana dan berbicara langsung kepada Alex.
“Nanti bisa ku jelaskan tolong temui Saya terlebih dahulu.” Pinta Alex dalam panggilan itu, Dia memelas kasihan. “Baiklah, Kamu di mana?” Tanya Eliana. Dinda masih memasang kuping mendengar semua percakapan itu.
“Aku sekarag berada di depan Gedung C FHUI.” Jawab Alex. “Okay tunggu di sana.” Sahut Eliana. “Kamu jan….” “Tut..tut..tut..” “Idih ni orang nyebelin banget deh! Aku masih mau ngasih tau kalau jangan kemana-mana lagi sebelum Kita datang malah teleponnya sudah dimatiin.” Ucap kesal Eliana sembari memandangi layar ponselnya.
“Sudah Eliana biarkan saja. Yang terpenting sekarang Kita segera ke Gedung C, sepertinya benar Alex lagi kesusahan.” Ujar Dinda, Dia tak sabaran untuk bertemu dengan Alex.
__ADS_1
“Loh kok Kamu tahu Din?” Tanya Eliana. “Suara ponselnmu besar jadi jelas kedengeran tadi suara Alex ngos-ngosan gitu.” Kata Dinda yang mencoba beralasan. “Sekarang ayok Kita pergi ke Gedung C.” Ajak Dinda.
Kedua sahabat ini meninggalkan ruang kelas mereka. “Kamu kemana? Lima belas menit lagi masuk ini.” Teriak ketua kelas. “Sebentar saja ketua.” Teriak Eliana sembari menaikkan jempolnya.
Eliana sedang berjalan santai dan Dinda ingin cepat sampai. “Eliana bisa dipercepat sedikit langkahmu.” Dinda menyarankan. “Kenapa Din? Kamu kebelet kah?” Tanya Eliana. “Enggak sih, cuma kayak kasihan si Alex nunggu kalau Kita kelamaan.” Jawab Dinda.
“Biarin!” Pungkasnya. “Ehhh.. iya ayo cepat kalau gitu, tadi kan kata ketua kelas sebentar lagi dosen masuk. Ayo cepat!” Eliana berlari kala mengingat pesan dari ketua kelasnya. Dua sejoli ini berlari kencang.
Sementar itu Alex terduduk di pinggir jalan. Posisi duduknya masih menggendong Hendra namun sekarang karena duduk sudah terlihat seperti memangku Hendra.
“Ayahhh.. Cucu.” Ucap Hendra, perutnya merasa lapar. “Iya sayang sebentar.” Sahut Alex kepada Hendra sembari mencubit pipi Anaknya.
Alex pun melepaskan tas punggungnya dan meletakkan tas itu di sampingnya. Mengambil susu bubuk dan memasukkannya ke botol susu yang sudah Dia persiapkan malam tadi. Memasukkan air panas sebanyak 30ml serta memasukkan air dingin hingga botol itu penuh. Lalu Alex menguncang-guncang botol itu hingga susu bubuk yang ada larut menyatu dengan air.
“Ini sayang.” Kata Alex kepada Hendra. Dengan cepat Anak bungsunya itu mengambil botol susu miliknya dan mengedot sambil duduk.
“Fiuhhh… Kuat lari juga ya Kamu Eliana.” Ujar Dinda ngos-ngosan. “Ayo tetap lari, tapi mana sih itu Alex.” Sahut Eliana yang sudah sampai di depan Gedung C FHUI. Dia tidak mendapati Alex di sana. Eliana mengambil ponsel dalam tasnya.
__ADS_1
“Halo Kamu di mana sih? Ini Kami sudah di depan Gedung C.” Ujar Eliana. “Aku di sini depan Gedung C.” Jawab Alex. “Aku tidak melihatmu. Kamu yang mana sih?” Ucap Eliana sembari celingak celinguk mencari Alex.
“Eliana…” Dinda menarik-narik lembut baju Eliana. “Itu Alex bukan?” Dinda berkata sambil menunjuk Alex yang tengah Duduk bersama Hendra. “Ya ampunnn… benar-benar itu Duda udah enggak waras.” Ujar Eliana berdecak heran.