Duren Kampus

Duren Kampus
Alex menitipkan Hendra


__ADS_3

Dingdong! Bel rumah Alex berbunyi. “Itu pasti Ayah…” Teriak Indra kemudian berlari untuk membuka pintu. Aisyah mengikuti Indra dari belakang bersama Andra. Tak lupa Hendra dalam gendongan Aisyah.


“Assalamualaikum.” Alex memberi salam. “Walaikumsalam.” Aisyah menjawab salam. “Ayah..” Sapa Indra yang menyambut Ayahnya. Kali ini Andra dan Hendra hanya terdiam kalem dan tersenyum.


Alex melirik Aisyah yang tengah menggendong Anak bungsunya. Kemudian lirikannya beradu pandang kepada Hendra. Anak bungsunya hanya diam tanpa mengangkat lengan ingin digendong.


“Uni tidak kenapa-kenapa kan Uni?” Aisyah bertanya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. “Mba mu tidak kenapa-kenapa sayang.” Sahut Bu Tuti lembut, Dia bahkan memeluk Aisyah.


“Hendra, enggak mau digendong sama Ayah ya nak?” Ujar Alex memegang tangan Hendra. “Ayahhh…” Hendra pun menyapanya dan langsung kembali kedalam dekapan Ayahnya. “Anak pinter, tadi Kamu enggak rewel kan?” Tanya Alex. Hendra hanya menggelengkan kepala seraya berkata tidak.


“Anak-anak sudah pada mandi. Cuma Indra yang belum, karena Dia menolak untuk dimandikan. Saya ada memasakkan kalian untuk makan malam sebagai rasa terima kasihku karena telah menolong Kakakku.” Jelas Aisyah.


“Ahhh.. tidak usah sungkan Aisyah.” Sahut Alex. Pipinya memerah seperti jambu air. “Kalau begitu Saya pamit.” Aisyah melangkahkan kakinya menuju keluar.


“Argghh..” Bu Tuti berteriak sembari memegangi perutnya. “Ada apa Uni?” Aisyah kembali panik mendengar teriakan Kakaknya. “Sepertinya Aku belum makan dari siang Aisyah.” Sahut Bu Tuti masih dengan tangan yang memegangi perutnya.


“Makan dahulu Bu baru pulang. Toh Aisyah juga sudah memasak.” Ajak Alex. “Tidak usah terima kasih Alex. Saya bisa memasak lagi dirumah nanti.” Tolak Aisyah.


“Kelamaan Aisyah, perutku sudah sangat sakit. Maagku sudah kambuh arghh..” Bu Tuti berteriak lagi. Aisyah mulai cemas melihat Kakaknya yang kesakitan. “Baiklah, jika tidak merepotkan biarkan Kakakku makan terlebih dahulu baru Kami pulang.” Terang Aisyah.


“Uni tidak akan makan jika Kau tidak makan Aisyah!” Terang Bu Tuti. Wajahnya kembali garang, ekspresi kesakitan itu tiba-tiba menghilang. Aisyah yang menyadari itu merasa aneh.


“Sudahlah, makan lah terlebih dahulu baru pulang. Jika kalian sudah makan, Saya tidak akan menahan kalian lagi kalau ingin pulang. Mari…” Alex mempersilahkan tetangganya.


“Fiuhhh..” Aisyah menghela nafas. “Apa boleh buat.” Gumamnya. Lalu mereka makan malam bersama.


Benar! Bu Tuti kelaparan. Dia bahkan sampai menambah dua kali. “Aisyah dengan Kau berada disini, Aku jadi nafsu makan. Jika kau menikah dengan Alex, Aku pun akan langsung sehat.” Bu Tuti menyeru dalam hati.


Aisyah tertegun malu melihat Kakaknya yang sedang lahap makan di rumah Alex. sedangkan Alex merasa senang jika tetangganya makan dengan lahap saat mereka makan bersama. Untuk waktu yang lama, rumah itu jarang sekali kedatangan tamu.


“Ini Bu jika ingin menambah lagi silahkan. Jangan sungkan, Saya senang jika tamu Saya makan dengan lahap. Itu menandakan bahwa mereka nyaman di rumah ini.” Ucap Alex sambil mendorong tempat nasi ke depan Bu Tuti.

__ADS_1


“Sudah, sudah cukup. Enak sekali masakanmu Aisyah. Jika perutku masih bisa terisi maka Aku pun masih akan makan lagi. Tapi sayang Aku sudah kenyang. Terima kasih Alex.” Bu Tuti mendorong kembali nasi itu.


Aisyah yang nasinya masih banyak bersisa tak sanggup untuk menghabiskan makanannya. Entah kenapa nafsu makan malah menghilang saat makan di rumah itu. Pikirannya melayang-layang, dalam asa nya Dia membayang Ghandi.


“Uni seperti tidak pernah makan masakanku saja.” Ujar Aisyah menatap kosong. “Tidak Aisyah, Aku sungguh serius. Entah mengapa masakanmu jadi lebih enak jika dimakan di rumah ini. Aura rumah ini sepertinya cocok untukmu.” Jelas Bu Tuti menyudahi makanannya.


“Uhuk.. uhuk..” Aisyah terbatuk. Dia sedang keselek nasinya sendiri. Lekas Alex memberikan segelas air putih kepada Aisyah. “Terima kasih.” Ujar Aisyah sesaat setelah menerima gelas yang berisi air itu, lalu ia minum.


Bu Tuti yang melihat itu merasa terbang di udara. “Apa kubilang, belum juga satu hari sudah ada chemistry diantara kalian berdua. Memang kalian itu jodoh xixixi…” Kata Bu Tuti setengah berbisik.


“Apa? tante bilang apa tadi?” Sahut Indra yang mendengar perkataan Bu Tuti tetapi tidak jelas dengan yang Dia katakan. Di kupingnya hanya jelas terdengar perkataan jodoh. “Kamu habiskan makanmu saja dulu ya sayannggg.” Sapa Bu Tuti kepada Indra.


Merasa tidak ada yang merespon, Indra pun mengabaikan pendengarannya. “Uni jika sudah selesai makan mari Kita pulang. Ini sudah malam Uni.” Tegur Aisyah.


“Baiklah, Aku akan pulang rencanaku hari ini berhasil. Tunggu saja kelanjutannya besok.” Gumam Bu Tuti. “Baiklah Aisyah.” Jawab Bu Tuti singkat. “Alex Kami permisi, terima kasih atas bantuanmu hari ini.” Ujar Bu Tuti berdiri sambil berjabat tangan kepada Alex.


“Tidak apa Bu, Saya juga berterima kasih sudah dimasakkan oleh Aisyah.” Kata Alex sembari memandangi Aisyah. “Sungguh parasmu menyejukkan hati Aisyah.” Alex menyeru dalam hati. “Sama-sama.” Jawab Aisyah singkat.


Kemudian Aisyah bersama dengan Kakaknya pergi meninggalkan rumah Alex dan kembali kerumahnya. Sedangkan Alex melanjutkan runitinitasnya bersama Anaknya, bermain, dan membereskan sisa bekas makan tadi saat bersama Aisyah serta Kakaknya itu.


Keesokannya, Alex bangun lebih awal dari biasanya. Dia mencoba memanage waktunya agar pekerjaan rumah dan live streamingnya tidak terbengkalai serta setelah pulang kuliah rumahnya pun bisa bersih dan rapi.


Hari ini Dia memulai live streaming dengan menu bubur tim campuran jagung dan keju. Menu itu sesuai dengan bocoran yang Dia sebutkan kepada Dosen nya kemarin.


“Okay sampai disini dulu menu yang dapat Saya sajikan untuk kalian semua. Saya Alex undur diri, dan maaf jika ada salah kata selama melakukan live streaming ini. Sampai jumpa besok pagi. Assalamualaikum wr.wb.” Alex menyudahi live streamingnya pagi ini.


Setelah melakukan live pada akun Youtube miliknya lekas Alex membersihkan semua perlengkapannya dan mulai memasak untuk sarapan Anak-anaknya. Hari ini Dia hanya mendadar telur, membersihkan sayur, mentimun, dan tomat dan mengupas plastic keju slide. Lalu disajikan di atas roti tawar atas piring. Tak lupa Alex menuangkan plain milk untuk empat gelas, Alex membuat empat porsi sarapan termasuk untuk dirinya.


Sarapan pagi sudah siap di atas meja. Alex melanjutkan dengan mempersiapkan tas punggungnya untuk berkuliah. Pagi ini Alex menyimpan gendongan Hendra kedalam lemari karena Dia berencana untuk menitipkan Hendra ke rumah Bu Tuti. Sesuai dengan saran yang diberikan oleh Bu Tuti kemarin.


Kemudian Alex mengeluarkan tas Hendra. Tas punggung itu berwarna kuning bermotif Jerapa. Tas berukuran kecil itu diisi dengan segala kebutuhan Hendra, dari mulai susu, botol susu, snack, Ipad, minyak telon serta baju ganti untuk Hendra. Tas itu pun terlihat penuh dan menggembul.

__ADS_1


Pagi ini kepala Alex terasa ringan dengan adanya bantuan dari Bu Tuti. Tak lupa Dia berucap syukur saat melaksanakan sholat subuh hari ini.


Melihat semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah siap. Alex melanjutkan dengan membangunkan Anak-anaknya. Memandikan Hendra dan memakaikannya baju kaos berwarna biru langit dengan gambar gajah diperutnya, mengenakan celana pendek berbahan Levis. Serta topi berkuping berwarna senada dengan bajunya.


Andra dan Indra sudah bisa mandi sendiri, mengenakan pakaian sendiri. Kedua Anak Alex itu mandiri sejak kecil, sehingga ada keringanan yang mulai dirasakan Alex dibandingkan dengan saat baru-baru sepeninggal Istrinya.


Alex bersama ketiga Anaknya menunggu kedatangan Pak Didit. Tak lama kemudian Pak Didit pun datang seperti biasanya. Dia datang dengan meminta kunci mobil terlebih dahulu. Membiarkan mesin mobil hidup dan memanaskannya. Lalu mengangkat barang-barang Alex beserta Anaknya ke dalam mobil.


Setelah beres, Alex dan Indra masuk ke dalam mobil. Begitu pula dengan Pak Didit yang sudah duduk dikursi supir menunggu Alex menaiki mobil untuk berangkat.


“Pak Didit, bisa tunggu sebentar Pak.” Kata Alex sambil mengintip di kaca mobil yang terbuka. “Iya Pak, tunggu lama juga enggak apa sih Pak Alex. Saya tidak masalah hehe. Tapi kasian sama Anak Pak Alex bisa telat nanti, jadi jangan lama ya.” Terang Pak Didit.


Alex hanya tersenyum mengangguk dan pergi ke rumah Bu Tuti bersama dengan Hendra. Pak Didit memantau dari dalam mobil. “Pak Alex, ngapain ke rumah Bu Tuti?” Gumam Pak Didit.


“Assalamualaikum.” Teriak Alex. Pintu rumah Bu Tuti tak kunjung terbuka. “Assalamualaikum…” Alex kembali berteriak dengan nada yang lebih tinggi. “Assalamualaikum.” Hendra memberi salam mengikuti Ayahnya. Seketika Alex tersenyum dan mencium pipi Anaknya.


“Walaikumsalam…” Bu Tuti keluar dengan nada yang sumringah. “Ini Bu Saya titipkan Hendra.” Kata Alex sambil memberikan Hendra kepada Bu Tuti. Namun sayangnya Hendra jelas menolak untuk digendong oleh Bu Tuti. Hendra hanya mempererat pelukannya untuk selalu bersama Ayahnya.


“Sebentar ya Alex, Aku panggilkan Aisyah.” Ujar Bu Tuti. Kemudian menghilang dibalik pintu. “Aisyaahhhh…” Bu Tuti berteriak, teriakannya sampai jelas terdengar di kuping Alex.


“Iya Uni.” Aisyah keluar dengan kedua tangan yang basah dan dipenuhi busa sabun. “Apa yang Kau lakukan?” Tanya Bu Tuti. “Aku sedang mencuci piring Uni.” Jawab Aisyah.


“Cepat cuci tanganmu dan kembali kesini.” Perintah Bu Tuti. “Baik Uni.” Sahut Aisyah singkat kemudian berlari dan menyirami tangannya menggunakan air bersih pada westafel.


“Ayo keluar bersamaku.” Ucap Bu Tuti, Dia merangkul lengan Aisyah. Sambil menuju pintu keluar Bu Tuti menjelaskan “Aiysah di depan ada Alex, Dia sedang bawa Hendra. Dia akan menitipkan Hendra kepadaku jadi kau jangan cemas. Cukup ambil Hendra dan Aku akan mengurusnya.”


“Benarkah?” Aisyah berdecak heran. Mimpi apa Dia semalam hingga Kakaknya hari ini mau mengurus Anak kecil. Anak sendiri saja belum tentu Bu Tuti mau mengurus apalagi Anak orang, namun Aisyah tetap berjalan keluar bersama Kakaknya.


Setibanya di pintu, Aisyah jelas melihat Alex bersama Hendra. Aisyah sempat bertatap mata dengan Alex lalu Aisyah menghindarinya lagi. Jelas Aisyah melihat wajah ganteng Alex, Aisyah tersenyum lalu menggelengkan kepalanya kala mengingat Ghandi sang mantan suami.


“Sini sayang sama Kakak.” Ajak Aisyah kepada Hendra. Tanpa basa basi Hendra pun langsung digendong dengan Aisyah.

__ADS_1


“Jangan khawatir, Aku akan menjaga Anakmu. Sekarang cepatlah berangkat, nanti kau telat Alex.” Perintah Bu Tuti kepada Duda keren itu. “Baik Bu terima kasih, Saya pamit.” Kata Alex yang kemudian menghilang dibalik pagar pembatas rumah.


__ADS_2