Duren Kampus

Duren Kampus
Janji yang terlupakan


__ADS_3

Hendra sedang tertidur pulas di tempat tidurnya, Alex pun merebahkan badan di kasur miliknya sambil memandangi langit-langit rumahnya. Dia sedang berusaha memejamkan mata untuk tidur agar Migrainnya bisa hilang, menurutnya. Dia memiringkan badannya ke arah kiri dan kanan, tak juga matanya bisa tertidur.


Dia bangun dan terduduk di atas kasur, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Alex tak sengaja melirik jam digital yang membangunkannya tiap pagi. Jam itu menunjukkan pukul empat sore. Melihat jam itu sontak Alex berlari ke dapur dan duduk di meja makan. Mengambil benda pipih yang ada di kantong celananya lalu menekan tombol pada panggilan suara di ponselnya.


“Halo Pak Didit, Andra dan Indra bagaimana? Saya baru ingat. Sudah sore begini belum pulang dan Pak Didit tidak pergi menjemput mereka karena Pak Didit kan sejak tadi bersama Saya.” Ujar Alex. Jantungnya bergdegup kencang, Dia tidak ingin kehilangan Anak-anaknya lagi.


“Iya halo Pak Alex, Andra dan Indra ada di rumah Saya Pak. Mereka sedang bermain bersama cucu-cucu Saya Pak.” Jawab Pak Didit santai.


“Ba..Bagaimana bisa Pak? Karena Pak Didit jelas bersama Sa..saya tadi.” Tanya Alex terbata-bata.


“Iya tadi tak suruh Adam yang jemput Pak. Tadi Saya WA Adam agar menjemput Andra dan Indra. Kebetulan kunci mobil Saya letakkan di kursi supir dan pintu mobil tidak Saya tutup rapat. Jadi, Adam bisa langsung menjemput Anak Pak Alex tanpa menganggu Kita untuk minta kunci mobil saat melakukan seleksi tadi.” Jelas Pak Didit.


“Alhamdulillahhh… baiklah kalau begitu terima kasih Pak. Oh ya Pak apa mereka sudah makan siang tadi Pak?” Tanya Alex lagi, Dia harus memastikan apakah Anaknya sudah makan siang apa belum.


“Sudah Pak, tadi kata Istri Adam, Andra dan Indra makan dengan lahap. Ternyata mereka doyan makan Ayam Semur Pak sampai nambah tadi.” Terang Pak Didit.


“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Didit. Suruh saja Dia pulang sekarang Pak karena sudah sore dan pasti Andra dan Indra belum berganti pakaian.” Ujar Alex, Dia bersyukur sekarang Anak-anaknya aman.

__ADS_1


“Baik Pak nanti Saya sampaikan kepada Andra dan Indra Pak.” Sahut Pak Didit yang kemudian telepon itu terputus.


Alex kembali merebahkan badannya di atas kasur, sekejap Dia tak merasakan Migrainnya kala mengingat Andra dan Indra yang belum pulang-pulang namun sekarang Migrain itu berdenyut lagi.


Tak tahan Alex mencoba mengambil obat pada kotak P3K miliknya. Mencari-cari obat Migrain yang biasa Dia konsumsi lalu mengambil dan membukanya. Dia mengambil satu tablet obat Migrain yang Dia letakkan di telapak tangannya lalu mengambil segelas air putih.


Dia memasukkan pil itu ke dalam mulutnya lalu bibirnya menyentuh gelas bening yang berisi air putih. Belum sempat meneguk dan menelan obat Migrain tersebut tiba-tiba Alex mengingat sesuatu lagi. Mengingat janjinya sehari yang lalu, janji itu terlupakan akibat kesibukannya hari ini.


Janji yang terlupakan itu membuatnya kaget. Pil beserta air putih keluar mendadak, Dia memuntahkan isi mulutnya. “Uhuk-uhuk” Alex terbatuk. “Aku ada janji jam tiga sore hari ini bersama Eliana. Aduh bagaimana mungkin Aku bisa lupa.” Alex menyeru dalam hati sambil memukul ringan jidatnya dengan telapak tangan.


Duda keren itu sesekali mengintip dibalik gorden jendela. Memandang kosong ke rumah Eliana, rumah itu tertutup rapat, entah ada orang di dalamnya atau tidak. Dia menatap teras rumah itu, ada sendal sepatu di sana tanda bahwa penghuni rumah sudah kembali. Alex kini menggigit kuku jarinya, kelabakan dan bingung.


Alex merogoh koceknya lagi, mengambil ponselnya dan menelepon Pak RT-nya. “Assalamualakum Pak Didit, bisa tolong Saya Pak? Jagakan Andra dan Indra hingga sebelum maghrib. Nanti biar Saya yang ke sana jemput mereka. Saya ada janji yang terlupakan hari ini.” Jelas Alex kepada supir pribadinya.


“Walaikumsalam iya Pak aman. Oh ya Pak uang nasi padang tadi sudah ditransfer apa belum ya?” Pak Didit ingin memastikan dananya sudah mendarat atau belum.


“Iya sebentar Saya transfer Pak. Yang penting tolong jagakan dulu Anak Saya ya Pak.” Pungkas Alex lalu menutup panggilan itu dengan salam lagi.

__ADS_1


Alex masih menggigit kuku jarinya, entah mengapa Dia kelabakan sekali. Mau segera ke rumah Eliana untuk menjelaskan segalanya dan mulai belajar tentang buku-buku mata kuliah nanti akan tetapi ada Hendra yang sedang tidur dan tak bisa Dia tinggalkan. Dia pun bingung mau dititip kepada siapa Hendra yang sedang tidur itu? Lagi pula sengaja Andra dan Indra disuruh tetap tinggal di rumah Pak Didit. Kalau-kalau Abangnya itu mengacau dan menganggu Adiknya saat Alex hendak ke rumah Eliana.


Alex tak bisa membiarkan kedua Abang dari Hendra itu ditinggalkan bersama Adik bungsunya sendirian. Tanpa pengawasan bisa saja Andra dan Indra tiba-tiba tidak akur dan berantem. Kalau sudah berantem pasti riuh situasinya, ada yang menangis, berteriak, hingga akhirnya Hendra bisa terbangun.


“Haduh gimana ya ini?” Alex bergumam sembari memegang dagunya dengan tangan kanan yang ditopang tangan kiri. “Tidak ada jalan lain, Aku harus menelepon Eliana.” Kata Alex dalam hati.


Tangan kiri Alex yang sejak tadi memegang ponsel itu memindahkan benda pipih itu ke tangan kanan lalu Alex mencoba untuk menelepon Eliana. Dia menelepon dengan kaki kanan yang menghentak-hentak ringan ke lantai seperti tempo sebuah lagu. Lalu tangan kirinya memijit-mijit kepala bagian kiri. Migrainnya semakin berdenyut, rasa sakit itu semakin sakit Dia rasakan.


Panggilan pertama tidak diangkat oleh Eliana. Alex mencobanya lagi dengan panggilan kedua dan tidak jua ada jawaban dari Eliana. Tak menyerah Alex mengulanginya lagi dengan panggilan suara yang ke tiga.


“Halooo..” Akhirnya diangkat dan dijawab oleh Eliana. “Halooo.. ini siapa?” Tanya Eliana pada panggilan yang tak ada balasan menjawab tersebut. Eliana melepaskan posisi ponsel dari kuping ke bawah dan menatap layar, ternyata penelepon tersebut hanya nomor asing yang tidak dikenalnya.


Tut..tut..tut! Panggilan suara itu terputus. Eliana memutuskan panggilan suara itu.


“Fiuhhh..” Alex menghela nafas lalu menarik nafas. Dia kembali menenkan tombol yang berwarna hijau itu dan menelepon Eliana lagi. Akan tetapi panggilan itu tidak terjawab. Alex mencoba lagi hingga tiga kali namun panggilan itu tak kunjung dijawab Eliana.


“Salah sendiri kenapa pas diangkat tadi tidak ngomong wahai Alex-alex!” Alex menyeru dalam hati. Dia menyalahkan dirinya sendiri. “Kalau begini jadinya gimana dong?” Alex berbicara sendiri bagaikan orang aneh.

__ADS_1


__ADS_2