
Eliana dan Dinda sampai di kantin kampus. Mereka berdua memilih makan di kantin Fakultas Hukum UI karena posisi kantin yang tak jauh dari Gedung kelas. Sebenarnya di Universitas Indonesia, selain mengenyam pendidikan yang berkualitas, di sini juga banyak ragam wisata kuliner. Setiap Fakultas memiliki kantin dan berbagai macam menu yang di tawarkan oleh setiap kantin masing-masing Fakultas.
Dua sejoli ini berjalan melewati kantin Bikun (Bis Kuning) Coffee.
“Disini aja gimana?” Ajak Dinda kepada Eliana setelah melihat warung bis kuning itu.
“Malas ngopi ah Din.” Jawab Eliana yang tidak tetarik. Dinda selalu saja mengajak Eliana untuk nongkrong di kantin itu, dia sangat suka dengan desain kantin yang terbuat dari bis kuning kampus itu.
“Aku kok pengennya makan nasi kebuli ya Din hehe.” Ujar Eliana yang mulai merubah haluannya.
“Kita harus ke kantin Vokasi lagi dong Eliana. Kita makan di sini aja, jauh-jauh nanti engga keburu. Bentar lagi juga masuk loh.” Tolak Dinda halus. Sebenarnya selama ini Dinda selalu mengalah dan mengikuti kemauan Eliana. Memang dalam berteman Eliana cukup dominan, dan hanya Dinda yang sabar menghadapinya. Maklum dari kecil Eliana selalu mendapatkan apa saja yang dia diinginkan. Ekonomi keluarga yang mumpuni menjadi factor utama, sehingga apapun yang diinginkan Eliana bisa tercapai dengan mudah.
“Yahhh…” Sahut Eliana kecewa. Tidak biasanya Dinda menolak ajakannya namun apa yang dikatakan Dinda benar sehingga logika Eliana menerima hal tersebut.
Akhirnya mereka berdua makan di kantin Fakultas Hukum UI. Eliana terlihat lahap sekali memamakan makan siangnya, benar-benar lapar Eliana. Sedangkan Dinda, dia hanya sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa di makan.
“Tidak makan kamu Dinda?” Tanya Eliana, kalau-kalau temannya itu tidak selera makan.
“Tadi lapar sih, sekarang malah kenyang.” Jawab Dinda sembari meletakkan sendok yang dipegangnya tadi di atas piring.
“Buat aku aja hihi..” Pinta Eliana. Walaupun Eliana cantik dan pintar, terkadang dia seperti bocah dan polos.
“Oalah Eliana belum kenyang juga.” Dinda berkata dalam hati. “Ini ambil aja” Sahut Dinda kepada Eliana sembari melepaskan senyum manis.
“Okay makasih ya Din.” Eliana tersenyum lebar bak anak kecil yang mendapatkan sebungkus permen.
Langsung saja Eliana melahap makanan Dinda. Dinda memperhatikan, menurutnya kepolosan itu lah yang membuat dia bertahan berteman dengan Eliana. Sekalipun Eliana seorang gadis yang sempurna dia tetap menjadi dirinya sendiri dan selalu bertindak sesuai hati nuraninya. Sekalipun ada rasa iri yang sudah menumpuk, kepolosan itu selalu meluluhkan hati Dinda. Eliana juga berteman dengan Dinda tanpa melihat latar belakangnya, walaupun tampak jelas di wajah kedua orang tua Eliana bahwa dia tidak begitu disukai jika berteman Dinda.
__ADS_1
“Ehekkkk…!” Eliana sendawa. Sontak Dinda membelalakkan matanya memandang Eliana saraya berkata jangan sendawa di depan umum.
“Ops! Sorry Din hehehe..” Seketika Eliana menutup mulutnya dengan jemari lentiknya sambil tertawa kecil.
“Aku sih tidak masalah Eliana tetapi ini di depan umum nanti orang liat kan engga sopan.” Dinda mencoba mengingatkan sahabatnya itu. Eliana hanya balas tersenyum tanpa berkata.
“Ya sudah minum dulu habis itu kita ke kelas ya. Mumpung belum masuk ini.” Dinda berkata sembari menunjuk jam tangan milikinya.
“Hayuk!” Sahut Eliana sambil berdiri yang kemudian disusul oleh Dinda dan berdiri juga. Akhirnya mereka berdua berjalan masuk ke kelas.
Keesokan harinya.
“Halo Pak Ujang di mana?” Ucap Eliana sembari duduk di ruang tamunya. Dia telah siap untuk pergi ke kampus dan menunggu kedatangan Pak Ujang.
“Iya Mba sebentar lagi nyampe nih, ditunggu ya.” Sahut Pak Ujang. Tak lama Pak Ujang pun datang, tanpa basa basi Eliana menaiki mobil itu dan berangkat. Diperjalanan Pak Ujang tidak banyak bertanya karena jelas dia mengantar Eliana untuk pergi berkuliah.
“Mba Dindanya mau tidak Mba? Bapak kan tahu kalau dia jarang mau ikut kita. Nanti sia-sia lagi Mba.” Jawab Pak Ujang. Dia tahu betul dengan karakter Dinda, karena Pak Ujang juga telah menjadi supir pribadi sejak Eliana kecil.
“Udah ke sana aja dulu, entar ku paksa dia ikut Pak. Kalau dipaksa dia tidak mau ya sudah kita lanjut saja Pak hehe.” Ujar Eliana. Eliana memang gadis yang kaya raya tetapi betapa pun kayanya dia ternyata dia tidak mempunyai banyak teman. Eliana terlanjur nyaman bersama Dinda yang selama ini tidak banyak neko-neko. Bahkan ketika ditawarkan bantuan Dinda menolak walaupun tindakan itu sedikit mengecewakan Eliana. Tapi paling tidak Dinda berteman dengannya bukan karena kekayaannya, Eliana menyadari itu.
Pipiiiippp! Suara klakson mobil Eliana terdengar jelas. Seekor kucing lari terperanjat mendengar gema suara klakson mobil di gang rumah Dinda. Eliana mencoba melepon Dinda dan tidak diangkat oleh Dinda. Akhirnya Eliana memutuskan untuk turun dan mengetuk pintu rumah Dinda.
Tok..tok..tok.. Eliana mengetuk pintu rumah Dinda.
“Din.. Dinda…” Teriak Eliana. Tidak ada jawaban dari teriakannya tersebut.
“Mungkin Mba Dindanya sudah pergi kali Mba.” Sahut Pak Ujang yang masih duduk di dalam mobil. Mendengar hal itu Eliana kembali masuk ke mobil dan menuju kampus tanpa Dinda.
__ADS_1
*
*
Tok…tok…tok.. terdengar suara ketukan pintu rumah Dinda.
“Din.. Dinda!” Terdengar suara perempuan yang memanggil nama Dinda. Jelas itu suara Eliana, tapi Dinda mengabaikan panggilan itu hingga akhirnya suara itu menghilang bersamaan dengan suara mesin mobil yang menyala.
“Kenapa tidak dibuka Dinda? Bukankah itu Eliana?” Tanya Pak Doni Ayahnya Dinda.
“Tidak apa-apa Ayah. Dinda lebih suka berangkat ke kampus bersama Ayah.” Jawab Dinda lembut. Seketika Pak Doni tersenyum terharu, walaupun anaknya cerdas dan berkuliah di Universitas terbaik yang ada di Indonesia, Dinda tidak pernah malu punya Ayah yang seorang tukang Ojek.
“Baiklah kalau begitu mari kita berangkat nak.” Ajak Ayahnya Dinda sembari mengenakan jaket Ojek miliknya. Pak Doni mengemudikan kendaraan roda dua itu dengan santai. Menyusuri jalanan kota yang padat, tak lama mereka pun sampai.
Pak Doni memasuki halaman parkir FHUI dan berhenti, Dinda turun dari motor. Tak lupa Dinda juga menyalami dan mencium tangan Ayahnya lalu pamit. Ayahnya pun memutar dan pergi untuk bekerja.
Dinda berjalan menuju kelas dengan memeluk beberapa buku di depannya. Belum sempat sampai ke kelas terdengar suara yang memanggil namanya.
“Dinda….” Eliana berteriak memanggil nama sahabatnya. Dinda menoleh dan melihat ke sekeliling.
“Ya ampun Eliana suaramu besar sekali, orang-orang pada ngeliatin.” Kata Dinda dalam hati. Eliana mendekat sontak Dinda memasang wajah yang tersenyum manis.
“Baru dateng kamu?” Tanya Dinda kepada sahabatnya.
“Iya jalanan macet jadi agak lama baru sampai, untung tidak telat.” Jawab Eliana.
“Ya sudah ayok masuk bareng.” Ujar Dinda sembari merangkul lengan Eliana. Lalu mereka berdua masuk kelas.
__ADS_1