Duren Kampus

Duren Kampus
Nostalgia


__ADS_3

Alex keluar rumah sambil menggendong Hendra. Sekarang Alex mulai merasakan beratnya menggendong anak bungsunya itu. Hendra tumbuh sehat dan BB normal. Semakin lama semakin besar dan membuat Alex pegal.


Bapak dari tiga anak itu memilih berdiri di teras. Melihat Andra dan Indra menaiki mobil disusul dengan pak Didit. Sesekali Alex mencuri pandang kearah rumah Eliana. Rumanya tertutup. Sepi.


Tapi heran. Alex merasa ada yang berbeda sekarang. Dia mulai menyadari bahwa komplek yang dulunya senyap. Kini telah ramai dihuni. Alex mendapati bu Rosa sedang Kapha Yoga di halaman rumahnya. Serta melihat mba Gendut yang sedang mencuci mobil.


Mata Alex tak luput dari kedipan. Apa itu? Gadis gemuk yang sedang mencuci mobil?. Seketika imajinasi Alex bereaksi. Seakan melihat spon besar berwarna pink membersihkan secara otomatis mobil itu. Yah! itu dia, si mba gendut. Alex berkedip-kedip dan menggeleng-gelengkan kepala. Berharap imajinasinya memudar agar melihat realita yang ada di depannya.


Alex segera masuk ke rumah. Setelah membuka pintu dan selangkah sebelum masuk dia sempat melihat kearah kanan rumah bu Tuti. Kalau-kalau ada yang sedang menjemur pakaian. Namun, jemuran kosong. Dia pun melanjutkannya dengan memasuki rumah.


Seperti biasa, tanpa bosan Alex kembali fokus untuk mengurusi Hendra. Disaat berduaan seperti itu, Hendra mendapat kasih sayang penuh tanpa gangguan abang-abangnya.


Bau tak sedap keluar dari balik celana Hendra. Lekas Alex memeriksa. Hendra BAB. Segera Hendra dibawa ke toilet untuk dibersihkan.


Dingdong! Bel rumah Alex berbunyi. Tapi Alex belum selesai mengurusi anaknya di toilet. Lekas dia membersihkan dengan cepat. Membuka lemari dan memakaikan Hendra celana. Butuh waktu yang cukup lama agaknya.


Hingga selesai memakaikan Hendra celana. Bel itu masih berbunyi. Setelah selesai langsung saja Alex menggendong dan segera membuka pintu. Tidak ada siapapun disana. Alex bertanya-tanya dalam hati. Tapi dia tidak perduli dan kembali masuk.


Alex meletakkan Hendra di ruang keluarga. Anaknya duduk diatas karpet yang lembut. Dilengkapi dengan permainan hotwheels yang berserakan. Hendra bermain sendiri sekarang. Alex berdiri dan menuju dapur. Pergi mengambilkan Hendra camilan.


Sesampainya di dapur dia membuka lemari kitchen set miliknya. Lemari berwarna cokelat kayu itu tidak terkunci. Semua dia kumpulkan diatas meja dapur beserta susu UHT kotak untuk Hendra. Tiba-tiba Alex merasa haus, segera dia membuka pintu kulkas. Sebelum membuka pintu kulkas. Dia sempat membaca jadwal kuliahnya. Menyusuri tanggal yang berada disamping kulkas. Alex menghitung hari.


“Dua hari lagi jadwal ospek.”


Ucap Alex dalam hati. Alex kembali menemani Hendra bermain bersama camilan sehat buatannya. Namun, pikirannya membagi. Memikirkan bahwa dia tidak bisa ikut ospek UI seperti yang dia lihat di Youtube. Tidak bisa. Dengan topi petani, almamater dan segala pernak pernik syarat ospek. Bagaimana mungkin? Dia mau meletakkan Hendra dimana?.


Alex berniat membawa Hendra ke kampus. Tidak ada yang bisa menjaganya. Tidak bisa pula dengan kondisi ospek yang seperti orang gila itu. Jadi, Alex memutuskan untuk tidak ikut ospek. Namun, di surat penerimaannya tertulis bahwa ospek harus diikuti. Seketika otaknya mumet.


Dingdong!


Bel rumahnya kembali berbunyi. Alex keluar membuka pintu tanpa membawa Hendra.


“Iya ada apa ya pak?”


Alex menegur tamunya dengan sopan. Dia mendapati pria tinggi berkulit hitam. Berwajah manis dengan lesum pipit di kedua pipi. Segera pria itu memeluk Alex gembira.


“Alex, ya ampun. Apa kabar kamu bli?.”


Ujar pria itu berbahagia. Alex masih diam. Belum ada tanda-tanda bahwa dia mengenal pria itu.


“Alex? Ini aku Abipraya!”

__ADS_1


Sontak Alex terkejut. Dia yang memeluk sekarang.


“Astaghfirullah. Maaf Abi aku tidak mengenalimu. Kau begitu manis sekarang. Dan tambah hitam. Dulu kulit mu kuning langsat.”


Alex tersenyum lebar sekarang. Tidak menyangka dia bertemu sahabatnya. Lekas Alex menyuruhnya masuk dan duduk di ruang tamu.


“Sehitam itu kah diriku sekarang Alex?”


Canda Abipraya. Alex tersenyum dan mengangguk.


“Itu anakmu Hendra? Ih sudah besar ternyata.”


Abipraya menunjuk kearah Hendra. Alex terkejut lagi.


“Eh kok tau kalau itu anakku?.”


Tanya Alex heran.


“Alex, kamu itu selebritas. Gampang saja untuk mengetahui urusan pribadimu. Kau tahu, aku bahkan membeli rumah disini. Karena tahu kau disini. Aku langsung saja membeli rumah yang berdekatan dengan rumah sahabatku.”


Ucap Abipraya yang sekarang disuguhkan teh panas.


“Bir ada lex?”


“Tidak Abi, disini aku hanya hidup bersama anak-anakku. Jadi aku tidak menyetok bir dirumah.”


Sambil menggaruk-garuk leher Alex mencoba menjelaskan.


“I see… kalau gitu kita pesan via ojek online saja.”


Abipraya lekas mengambil benda pipih di kantong celananya.


“Ja..jangan aku sudah kenyang. Lagi pula perutku sedang merasa tidak enak.”


Cegah Alex. Sepertinya Alex mengetahui bahwa temannya itu belum tahu bahwa Alex seorang muallaf.


“Oh okay. Lain kali saja kalau begitu.”


Kembali Abipraya mengembalikan HPnya ke kantong celana.


“Kamu ngapain di jakarta Abipraya?.”

__ADS_1


Alex bertanya. Dia tahu persis bahwa Abipraya bukan tipe orang yang suka merantau.


“Oh itu, selepas orang tuaku pensiun. Aku diwarisi warisan yang cukup banyak. Dari toko oleh-oleh krisna hingga ke usaha funiture milik mereka. Sekarang aku sedang melebarkan sayap perusahaanku disini. Aku membuka cabang bali furniture diarea Depok sini.”


Jelas Abipraya panjang lebar. Namun kali ini Abipraya menyadari sesuatu. Dia melirik kesekeliling. Ada banyak tulisan Arab menempel di dinding rumah Alex.


“Oh seperti itu rupanya. Apa kamu akan menetap disini?.”


Tanya Alex lagi. Alex memandangi jemari Abipraya. Tidak ada cincin disana. Belum sempat dijawab Abi, Alex kembali bertanya.


“Apa kamu sudah menikah Abipraya?.”


Seketika Abipraya tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha… kamu masih belum berubah Alex. Masih saja kamu Alex yang dulu, yang penuh dengan rasa penasaran.”


Abipraya meminum tehnya. Kemudian melanjutkan. Alex menunggu jawabannya.


“Ya aku belum menikah Alex. Aku ingin menikmati masa mudaku dulu. Dan benar aku akan tinggal di jakarta selama bisnisku belum beres. Saat selesai mendirikan cabang baru disini aku bisa kembali ke Bali.”


Sahut Abipraya yang sekarang menaikkan alisnya.


“Alex istrimu mana?”


Abipraya penasaran. Gadis mana yang bisa menaklukan temannya itu. Jaman sekolah dulu, disaat teman-teman yang lain mulai berpacaran. Alex tetap cuek.


“Istriku..”


Satu kata terucap dari mulut Alex. Lalu dia tak sanggup melanjutkannya lagi. Abipraya berdiri, terkejut. Matanya baru tertuju kepada foto keluarga Alex yang tepat berada di depannya.


“Alex! Apa betul itu Nindi?.”


Kaluar logat khas Bali pada ucapan Abipraya. Alex mengangguk. Sekarang Abi mulai mengerti dengan semua tulisan Arab yang menempel di dinding. Tentu Alex masuk islam seperti pamannya. Dia tahu betul bahwa pamannya itu muslim yang taat.


Abipraya melirik Alex. Alex mengerti dan mengangguk lagi.


“Iya sekarang aku seorang muslim Abi.”


Ucap Alex tertunduk. Bukan malu melainkan menghindari wajah shock Abipraya.


“Jadi sekarang Nindi dan pamanku dimana?”

__ADS_1


Alex mulai menceritakan sejarah hidupnya. Bernostlagia bersama Abipraya, teman lamanya.


__ADS_2