
“Alex, Hendra kemana? Tumben enggak ikut ke Kampus.” Tanya sang Ketua kelas. “Hap!.” Alex melahap gigitan terakhir yang berada ditangan Najwa. Najwa melirik sinis dengan bibir yang mengerucut lalu membuang bungkus camilan itu pada tong sampah yang ia lewati.
“Hendra ku titipkan dengan tetanggaku Najwa.” Jawab Alex sembari menelan sisa gigitan terakhir Bembeng itu. “Ya ampun Alex, ada cokelat di wajah mu.” Najwa mengelap sisa cokelat yang ada di dekat bibir Alex dengan jempolnya.
“Oh thanks Najwa.” Jawab Alex singkat. Najwa yang baru saja mengelap cokelat itu melihat jempolnya. “Sungguh beruntung kau wahai jempol. Bisa menyentuh wajah ganteng Alex.” Najwa menyeru dalam hati.
“Terus kenapa enggak dari awal aja sih Kamu titipin Hendra sama tetanggamu itu.” Sahut Najwa. Dia membiarkan jempolnya dengan noda cokelat itu.
“Kalau seandainya bisa Najwa, dari awal akan ku titip Anakku. Tetapi sayangnya Hendra itu pemilih Najwa. Tidak semua orang bisa untuk bersamanya. Dan beruntungnya Aku, kemarin Allah menjawab doaku.” Terang Alex.
“Alhamdulillah kalau begitu, oh ya memangnya Kamu mau ke mana Alex berjalan sendirian?” Tanya Najwa. Sedari tadi saat melihat Alex berjalan sendiri, itulah pertanyaan yang ada di benaknya.
“Aku mau ke toilet, mau ikut?” Canda Alex. “Ihhh.. Ogah ahh..” Tolak Najwa. Najwa menolak tetapi entah kenapa tolakan itu tidak seperti menolak melainkan terlihat seperti seorang perempuan yang tersipu malu dengan wajah yang memerah.
“Yah kalau gitu silahkan Kita berpisah disini.” Perintah Alex sesaat setelah sampai di depan toilet Pria. “Okay, Aku tunggu yaaa…” Ujar Najwa sembari tersenyum manis. Alex tak menjawab Najwa, Dia hanya terus melangkahkan kaki hingga menghilang di dinding toilet khusus untuk Pria.
Najwa menunggu, Dia berdiri sendirian di depan toilet itu sambil melipat tangan di atas perut, demi Alex. Tiga menit berlalu Alex keluar dari toilet itu. Najwa kembali tersenyum, tiga menit yang dilalui Alex di dalam toilet itu terasa bagaikan Alex melaluinya dengan waktu lima belas menit.
“Lama enggak?” Tanya Alex kepada Najwa. “Enggak kok, bentar banget malah.” Sahut Najwa. Mereka berdua melanjutkan berjalan bersama ke kelas.
__ADS_1
“Alex..” Kata Najwa sembari menoleh melihat wajah blasteran Inggris Bali itu. “Ya Najwa?” Sahut Alex sembari menoleh pula. Kemudian Najwa membuang muka karena malu untuk bertatapan dengan Alex.
“Tadi kulihat, ada Kakak tingkat Kita yang sedang Kamu rangkul pinggulnya. Itu siapa? Apa kalian saling mengenal?” Tanya Najwa penasaran. Semenjak bertemu Alex, Dia sudah mengstalking setiap media sosial yang berhubungan dengan Duda keren itu. Namun sayang yang Dia temukan bukan Alex melainkan akun orang lain, termasuk Bu Tanjung.
“Oh itu, Dia Eliana, Dia tetanggaku dan memang benar Dia satu tingkat di atas Kita. Yah bisa dibilang kalau Eliana adalah senior Kita.” Jelas Alex. Bibirnya meraup senyum kala menyebut nama gadis itu.
“Oh seperti itu. Kak Eliana itu cantik ya.” Pancing Najwa. Ketua kelas satu itu ingin tahu bagaimana pendapat Alex tentang gadis yang bisa membuat Alex tersenyum.
“Iya cantik, dan Kamu tahu Najwa, setiap perempuan itu cantik. Setiap makhluk ciptaan Allah itu indah.” Ujar Alex sepenuh hati. Najwa yang mendengar itu seketika meleleh alih-alih cemburu.
“Ternyata Alex seorang yang Alim.” Kata Najwa dalam hati. Hatinya semakin mantap untuk mendekati Alex mengingat garis keturunan Najwa berasal dari Arab.
“Hai Alex.” Tiba-tiba seorang perempuan menyapa Alex dari depan. “Haii.. Kamu..” Alex berusaha mengingat siapa nama gadis itu. Yang Dia kenal di kelasnya baru Najwa. “Dia Siska Alex.” Kata Najwa menyela Alex ketika melihat Alex berpikir keras untuk mengetahui nama gadis itu.
Alex yang mendengar itu membelalakkan matanya. “Siska… bisa-bisanya Kamu merayu seorang Pria di Kampus dan di depan orang lain.” Najwa menggeleng tak percaya. Begitu dengan Alex, mendengar rayuan yang diluar dugaannya itu membuatnya ingin lari seketika. Tetapi sayang ada Najwa yang harus Dia imbangi.
“Emang enggak boleh, emang Cuma Lu doang yang boleh sama Alex!” Kata Siska, wajahnya jelas menampakkan ekspresi tidak suka atas teguran Najwa. “Halooo.. apa Aku menggoda Alex? Lu tanya aja sendiri deh.” Ujar Najwa yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajahnya jelas mendongak kepada Siska yang lebih tinggi itu. Langkah ketiga orang itu terhenti seketika.
“What? Jangan pura-pura deh! Semua orang di kelas Kita juga tahu kali.” Sahut Siska melipat kedua tangannya, wajahnya bengis. “Alex!” Teriak Najwa.
__ADS_1
Alex mengusap telinganya, Dia jelas berada di samping Najwa. Tetapi teriakan Najwa membuatnya tidak nyaman. “Sudah-sudah hentikan. Ada apa dengan kalian berdua?” Tanya Alex heran.
“Alex cepat jelaskan, apakah Aku merayumu?” Najwa kembali berkata dengan nada yang tinggi. Alex mengerutkan alisnya, Dia hanya bisa menggigit bibir dan mengusap kembali telinganya. “Najwa ini kecil-kecil suaranya besar eh.” Alex menyeru dalam hati.
“Tidak Siska, Najwa tidak merayuku atau yang lain-lain. Kami hanya berteman, dan Aku sering bertanya kepadanya seputar perkuliahan Kita. Jadi, Kami dekat sebatas teman. Lagi pula sedari tadi Kami hanya berjalan bersama dan mengobrol.” Jelas Alex perlahan agar situasi tetap aman.
“Oh bagus deh kalau gitu.” Siska mengibas rambutnya lalu meninggalkan Alex dan Najwa. “Ishh… tu orang nyebelin banget sih. Udah gitu ganjen lagi.” Umpat Najwa.
“Najwa, Istighfar Najwa.” Tegus Alex. “Astaghfirulahhh… iya benar Alex. Makasih sudah mengingatkan.” Ujar Najwa yang mulai mengatur kembali nafasnya agar emosinya padam.
Kedua orang itu melanjutkan langkahnya, tiba-tiba seorang gadis mendekatinya lagi. Kali ini Memei mendekat dengan sopan. “Alex dari mana?” Tanya Memei yang langsung menggeser Najwa dan mengambil posisi Najwa.
Tak terima, Najwa menggeser kembali Meimei dan mengambil tempatnya semula. Melihat hal itu, Memei yang merasa tak bisa mengambil posisi jalan Najwa yang ada di samping kanan Alex memilih untuk berpindah ke samping kiri Alex.
“Tadi dari toilet, ada apa …” Alex terhenti pada kalimat terakhirnya. “Hayyaa… Aku Meimei lah.” Ujar Memei cemberut, matanya semakin sipit kala itu. “Oh iya benar Meimei. Tadi Aku ingin ke toilet terus engga sengaja bertemu dengan Najwa. Jadinya Kita bareng deh.” Terang Alex.
“Oh begitu..” Sahut Memei. Memei lebih pandai dalam mengambil kesempatan dibandingkan dengan Siska. Cara Meimei lebih bersahabat dengan tidak beradu mulut dengan Najwa. Karena sangat jelas, jika itu terjadi tentu Alex merasa tidak nyaman.
Akhirnya tiga orang ini berjalan bersama dan mengobrol satu sama lain tanpa harus berselisih paham. Meimei lebih mengalah dalam berargumen jika mengobrol, baginya cukup berjalan dengan Alex sudah membuatnya lega. Pada percakapan tiga orang itu jelas Najwa yang mendominasi percakapan mereka.
__ADS_1
Tak lama kemudian tiga orang mahasiswa dan mahasiswi sampai ke kelas mereka. Mengambil tempat duduk masing-masing. Seperti biasa, Alex duduk berdampingan dengan Najwa dan kali ini samping kanan Alex ada Memei yang mengisi kursi itu. Walaupun, biasanya kursi itu diduduki oleh Antonius.
Saat duduk, Najwa mengambil sebuah tissue yang ada di tasnya. Dia lalu mengelap jempol bekas cokelat dari wajah Alex. Najwa mengusap tissue itu ke jempolnya lalu melipat rapi tissue itu dan menaruhnya di dalam lipatan sebuah buku kosong. Buku yang sudah berisi selembar tissue itu kemudian di simpan kembali ke dalam tas.