Duren Kampus

Duren Kampus
Silabus


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin ketika Alex di PI, dia mulai berpikir dua kali jika ingin berada di tempat umum. Tetapi tidak mungkin juga Alex harus selamanya di rumah, pasti ada momen di mana dia akan keluar seperti weekend kemarin.


“Gimana ya cara ngadepin fans ini? Arghhh…” Alex bergumam sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia pun mengucek-ngucek rambut rapinya sehingga terlihat berantakkan.


“Mana bentar lagi kan juga kuliah. Haduh gimana ya?” Alex masih bergumam. Tampaknya Alex sedang berpikir keras, dia tidak pernah menyangka efek samping dari bermain Youtube. Efek samping dari bermain Youtube selain menghasilkan uang banyak, jika masuk ke dalam video, ya jadi terkenal kan YGY (ya guys ya). Akhirnya dia merasa terganggu karena fans fanatic yang cenderung menganggu kebebasan Alex di tempat umum.


Alex berdiri dan berjalan menuju kamar Andra dan Indra. Dia melihat kedua anaknya itu, mengecek apakah mereka sudah tidur? Dan alhamdulillah Andra dan Indra sudah tertidur. lalu dia kembali ke kamarnya untuk melihat Hendra. Alex menatap Hendra penuh dengan kasih sayang. Dia bahkan mengelus rambut halus tipis Hendra. Anaknya bungsunya itu bergerak, sontak Alex mengangkat tangannya tanda berhenti mengelus rambut Hendra. Ternyata Hendra hanya bergerak untuk membalikkan badan tapi Alex enggan untuk melanjutkan mengelus rambut Hendra lagi, sebagai pencegahan agar anak bungsunya tidak terbangun.


Alex melirik jam digital kecil yang ada di meja samping kasurnya. Alarm itu menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Masih jam setengah sepuluh ternyata, pantas saja Alex belum mengantuk. Dia terbiasa tidur di atas jam dua belas malam. Alex memutuskan untuk duduk di ruang keluarga dengan membawa laptopnya.


Dengan menghidupkan laptopnya Alex kini menemui teman lamanya, Youtube. Dia sedang mengecek analytic akun Youtube miliknya, tidak ada penurunan penonton dan jam tayang serta tidak ada kenaikan jumlah penonton. Akun miliknya stagnan sekarang, melihat analytic yang stagnan itu Alex tidak ambil pusing.


Dia lebih memikirkan bagaimana caranya dia berkuliah dengan meninggalkan ketiga anaknya? Selama dua tahun lebih dia terbiasa di rumah untuk mengurusi anaknya. Itu saja sudah membuatnya repot, apalagi jika sambil berkuliah? Namun Alex tetap bertekad. Dia tetap ingin berkuliah untuk menambah ilmu dan title yang akan ditulis di akhir namanya nanti. Title yang dia dambakan yaitu Sarjana Hukum (SH). Baginya title itulah yang paling keren untuk seorang pria dan bonusnya dia berharap bisa lebih sering bertemu dengan Eliana.


Alex memegang kantong celana pendeknya, meraba dari kantong depan hingga kantong belakang celananya. Tetapi dia tak kunjung menemukan benda pipih itu. Akhirnya Alex berdiri dan melirik sana sini untuk menemukan ponselnya. Alhasil dia menemukan ponselnya di meja makan. Segera dia mengambil ponsel itu dan melakukan panggilan suara kepada Pak Didit.

__ADS_1


“Halo Pak Didit, maaf mengganggu Pak, apa bapak sudah tidur?” Ujar Alex sambil berjalan dan duduk di sofa yang tadi.


“Halo iya Pak Alex, belum Pak saya masih menonton liga inggris di TVRI Pak.” Jawab Pak Didit jujur.


“Begini Pak Didit, bisa bantu saya untuk mencari babysitter untuk Hendra?” Tanya Alex langsung tanpa basa-basi.


“Ha apa pak? Babysitter? Mau dicariin bayi ya Pak?” Tanya Pak Didit, sepertinya Pak Didit tidak mengerti perkataan bosnya itu. Alex mencoba lagi dengan bahasa yang lebih sederhana.


“Iya Babysitter Pak, a.. pengasuh bayi Pak. Itu kalau orang-orang endak salah bilangnya nyari orang untuk momong anak Pak.” Ujar Alex sembari menyebut kalimat itu dengan logat jawa.


“Untuk jagain Hendra Pak. Beberapa hari lagi kan saya sudah masuk kuliah jadi saya butuh Babysitter untuk jagain Hendra. Ya mosok Hendra mau saya bawa ke kampus hehehe…” Ucap Alex sambil tertawa ringan. Dia mencoba sedikit bercanda agar Pak Didit lebih on.


“Hehehe… Benar juga Pak. Baiklah Pak nanti saya carikan.” Jawab Pak Didit ringkas. Kemudian panggilan telepon terputus tanpa Alex matikan. Pak Didit yang menyudahi panggilan itu dan kembali menonton television (TV).


Dengan panggilan suara yang terputus Alex tidak heran. Dia biasa mendapati ketika menelpon teleponnya terputus. Alex meletakkan ponselnya di meja kecil samping sofa yang tadi, di atas meja itu terdapat lampu hias berwarna kecokelatan. Di samping lampu hias itu ada sebuah buku yang Alex dapat dari Pak Didit ketika dia menyuruh Pak Didit untuk menggantikannya ospek.

__ADS_1


Alex mengambil buku itu dan berniat untuk membacanya.


“Silabus?” Alex membaca cover buku itu. Dia mengerutkan keningnya seraya berkata buku apa ini. Alex membaca buku itu, dari halaman satu ke halaman lainnya. Alex mendapati beberapa point penting disana. Alex meletakkan Silabus itu di sofa dengan posisi buku yang terbuka. Kemudian Alex berdiri masuk kamar dan mengambil selembar kertas serta pena. Dia mencatat poin-poin penting yang dia temukan pada Silabus itu.


Poin yang penting yang dicatat oleh Alex adalah beberapa mata kuliah. Dia berencana untuk membeli dan membaca buku itu sebelum masuk kuliah nanti. Setelah selesai mencatat semua mata kuliah untuk semester awal, Alex melanjutkan membaca. Dia mulai membaca standar kompetensi mata kuliah, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator hasil belajar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan lain-lain. Cukup lama Alex membaca Silabus itu hingga akhirnya matanya terkatup mengantuk. Tak selesai dia membaca Silabus itu, namun karena sudah menguap Alex pun menutup bukunya dan meletakkannya kembali di meja samping sofa. Kemudian dia bergegas untuk ke kamar dan tidur.


Kring..kring..kring… Alarm berbunyi. Seperti biasa Alex bangun serta mulai menyiapkan keperluan anaknya. Setelahnya dia melaksanakan pekerjaannya yaitu melakukan live streaming. Siaran langsung yang dia lakukan pada akun Youtube-nya kali ini hanya berdurasi tiga puluh menit. Materi menu bubur timnya cukup sedikit sehingga menghasilkan durasi video yang sedikit. Lagipula di umur Hendra yang sudah dua tahun, Hendra tak lagi memakan bubur tim.


Hendra kini sudah makan nasi seperti kedua abangnya namun Alex masih selalu menyiapkan menu bubur tim di pagi hari demi konten Youtube-nya karena itulah pekerjaannya. Uangnya mengalir dan masuk rekening hasil dari memasak bubur tiap hari.


Seperti hari biasanya, Alex membangunkan Andra dan Indra untuk bersiap pergi ke sekolah. Senangnya kini Andra dan Indra tidak perlu dimandikan lagi. Kedua anaknya itu sudah pandai mandi dan memakai baju sendiri. Setelahnya Andra dan Indra sarapan nasi goreng buatan Alex. Lalu tak lama Pak Didit datang sebagai tanda untuk berangkat ke sekolah. Tentu setelah sarapan itu habis di makan oleh Andra dan Indra.


Di depan pintu Alex bersalaman kepada kedua anaknya lalu anaknya itu berpamitan untuk pergi. Setelah mobil mewah itu pergi Alex hendak langsung masuk ke rumahnya. Tetapi sebelum berbalik badan sempat saja dia mendapati Mba Temble yang sedang mencuci mobil dan Mba Rosa yang sedang melakukan Kapha Yoga di halaman rumahnya.


“Itu Mba Temble tiap hari cuci mobil?” Alex bergumam. Lalu dia hentikan berbicara dalam hati dan memutuskan masuk rumah untuk membangunkan Hendra serta lanjut untuk mengurusi anak bungsunya itu.

__ADS_1


__ADS_2