Duren Kampus

Duren Kampus
Menghindar


__ADS_3

Dari pagi hingga siang Eliana dan Dinda mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka itu. Masih satu mata kuliah lagi yang harus mereka hadiri namun dosen yang mengajar tidak dapat hadir dan kelas harus dicancel hari itu.


“Hai guys, bapak Sugiono berhalangan masuk, jadi kelas hari ini tidak dilanjutkan. Pak Sugiono hanya memberikan tugas yang harus dikerjakan. Berikut beberapa tugas itu.” Kata ketua kelas sembari menulis di papan tulis tugas dari Pak Sugiono. Lekas semua mahasiswa yang ada di kelas mencatat tugas itu, begitupun dengan Eliana dan Dinda.


Sebentar saja bagi Eliana dan Dinda mencatat tugas itu. Beberapa mahasiswa bahkan hanya menulis tugas itu dicatatan aplikasi yang ada pada smartphone mereka. Eliana dan Dinda masih menggunakan cara manual yaitu menulis tugas itu di atas kertas/buku mereka. Setelah mencatat tugas itu mahasiswa diperbolehkan pulang.


“Din ini kan ada tugas, jangan pulang dulu gimana? Ke rumahku saja Din. Lebih baik kita kerjakan di rumahku ya.” Ajak Eliana kepada Dinda. Agaknya Dinda ragu.


“Sudah lama loh Din kamu tidak pernah main lagi ke rumah. Bahkan semenjak pindah di perumahan tempat tinggalku kamu baru sekali datang. Kamu datang juga karena aku sedikit memaksa ya kan.” Ujar Eliana sembari cemberut dan melipat kedua tangannya.


“Yah tapi gimana ya… Aku sudah keburu bilang bapakku kalau pulang kuliah langsung pulang.” Kata Dinda yang mulai beralibi.


“Ayolahhh… soal itu mah gampang entar Aku yang telpon Oom deh hehehe… ya ya?” Ajak Eliana lagi. Kali ini dia memegang lengan Dinda seraya berkata ayolah ikut denganku dan jangan menolak.


“Maaf Eliana kali ini Aku tidak bisa ikut denganmu. Lain kali saja ya Eliana.” Ucap Dinda yang sudah beneran menolak. Agaknya dia sudah malas selalu menuruti kemauan dari sahabatnya itu.


“Yahhhh… jadi gimana dengan tugas kita ini? Ini kan juga tugas kelompok yang terdiri dari dua orang. Kamu tidak mau satu kelompok denganku ya Din?” Tanya Eliana dengan ekspresi wajah yang cemberut. Dinda sebenarnya mulai melirik ke sekeliling, memang tidak ada yang lain yang bisa dia ajak menjadi kelompoknya. Akibat dari selalu bersama Eliana, tentu mahasiswa lain sudah tau bahwa Dinda akan satu kelompok lagi dengan Eliana.


Dinda mulai berpikir jika dia bersikeras untuk menolah Eliana, temannya itu akan sadar nanti kalau ada hal aneh dalam diri Dinda sebagai sahabatnya.


“Eliana hari ini aku beneran tidak bisa. Bagaimana kalau kita ganti dengan hari yang lain saja?” Ujar Dinda yang mencoba menyembunyikan rasanya untuk menghindari kecurigaan Eliana.


“Tugas ini dikumpul minggu depan, jadi masih banyak waktu untuk mengerjakannya. Bagaimana kalau hari minggu besok saja kita kerjakan di rumahmu?” Dinda mulai bernegoisasi. Mana mungkin Eliana mau diajak mengerjakan tugas pada hari minggu. Dinda tahu betul bahwa Eliana tidak bisa hari minggunya diganggu untuk kegiatan yang lain.

__ADS_1


Hari minggu adalah hari ibadah Eliana ke Gereja. Biasanya Eliana selepas dari Gereja dia langsung berkumpul dengan keluarganya. Tetapi saat sudah pindah rumah yang sekarang Eliana sudah jarang berkumpul dengan keluarga pada minggu. Mengingat bahwa Eliana dan orang tuanya sudah tidak satu rumah. Apalagi mereka semua sibuk! Ayah dan Ibu Eliana sibuk mengurusi bisnisnya, sedangkan Eliana sibuk dengan kuliahnya. Walaupun seperti itu Eliana tetap meluangkan waktunya untuk menelepon keluarganya pada hari minggu.


“Dinda jangan hari minggu lah. Besok aja gimana?” Ucap Eliana sembari tersenyum manis. Kini dia makin memeluk erat lengan dari Dinda.


“Haduh gimana ya ini, makin ditolak makin ngebet nih emang ini anak.” Gumam Dinda dalam hati.


“Okay siap besok jam berapa?” Kata Dinda sambil tersenyum lebar. Seketika Eliana bersemangat dan mulai melepaskan wajah cemberutnya.


“Sepulang dari kampus aja Din. Besok kasih tau Bapakmu kalau tidak usah dijemput. Biar Pak Ujang yang antar pulang. Nanti ke rumahku kita bareng pas dijemput Pak Ujang.” Jelas Eliana.


“OKAY!” Jawab Dinda ringkas. Dia tidak dapat menolak Eliana.


“Nah sekarang ayuk kita pulang.” Ajak Eliana yang masih merangkul lengan Dinda. Lalu mereka berdua berjalan bersama meninggalkan kelas.


“Eliana bareng aja yuk.” Ajak Eliana kepada Dinda.


“Tidak bisa Eliana soalnya Bapakku sudah di jalan untuk menjemputku.” Sahut Dinda.


“Makanya lain kali bilang jangan dijemput, tidak masalah kalau Aku antar jemput kamu. Jadi, kita bisa jalan bareng terus kan. Lagipula kan kita memang satu kampus.” Ujar Eliana. Dinda tidak menjawab ajakan itu lagi.


“Sudah ayo naik mobil, itu Pak Ujang sudah menunggu.” Ucap Dinda sambil menyeret lembut Eliana untuk masuk mobil. Eliana pun menurut dan langsung menaiki mobilnya.


“Sampai ketemu besok ya, bye bye…” Kata Eliana sembari melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Dinda membalas dengan senyuman kecil tapi manis. Tak lupa dia juga melambaikan tangannya. Akhirnya Eliana pulang lebih dulu.

__ADS_1


Dinda berjalan menuju halte bis, dengan menaiki bis kuning Dinda tidak perlu berjalan jauh untuk keluar kampus. Dengan berjalan dia akhirnya sampai di halte Busway dan berdiri menunggu Busway yang datang. Ternyata dia berbohong demi menolak Dinda. Dia mulai banyak menghindari Eliana.


Keesokan harinya.


Di dalam mobil diperjalanan menuju kampus Eliana bersemangat.


“Jemput Mba Dinda lagi tidak Mba?” Tanya Pak Ujang yang berkata tanpa menoleh.


“Tidak usah Pak, nanti juga kita pulang bareng.” Jawab Eliana singkat. Kemudian Pak Ujang melanjutkan perjalanan menuju kampus.


Sesampainya di Kampus Eliana mencari-mencari Dinda dengan memperhatikan sekitarnya.


“Mungkin sudah di kelas.” Gumam Eliana dalam hati. Sesampainya di kelas dia tidak jua mendapati temannya di sana. Langsung saja Eliana mengambil ponselnya dan menelepon Dinda, sayangnya panggilan itu tidak terjawab. Akhirnya Eliana memutuskan untuk duduk sendiri tanpa Dinda. Ini kali pertama dia duduk tanpa Dinda, rasanya sedikit kesepian dan aneh.


Dinda baru saja sampai di kelas, dia mendapati Eliana tengah duduk di dalam kelas yang sedang menatap layar ponselnya. Dinda masuk perlahan dan menutup wajahnya dengan buku. Berjalan masuk kelas menujuh kursi paling belakang, karena memang dirinya dan Eliana selama ini selalu duduk di bangku depan.


“Dinda itu Eliana, ngapain kamu ke situ?” Teriak salah satu mahasiswa yang melihat tingkah aneh Dinda. Sekejap Dinda berdiri mematung menghentikan langkahnya. Eliana yang mendengar temannya itu langsung menoleh kiri dan kanan. Tepat saat Eliana melihat ke belakang dia melihat Dinda.


“Damn! Aku ketahuan.” Kata Dinda dalam hati. Agaknya dia sedikit kesal karena ketahuan. “Tidak mudah ternyata untuk lepas darimu Eliana.” Dinda kembali bergumam dalam hati.


“Dindaaa…..” Eliana berteriak senang. Sepertinya dia belum menyadari hal ganjil itu. Bahwa tumben Dinda berada dibelakangnya bukan di depannya. Setelah dipanggil oleh Eliana mau tidak mau Dinda harus duduk di bangku depan samping Eliana. Ketika Dinda duduk, Eliana melemparkan senyum manisnya seraya berkata aku senang loh kamu sudah datang.


Kemudian kelas di mulai seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2