
Flashback on
“Nindi, menikahlah denganku.”
Alex berusaha menggenggam tangan Nindi. Nindi mengabaikan.
“Tidak bisa Alex. Kita tidak bisa menikah. Bisakah kita hanya berteman saja?.”
Jawab Nindi memohon. Dia jelas menolak. Bukan karena tidak menyukai Alex. Justru dia sangat mencintai laki-laki yang berada didepan nya itu.
“Nindi, apa yang harus aku lakukan agar kau mau menikah denganku?.”
Alex balas memohon. Alex serius kepada Nindi. Sejak pertama kali pertemuan nya sepuluh tahun lalu di rumah Abipraya. Alex terkesima melihat paras Nindi yang sejuk dan menenangkan hati.
“Alex aku tak bisa berlama-lama lagi. Aku di panggil bos keruangannya.”
Jelas Nindi yang terburu-buru untuk memasuki ruangan bos yang tinggal berjarak tujuh meter itu. Tak sengaja Nindi dan Alex di pertemukan kembali di jakarta.
Alex yang meninggalkan pulau dewata selepas kepergian oomnya. Christian meninggal karena kanker paru-paru yang dideritanya. Merantau ke kota jakarta, berharap bisa hidup enak dan mendapat pekerjaan.
Sesampai nya di jakarta. Naas, Alex sempat menjadi gelandangan selama dua tahun. Hingga akhirnya bertemu Nindi yang menolong nya.
Kala itu Nindi sedang menaiki angkot sepulang kerja. Berhenti di persimpangan, dan berjalan menyusuri gang kecil kota. Ketika berjalan tak sengaja Nindi mendapati seorang lelaki tengah dikeroyok beberapa preman kota.
Nindi berniat ingin membantu. Tetapi Nindi keburu takut, bisa jadi preman itu balik menyerang Nindi. Dia hanya berdiri bersembunyi di balik dinding gang itu. Hingga akhirnya preman itu meninggalkan pria itu saat dia tidak bergerak lagi.
Menyadari bahwa para preman itu telah pergi jauh. Nindi berusaha mendekati pria itu. Mencoba menyadarkan nya. Namun sialnya, pria itu tak lagi sadarkan diri. Nindi mencoba mengangkat, apa daya. Tenaga seorang perempuan untuk mengangkat pria tinggi itu tak membuahkan hasil.
Nindi mulai memutar otak. Berlari ke jalan raya.
“Tolong…tolong… siapa pun tolong bantu saya.”
Nindi berteriak tak henti-hentinya. Dia juga mengulang perkataan nya berkali-kali. Berharap seseorang datang menolong. Tak lama seorang ibu mendekatinya. Nindi menjelaskan dan lekas ibu itu berniat membantu. Tetapi dua tenaga perempuan ternyata belum cukup untuk mengangkat pria tampan berwajah bule itu.
Kembali Nindi berlari ke jalan raya. Meminta tolong dibantu oleh ibu yang tadi. Mereka berdua berteriak berkali-kali. Alhamdulillah. Usaha tidak membohongi hasil. Mendengar dua orang perempuan berteriak histeris. Orang -orang berkerumun. Dan tentunya Nindi dan ibu itu lekas membawa kerumunan orang untuk segera menyelamatkan Alex.
Alex tertolong. Biaya rumah sakit di bayar oleh Nindi yang gaji nya pas-pasan. Namun, Nindi berbaik hati. Ayahnya mengajarkan bahwa uang bisa dicari. Nyawa tidak akan pernah kembali. Ayah nya memberitahu Nindi yang kala itu menjual rumahnya untuk keperluan berobat adiknya. Yang walaupun akhirnya harus dipanggil oleh yang maha kuasa.
Alex sadarkan diri dan segera melepas infusnya. Berlari keluar. Tak sempat kabur dia di tahan dokter.
“Mau kemana kamu anak muda?.”
Tanya dokter itu sambil memegang tangan Alex erat agar tidak kabur.
“Maaf pak, saya tidak punya biaya untuk berobat disini. Izinkan saya pergi saja pak.”
Alex memohon, sambil menggosok-gosok kedua tangan nya di atas jidatnya.
“Kalau kamu mau pergi silahkan. Kamu tidak cedera parah, hanya banyak lebam di sekujur tubuhmu. Untuk urusan administrasi pengobatan kamu tidak perlu khawatir. Gadis yang duduk di kursi itu yang membayar semuanya.”
__ADS_1
Dokter menjelaskan dan menunjuk Nindi di teras puskesmas yang tengah duduk. Alex ingin mendekat dan ingin mengucapkan terima kasih. Namun setelah mendekati Nindi dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal tersebut. Dia malu melihat dirinya. Yang bahkan setelah mencuri dan dikeroyok preman dia masih diselamatkan. Tapi Nindi, sepatu nya saja sudah sangat usang dan terkelupas. Masih bisa dia menolong orang lain yang tidak dia kenal itu.
Nindi duduk termenung di kursi puskesmas. Menatap sepatunya yang usang. Kemudian dia berdiri dan berjalan pulang. Sejak saat itu Alex mengikuti Nindi kemana pun dia pergi. Menjaga Nindi. Yang akhirnya ketahuan oleh bu Aminah.
Bukan dimarahi, malah Alex diberikan tempat tinggal yang layak. Kebetulan di belakang rumah ada gudang. Alex di arahkan untuk tinggal saja disitu. Tanpa membayar. Sampai Alex mendapat pekerjaan.
Yang akhirnya bekerja di tempat yang sama dengan Nindi berada.
*
*
Nindi mengabaikan Alex. Bergegas menuju ruangan bos.
“Nindi ini ada bonus untukmu bulan ini. Karena kerjamu bagus bapak kasih bonus. Pertahankan ya nak.”
Ujar pak Sugiono, bos mini market besar di kota itu. Sudah tua, berambut putih dan ompong. Tapi dia masih kuat untuk mengurus bisnisnya.
“Baik terima kasih pak.”
Nindi pun mengambil bonusnya dengan senang. Dan permisi untuk kembali bekerja.
“Oh ya Nindi tolong panggilkan temanmu Alex. Suruh dia keruangan bapak.”
Perintah pak Sugiono kepada Nindi. Nindi pun mengangguk dan langsung keluar. Alex yang sejak tadi tidak meninggalkan tempatnya berdiri dihampiri oleh Nindi.
“Alex sini duduk.”
Perintah pak Sugiono yang menunjuk kursi di depan nya. Tak pikir panjang Alex langsung duduk.
“Alex mulai besok kamu jadi manager supermarket ini. Manager yang kemarin sudah saya pecat. Dia melanggar kode etik karyawan. Jadi saya harap sepulang dari sini kamu membeli pakaian yang layak dan mengisi posisi itu besok.”
Jelas pak Sugiono dan langsung berdiri meninggalkan ruangan.
Sepulang bekerja Alex menceritakan kemujurannya kepada Nindi. Nindi pun ikut senang melihat promosi yang didapatkan oleh Alex. Dan segera mengajak Alex membeli pakaian menggunakan bonus yang didapatnya tadi. Alex berpura-pura tidak tahu dan menerima bantuan Nindi.
Alex selalu kagum atas kebaikan Nindi. Entah mengapa dia merasa ini seperti takdir. Tapi Nindi belum mengetahui bahwa Alex adalah teman Abipraya. Sepupunya yang berada di bali.
Sepulang dari berbelanja Alex memberanikan diri untuk menceritakannya. Nindi tercengang, bagaimana mungkin bisa?. Tapi ya sudahlah, semua sudah di atur oleh yang maha kuasa.
“Tak heran jika Alex tidak pernah melaksanakan sholat. Mungkin saja dia bukan muslim. Sama seperti yang bapak katakan.”
Nindi bergumam. Itu alasannya Nindi yang selama ini menolak Alex. Mereka tidak se-iman.
Sedangkan Alex, semenjak tinggal bersama keluarga Nindi mulai mengenal islam lebih dalam. Hati nya terketuk, dia selalu merasa tenang ketika mendengar adzan berkumandang. Hanya saja dia tidak berani mengatakan hal itu kepada keluarga Nindi. Dia takut ada konsekunsi besar yang ditanggungnya. Di usir misalnya.
Mendapat pekerjaan yang layak Alex mulai menyewa gudang kosong itu. Diizinkan oleh oleh bu Aminah, Alex telah membayar sewa dan mapan sekarang.
Alex tak pantang menyerah. Ditolak Nindi tidak membuatnya putus asa. Dia mencoba melamar Nindi langsung ke ayahnya. Menunggu momen yang tepat untuk memberanikan diri menyampaikan hal itu.
__ADS_1
Semesta mendukung, pada hari dia berniat. Hari itu juga ayah Nindi mengajak Alex untuk menemaninya pergi menyupir mobil pick up. Kernet ayah Nindi tidak masuk hari kala itu.
Dulu waktu Nindi masih sekolah, ayahnya sempat jaya. Bisa selalu berlibur tiap tahun. Tapi roda selalu berputar bukan?. Ada kalanya manusia di atas dan di bawah.
Setelah selesai melakukan pekerjaan bersama ayahnya Nindi. Mereka berdua beristirahat di trotoar jalan raya. Duduk dibawah pohon yang sejuk berteduh dari teriknya matahari.
“Pak boleh saya bertanya?.”
Ujar Alex memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Iya ada apa Alex?”
Jawab ayah Nindi sembari mengipaskan topinya.
“Bolehkah saya menikahi Nindi pak?”
Alex bertanya langsung ke inti. Ayah nya Nindi tidak kaget ataupun heran. Dia hanya terdiam terlihat berpikir.
“Saya akan menjaga Nindi pak. Saya janji.”
Alex berkata sambil memegangn tangan ayahnya Nindi. Ayah nya Nindi mulai menjawab Alex.
“Alex bapak bukan tidak percaya kepadamu. Justru bapak sangat percaya kepadamu. Sudah lama kita hidup bersama. Dan hanya kamu yang menurut bapak, bisa bapak percayai untuk menjaga Nindi.”
Jelas Ayah dengan tenang. Alex mulai relaks sekarang menunjukkan wajah yang cerah.
“Tapi Alex, ada satu hal yang menjadi tanda tanya kepada bapak selama ini. Apakah kamu seorang muslim?.”
Tanya ayah serius. Ayah menatap Alex sekarang. Alex terbata dan menjawab dengan jujur.
“Maaf bapak, saya beragama kristen.”
Ujar Alex tertunduk malu. Dan tersadar bahwa yang menjadi alasan penolakan Nindi selama ini adalah masalah keyakinan.
“Alex, jika kau ingin menikahi Nindi atas restu bapak. Kau harus masuk islam. Dalam kepercayaan kami, seorang perempuan itu butuh imam baik di dunia dan di akhirat. Namun jika imamnya itu bukan muslim. Bagaimana bisa dia menuntun istrinya. Dan Alex satu hal yang harus kamu ketahui. Masuk islam bukan lah perkara ingin menikah lalu masuk islam. Tidak! Bukan itu!. Menjadi seorang muslim harus murni atas kehendakmu sendiri. Atas panggilan batin/hatimu.”
Ayahnya Nindi menjelaskan dengan bijak. Alex pun paham.
“Bapak bolehkah aku jujur lagi. Entah mengapa ketika adzan berkumandang hatiku terasa nyaman dan tenang. Ayah aku mengenal islam dari keluarga ayah. Tapi aku jatuh cinta kepada Nindi sejak aku duduk dibangku sekolah menengah pertama ayah. Saat ayah datang kerumah Abipraya bersama Nindi.”
Kini ayah yang terkejut. Ternyata Alex keturunan bali sama seperti dirinya. Hanya saja ayah bukan blasteran. Tetapi, ayah memilih masuk islam dan menikahi bu Aminah ketika merantau ke jakarta.
Itulah ayah paham betul bahwa keyakinan masuk islam jangan karena sekedar ingin menikah. Harus dari hati yang murni. Ayah pun demikian. Makanya setiap tantangan dan rintangan rumah tangganya dia jalani dengan sabar dan tidak pernah menyalahkan islam didalam nya. Ayah menjadi muslim yang taat.
Sejak saat itu, sekembalinya dari bekerja ayah langsung membawa Alex ke langgar dekat rumah. Bertemu dengan ustad, dan kemudian Alex melafaskan dua kalimat syahadat.
Akhirnya Alex menjadi muallaf dan masuk islam. Dan pernikahan pun dilaksanakan setelahnya.
Flashback off
__ADS_1