
Alex senang melihat Anak-anaknya makan dengan lahap. Selama ini Alex bersyukur Anak-anaknya mempunyai nafsu makan yang baik, tidak seperti yang banyak dikeluhkan oleh Ibu-ibu di luar sana.
“Andra nanti kalau sudah makan jangan lupa kerjakan PR mu ya.. Indra juga sama, kalau ada PR langsung di kerjakan.” Terang Alex, Dia memandangi Indra yang sedang makan. Andra menghabiskan suapan terakhirnya. “Iya Ayah” Jawab Indra.
“Andra jangan lupa sehabis makan letakkan peralatan bekas pakaimu di tempat cuci piring ya.” Ales mengingatkan. “Iya Ayah jawab Andra.
“Ayah kalau Andra tidak ada PR yang harus dikerjakan.” Jelas Andra sembari menjilati jari-jarinya lalu berdiri dan meninggalkan meja makan dengan membawa piring dan gelas yang sudah kosong.
“Kalau tidak ada baca ulang pelajaranmu yang tadi Kamu pelajari di sekolah.” Perintah Alex kepada Anak sulungnya itu. “Siap Ayah.” Sahut Andra sembari mencuci tangan di westafel. Kemudian Andra meninggalkan Ayah dan Adiknya menuju kamar.
“Ayah sudah kenyang.” Ujar Indra mendorong piring yang sudah kosong kepada Alex. “Indra, anak pintar kalau habis makan taruh piring kotornya di mana?” Tanya Alex. Ayah dan Anak ini saling bertatap mata.
“Emm.. di tempat cuci piring.” Jawab Indra sembari berpikir. “Tu Indra tau, jadi ini piring…” Tak sempat Alex menyelesaikan kalimatnya, Indra langsung memotongnya. “Oh iya benar, hehe maaf ya Ayah.” Indra meminta maaf lalu meletakkan piring kotornya ke dalam tempat cuci piring. Tak lupa Indra mencuci tangannya terlebih dahulu lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
Alex memandangi gelas kotor bekas minum Indra. “Lupa lagi nih pasti Indra.” Gumamnya. Alex memandangi Hendra, Anak bungsunya itu masih makan dengan perlahan. Duda ganteng itu sengaja tidak menyuapi Anak bungsunya agar Hendra bisa belajar untuk makan dan menyuapi diri sendiri alias mandiri.
Setelah menunggu Anak bungsunya selesai makan, Alex bergegas membersihkan mulut dan tangan Hendra kemudian mengganti baju Hendra yang kotor dan meletakkan Hendra di ruang keluarga. Alex menghidupkan TV, memutar murrotal Juz 30 dengan gambar atau video Animasi. Hendra terdiam dan melihat gambar bergerak itu.
__ADS_1
Melihat Hendra yang tenang menonton murrotal itu, Alex lekas membersihkan meja makan dan mencuci piring. Setelah selesai Alex, menggendong Hendra dan masuk ke dalam kamar Andra dan Indra.
Di pintu kamar Alex melihat Andra dan Indra sedang belajar. Setelah mengecek Abang-abang dari Hendra apakah benar belajar atau tidak, dan ternyata mengerjakan semuanya juga belajar. kemudian Alex berniat untuk meninabobokkan Hendra.
Kali ini Hendra diletakkan pada kasur milik Alex. Alex tengah mengusap-ngusap punggung Hendra berharap Anaknya itu bisa tertidur dengan cepat. Alhasil tak butuh waktu lama, mata Hendra sayup-sayup mengatup. Tak berhenti, Alex terus mengelus punggung halus itu. Hingga akhirnya Hendra tertidur.
Ketika Hendra sudah tertidur, Alex memindahkannya ke dalam kasur miliknya. Kasur Hendra lebih aman Dia tiduri karena di sekeliling kasurnya terdapat penopang atau pagar penghalang agar Hendra tidak jatuh.
Jika tidur bersama di kasur Alex, ketika Alex tidur bisa jadi tanpa disadarinya Hendra bisa terjatuh. Oleh karena itu sebagai Antisipasi, Alex selalu memindahkan ataupun menaruh Hendra di tempat tidur miliknya kala Hendra sudah tertidur.
Anak-anak Alex aman terkendali, Duda keren itu mulai menyusun rencana untuk memulai harinya besok. Jadwal Live streaming-nya dimajukan satu jam lebih awal. Alex yang biasanya bangun jam lima subuh, sekarang Dia harus bangun jam empat subuh.
Karena tidak ada yang bisa menjaga Hendra, dengan berat hati Alex harus membawa Hendra ke Kampus. Jadi, Alex pun mempersiapkan segala kebutuhan Hendra. Dari mulai botol susu, termos tempat air panas, susu bubuk, air mineral, pampers, minyak telon, baby oil, bedak, parfum bayi serta baju ganti untuk Hendra. Semuanya Alex masukkan ke dalam tas punggung itu sampai-sampai terlihat penuh.
Setelah semuanya beres barulah Alex merebahkan badan di atas kasur. Alex berencana bangun jam empat subuh karena takut tidak terbangun jadi Dia menyetel Alarm setengah jam lebih awal di pukul 03:30 WIB.
Malam ini Alex merasa sedikit kelelahan karena pikirannya terkuras banyak. Dari mengurus Anak hingga bertemu dengan para calon Babysitter Hendra yang ujung-ujungnya tidak ada satupun yang cocok. Oleh karenanya setelah kepala Alex menyentuh bantal, sebentar saja Dia langsung tertidur.
__ADS_1
Keesokan harinya Alex mengerjakan semua rutinitas paginya. Yang berbeda pagi ini Alex berangkat bersama dengan Andra dan Indra. “Pak Diditttt… bisa tolong bantu Saya?” Alex meneriaki Pak Didit yang menunggu di dalam mobil. Pak Didit pun turun dari mobil.
“Loh Pak Alex mau kemana ini?” Tanya Pak Didit heran. “Andra, Indra naik ke mobil ya.” Alex tak menjawab Pak Didit, Dia hanya menyuruh kedua Anaknya itu.
“Pak Didit bisa angkatkan tas ini dan gendongan ini.” Ujar Alex sembari memberikan barang tersebut. Pak Didit menimang barang-barang tersebut. “Duh berat ini, Pak Alex mau piknik?” Tanya Pak Didit penasaran.
“Pak Didit, Bapak lupa kah? Hari ini kan Saya sudah mulai berkuliah.” Terang Alex. Milyarder itu sekarang menggendong Anak bungsunya dan siap untuk berangkat.
“Ha…? Pak Alex serius mau pergi kuliah dengan membawa Hendra.” Pak Didit terkejut tak percaya. Mulutnya terperanga dan matanya membulat. “Iya serius Pak, lagi pula tidak ada yang bisa menjaga Hendra Pak.” Ujar Alex percaya diri.
“Sepertinya Pak Alex sudah mulai sinting! Apa karena Dia menduda sudah cukup lama. Jadi otaknya sudah tidak beres.” Pak Didit menyeru dalam hati. Seumur hidupnya yang hampir enam puluh tahun, baru kali ini Dia melihat seseorang ingin berangkat ke Kampus dengan membawa Anak yang berumur dua tahun.
“Emm.. Pak Alex, Apa sebaiknya Pak Alex menitipkan Hendra dengan Istri Saya saja Pak. Agak tidak etis melihat Bapak seperti ini. Apalagi kampus Bapak itu bukan sembarang Kampus. Pak Alex itu kuliahnya Di UI loh.” Terang Pak Didit.
Alex terdiam sejenak, memikirkan tawaran supir pribadinya tersebut. Ingin sekali rasanya Dia menerima tawaran dari Pak Didit, tetapi Alex mengingat ekspresi wajah Bu Tanjung. Di tambah lagi Hendra yang enggan pergi bersama orang lain selain dirinya.
“Pak ini sudah modal nekat Saya Pak. Lagi pula Hendra tidak mau bersama orang lain Pak.” Jelas Alex. Kening dari Duda keren itu mengkerut, bibirnya bergerak-gerak, matanya sendu kala tak percaya dirinya benar dihadapkan dengan situasi yang seperti itu. Sungguh diluar dugaannya.
__ADS_1
“Yah kalau sudah modal nekat ya…gimana lagi ya, Saya sudah bingung mau ngomong apa Pak Alex. Tapi kalau Pak Alex sudah memantapkan diri ya sudah mari kita berangkat.” Ajak Pak Didit.
Andra dan Indra hanya melihat Ayahnya sedang mengobrol dengan Pak Didit dari dalam mobil. Mereka berdua tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua orang dewasa tersebut.