
Satu jam berlalu. “Sampai di sini pelajaran yang dapat Ibu sampaikan pada hari ini. Ibu akhiri dengan wabillahitaufik walhidayah, wassalamualaikum wr.wb.” Ujar Bu Dosen dengan ceria.
“Walaikumsalam wr.wb.” Sahut para Mahasiswa bersamaan. Kemudian Dosen itu berdiri dan berjalan meninggalkan kelas namun tepat di hadapan Alex, Dia berhenti.
“Alex, ada bocoran enggak menu untuk besok?” Tanya Dosen itu. “Hehehe.. besok Saya berencana untuk membuat bubur tim dengan campuran jagung, keju saja Bu.” Jawab Alex.
“Oh seperti itu.” Kata Dosen tersenyum. “Apa Anak Ibu masih memakan bubur Bu?” Tanya Alex memberanikan diri. “Udah enggak sih, tapi Aku masih sering pantengin Youtube-nya Kamu.” Sahut Ibu itu sambil tersenyum ramah.
Alex yang melihat senyuman itu seketika berdebar. Entah apa yang merasuki jantungnya. Alex hanya membalas senyum itu lalu Ibu itu pergi meninggalkan kelas.
“Ibu itu sudah cantik, ramah lagi.” Reza berbicara sendiri sambil menopang dagu. Bibir tersenyum lebar, pipinya merona seperti warna buah apel fuji. “Hus, Lu ngapain sih Za liatin Dosen seperti liat bidadari!” Tegur Ojoy sembari menyenggol topangan dagu Reza hingga terlepas.
“Duh ganggu aja sih Lu!” Sahut Reza kecut. “Iya lagian ngapain juga pipi sampai merona. Kayak cewek aja Lu.” Sambung Liam. “Ehh kiting, siapa yang merona ya. Rambut Lu tu keriting mau di smoothing!” Kata Reza kesal.
“Udah ngaku aja Lu suka Ibu itu kan.” Ojoy kembali menyenggol bahu Reza. Mendengar kalimat itu sontak Reza menutup mulut Ojoy menggunakan telapak tangannya. “Lu kalau ngomong jangan sembarang ya.” Reza menjitak kepala Ojoy.
“Auwww..” Ojoy mengernyit. Alex yang menyaksikan jitakan itu seketika pandangannya buyar kala di panggil oleh Hendra. “Ayahhh…” Hendra menarik kemeja Alex. “Iya sayanngggg…” Alex menjawab sembari menatap Hendra.
“Ayah Hendra mau pulang.” Tiba-tiba Hendra memeluk Ayahnya. “Pulang? Belum sayang. Nanti ya.. nanti juga bakalan pulang atau Henda Ayah antar ke mobil saja sama Pak Didit.” Ujar Alex. “Noo..” Hendra menjawab sembari menggoyangkan jari telunjuknya.
“Alex..” Panggil Najwa. Alex menoleh ke arah Najwa. “Iya ada apa?” Sahut Alex. “Kamu belum pake WA juga ya?” Tanya Ketua kelas. “Oh iya bener, lupa Aku!” Alex tepok jidat.
“Hahaha…” Hendra tertawa, wajahnya yang mewarisi ketampanan Ayahnya itu kini menjadi sangat imut. “Gemoy banget sih dek.” Tiba-tiba Meimei mendekat dan mencubit pipi Hendra. Sontak Anak bungsu Alex itu cemberut dan kembali memeluk Ayahnya.
“Tak tungguin sampai besok ya. Pokoknya kalau engga ada Aku males infoin ke Kamu kalau ada apa-apa nanti.” Ancam Najwa, sepertinya Dia sedang ngambek. “Iya-iya janji deh.” Sahut Alex.
“Selamat Pagi menjelang siang.” Tiba-tiba Dosen masuk ke ruang kelas. Mei-mei segera kembali ke tempat duduknya dan mahasiswa yang lain mempersiapkan diri. Begitu juga dengan Alex, namun Hendra masih dengan posisi duduk menghadap ke Ayahnya serta memeluk Alex.
__ADS_1
Dosen itu berjalan tanpa menoleh hingga duduk di meja Dosen. Dosen itu seorang perempuan baru baya dengan rambut pendek. Sebagian rambutnya sudah memutih, dan memakai kacamata dengan lensa berwarna cokelat disertai tali kacamata yang menggantung di pipinya.
“Baik langsung saja Kita mulai…” Kalimat Dosen itu terhenti kala melihat Hendra dalam pangkuan Alex. Kebetulan Hendra pun sedang melihat ke arah Dosen tersebut kala mendengarnya berbicara.
“Loh kenapa ada Balita di sini?” Tanya Dosen sembari menurunkan kacamatanya hingga ke tengah hidung. Kelas hening, tak ada yang menjawab, begitu juga dengan Alex.
“Kamu yang bersama Anak itu mahasiswa di sini?” Tanya Ibu itu. “Iya benar Bu.” Jawab Alex menunduk. “Dan itu Anakmu?” Tanya Ibu itu lagi. “Iya benar Bu.” Jawab Alex singkat.
“Nama Kamu siapa?” Tanya Ibu itu kembali. “Nama Saya Alex Cornelius.” Jawab Alex kali ini Dia memberanikan diri untuk menatap Ibu itu.
“Saudara Alex, silahkan keluar.” Kata Ibu itu tanpa memandang Alex dan langsung membuka buku paket yang telah dibawanya sejak tadi. Dia kembali mengenakan kacamatanya tepat berada didepan matanya.
“Bu..” Ketua kelas memanggil Dosen itu sembari mengangkat tangannya. “Iya ada apa?” Dosen itu memandangi Najwa. “Tidak bisakah Alex dibiarkan ikut belajar?” kata Najwa sambil berdiri. Sepertinya Dia kukuh membela Alex.
“Maaf, jika ini jam pelajaran Saya, Dia harus keluar.” Terang Ibu itu. “Najwa sudahlah. Tidak apa, Aku akan keluar.” Alex berkata sembari menekan bahu Najwa untuk duduk.
“Sudahlah Najwa, kalau memang Kamu menganggapku sebagai teman. Tolong hargai keputusan Ibu itu.” Alex mengambil tas punggungnya. “Permisi Bu.” Alex berdiri sambil melihat Dosen itu dan sedikit membungkuk lalu pergi.
Dosen itu mengangguk kala Alex permisi lalu kembali mengabaikan Alex. Sedangkan Najwa terduduk serta melipat tangan di atas perut dan cemberut. Jelas Dia terlihat kesal dengan apa yang dilakukan Ibu itu kepada Alex. Mahasiswa yang lain? Mereka memilih diam dan tak mau ikut campur.
Alex melangkah keluar kelas dengan pandangan yang kosong. Sesekali Hendra mengajaknya bermain dan Alex membuyarkan lamunannya. Tak lama kemudian Alex menghampiri Pak Didit.
Dikejauhan Pak Didit sudah melihat Alex yang berjalan ke arah nya. Dia pun membukan kunci mobil hingga saat Alex membuka pintu, pintu itu langsung terbuka.
“Ini Pak.” Ujar Alex sambil melepaskan tas punggungnya dan memberikannya kepada supirnya itu. Tas itu sigap diterima oleh Pak Didit dan Pak Didit taruh dibelakang kursinya. Lalu Alex melepaskan Hendra dan menaruhnya di kursi depan kemudian Hendra berdiri memegang dashboard mobil.
Alex masuk dan duduk serta melempar gendongan itu ke belakang. “Ayo pulang Pak.” Kata Alex lesu.
__ADS_1
“Loh kok sebentar Pak.” Tanya Pak Didit heran. “Iya hari ini mata kuliahnya cuma sampai jam segini.” Jawab Alex ketus.
Melihat ekspresi Alex yang tak bersahabat, Pak Didit mengurungkan banyak kalimat pertanyaan yang ada dibenaknya. “Oh seperti itu, baiklah Pak.” Sahut Pak Didit. Kemudian Pak Didit menginjak pedal gas mobil dan melaju cukup kencang.
Sesampainya dirumah. “Ini Pak sudah semua.” Kata Pak Didit saat selesai mengangkut barang dan memasukkannya ke dalam rumah Alex. “Okay, terima kasih banyak Pak.” Jawab Alex.
“Kalau begitu Saya permisi.” Pamit Pak Didit. Alex hanya membalas mengangguk tanpa berkata dan Pak Didit pun menghilang dibalik pintu. Setelah Pak Didit pergi Alex lekas menutup rapat pintunya.
Alex berbalik, padangannya dipenuhi dengan sofa ruang tamu, lukisan dinding dan punggung Hendra yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah. Duda itu memandangi rumahnya sambil berjalan.
Ruang keluarga di penuhi dengan mainan yang berserakan. Tak lupa Hendra sudah duduk di sana sambil bermain, mendorong maju mundur sebuah mainan mobil-mobilan. Lalu Alex melanjutkan dengan masuk ke dapur.
Dapur itu masih dengan wesatfel cuci piring yang dipenuhi piring kotor sehabis live streaming tadi pagi. Di meja masih tergeletak piring-piring kotor dan gelas sehabis sarapan tadi pagi. Di kompor masih terlihat kuali yang menganggur dengan spatula habis pakai.
Rumah itu bagaikan kapal pecah, bukan, bagaikan rumah yang sehabis di terpa badai. Semasa hidupnya, baru kali ini rumah seberantakkan itu.
Duda keren itu lelah, lelah hati dan pikiran. Dan yang pasti badannya terasa remuk selama beberapa ini menggendong Hendra kemana-mana saat berada di Kampus.
“Fiuhhh..” Alex mengehela nafas dan menaruh tas punggung beserta gendongan Hendra tepat di samping sofa pada ruang keluarga. Alex duduk di sofa, di depannya ada Hendra yang sedang bermain.
Dia tak dapat berpikir jernih. Otot nya jelas terasa pegal dan kakinya terasa kebas. Dia tidak pernah menyangka bahwa berkuliah membuatnya lelah hayati. Bukan tidak, sambil mengurus tiga orang anak tanpa pembantu. Membuat menu bubur tim tiap pagi dan harus Live streaming, ditambah lagi dengan berkuliah. Semua ini diluar kendali Alex.
Kepala Alex terasa penuh, bukan migrain lagi yang Dia rasakan. Kepala yang berambut jambul itu serasa dijatuhi ratusan batu-batu. Alex merasa dunianya akan pecah. Dia pun mendongak dan menyender di sofa itu, memejamkan matanya.
“Nindi…. Aku merindukanmu.” Dengan suara lirih Alex menyebut nama itu. Seketika Air matanya menetes, tak terbendung.
“Tidak, tidak bisa. Jika Aku seperti ini Nindi juga akan sedih.” Alex menegakkan duduknya. Dia membasuh air matanya. Dia tak mau terlarut dalam kesedihan itu. Kemudian Alex memulai aktifitasnya dengan membereskan rumah terlebih dahulu.
__ADS_1