
Sementara itu pada hari janji yang terlupakan. Eliana tengah duduk di ruang tamunya sambil menyeduh teh celup hangat ke cangkir motif klasik nan mewah. Secangkir teh itu ditemani dengan Cookies rasa keju.
“Pada ngapain sih itu orang? Ramai-ramai begini pada ngumpul di sini.” Kata Eliana dalam hati. Dia telah rapi, mengenakan Jeans dan T-shirt polos karena tak lama lagi Dia akan berangkat ke Kampusnya. “Ini pasti gara-gara Alex lagi.” Gumamnya.
Eliana menatap jam tangan miliknya. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Eliana merogos tasnya dan mengambil benda pipih di dalam tas itu. “Halo Pak Ujang, di mana? Sudah jam setengah delapan ini.” Kata Eliana pada panggilan suara itu.
“Saya tidak bisa masuk Non, di luar ramai. Saya tidak bisa mendekati rumah Mba Eliana.” Sahut Pak Ujang.
Tut..tut..tut.. panggilan itu dimatikan oleh Eliana.
“Haduhhh.. Alex Elu itu ngerepotin amat sih jadi orang.” Ucap Eliana mengerutu. Tiba-tiba Dia mengingat perkataan Dinda. “Sabar Eliana, ingat untuk selalu berbuat baik.” Eliana berbicara pada diri sendiri dan memejamkan mata. “Fiuhhh…” Eliana menghembuskan nafas segar.
Eliana kembali menelepon supir pribadinya itu. “Halo Pak Ujang, Pak tunggu aja di situ biar Saya yang ke sana.” Ujarnya yang kemudian memutuskan panggilan suara itu lagi. Eliana bersiap dan keluar dari rumahnya. Dia berdesakan dengan orang-orang yang berkerumun.
Tak sengaja Eliana menyenggol seseorang dan mendegus, membuang nafas melalui hidung kemudian Ia menutup hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol. “Itu orang bau ketek!” Gumamnya.
Setelah berjalan kaki beberapa menit, Eliana berhasil menemui Pak Ujang yang menunggu sejak tadi.
“Emang ada apa sih Non? Kenapa ramai banget sih?” Tanya Pak Ujang heran. Kulit keningnya mengkerut dan tatapannya penuh rasa penasaran.
“Tidak tahu Pak, langsung jalan saja Pak.” Perintah Eliana kepada supir pribadinya itu. “Baik Non.” Jawab Pak Ujang singkat lalu menginjak gas mobil dan memutar.
Diperjalanan, Eliana membuka beberapa buku mata kuliah lamanya. Buku mata kuliah semester awal banyak Ia download dan tersimpan pada akun I-Cloud miliknya. “Kira-kira Alex mau belajar mata kuliah yang mana?” Tanya Eliana bingung.
__ADS_1
Ada puluhan mata kuliah untuk semester awal, sedangkan Eliana baru memasuki semester tiga. Jadi tidak begitu sulit untuk menjawab pertanyaan Alex nanti karena beberapa dari mata kuliah itu materinya masih diingat jelas dengan Eliana.
Sesampainya di Kampus seperti biasa Eliana mencari Dinda. Eliana mencari Dinda dari parkiran hingga ke kelas. “Ternyata sampai duluan tuh Anak.” Gumam Eliana. “Dindaaaa…” Teriak Eliana kala berada di depan pintu kelas. Sontak semua orang yang berada di kelas melihat ke arahnya.
“Aduhh… Eliana kenapa harus teriak sih!” Dinda bergumam kesal. Dinda melambai ke arah Eliana, Eliana berjalan menghampiri Dinda. Lalu Dinda mengambil kursi kosong di sampingnya dan menarik kursi itu agar lebih dekat dengannya. “Duduk di sini saja Eliana.” Pungkasnya.
“Ahh.. terima kasih.” Eliana tersenyum kala merasa diperhatikan oleh sahabatnya. “Tumben Kamu lama nyampainya Eliana.” Kata Dinda sembari mengeluarkan sebuah Binder.
“Kau tahu Dinda, hari ini Alex banyak menganggu ketentraman tetangga.” Sahut Eliana yang sama-sama mengeluarkan sebuah Binder.
“Haaa… Alex berbuat apa Eliana sampai bisa menganggu ketentraman tetangga?” Tanya Dinda heran. Sebagai fans garis keras, Dia tahu betul bahwa Alex adalah Pria yang sangat baik.
“Iya, nih coba Lu bayangin ya. Tadi pagi komplek rumah Aku tuh rame banget Din. Ada ratusan orang yang berkumpul di depan rumah Alex. Yah.. otomatis depan rumah Alex ya depan rumah Aku juga kan. Bahkan jalanan perumahan macet akibat kendaraan orang-orang itu yang terparkir acak.” Jelas Eliana. Kini Dia sedang menopang dagu dengan tangan kanan.
“Ya mana Gue tauuukkkk!” Jawab Eliana cuek. Baginya Alex bukan sesuatu yang penting yah walaupun di mata Eliana Duda itu cukup ganteng untuk di taksir.
“Hemm…” Dinda menghela nafas. “Salah Aku tanya sama Dia.” Gumamnya. Lekas Dinda mengambil benda pipih pada tas yang tergeletak di meja. Lalu Dia memeriksa dan mencari informasi atas keramaian komplek perumahan Eliana. Tak lupa Dia men-Stalking akun media sosial Bu Tanjung.
“Oh itu si Alex lagi cari Babysitter Eliana.” Jelas Dinda, rasa penasarannya terobati dengan adanya Update status dari Bu Tanjung.
“Iya bagus dah kalau Alex punya Babysitter.” Sahut Eliana yang masih menopang dagu. Dia menatap kosong ke papan tulis.
“Hus hus..” Dinda menyenggol topangan tangan Eliana. “Bu Kunti sudah masuk tuh.” Bisik Dinda sembari menunjuk Dosennya dengan lirikan bola mata hitam miliknya. Topangan dagu Eliana goyah, Eliana mendengar bisikan itu lalu bersiap-siap untuk memulai kuliahnya hari ini.
__ADS_1
Selang beberapa saat, “Okay sampai di sini pelajaran hari ini, sampai ketemu minggu depan.” Kata Bu Kunti mengakhiri jam mata kuliahnya lalu berjalan meninggalkan kelas.
“Guys, barusan Gue dapar info dari Dosen, katanya berhalangan hadir. Dosen kasih tugas melalui email masing-masing. Jadi cek saja kotak masuk atau spam kalian ya.” Ujar ketua kelas setengah berteriak.
Dari tenang kelas berubah menjadi riuh, para mahasiswa itu membubarkan diri. Begitu pula dengan Eliana dan Dinda. “Eliana hari ini Aku main kerumahmu ya.” Ucap Dinda tersenyum.
“Ha serius, bagus deh kalau gitu. Hayukkk…” Ajak Eliana. Dia tersenyum kala melihat Dinda ingin main ke rumahnya. Langsung saja Eliana merangkul lengan Dinda dan berjalan bersama.
“Oh ya..” Langkah Eliana terhenti. “Ada apa Eliana?” Tanya Dinda yang menghentikan langkahnya mengikuti Eliana. “Hehe.. Aku lupa telpon Pak Ujang suruh jemput.” Sahut Eliana. Lekas Eliana menelepon Pak Ujang.
“Halo di mana Pak? Jemput yah. Saya sudah pulang.” Kata Eliana pada panggilan suara itu. “Loh kok cepet Non?” Tanya Pak Ujang. Dia masih di jalan terkena macet.
“Dosen tidak masuk dan menggantinya dengan tugas Pak.” Jawab Eliana. “Oh begitu, Baik Mba. Ditunggu ya, Saya masih terkena macet Mba.” Jawab Pak Ujang lalu berusaha mencari pembelokan untuk ke kembali ke Kampus.
“Kita ke kantin dulu yuk Din, Pak Ujang masih terkena macet.” Ajak Eliana kepada sahabatnya itu. “Ayok.” Jawab Dinda. Lalu mereka berdua berjalan menuju kantin.
“Kita ke kantin mana?” Tanya Dinda. “Ke Bikun aja yok.” Ajak Eliana. “Ayok” Jawab Dinda. Mereka lalu ke kantin Bis Kuning (Bikun) FHUI dan mengambil meja serta duduk bersama.
“Pesan apa Kamu Din?” Tanya Eliana. “Samain aja Eliana.” Jawab Dinda ringkas. Hari ini Dinda tidak banyak bergumam mengenai Eliana, Dia sedang merasa senang karena akan menemui Alex nanti.
“Pesan apa Mba?” tanya seseorang yang memegang sebuah buku kecil dan pensil 2B. “Pesan Singkong Goreng Sambal Roa satu porsi sama Es Teh Manis dua.” Sahut Eliana sembari menunjukkan telunjuk dan jari tengah yang berdiri yang menunjukkan angka dua.
“Siap Mba, ditunggu ya Mba.” Ujar seseorang itu setelah mencatat pesanan Eliana.
__ADS_1