Duren Kampus

Duren Kampus
Ini takdirmu Aisyah


__ADS_3

Aisyah membawa Hendra pulang setelah berhasil mengambil anak itu dari pelukan ayahnya. Alex jelas tidak menyadari Hendra diambil oleh Aisyah ketika berada di tengah kerumunan fansnya itu.


Sesampainya di depan rumah Alex, Aisyah mendapati rumah itu tertutup. Mau tidak mau Aisyah harus membawa Hendra kerumah kakaknya untuk yang kedua kali. Aisyah sepertinya sudah terlanjur sayang kepada Hendra hingga dia mengabaikan mengenai omelan Bu Tuti nanti.


“Assalamualaikum.” Salam Aisyah ketika sudah masuk ke dalam rumah. Tampak Bu Tuti sedang duduk di sofa sambil meluruskan kaki dan mengunyah camilan kacang di mulutnya. Mendengar Aisyah yang memberi salam, Bu Tuti bahkan tidak menjawab salam dari adiknya itu. Dia sedang focus menonton TV sekarang.


Aisyah berjalan cepat di depan TV, berharap kakaknya itu tidak memperhatikan anak yang sedang digendongnya. Dia mencoba menutupi wajah Hendra dengan tangannya, namun sayang mata jeli Bu Tuti tak bisa dia hindari.


“Aisyah..?” Bu Tuti menegur singkat. Mendengar suara Bu Tuti yang memanggilnya seketika Aisyah mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kamar.


“Aisyahhh…..!” Teriak Bu Tuti yang sedang diabaikan adiknya. Tetapi Aisyah sudah terlanjur masuk kamar serta menutup pintu. Sontak melihat tingkah adiknya itu Bu Tuti kesal. Dia menaruh camilan kacang yang berada di dalam mangkuk itu ke meja dengan kasar hingga kacang itu memantul dan tumpah.


Bu Tuti berusaha berdiri, dia tampak kesusahan berdiri dengan lututnya yang sakit. Tapi dia tidak perduli, dia lebih kesal melihat adiknya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Langsung saja Bu Tuti berjalan menuju kamar Aisyah mencari tahu apa penyebab dari tingkah aneh adiknya itu. Lagipula dia sempat melihat Aisyah menggendong seorang anak kecil yang semakin membuatnya penasaran.


“Tok..tok..tok..” Bu Tuti mengetuk pintu kamar Aisyah dengan kasar. Mendengar suara ketukan itu sontak membuat Hendra menangis. Sepertinya dia masih trauma dengan kejadian di PI tadi.


“Aisyah suara tangisan siapa itu?” Bu Tuti bertanya sambil berteriak, tangannya belum berhenti mengetuk pintu Aisyah.


“Aisyah jika tidak kau buka pintu kamarmu, akan kupanggilkan orang-orang untuk membuka pintumu ini.” Ujar Bu Tuti yang masih saja berteriak. Hendra semakin menangis, Aisyah berusaha menenangkannya, tapi itu tak kunjung berhasil mengingat suara dan ketukan pintu yang menggelegar.


Untuk menghindari masalah segera Aisyah membuka pintu kamarnya. Dia menggendong Hendra dan mengarahkan wajahnya ke belakang agar Bu Tuti tidak melihat wajah Hendra.

__ADS_1


“Siapa itu? Siapa lagi anak itu? Ada berapa anak yang harus kau selamatkan Aisyah?” Ucap Bu Tuti geram kepada adiknya itu. Aisyah perempuan soleha yang baik hati. Dia sangat tidak tega melihat seorang anak yang terlantar. Apalagi dia Wanita yang pernah hamil dan keguguran. Di dalam hati yang paling dalam dia sangat menginginkan seorang anak. Namun bagaimana mungkin mendapatkan anak dengan status janda dan belum menikah lagi?


“Tidak Uni dia hanya anak yang sedang kesusahan tadi jadi saya menolongnya.” Jawab Aisyah berusaha menyembunyikan identitas Hendra. Agaknya Aisyah malas jika kakaknya itu tau kalau itu Hendra. Kupingnya tak sanggup mendengar ocehan Bu Tuti yang tidak selesai-selesai membicarakan tentang takdir bersama Alex. Menurutnya itu hanya kebetulan semata, tidak ada takdir antara dia dan Alex.


Tiba-tiba Hendra menoleh ke arah Bu Tuti. Sontak Bu Tuti kaget.


“Hendra? Aisyah? A..Alex?” Tiga nama itu dia sebutkan dengan spontan. Kemudian dia tertawa lepas.


“hahahaha…. Aisyah… Aisyahku sayangg..” Dengan tertawa besar Bu Tuti memegangi kedua pinggangnya bak bos supermarket. Menyadari hal itu Aisyah kembali mengarahkan wajah Hendra ke belakang di atas bahunya.


“Sudah percuma Aisyah kau ketahuan sekarang!” Ujar Bu Tuti kesal, lobang hidungnya melebar dan mengenduskan nafas seperti orang yang tidak senang.


“Tidak Uni ini hanya kebetulan. Oh ya Uni alat pijat kaki Uni ada Aisyah simpan di dekat TV tadi.” Jelas Aisyah yang mencoba mengalihkan perhatian kakaknya. Kakaknya menoleh ke arah TV sebentar, setelah mendapati kantong plastic hitam besar dia kembali focus ke Hendra dan Aisyah.


“Aisyah bagaimana bisa kau menemukan Hendra lagi? apakah dia menghilang lagi? sungguh teledor itu Alex.” Ujar Bu Tuti. Dia memutar-mutar kedua bola matanya seraya berpikir dan tak percaya.


“Tidak Uni, Hendra tidak hilang. Saat ku temukan Hendra masih bersama Alex. Hanya…” Aisyah mencoba menjelaskan namun belum sempat dia menyelesaikan penjelasannya Bu Tuti langsung saja memotong pembicaraannya.


“APPPAAAA? Bahkan kau mengambil Hendra saat dia bersama Alex?” Bu Tuti menjelit sekarang. Membulatkan kedua matanya yang tertuju kepada Aisyah. Aisyah menatap kedua mata Bu Tuti dan dia sempat menggelengkan kepalanya seraya berkata bukan seperti itu.


“Sungguh ini takdirmu Aisyah! Apa kau sekarang sudah dekat dengan Alex tanpa sepengetahuanku?” Tanya Bu Tuti curiga, dia mula berpikir adiknya tidak sepolos yang dia bayanngkan.

__ADS_1


“Tidak Uni, tidak seperti itu! Makanya tolong dengarkan aku dulu Uni.” Aisyah memohon agar kakaknya mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu agar kakaknya tidak berprasangka buruk padanya.


“OK. Baiklah jelaskan.” Sahut Bu Tuti mempersilahkan adiknya.


“Begini Uni saat aku ke PI pergi membeli alat pijatan kaki Uni, aku disenggol beberapa perempuan bahkan aku sampai terjatuh. Melihat hal itu aku jadi penasaran untuk melihat apa yang sedang terjadi. Jujur saat itu aku langsung ingin pulang sesuai pesan Uni namun aku melihat Hendra yang sedang digendong oleh Alex. Dia menangis histeris, ketakutan karena dia berada dikerumunan orang banyak. Keramaian itu membuatnya takut sedangkan Alex terlihat kebingungan saat itu. Sepertinya Alex tidak biasa dikelilingi banyak orang, ada ratusan orang Uni. Terlalu banyak orang saat itu sehingga aku prihatin melihat Hendra. Bukan prihatin melihat Alex, tidak sama sekali. Sungguh aku kasihan melihat Hendra.” Aisyah menjelaskan dengan jujur kepada kakaknya. Sesekali kakaknya mengangguk paham.


“Melihat kondisi Hendra yang seperti itu, aku ikut berlari masuk di dalam kerumunan itu Uni. Sebenarnya aku kesusahan, bersempitan-sempitan di dalam keramaian itu. Tapi Alhamdulillah ada Allah yang bantu Uni. Dengan perlahan aku bisa berada di dekat Hendra dan aku berusaha mengambilnya dari Alex. Karena Alex sedang kebingungan, aku yang mengambil Hendra pun sepertinya dia tidak sadar. Setelah aku mengambil Hendra, lekas aku berusaha keluar dari kerumunan itu. Mudah saja keluar dari sana, karena semua perempuan itu tertuju dan focus kepada Alex bukan kepadaku. Sehingga mereka tidak menahanku dan membiarkannku menjauh. Setelah Alex bersamaku aku berniat membawanya pulang kerumahnya hanya saja rumahnya tutup. Sepertinya dia belum pulang juga Uni.” Jelas Aisyah Panjang lebar. Kini Hendra sudah tidak menangis lagi, dia merasa tidak ada keributan lagi. karena suasana rumah Bu Tuti mulai tenang dia pun merasa senang.


“Lantas setelah kau melihat rumah Alex tutup kau membawanya kesini?” Tanya Bu Tuti kepada adiknya. Aisyah hanya mengangguk.


“Lalu mengapa kau menutupi wajah Hendra seakan membawa barang curian?” Tanya Bu Tuti heran. Aisyah hanya terdiam, dia enggan memberitahu kakaknya itu alasan dari tingkahnya. Kalau-kalau kakaknya bisa tersinggung nanti apabila dia berkata jujur. Dia memilih untuk diam.


“Baiklah tidak masalah, perlu kau tahu Aisyah. Menurutku inilah takdirmu. Ketika Allah menghadirkan Hendra lagi di rumah ini aku semakin yakin bahwa Alex sudah menjadi takdirmu. Jangan menolak dengan apa yang Allah hadirkan kepadamu Aisyah. Mulailah membuka hati, lupakan Gandy. Dia hanya laki-laki sampah yang tak pantas engkau cintai.” Kata Bu Tuti lembut.


Kadang-kadang kelembutan Bu Tuti bisa menyentuh hati hanya saja Aisyah sedikit tak menerima perkaataan kakaknya. Bagaiman bisa seorang manusia dikatakan sampah? Gandy juga manusia sama halnya dirinya, yang artinya dia juga ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Agaknya Aisyah tersinggung tapi dia mencoba mengabaikan perkataan itu dari pada harus beradu mulut panjang lebar bersama kakaknya nanti.


Melihat adiknya mematung sambil menggendong Hendra, Bu Tuti memutuskan untuk melanjutkan perkataan yang masih tersusun rapi dibenaknya. Kalimat panjang lebar yang ada di kepalanya itu dia putuskan untuk mengeluarkannya dengan singkat.


“Aisyah dengarkan aku, aku tidak akan mengulang perkataan ini lagi hari ini. Ini takdirmu Aisyah!” setelah berkata Bu Tuti pergi meninggalkan pintu kamar Aisyah.


Aisyah menutup pintu dengan perlahan agar Hendra tidak terkejut. Dia paham betul bahwa ada trauma yang Hendra alami. Entah karena apa, Aisyah hanya melihat trauma itu dari reaksi Hendra yang selalu menangis histeris ketika dia terkejut dan mendengar suara keributan.

__ADS_1


__ADS_2