
Pak Didit memakai topi tani. Berkalung rantai petai. Memakai rok tali rapiah yang di haluskan. Dan tak lupa perut buncitnya yang mencolok. Dia memang serbaguna!.
“Tidak masalah pak. Apapun saya akan lakukan demi kebahagiaan bapak.”
Kata pak Didit dengan wajah yang cemberut. Terpaksa dia harus mengikuti ospek menggantikan Alex. Untuk menutup mulut Alex agar tidak ketahuan Abipraya. Agar kedok penjualan rumah di atas rata-rata tidak terbongkar.
Jelas pak Didit bagaikan orang gila. Alex sesekali menutup mulut untuk menutupi tawanya. Memandang supirnya itu sungguh menggelitik perutnya.
“Apa boleh buat, rambutku sudah ku semir hitam. Kumisku plontos. Wajahku sudah muda sekarang. Tapi bukan itu yang terpenting. Rumah type 36 milikku sudah melebar menjadi type 45. Akibat penjualan yang melejit dan untung besarku. Hasil dari menjual mahal kepada para fans Alex. Terlebih lagi saat aku tahu pak Abipraya teman kecil pak Alex. Aku harus berhasil menutup mulut Alex dengan cara ini.”
Pak Didit bergumam dan melamun. Dia berdiri tepat di halaman Alex. Dipandangi oleh tetangga. Para tetangga juga tertawa kecil. Mereka terhibur agaknya melihat penampilan pak Didit.
Abipraya lewat, lalu mampir. Seketika jantung pak Didit berdegup.
“Pak Didit?.”
Ujar Abipraya sambil melototi badut buncit itu.
“Iya benar itu pak Didit Bi. Pak Didit siap gerak!”
Perintah Alex. Dengan sigap pak Didit berdiri tegap. Abipraya terbahak-bahak. Perutnya terkocok sekarang. Bahkan Abipraya sampai jongkok untuk menahan tawanya. Tapi sia-sia, tetap saja tawanya meluap.
“Tidak masalah, silahkan kalian semua menertawaiku. Yang penting sekarang rejekiku lancar hihihihi…”
Kata pak Didit dalam hati. Masih saja yang ada di otaknya itu tentang duit. Mungkin sebaiknya namanya diganti menjadi pak Duit.
“Lekas berangkat pak Didit. Nanti telat loh!”
Ujar Alex menakuti. Seketika pak Didit lari terbirit-birit menuju mobil. Rok halus yang terbuat dari tali rapiah itu melambai-lambai.
Suasana pun menjadi heboh. Orang-orang tertawa bersamaan. Sungguh pertunjukkan yang menghibur.
Pak Didit mengikuti ospek dengan sempurna. Tidak ada yang mengenalinya. Hanya saja dia mencari Eliana. Berharap bisa dibawa pergi dengan alasan ajakan senior. Bukan malu, pak Didit hanya tak sanggup menjalani ospek itu dengan fisiknya yang sekarang. Di umur yang pensiun seperti itu, bisa menyupir saja sudah hebat. Apalagi harus mengikuti ospek di tengah lapangan luas. Ditambah lagi panas terik matahari. Pak Didit mulai oleng.
Untung saja sebelum oleng, ospek itu telah berakhir. Pak Didit segera menuju mobil dan masuk. Minum sebotol air putih dan beristirahat. Tertidur. Mendengkur. Tidak ada yang melihat.
*
*
Abipraya langsung saja masuk rumah mengikuti Alex. Rumah itu sudah seperti rumah sendiri baginya.
“Alex… ada apa dengan pak Didit?.”
__ADS_1
Masih tertawa kecil Abipraya bertanya-tanya. Alex datang dengan secangkir teh panas lagi. Abipraya tak ambil pusing. Karena memang Alex sudah menjadi muslim yang taat. Mustahil baginya untuk menyetok apalagi meminum miras.
“Oh itu, dengan kondisiku yang seperti ini. Aku tidak bisa mengikuti ospek tanpa membawa Hendra. Mau dibawa lebih parah lagi bukan?.”
Jelas Alex. Abipraya mengangguk.
“Mau saja pak Didit kamu suruh jadi mahasiswa ospek. Aku tidak habis pikir. Apa kamu memberi dia uang?.”
Tanya Abipraya heran.
“Tidak. Bahkan kali ini aku tidak memberikannya upah sepeserpun untuk menggantikanku ospek.”
Ucap Alex yang sekarang duduk bersama Abipraya sambil memangku Hendra.
“Wah…hebat juga kamu Alex bisa dapat orang seperti dia.”
Abipraya berkata sambil mengacungkan jempol. Alex hanya bisa tersenyum manis. Dia tidak tega sebenarnya. Mengetahui temannya diperolok pak Didit dengan harga rumah itu. Tapi dia berpikir lagi, itulah ganjarannya.
“Alex, kok diam?”
Tanya Abipraya sambil mendadah-dadah di depan wajah Alex.
“Apa? Oh anu.. tadi lagi mikirin, bagusnya menu apa lagi untuk live streaming besok.”
“Oh begitu rupanya. Kalau begitu aku pamit. Tadi mampir sebentar karena mendengar suara tawa yang bergema. Sudah jam kerjaku ini Alex. Bye!.”
Ujar Abipraya sambil menunjuk waktu yang ada di jam tangannya. Lekas dia permisi pergi. Alex menutup pintu dan kembali kerutinitasnya sehari-hari.
*
*
Eliana tegak berdiri di lantai lima gedung kampus. Bersama dengan Dinda melihat ribuan mahasiswa baru yang sedang ospek. Para mahasiswa/i baru itu terlihat seperti semut berhamburan. Tetapi Eliana menikmati pemandangan itu. Dinda? Dia merasa biasa saja. Dia cenderung datar di setiap situasi.
“Eliana, masuk yuk. Itu dosen sudah datang.”
Dinda menarik-narik lembut baju temannya. Eliana menoleh. Segera mereka berdua masuk ke kelas.
*
*
Pak Didit terbangun dari tidurnya. Mengelap air liur yang membasahi pipinya. Dia kelelahan. Mengambil HP dan melihat pukul berapa sekarang. Pukul empat sore. Gawat! Dia tertidur selama dua jam. Segera dia menghidupkan mobil dan pulang.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, dia mendapati rumah bak kapal pecah. Sudah terbiasa sebenarnya. Namun karena kelelahan yang sangat, dia merasa pusing melihat hal itu. Lalu dia memutar badan kembali berjalan keluar rumah.
Bu Tanjung memerhatikan.
“Pak mau kemana?.”
Tanya bu Tanjung sembari mendekati suaminya.
“Ga kemana-mana bu.”
Jawab pak Didit ringkas. Melihat kelelahan suaminya. Dia merasa kasihan melihat pak Didit. Lalu Bu tanjung mulai memijit pundak pak Didit.
“Rileks saja pak. Istirahat.”
Kata bu Tanjung sembari memijit-mijit suaminya itu. Ditengah asyik memijit suaminya tiba-tiba angin berhembus. Ada aroma tak sedap menghampiri hidung bu Tanjung.
“Ayah ihhh… bauk iler. Mandi sana!”
Sontak bu Tanjung memukul suaminya. Alih-alih memijit sayang. Kini pundak pak Didit malah terasa makin sakit. Langsung saja pak Didit bergegas mandi. Dari pada kesembur singa rimba lagi.
“Adam, kamu besok kerja?.”
Tanya bu Tanjung kepada menantunya yang sedang bermain ML (mobile legend). Adam tidak menjawab. Dia tengah asyik. Geram, bu Tanjung mencabut satu bulu kaki menantunya.
“Auwww… sakit ibu!”
Teriak Adam yang kini nyambung.
“Nah itu makanya kalau orang tua ngomong nyaut. Ini diajak ngomong malah diem.”
Ujar bu Tanjung kesal. Tapi Adam lebih kesal lagi. Sedikit lagi dia menang tadi. Sialnya akibat perkara bulu kaki. Terpaksa dia kalah dalam tournamen ML miliknya.
“Iya ada apa ibu?”
Tanya adam yang sekarang fokus kepada mertuanya. Dia telah menyimpan HP nya di kantong.
“Adam, kasihan ayah ikut ospek gantiin pak Alex. Ayah kelelahan adam. Ayah itu sudah seharusnya pensiun. Tapi dia masih membanting tulang untuk menghidupi keluarga kita.”
Tak tahan, bu Tanjung meneteskan air mata. Adam iba melihatnya.
“Sudah lah bu. Tidak apa, biar saya gantiin ayah besok.”
Jawaban yang sangat menenangkan hati. Seketika bu Tanjung kembali ceria dan mengelap air matanya.
__ADS_1