
“Tapi Pak…” Alex berusaha menjelaskan. “Tidak ada tapi-tapi.” Kata Dosen itu. Lalu dengan berat hati Alex pergi keluar kelas. Hendra? Memasang wajah polos tak bersalah.
Kelas hening tak bersuara. “Ketua kelas siapa?” Tanya Dosen tersebut “Saya Pak.” Sahut Najwa sembari mengangkat tangan. Tangan Najwa jelas terlihat bergetar gemetaran.
“Kamu keluar, sampaikan kepada Alex untuk menunggu hingga pelajaran selesai. Dan suruh temui Saya di kantor Dosen.” Pesan Dosen tersebut.
“Maaf Pak, kalau boleh tau sebelumnya nama Bapak siapa?” Najwa memberanikan diri untuk bertanya.
“Ketua kelas juga tidak tahu.” Dosen itu menggeleng kecewa. “Baiklah karena ini memang pertemuan yang pertama, Saya maklumi. Tetapi pesan Bapak adalah untuk selalu mencari informasi dan belajar. Kalian itu bukan sembarang mahasiswa, kalian itu adalah mahasiswa/I Universitas Indonesia. Informasi tentang Kampus Kita tersebar luas mulai dari buku, media massa, hingga jaringan internet. Jadi, banyak-banyak membaca dan mengkaji apapun itu agar kalian tahu.” Jelas Dosen panjang lebar.
“Nama Saya Dr. Harsanto Nursadi,S.H,M.Si.” Ujar Pak Dosen Harsanto. “Haaa…” semua mahasiswa/I di kelas itu tercengang. “Iya benar Bapak ini adalah Dosen pembimbing Kita.” Tambah Antonius.
“Baik Pak Saya permisi dulu Pak.” Ujar Najwa lalu pergi keluar kelas. “Sekarang mari Kita mulai untuk pelajaran jam pertama ini.” Kata Pak Dosen Harsanto sembari membuka lembaran buku yang telah ia bawa sejak tadi.
“Alex…” Teriak Najwa yang mengejar Alex. Duda keren itu tak jauh dari kelas, Alex pun langsung menoleh kala namanya dipanggil.
“Iya ada apa Najwa?” Tanya Alex. “Kamu jangan pulang dulu, tadi Dosen itu berpesan bahwa Kamu harus menunggu hingga jam belajar selesai. Lalu temui Dosen yang tadi itu di kantor. Nama Dosen itu adalah Dr. Harsanto Nursadi,S.H,M.Si.” Jelas Najwa.
“Okay baiklah, terima kasih infonya Najwa.” Ujar Alex tersenyum. Untuk kedua kalinya Najwa kembali meleleh, namun ia tak bisa berlama-lama. “Aku tinggal dulu ya, mata kuliahnya sudah di mulai.” Kata Najwa dan berlari kembali ke kelas.
Langkah Alex terhenti, Dia hendak menuju ruangan Dosen namun Dia pun tak tahu dimana ruangan itu berjalan. Di koridor Gedung itu semua mahasiswa telah masuk untuk belajar. Alex memperhatikan sekitarnya “Sepi” Gumamnya.
__ADS_1
Duda keren itu melanjutkan langkahnya dan mengambil benda pipih yang ada pada saku celananya. Alex mencoba menelepon Eliana, namun sayangnya panggilan itu tidak terjawab. Lalu masuk sebuah pesan ke ponsel Alex “Aku lagi belajar, jangan meleponku Alex.” Pesan itu berasal dari Eliana.
“Ahh.. iya benar Eliana pasti sedang belajar seperti yang lain.” Gumam Alex dalam hati. Sembari berjalan santai sesekali Alex bertatap mata bersama Hendra, tersenyum dan mengajaknya bercanda. Sesekali Alex mencium kening Hendra, memeluk hingga menoel hidup mancung Anak bungsunya itu.
Tiba-tiba saat Alex tengah berjalan, Dia menyenggol seseorang. “Ops sorry Saya tidak sengaja, Saya sedang bermain dengan Anak Saya hingga tidak memperhatikan jalan lagi. Maaf.” Ujar Alex merasa bersalah.
“Tidak apa-apa.” Sahut orang itu lalu melangkah pergi. “Tu..tunggu..” Kata Alex sembari memegangi lengan orang tersebut.
“Iya ada apa ya Pak?” Tanya orang itu sedikit heran. “Panggil saja Saya Alex.” Terang Alex. “Iya ada Pak Alex?” Tanya orang itu mencoba memperbaiki katanya. “Emmm, jangan pakai Pak. Alex saja.” Sahut Alex lagi.
“Iyaaa ada apaa Alexxx?” Tanya orang itu dengan nada yang panjang. Orang itu agaknya mulai risih dan kesal. “Apa Kamu mahasiswa di sini?” Tanya Alex penasaran.
“Iya benar Alex. ada apa?” Jawab orang itu dan kembali bertanya. “Apa Kamu tahu kantor Dosen di mana?” Tanya Alex lagi.
Orang itu bergegas pergi. “Tu…tunggu.” Alex kembali menahannya. “Maaf Alex, Saya tidak punya banyak waktu. Saya harus masuk kelas.” Jelas orang itu bergegas meninggalkan Alex.
“Namamu siapa?” Teriak Alex dikejauhan karena tak bisa lagi menahan orang tersebut untuk mengobrol. “Alex…” Jawabnya sambil berteriak pula. Orang itu pun mengacungkan jempolnya ke bawah.
“Ahhh… apa maksudnya ya?” Alex bertanya-tanya dalam hati. “Ya sudahlah..” Alex berbicara sendiri dan menuju kantor.
Selang beberapa saat berjalan sembari menggendong Hendra dalam gendongan bayi tersebut Alex pun sampai di kantor Dosen. Mencoba mencari ruangan Dosen sesuai pesan dari Ketua kelasnya.
__ADS_1
“Ayahhh..” Hendra memanggil Alex sambil menguap. “Hendra sepertinya mengantuk.” Gumam Alex. lalu Hendra mencari kursi tempat duduk. Duda itu mencoba untuk menidurkan Anak bungsunya, tak lupa Dia melepaskan gendongannya terlebih dahulu.
Hendra terbaring tengkurap di pangkuan Alex. Alex mengelus punggung Hendra dengan lembut hingga Anaknya tertidur.
Alex mengambil lagi benda pipih di saku celananya. Menuliskan sebuah pesan yang ditujukan kepada Najwa sang Ketua kelas. “Najwa kalau Dosen sudah keluar kelas tolong kasih kabar ya.” Tulis Alex pada pesan itu.
Alex duduk menunggu, Hendra pun terlelap jauh ke dalam mimpinya. Beberapa orang yang silih berganti melewati Alex selalu menoleh memandangi Alex yang sedang bersama Anaknya, baik itu mahasiswa, Dosen ataupun yang lainnya.
Seseorang berbadan gemuk dan membawa sapu berwarna orange mendekati Alex. “Permisi Pak, Bapak sedang menunggu siapa ya?” Tanya ibu itu.
“Saya mahasiswa disini Bu, Saya sedang menunggu Dosen.” Sahut Alex sembari menepuk-nepuk halus bokong Hendra. Dia dengan bangga memberitahu status mahasiswanya kepada Ibu itu.
Mendengar ucapan Alex, Ibu itu mengedipkan mata dan menggelengkan kepalanya. Ibu itu juga menampar halus pipi kiri dan kanannya. “Apa Aku sedang bermimpi? Atau Aku salah dengar ya?” Ibu itu menyeru dalam hati.
“Maksud Bapak, Bapak adalah mahasiswa di sini dan sedang menunggu Dosen?” Tanya Ibu itu lagi. “Iya benar Bu.” Jawab Alex singkat.
“Lalu yang tidur dipangkuan Bapak ini siapa? Apakah salah satu Anak hilang yang Bapak temukan?” Tanya Ibu itu menerka-nerka.
“NGHUSSS!” Alex mendengus, ingin kesal tapi Dia berusaha menghormati yang lebih tua. “Bagaimana mungkin Hendra dibilang Anak hilang yang ditemukan, Kamu yang hilang dan tak ditemukan.” Alex mencelah dalam hati.
“Bukan ini Anak Saya Bu.” Sahut Alex lalu membuang muka ke arah kiri. “Ha..?” Ibu itu menganga sebesar buah apel fuji.
__ADS_1
“Maaf Ibu, Anak Saya sedang tidur dan sedang tidak ingin diganggu.” Alex berkata dengan halus agar Ibu itu pergi. Lalu Ibu itu pergi tanpa berkata. Alex memandangi Ibu bersapu orange itu, Dia berimajinasi, melihat Ibu tersebut menaiki sapunya ala Harry Potter lalu terbang yang kemudian oleng dan terbentur atap serta jatuh dan meledak “BOOOMMM”.
Alex menggeleng-gelengkan kepalanya serta berkedip sebanyak dua kali. Dia mengalihkan imajinasinya. “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah..” Alex berucap mohon ampunan pada Tuhan Yang Maha Esa sebanyak tiga kali.