Duren Kampus

Duren Kampus
Berhadiah mobil


__ADS_3

Alex berdiri dibelakang kue tar bersama dengan Hendra yang masih dalam dekapan Aisyah, Indra yang sedang mengenggam tangan Eliana, dan Andra yang sedang dirangkul oleh Najwa. Mereka bertujuh mengelilingi kue tar itu dan meniup lilin yang berada di atas kue tar tersebut saat lagu tiup lilin yang dinyanyikan oleh para tamu berakhir.


“Huffff...” suara nafas tiupan lilin terdengar jelas dari ketujuh orang itu. Seketika semuanya bertepuk tangan saat lilin-lilin yang menyala tadi mati.


Andra tampak memotong kue berbarengan dengan Indra. Dengan mengarahkan tangan Adiknya itu Indra memotong kue tar menjadi dua. Lalu ia meletakkan kepada dua potong kue itu ke dua piring.


“Ini untuk Ayah.” Kata Indra sembari memberikan potongan kue dan menyuapi Ayahnya. Masih dengan kue yang sama namun sudah dengan potongan yang lain, Indra menyuapi Eliana. Dengan sigap Eliana membuka mulutnya dan memakan kue tersebut.


Andra tak sabaran menunggu, lekas ia mengambil pisau plastik untuk memotong kue dari tangan Adiknya dan memotong kue baru dan mengambil piring kertas yang lainnya lalu meletakkan kue itu di atasnya.


Putra pertama dari Alex itu menyuapi Ayahnya sama seperti yang dilakukan oleh Indra. “Nah yang ini suapan untuk Kakak.” Ujarnya sambil menyuapi Najwa dengan potongan yang lebih besar. Mulut Najwa terlihat penuh dan menggembul. Najwa menjadi kesusuhan untuk mengunyahnya karena mulutnya penuh dengan kue pemberian Andra.


“Ini Anak pasti ngerjain lagi nih.” Ucap Najwa perlahan. Kata-kata itu terdengar di telingan Alex. Sontak Duda itu melirik Najwa dan tersenyum. Najwa yang kebetulan melihat lirikan Alex itu, seakan dirinya merasa sedang diejek, ia hanya memutar kedua bola matanya lalu mengacuhkan Alex.


Alex mengambil piring plastik kecil yang berisi kue potongan Indra tadi. Kue yang tersisa itu dipotong oleh Alex dengan beberapa bagian lalu Alex memberikan garpu kecil dengan potongan kue di dalamnya kepada Hendra.


“Ini buat Hendra, Hendra mau kasih kuenya ke siapa?” Ujar Alex tersenyum sambil melirik Aisyah. Hendra yang tengah memegang garpu kecil bening berbahan plastik itu langsung saja memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Sontak para tamu tertawa melihat aksi lucu dari Hendra. Kemudian Alex mengambil garpu yang lain dan menusuk kue tar lalu memberikannya kepada Aisyah. Adik bungsu dari Bu Tuti itu memakan kue tarnya sendiri.


Setelah ketujuh orang itu memakan kuenya masing-masing, acara tiup lilin itu berakhir dengan tepuk tangan dari setiap orang yang hadir.


“Para tamu undangan yang kami hormati, acara ulang tahun dan tiup lilin ini telah berakhir dan akan dilanjutkan dengan ramah tamah. Sambil menikmati sajian yang telah kami sediakan, jika ingin menyumbangkan suara emas yang selama ini terpendam, ada live music yang kami sediakan di luar. Sekian dari Saya, maaf jika ada salah kata dalam berucap dan Saya akhiri dengan wassalamualaikum wr.wb.” Najwa undur diri.


Setelah mempersiapkan semua kebutuhan acara itu, ternyata di hari acara diselenggarakan Najwa masih harus berkorban menjadi MC demi kelancaran acara tersebut. Demi seseorang yang ia cintai tanpa harus menyatakan cintanya karena Dia tersadar bahwa Alex hanya menganggapnya sebagai teman biasa.


Acara ulamg tahun itu berlangsung dengan khidmat. Para tamu terlihat menikmati alunan nada dari live musik yang bermain. Para tamu itu juga terlihat sangat menikmati sajian ramah tamah dari Titisari Catering. Catering itu salah satu usaha Catering dari artis cantik berambut panjang yang bernama Titi Kamal. Para tamu itu saling mengobrol satu sama lain.

__ADS_1


“Halo Bu, salam kenal Saya Temble.” Sapa Mba Temble kepada Bu Rosa. Mereka berdua saling bersalaman satu sama lain. “Namaku Rosa Rosdiana Rahayu, biasa dipanggil Rosa, Diana, dan Ayu. Tapi di sini Saya dipanggil Bu Rosa atau Mba Rosa sih.” Jawab Bu Rosa.


Mba Temble membulatkan matanya. Dia tidak menyangka bahwa perempuan yang berbadan langsing dan berbibir merah itu ternyata menjawab sapaannya dengan begitu panjang. “Oh ya Kamu tinggalnya dimana Tembel?” Tanya Bu Rosa. Karena takut kepanasan ia membawa kipas lipatnya ke acara ulang tahun serta mengibaskan kipasnya sekarang. Rambut pendek pada bahunya terbang sesekali kala angin dari kipas itu mengenai rambutnya pirangnya.


“Emmm... Bu Rosa, namaku TEMBLE bukan Tembel.” Tegas Mba Temble. “Kenapa setiap orang selalu saja sulit untuk menyebutkan namaku. Padahalkan namaku itu sangat gampang. Ahhh.. memang ya kalau nama keren ya gitu.” Gumam Mba Temble.


“Apa? Apa Kamu bilang?” Sahut Bu Rosa berpura-pura tidak mendengar. “Ahhh... sudahlah, kita skip aja ya.. hihi.” Ucap Mba Temble cengingisan. Lalu Mba temble meninggalkan Bu Rosa sendirian dan menuju ke tempat keluaga Bu Tanjung berkumpul.


Bu Rosa hanya menganggap Mba Temble angin lalu. Tanpa ia sadari, tadi itu ia sedang di sapa oleh tetangganya sendiri. Namun sayang dua orang yang tinggal di komplek yang sama itu tidak mengenal satu sama lain.


Di halaman rumah Alex, ada satu meja bundar dan lima kursi yang mana di sana telah duduk ketua RT yang juga sekaligus supir pribadi Alex berserta sahabat kecilnya Abipraya. Kedua orang tersebut sedang menikmati rokoknya masing-masing. Sambil merokok, keduanya tengah mengobrol dan membicarakan sang tuan rumah.


“Hehehe… maaf ni Mas Abipraya, karena rokok Bapak tinggal sebatang dan barusan telah habis Saya hisap, bolehkah Saya meminta rokok Bapak sebatang?” Ujar Pak Didit. “Oh silahkan Pak, ambil saja. Ini!” Sahut Abipraya sambil mendorong bungkus rokoknya kepada Pak RT-nya itu.


“Oh ya Pak, setelah melihat acara tiup lilin tadi, menurut Bapak sebenarnya siapa yang disukai Alex?” Tanya Abipraya penasaran. Entah mengapa ada empat Wanita Alex sekarang termasuk almarhumah Nindi. Padahal saat mengobrol dengan sahabatnya itu tempo hari, Alex hanya memikirkan dua orang perempuan selain dari Nindi.


“Oh kalau itu sih Mas Abi Saya enggak bisa berkomentar banyak. Soalnya kan itu urusan pribadi Pak Alex.” Sahut Pak Didit yang sedang menikmati rokok gratis tersebut. “Benar Pak, hanya saja Saya prihatin dengan sahabat Saya itu. Karena sudah tiga tahun semenjak Istrinya meninggal, Dia masih saja melajangkan diri. Padahal jika Alex mau, banyak sekali perempuan ataupun gadis yang mengantri ingin menjadi pasangannya.” Terang Abipraya. Ia juga terlihat sangat menikmati rokok miliknya itu.


“Iya benar Mas, dari awal memang Saya prihatin melihatnya. Cuman kayaknya Pak Alex belum move on deh.” Kata Pak Didit sembari menghempaskan abu rokok pada asbak rokok di depannya. “Memang betul Dia belum move on. Menurutku jika soal move on itu tidak akan pernah terjadi. Dan kurasa Alex mulai tertarik kepada ketiga perempuan di sampingnya tadi Pak.” Terang Abipraya.


“Beneran Pak?” Sahut Pak Didit terkejut. Ia bahkan langsung melirik ke arah Alex yang dikelilingi para tamu yang notabene adalah perempuan. Tak terkecuali Bu Tanjung, Istrinya juga sedang berada diantara lingkaran dari perempuan yang mengelilingi Alex. “Ckck…” Gumamnya heran saat melihat Istrinya itu.


“Menurutku sih iya, hanya saja Alex bingung memilih satu diantara mereka.” Kata Abipraya dengan hisapan rokok terakhirnya. “Ya sudah, kalau suka semua, ya nikahin aja semuanyaaa..” Tambah Abipraya. Sekarang rokok mereka telah habis, tampak Abipraya mengambil sebatang rokok lagi mendorong kembali bungkus rokok itu ke depan Pak Didit.


“Terima kasih Pak.” Ujar Pak Didit saat mengerti maksud dari sahabatnya Alex tersebut. Langsung saja Pak Didit mengambil sebatang rokok di dalam bungkus rokok itu dan langsung membakarnya dengan korek api gas miliknya.

__ADS_1


“Oh ya masalah untuk menikahi semuanya itu gimana yo mas. Wes Aku bingung e.” Kata Pak Didit menalar perkataan dari Abipraya. “Hahaha…” Abipraya tertawa dibuatnya. “Bapak pikir Saya serius ya? Tapi memang Saya serius sih Pak. Daripada bingung memilih mending tak nikahin semua kan hahaha…” Abipraya masih saja tertawa dan Pak Didit ikutan tertawa.


“Bagaimana kalau Kita taruhan Pak Didit, Pak Didit sebutkan satu diantara tiga Wanita tadi yang akan menjadi Istri Alex. Kalau Pak Didit benar, Saya akan memberikan Pak Didit hadiah. Begitupun sebaliknya, kalau tebakan Saya benar Pak Didit yang akan memberikan Saya hadiah.” Jelas Alex.


“Saya sih tidak punya apa-apa untuk memberikan Bapak hadiah. Saya ini orang susah Pak, tanggunganku buanyaakkk eee.” Kata Pak Didit lagi dengan menggunakan logat jawa yang khas. “Tidak perlu dalam bentuk materi, cukup Pak Didit jadi supir pribadiku saja. Karena jika Alex menikah nanti Saya rasa Dia tidak akan membutuhkan supir pribadi lagi. Dia yang akan menyetir dengan Anak-anaknya bersama dengan Ibu barunya.” Terang Abipraya.


“Ahhh.. benar juga ya Pak. Baiklah, tapi ngomong-ngomong Mas Abi mau kasih Saya apa ya?” Tanya Pak Didit penasaran. “Saya akan membelikan Pak Didit mobil untuk Pak Didit pakai bersama keluarga Bapak.” Kata Abipraya, jempolnya tampak sedang naik turun pada layar ponselnya.


“Benarkahhh Mas Abi? Eh maksud Saya Pak Abi?” Ucap Pak Didit tak menyangka. “Benar Pak, nih coba lihat, mobil yang ini yang akan Saya berikan untuk Bapak nanti kalau tebakan Bapak benar.” Ujar Abipraya sambil memperlihat foto mobil pada layar ponselnya.


“Whoaaa… Okay kalau gitu” Kata Pak Didit dengan mata yang berbinar-binar. Belum saja Abipraya memberikan mobil itu, namun hatinya sudah merasa kegirangan tak karuan. “Jadi, siapa yang akan Bapak pilih?” Tambah Abipraya.


Pak Didit memperhatikan dengan seksama ke tiga perempuan yang bersama Alex saat tiup lilin tadi. “Mba Eliana? Sepertinya tidak mungkin karena mereka beda Agama. Kalau Mba Najwa, haduh itu anak masih muda banget masih harus makan garam kehidupan yang banyak deh kayaknya. Nah yang paling cocok ya Mba Aisyah. Jadi Bapak akan memilih dan menebak Mba Aisyah yang akan menjadi Istri Pak Alex kelak.” Terang Pak Didit.


“Okay berarti Aisyah yah, Bapak sudah yakin kan? Karena sekali milih ga boleh ganti loh Pak.” Tegas Abipraya. “Iya Saya sudah yakin banget deh Mas Abi.” Pungkas Pak Didit. “Okay Kita kunci pilihan Bapak.” Ujar Abipraya.


“Kalau Mas Abipraya sendiri pilihnya yang mana? Eh maksud Saya nebaknya yang mana?” Tanya Pak Didit penasaran. “Saya pilih Najwa Pak.” Sahut Abipraya. Seketika Pak Didit sedikit tertawa geli, namun karena menghargai Abipraya yang akan memberikannya satu unit mobil, lekas Dia tahan ketawanya itu.


Tiba-tiba Alex datang menghampiri keduanya. “Abi Kamu sudah makan?” Tanya Alex kepada sahabatnya itu. “Sudah ni, makanannya enak banget. Itu siapa yang masak sih?” Tanya Abipraya, sangking enaknya makan tadi ia bahkan tadi menambah dua kali. Jangan tanya lagi kalau Pak Didit, Dia dan Istrinya bahkan membungkus makanan itu diam-diam.


“Alhamdulillah, itu Catering dari artis yang bernama Titi Kamal.” Jelas Alex. “Oh ya?” Sahut Abipraya bersamaan dengan Pak Didit. “Iya benar, ternyata Mba Titi Kamal itu tetanggaan dengan Najwa. Jadi gampang saja baginya dapat tenderan yang diskon hehe..” Tambah Alex. Abipraya dan Pak Didit hanya tersenyum mendengar penjelasan dari tuan rumah tersebut.


“Abi Kamu nyanyi donggg.” Pinta Alex. “Aku enggak bisa nyanyi Alex Kamu kan tahu. Pak Didit deh, ayo dong Pak.” Ujar Abipraya sambil menarik tangan Pak Didit.


Dengan pasrah Pak Didit naik ke atas panggung sederhana yang telah disediakan pada acara tersebut. Ia menyanyikan sebuah lagu dari era tahun tujuh puluhan. Semua tamu yang hadir merasa baru pertama kali mendengar lagu itu, kecuali Bu Tanjung karena memang itu adalah lagu favorite dari Suaminya itu. Kemudian acara itu terus berjalan lancar hingga akhirnya selesai pada sore hari.

__ADS_1


__ADS_2