
Dua orang mahasiswi dari semester lima Fakultas Hukum sedang berjalan bersama. “Eh Lu tau enggak sih, ada mahasiswa baru yang selalu jadi omongan baru-baru ini.” Jelas perempuan yang berambut panjang. “Emangnya siapa?” Sahut temannya yang berhijab.
“Namanya Alex, kemarin bahkan beberapa mahasiswi disini mengejar-ngejar Dia. Entah mau ngapain Gue juga kurang paham, yang jelas itu orang lagi naik daun katanya.” Tambah perempuan yang berambut panjang.
“Oh tau-tauk! Dia itu Alex Cornelius. Gue pernah ngeliat Dia di TV beberapa kali. Dia itu juga pernah masuk salah satu majalah ternama dengan judul Pria idaman masa kini.” Sambung perempuan berhijab.
“Nah itu Lu lebih tau. Eh Lu tau juga kan kalau Dia itu seorang Duda. Duda sih Duda tapi Dia itu Duren loh, Duda keren… hihihi.” Ujar perempuan berambung panjang. Lalu kedua mahasiswi itu tertawa bersama membicarakan tentang Alex.
Dinda dan Eliana yang berada dibelakang mereka tak sengaja mendengar semua percakapan itu. Di akhir kalimat yang ditutup dengan tawa cekikikan itu membuat Dinda dan Eliana saling menoleh dan memandang.
“Kamu dengar Eliana?” Tanya Dinda kala beradu pandang dengan sahabatnya itu. “Iya dengar, mereka sedang membicarakan Alex tetanggaku bukan?” Eliana ingin memastikan.
“Benar! Mereka pasti membicarakan Alex Cornelius.” Sahut Dinda. “Apa hebatnya sih itu Alex Din? Yah kalau soal ngurus Anak sih emang Dia yang paling OK!” Terang Eliana.
“Eliana kok Kamu ngomong gitu sih? Alex itu kan ganteng. Wajah blasteran nya itu loh yang membuat mata ini gimana gimana gitu.” Jelas Dinda dengan mata yang berbinar. “Huuu.. dasar Lu bilang aja karena Elu fansnya Alex jadi apapun itu bakal bagus-bagus aja kalau soal Dia.” Kata Eliana sembari menyenggol bahu sahabatnya.
Tiba-tiba Alex berjalan melintas tepat di hadapan mereka. Kedua perempuan yang membicarkan Alex tadi pingsan karena tak sanggup melihat aura bersinar yang keluar dari tubuh Alex.
Sedangkan Dinda dan Eliana mematung. Dinda tersihir sedangkan Eliana merasakan jantungnya berdebar kencang seperti sedang dikejar-kejar. “Eliana apa Aku salah lihat? Apa benar itu Alex?” Tanya Dinda tak percaya.
__ADS_1
“Iya benar Dinda, Dia itu Alex!” Jawab Eliana. “Eliana, Alex yang tanpa menggendong Hendra dan berada di Kampus, terlihat seperti bukan seorang om-om atau pun Bapak-bapak. Dia jelas seorang Pria biasa yang awet muda berstatus Duda…Ahhh…” Dinda melemas memukul-mukul jantungnya. Dia seakan tak sanggup dengan Damage-nya Alex.
“Seperti inikah wujudmu yang sebenarnya Alex? kau seperti siluman. Bisa saja kau berubah setampan itu.” Eliana bergumam. “Hei Alexxx…..” Tiba-tiba Eliana berteriak. Suaranya menggema di udara.
Langkah Alex terhenti saat namanya di sebut dan menoleh beradu pandang dengan Eliana. Eliana hanya berdiri, terdiam, membeku tak mengatakan sepatah kata pun.
“Eliana?” Alex berjalan mendekati tetangganya itu. Melihat Alex yang mendekatinya, Eliana berjalan mundur menghindari Alex. “Ahhh.. kenapa Aku refleks memanggilnya.” Eliana bergumam kesal. Ketika berjalan mundur, Eliana tak sengaja menginjak sebuah batu besar dan terjatuh.
Alex yang semakin mendekat itu seketika menimang Eliana hingga gadis cantik itu tak jadi jatuh ke tanah. “Alex…” Kata Eliana dengan suara merdu. “Eliana…” Kata Alex dengan suara nan lembut. Mereka berdua berpose seperti film klasik eropa.
Untuk beberapa menit posisi masih utuh. Empat mata beradu satu sama lain. Kecepatan debaran jantung Eliana makin membalap. Selama hidupnya baru kali ini Dia merasakan debaran jantung yang secepat itu.
Dinda yang menjadi saksi bisu menggelengkan kepalanya. “Tidak Eliana, kumohon tidak untuk kali ini.” Dinda bergumam. Di depan matanya jelas melihat Eliana yang ditimang oleh Alex. Akal sehatnya meronta-ronta dan tidak ingin menyaksikan hal tersebut.
“Emmm… permisi Alex. Aku rasa Eliana tidak apa-apa.” Kata Dinda. Tangannya melepaskan lengan Alex dibawah pinggul Eliana. Seketika Eliana terjatuh “Auuwww!” lirihnya.
“Ma..maaf.” Alex bergegas untuk menolong Eliana tetapi didahului oleh Dinda. “Kau tidak apa Eliana?” Tanya Dinda memastikan. “Sakit Din.” Eliana memperlihatkan lengannya yang luka karena terjatuh.
“Alex, Kamu lihat Eliana terjatuh dan terluka karenamu. Ayo Eliana Kita pergi!” Dinda bergegas meninggalkan Alex dengan menggandeng Eliana.
__ADS_1
“Loh perasaan malah Aku yang menahan Eliana agar tidak terjatuh. Terus Kamunya yang ngelepasin tangan Aku sampai Eliana jatuh. Dinda bertingkah Aneh hari ini.” Alex menyeru dalam hati. Lalu Dia melanjutkan langkahnya.
Eliana dan Dinda sedang duduk di taman, tak lupa Dinda telah membawa kotak P3K untuk sahabatnya itu. “Dinda, kenapa tadi Alex melepaskan lengannya. Aduh lenganku perih Din. Dikit aja kasih Betadine nya.” Ujar Elina sembari meniup-niup lukanya.
“Emmm..” “Haruskah Aku mengakuinya? Atau… “ Kata Dinda dalam hati, Dia sedang menatap kosong ke tanah. “Din, baju ku kena nih!” Tegur Eliana. Tetesan Betadine itu tak lagi tepat sasaran, karena melamun tetesan tu menetes di baju Eliana.
“Sorry Din, Aku tidak sengaja.” Ucap Dinda yang langsung mengelap baju Eliana dengan tissue. Namun, tetap saja baju itu sudah ternoda. “Sudah enggak apa Din.” Sahut Eliana.
“Oh ya, tadi kenapa Kamu meneriaki Alex?” Tanya Dinda heran. “Oh iya bener Din, enggak tau tadi pas Dia lewat secara spontan Aku panggil. Aku pun merasa heran Din.” Jawab Eliana jujur.
“Apa Kamu sedang terpanah dengan ketampanan Alex Eliana?” Tanya Dinda memastikan. “Terpanah? Mana mungkin Dinda…” Ujar Eliana dengan tertawa kecil. “Tapi Ku akui emang tadi Dia ganteng banget sih Din.” Jawabnya Jujur.
“Entah Aku terpanah atau tidak, tetapi tadi jantung ku kenapa berdebar-debar ya?” Eliana bergumam. Dia sendiri tidak memahami perasaan apa yang baru saja dirasakannya itu.
“Iya benar, Kamu tahu Eliana Aku bahkan hampir meleleh dibuat Alex tadi.” Kata Dinda senyum-senyum sendiri. “Meleleh? Serius, enggak biasa Dinda bisa meleleh.” Sahut Eliana. “Hampir Eliana, hampir saja belum sampai meleleh beneran!.” Tegas Dinda.
“Okay jangan nge-gas gitu dong jawabnya.” Terang Eliana. Namun Dinda masih terlihat senyum-senyum sendiri dengan pipi yang merona. Dia menyembunyikan lagi perasaan itu kepada sahabatnya sendiri. Belakangan ini Dinda tak lagi jujur kepada Eliana.
Diwaktu yang sama Alex masih berjalan sendiri, Dia sedang sedang menguyah dengan memegang Bembeng di tangan kanannya yang sudah terbuka dan tergigit itu. Tiba-tiba Najwa menghampirinya, “Hai Alex, bagi dong!”.
__ADS_1
“Nih.. tapi bekas gigitanku sih.” Kata Alex sambil memberikan Bembeng yang sudah digigitnya itu. Najwa mengambil Bembeng itu dan langsung memakannya. Dia tidak menghiraukan lagi bekas Alex. Kemudian mereka berdua berjalan bersama.