
Berjalan di keheningan malam. Diterangi lampu jalan, aisyah berjalan sambil mengucapkan lafas Allah. Sebenarnya dia takut keluar malam. Tapi dia adik yang penurut.
Aisyah merasakan hal aneh. Terdengar suara-suara gemuru.
“Ini kan sepi, suara gemuru apa itu?”
Ucap Aisyah dalam hati. Dia bahkan merasa di ikuti seseorang. Tapi dia tak sanggup untuk menoleh ke belakang. Dia hanya mempercepat langkahnya. Semakin cepat. Dan…
Gedubrak! suara seseorang jatuh.
“Huaaaa…huaaa..”
Aisyah mendengar suara tangis anak kecil. Sontak dia berbalik dan melihat ke belakang. Ada seseorang yang terjatuh di dekat halaman rumah orang. Gelap. Benar! Dia melihat anak kecil yang sedang menangis. Segera Aisyah menggendong anak itu. Aisyah mencari penerangan, mencari lampu di jalan itu.
Setelah berjalan dan berada di bawah lampu itu. Dia menenangkan anak kecil itu. Memperhatikan dengan seksama. Itu Hendra. Namun sayang dia tidak mengenali anak itu.
Yang di kerjakan Aisyah setiap hari hanya pekerjaan rumah. Juga mengurusi kakaknya. Selebihnya di isi dengan beribadah, mengaji. Sesekali dia menonton sinetron di televisi. Dia seorang yang ketinggalan zaman. Dia jarang membuka media sosial. Bahkan dia jarang membuka Youtube, hanya sekedar tahu kalau Youtube itu ada.
Dan Alex, ketika selendangnya dipegang oleh Alex. Itulah kali pertama dia bertemu dengan Alex. Dia tidak melihat Hendra kala itu. Ditutupi oleh badan Alex. Lagipula waktu itu Aisyah sedikit takut melihat Alex. Karena mematung tanpa berkata.
Seketika Aisyah bingung mau dibawa kemana anak itu. Tapi dia sedang ditunggu kakaknya. Agar anak kecil itu aman. Aisyah berniat membawanya saja.
Aisyah berjalan kembali menuju supermarket. Membeli koyok sambil menggendong Hendra. Hendra terlihat santai, sesekali tangannya ingin menggapai beberapa produk supermarket.
“Adik mau?”
Ucap Aisyah kepada Hendra. Aisyah cukup peka. Dia membelikan Hendra beberapa camilan. Membayar belanjaan dan pulang.
Di perjalanan pulang Hendra memakan camilan nya. Dia kelaparan, sudah malam begitu dia belum makan malam. Itulah sebabnya dia mencoba mencari ayahnya. Perutnya masih merasa lapar waktu itu.
Aisyah merasa pegal. Menggendong Hendra yang sudah cukup berat. Dia juga tidak tega membawa Hendra berjalan kaki. Cukup jauh jaraknya untuk anak kecil berjalan seperti itu. Namun apa boleh buat. Dia meletakkan Hendra di pinggir jalan. Koyok yang dia beli untuk kakaknya itu, dia buka dan memakainya di lengan sebelah kanan.
“Ahhhh…”
Aisyah mengehela nafas lega. Pegalnya menghilang diganti dengan rasa panas. Kemudian dia kembali menggendong Hendra dan berjalan pulang.
Sesampainya di rumah. Aisyah agak ragu untuk membawa Hendra masuk. Takut kakaknya marah. Sudah cukup baginya menjadi beban kakaknya. Tapi dia juga kasian dan tidak tega meninggalkan anak itu di jalanan. Akhirnya Aisyah memberanikan diri.
“Assalamualaikum.”
Salam Aisyah yang kemudian dijawab kakaknya. Aisyah beridiri diam di depan kakaknya.
“Anak siapa itu Aisyah?.”
Tanya bu Tuti.
“Uni jangan marah dulu, anak ini terlantar. Aku menemukannya di jalan. Tidak tega aku melihatnya Uni. Bolehkah dia tinggal saja bersama kita?”
Aisyah berusaha menjelaskan dengan takut. Bu Tuti mendekat seraya memperhatikan Hendra. Dan ting! Lampu menyala di kepala bu Tuti.
“Aisyahhhhhh… ya Allah alhamdulillah. Aisyahhhhh….!“
Bu Tuti berteriak histeris!. Aisyah semakin takut dan memeluk erat Hendra. Kalau-kalau bu Tuti memaksa untuk benar mengambil Hendra.
“Sini-sini sayang… sini cup cup cup.”
Bu Tuti menarik Hendra namun Aisyah enggan memberi. Bu Tuti memaksa.
“Jangan Uni, jangan dibuang kumohon.”
Semakin erat Aisyah merangkul Hendra. Memohon kepada kakaknya.
“Hahahahahaa …. Aisyah Aisyah!”
__ADS_1
Bu Tuti terbawa terbahak-bahak. Dia sangat senang sekarang.
“Aisyah kau tahu ini pertanda apa? Ini adalah takdirmu Aisyah. Anak ini adalah takdirmu. Tidak salah lagi engkau rajin shalat. Hahahaha…”
Bu Tuti berbicara dan tertawa lagi.
“Sholat itu kewajiban Uni. Tidak sholat malah berdosa.”
Jawab Aisyah polos. Bu Tuti tersinggung sekarang. Seakan Aisyah menyindir. Tapi bu Tuti paham itu bukan sindiran. Melainkan sikap polos sang adik.
“Baiklah aku ganti, tidak salah lagi engkau rajin mengaji. Asal kau tahu saja Aisyah. Anak ini adalah anak Alex. Tetangga kita. Hahahaha…”
Bu Tuti kegirangan sekali. Sekejap dia melupakan pegal di punggungnya.
“Alex? Siapa itu Alex Uni?”
Aisyah bingung. Dia tidak mengenal seseorang bernama Alex.
“Hahahaha… Aisyahhhh…”
Bu Tuti hanya menjawab dengan tertawa keras dilanjutkan dengan meneriaki Aisyah. Pipinya pegal sekarang.
“Begini Aisyah, kau tau tetangga kita yang di sebelah?.”
“Pak joko?”
Jawab Aisyah.
“Bukan-bukan! Tetangga yang di sebelah kanan.”
Sahut bu Tuti. Aisyah mencoba mengingat. Sontak Aisyah memberikan Hendra kepada kakaknya.
“Itu Alex?”
“Benar! Itu Alex. Duda keren idaman para wanita. Kaya dan baik hati. Dan sangat tampan😍”
Ujar bu Tuti semangat.
“Hemm… iya sih tampan tapi aneh.”
Kata Aisyah dalam hati.
“Ayo cepat sekarang kita kerumah Alex.”
Bu Tuti lekas menarik tangan Aisyah. Aisyah enggan pergi kerumah Alex.
“Ayo Aisyah. Ayo…”
Bu Tuti berusaha menarik tangan Aisyah. Tapi Asiyah sepertinya menolak. Lekas bu Tuti mengeluarkan wajah garangnya. Kalau sudah seperti itu, mau tidak mau Aisyah harus menurut.
Segera bu Tuti dan Aisyah menuju rumah Alex. Tak lupa Aisyah masih menggendong Hendra. Namun sayang setelah memencet berkali-kali rumah itu tidak terbuka. Alex belum sampai sehabis melapor tadi.
Bu Tuti memeriksa kantong Aisyah. Ada benda pipih disana. Langsung saja bu Tuti mengambil benda itu. Dan menelpon pak Didit. Tentu Aisyah menyimpan nomor telepon pak Didit. Karena dia pak RT di komplek itu.
“Assalamualaikum pak Didit, ini saya Tuti. Apa bapak ada nomor ponsel Alex?.”
Tanya bu Tuti. Dia melirik Aisyah sembari mengedipkan matanya.
“Walaikumsalam bu. Saya sedang berada di jalan pulang sekarang bersama Alex.”
Jawab pak Didit ringkas.
“Loh sedang bersama Alex? Memangnya dari mana pak?”
__ADS_1
Tanya bu Tuti lagi yang sedang pura-pura tidak tahu.
“Anak bungsu pak Alex hilang bu. Jadi tadi kami bersama pergi ke kantor polisi.”
Jelas pak Didit. Yang di simak oleh Alex dan Abipraya.
“Jangan khawatir pak, Hendra aman bersama Aisyah.”
Sahut bu Tuti.
“Alhamdulillah. Ibu serius kan?”
Tanya pak Didit lagi.
“Serius pak. Pulang saja sekarang. Kami menunggu di teras rumah pak Alex.”
Jelas bu Tuti.
“Baik bu. Terima kasih bu”
Sahut pak Didit.
“Alhamdulillaahhhh pak Alex mari kita pulang. Hendra sudah di rumah.”
Kata pak Didit senang. Alex dan Abipraya bersyukur. Lekas Abipraya menambah kecepatannya. Agar sampai rumah Alex dengan cepat.
Setttt….! Kembali Abipraya mengerem mendadak. Tetapi Alex dan pak Didit sudah siap sedari tadi. Acara kepentok dashboard ataupun kursi sudah tidak terulang. Mereka bertiga bergegas turun dari mobil.
Bunga-bunga sakura berjatuhan diatas Aisyah. Musik piano menggema di telinga Alex. Alex memandang Aisyah tidak berkedip.
“Bidadari surgaku.”
Gumamnya dalam hati. Bu Tuti senyam-senyum. Dia menyadari Alex terkesima melihat adiknya itu. Seketika dia menyenggol tangan Aisyah. Aisyah cuek.
“Ayo cepat berikan anaknya.”
Kata bu Tuti bisik sembari mendorong Aisyah. Hampir saja Aisyah jatuh. Tak sempat jatuh tapi hampir. Namun Alex dengan sigap menangkap tangan Aisyah, wanti-wanti kalau dia beneran jatuh.
Suasana senyap. Bu Tuti, pak Didit, Abipraya seakan menonton film FTV Sctv. Bahkan Hendra juga senyap. Sepertinya semua orang yang ada saat itu mendukung.
Menyadari tangannya di pegang oleh Alex. Seketika Aisyah menarik tangannya.
“Bukan muhrim. Maaf.”
Ucapnya dengan lembut. Alex meleleh bak eksrim kena sinar matahari. Saat itu dia melupakan Nindi. Nindi tiba-tiba hilang dari ingatannya. Padahal selama ini dia tidak pernah melupakan Nindi.
Aisyah permisi pergi setelah memberikan Hendra ke Alex. Alex hanya diam menatap Aisyah. Aisyah merasa takut. Segera dia pulang meninggalkan Alex dan lainnya. Namun Alex matanya tidak berkedip memandang Aisyah hingga menghilang di balik pintu.
Bu Tuti menyusul adiknya. Abipraya melambai di depan wajah Alex. Masih saja dia tidak berkedip.
“Pak Alex, mungkin ini yang disebut takdir.”
Ujar pak Didit tersenyum. Seketika Alex sadar dan salah tingkah.
“Alex saya pamit ya.”
Kata Abipraya.
“Iya pak saya juga.”
Kata pak Didit.
Satu persatu orang itu pergi. Tinggallah Alex masih berdiri di halaman rumahnya. Memandangi pintu rumah bu Tuti, tempat bidadari surganya menghilang.
__ADS_1