
Kegiatan belajar mengajar pada kelas Alex usai. “Alex ayo pergi makan, Kamu lapar enggak?” Najwa memangku dagu sambil memandangi Alex, ia tersenyum manis. “Ya laper dong, makan di mana Kita?” Tanya Alex. “Terserah Kamu deh.” Sahut Najwa.
“Loh kok terserah.” Kata Alex. “Kenapa sih perempuan itu kalau ditanya soal makan pasti jawabnya terserah.” Tambah Alex bingung. Dia masih mengingat kejadian di mana Najwa selalu menjawab terserah dan ketika Alex yang menentukan tempat makan yang dipilih pasti Najwa tidak suka dengan makanan, tempatnya, orangnya, dan lain sebagainya. Maka dari itu, arti dari kata tererah dari Ketua kelasnya itu kini terdengar menyeramkan.
“Kalau terserah Aku lebih suka di kelas saja Najwa.” Alex mencoba cari aman dari pada ribet nanti urusannya. “Yaahhh jangan gitu dong. Ya udah Kita ke kantin Bikun aja.” Terang Najwa. Lekas kedua orang itu beranjak dari tempat duduknya.
Siska bersama Meimei sedang membututi Alex. Di mana ada Alex berada di Kampus, di situlah Siska berada. Selain untuk mendekati Duda ganteng itu, Siska juga sekalian pansos sama Alex. karena semenjak memposting foto-fotonya yang sedang di kelas bersama Alex, followernya pun meningkat tajam tiap hari.
Alex duduk di sudut meja kantin bersama Najwa. Sedangkan Siska mengambil meja di samping meja Alex. “Enggak ada kerjaan banget sih kalian berdua. Enggak ada kantin yang lain apa? Selalu saja duduk di meja dekat Kita.” Ujar Najwa ketus.
“Lah emang ini Kampus punya Kakek Elo? Ya suka-suka Gue dong!” Sahut Siska sinis. “Hayyaa.. Siska benarlah. Kamu tidak boleh gitu Najwa.” Sambung Meimei mengiyakan. Najwa hanya memutar kedua bola matanya lalu tak menghiraukan dua orang itu lagi.
Selama satu tahun berkuliah, di hari pertamanya Alex kerap kali mendapati fansnya di Kampus dan meminta untuk berfoto bersama. Hal itu berangsur berkurang karena seringnya Alex hadir di mata mereka di Kampus. Hampir tiap hari Alex bertemu dengan para fansnya di Kampus, hingga para fans tersebut sedikit merasa bosan dan tidak begitu antusias lagi, tidak seperti awal masuknya Alex pada Universitas itu.
Tetapi karena sekarang adalah awal tahun dan baru saja penerimaan Mahasiswa/i baru, Alex menjadi target utama dari para gadis yang ngefans padanya. Acara makan siangnya saat ini sangat terganggu, pesanan menu makanan yang dipesan oleh Alex dan Najwa menjadi dingin karena tak sempat ia makan untuk meladeni para fans ajaran baru tersebut.
“Fiuhh” Najwa menghela nafasnya. “Gini nih kalau temenan sama artis, acara makan siang jadi gagal. Kebanyakan fans ternyata enggak enak juga ya.” Najwa berbicara sendiri sambil mengaduk-ngaduk makanannya.
“Alex gimana kalau Kita pergi saja dari sini. Aku sudah merasa bosan.” Kata Najwa kepada pujangganya itu. “Ayoookkk..” Alex hendak berdiri saat mendengar perkataan Najwa. “Ehhh tunggu-tunggu Mas Alex, sekali lagi, yang barusan fotonya jelek.” Pinta fans Alex.
Seketika Alex terduduk lagi, Najwa cemberut lagi. Kali ini sangking bosannya ia di sana dan hanya terlihat seperti obat nyamuk di antara Alex dan para fansnya, untuk pertama kalinya Najwa meninggalkan Alex sendirian.
“Bendera putih ni yey..” Sindir Siska saat Najwa berjalan melewati mejanya. Najwa hanya berjalan lurus ke depan tanpa menghiraukan perkataan dari teman sekelasnya yang satu itu. Dari awal Siska memang terlihat seperti tidak menyukai Najwa, apalagi di tambah Najwa yang selalu bersama Alex.
“Hussshhh… hayya Kamu jangan gitu lah. Tidak boleh seperti itu Siska.” Tegur Meimei yang merasa kasihan terhadap Najwa.
__ADS_1
Alex menyadari Najwa pergi. “Tunggu Najwa jangan tinggalkan Aku.” Teriak Alex di antara kerumunan fans pada kantin itu. Najwa berlalu tanpa menoleh lagi. Merasa urgent, Alex pun memberanikan diri untuk menolak para fansnya.
“Maaf semuanya untuk saat ini Saya tidak bisa di ajak berfoto lagi, karena teman Saya pergi meninggalkan Saya, jadi akan Saya susul. Terima kasih sebelumnya.” Ujar Alex yang kemudian meniggalkan fansnya di kantin dan menaruh beberapa uang kertas berwarna merah di meja kasir dan pergi tanpa mengambil lagi kembalian uangnya.
Alex berlari, Alex kehilangan Najwa. “Kalau Najwa menghilang Aku pulangnya dengan siapa nanti.” Gumamnya. Lekas Alex menelepon Ketua kelasnya itu, namun sayang panggilan suara Alex tidak dijawab oleh Najwa. Alex mengulanginya lagi dan lagi, ternyata tetap saja panggilan suara itu tak terjawab. Kemudian Alex menghela nafas kasarnya “Yahhh apa boleh buat, nanti pulang pakai taksi online saja.” Gumamnya lagi.
Alex berjalan sendirian dan dihampiri beberapa fansnya. Karena Alex bukan tipikal orang popular yang sombong, jadi siapapun yang memintainya foto, tanda tangan, atau keperluan dari fansnya yang masih dalam hal wajar selalu ia ladeni.
Alex terus berjalan hingga sampai di sebuah taman Kampus. “Alhamdulillah.” Syukur Alex dalam hati saat melihat sahabat sekaligus Ketua kelasnya itu duduk termenung sendiri pada kursi taman.
“Heyyy..” Alex menepuk bahu Najwa. “Astaghfiurllah hal’azim.” Ucap Najwa saat dikagetkan oleh Alex. “Ternyata disini Kamu, dari tadi ku cariin. Ada apa Najwa? Apa yang membuatmu duduk termenung di sini?” Tanya Alex memastikan. Ia sedang prihatin melihat temannya itu. Untuk pertama kalinya Dia tak merasakan keceriaan dalam wajah Najwa.
“Tidak apa-apa Alex.” Jawab Najwa singkat. “Hey jangan seperti itu, bukankah Aku ini temanmu? Jika ada masalah ceritakan saja. Selama ini Aku pun demikian bukan. Mencakup soal Eliana dan Aisyah semua telah ku ceritakan padamu tanpa ada yang kututupi.” Terang Alex.
“Bagaimana bisa Aku memberitahumu Alex, Aku terduduk sendiri di sini itu semua karena ulahmu. Perjuangan dan pengorbananku selama ini seakan tiada ujungnya. Kau selalu saja dikelilingi Wanita cantik. Jangankan jadi pacar ataupun Istrimu, masih berstatus sahabat yang selalu bersama saja sudah membuatku sakit hati Alex. Itulah resiko terberat untuk mencintaimu. Ada banyak cinta untukmu, sedangkan Aku? Sedikit pun kau tak menaruh rasa padaku.” Najwa berkata dalam hati, sejak tadi Dia hanya terdiam dan menganggap Alex hanya angin lalu saat berada di sampingnya.
“Apa sekarang sebaiknya Kita kembali ke kelas Najwa. Dosen Kita bisa masuk duluan nanti dan Kita jadi telat masuknya.” Kata Alex yang duduk di samping Ketua kelasnya. “Tidak, hari ini kelas Kita sudah selesai Alex.” Sahut Najwa.
“Loh kok? Di jadwal mata kuliah setauku hari ini masih satu mata kuliah lagi Najwa.” Ujar Alex heran. “Makanya, masuk grup WA!! Dari dulu kan sudah Aku saranin masuk grup. Gimana mau masuk kalau WA Kamu aja enggak punya.” Tegas Najwa.
“Ya ampunnn benar! Tapi Najwa Aku sudah ada WA sejak lama sih. Sebelum acara ulang tahun kemarin Aku sudah punya WA. Cuman ya, Aku lupa ngasih tahu Kamu Najwa. Karena selama ini, tanpa ada grup WA, Aku malah lebih tau dibanding yang lain karenamu. Terima kasih Najwa.” Jelas Alex.
“Kalau sudah punya ya kenapa Kamu enggak ngabarin? Jadi Aku enggak repot-repot lagi kan nelponin Kamu tiap hari.” Ucap Najwa sedikit jutek. “Heheh maaf, mulai sekarang masukin Aku ke grup kelas ya.” Pinta Alex.
Najwa pun meraih ponsel di dalam tasnya. Dia memasukkan Duda itu ke dalam grup kelas. Berbagai komentar datang dari anggota kelas. Ada yang terkejut dan baru menyadari bahwa selama ini di grup tersebut tidak ada Alex. Ada pula yang terkesan mengejek, karena sudah setahun berkuliah, Duda keren itu baru masuk ke dalam grup.
__ADS_1
“Wahhh.. grup ini rame ya, dari tadi enggak ada habisnya pesan masuk.” Kata Alex sembari menatap layar ponselnya. “Enggak sih, biasanya cuma hal-hal penting yang Kami omongin dalam grup itu. Grup itu jadi rame saat Kamu masuk. Kamunya sih kelamaan masuk. Alex bayangin saja, selama satu tahun Kamu baru masuk grup kelas, sama kayak Kamu mahasiswa baru atau pindahan saja.” Jelas Najwa.
Alex hanya bisa tersenyum tipis. Yah, antara merasa bersalah, atau merasa senang, karena dengan ketidakhadirannya di grup malah membuatnya semakin dekat dengan Najwa. Walaupun Alex hanya menganggap Najwa sebagai teman biasa. Tetapi hari-hari Alex di Kampus dipenuhi dengan warna dengan adanya Najwa. Karena Najwa selalu mengutarakan apa saja yang ada dibenaknya dengan jujur kepada Alex, kecuali perasaan Najwa kepada Alex.
“Alex, sebenarnya selama ini ada sesuatu yang tak kuberitahu kepadamu.” Ucap Najwa dengan nada yang pelan. Dia ingin mengutarakan perasaanya terhadap Alex. Dadanya sudah cukup sesak selama ini menahan segala perasaan yang terpendam itu. Ditambah lagi dengan kejadian yang terjadi di kantin tadi. Dadanya seakan sesak dan berkecamuk menjadi satu antara, cinta, kecewa, dan cemburu.
Najwa berharap, setelah mengutarakan cintanya, dadanya bisa terasa lega dan tak sesak lagi. Tapi Najwa juga berpikir seribu kali. Jika ia mengutarakannya sekarang, akankah persahabatan mereka terus berlanjut? Atau bagaimana bisa Najwa masih bersama Alex ketika Alex mulai menghindarinya saat tau bahwa sahabatnya sendiri mencitainya.
“Arrrghhhh..” Teriak Najwa sambari mengucek-ngucek rambutnya. Seketika Alex pun terkejut. “Sesuatu apa yang ingin Kamu katakan Najwa? Sampai-sampai Kamu berteriak seperti itu.” Ucap Alex heran.
“Tidak ada, lupakan saja. Ayo Kita pulang.” Ajak Najwa yang telah berdiri. “Tidak bisa, sekarang duduk.” Alex menarik lengan Najwa dan Najwa terduduk. “Aku tidak akan membiarkanmu stress sama seperti Kamu tidak membiarkanku untuk tidak banyak berpikir dan stress.” Terang Alex.
“Kamu ingat saat Aku mulai memberanikan diri untuk menahan Eliana di rumahku? Keesokan harinya Eliana mulai menghindariku. Hal itu membuatku stress Najwa. Dan Kamu lah orang yang menghiburku, membuatku kembali bisa berteman dengan Eliana.” Jelas Alex.
Najwa hanya terdiam dan melihat ke tanah kala Alex sedang berbicara panjang lebar. Baginya masalah Alex yang ia selesaikan bersama sangat berbeda dengan apa yang saat ini Najwa alami.
“Najwa, Aku ingin Kita saling berbagi masalah. Karena Kita ini sudah berteman lama bukan? Satu tahun itu waktu yang sudah lama bukan?” Kata Alex menyakinkan. Ia melihat sahabatnya itu hanya terdiam.
“Jadi sebenarnya apa masalahmu Najwa?” Tanya Alex serius kepada sahabatnya itu. Najwa menoleh ke samping kanannya. Tepat di samping kanan itu Dia bertatap muka dengan Alex. Lekas Najwa kembali menunduk, rasanya ia sangat tidak sanggup melihat seseorang yang ia sukai berwajah sedih seperti itu.
Iya memang, Alex ikut bersedih hari ini. Ia mendapati Najwa sang Ketua kelas yang sudah menjadi sahabatnya bersedih. Tak biasanya sahabatnya itu bersedih, karena tiap hari yang Alex temukan hanya keceriaan Najwa dan sesekali kekesalannya terhadap dirinya karena keteledoran yang Alex buat sendiri.
“Sudah lupakan. Mari Kita pulang Alex.” Najwa berdiri lagi dan mengulas senyum. Namun sayang senyum palsunya tidak dapat menipu Alex. Duda keren itu juga berdiri sekarang dan kemudian berhadapan dengan Najwa.
“Baiklah, jika memang Kamu tidak ingin memberitahuku Aku akan pulang sendirian.” Alex langsung melangkahkan kaki meninggalkan Najwa sendirian. Duda itu mengambek barang kali, saat ia tulus ingin membantu sahabatnya, tetapi sahabatnya seperti tak menghiraukan bantuannya.
__ADS_1
Perlahan langkah Alex menjauh dari sahabatnya. Najwa menatap punggung bidang Alex dengan bingung. Bingung antara tidak tega melihat Alex kecewa kepadanya karena menolak bantuannya serta bingung dengan pilihan untuk mengutarakan isi hatinya atau tidak. Karena ada banyak konsekuensi yang harus Dia hadapi saat berkata jujur kepada Alex mengenai perasaannya kepada Alex.
Najwa menarik nafas panjang dan berteriak “Alexxxx…! Aku mencintaimu”. Langkah Alex terhenti sedangkan Najwa merasakan dada yang berdegup kencang.