
Alex keluar rumah untuk mengantar Andra dan Indra ke halaman. Saat Alex membuka pintu rumahnya, Dia terkejut melihat kerumunan orang yang sedang berdiri di depan rumahnya. Sontak Dia menarik kedua tangan anaknya masuk dan menutup kembali pintunya.
“Ada apa Ayah?” Tanya Andra heran.
“Jangan keluar dulu itu di luar lagi rame.” Jawab Alex. Dia mencoba menggapai benda pipih pada kantong celananya.
“Halo Pak Didit, dimana? Itu di depan rumah Saya kok rame? Ada demo apa orang Pak?” Ujar Alex dalam panggilan suara itu.
“Iya Pak Benar Saya juga tidak tahu ini di depan rumah Saya juga rame Pak. Tapi Saya sudah lapor polisi dari tadi Pak.” Jawab Pak Didit.
“Iya ini gimana mau antar Andra dan Indra ke sekolah Pak?” Tanya Alex lagi. Dia kebingungan setiap ada keramaian seperti itu.
“Tunggu saja Pak sebentar lagi juga polisi sampai.” Jawab Pak Didit. Tak lama dua orang polisi datang menghampiri Pak Didit. “Tenang Pak ini Polisi sudah datang. Bapak tunggu saja di rumah Pak nanti Saya ke sana.” Terang Pak Didit lalu menutup panggilan suara itu.
“Permisi Pak, apa Bapak benar adalah Pak RT di sekitar sini?” Tanya salah seorang dari Pria yang berseragam itu.
“Iya benar Pak, Saya yang melaporkan bahwa ada Demo di sini Pak. Bapak bisa lihat sendiri Pak.” Jelas Pak Didit kepada Polisi itu.
“Benar, memang ramai sekali Pak, ratusan orang itu menutupi jalan perumahan.” Ucap Polisi itu sambil memandangi sekitar. Lalu seorang Polisi satu lagi datang dengan seragam lengkap.
“Lapor Pak, Ini bukan Demonstran Pak.” Kata Polisi itu sembari hormat kepada Polisi yang sedang mengobrol dengan Pak Didit.
“Jadi ini bukan aksi Demo? Lalu semua orang itu kenapa bisa berkumpul di sini?” Tanya Bapak itu. Ternyata Polisi yang mengobrol dengan Pak Didit adalah Komandan dari Polisi tersebut.
__ADS_1
“Menurut informasi yang Saya terima yaitu mereka semua ingin melamar pekerjaan di sini Pak.” Ujar Polisi itu, masih dengan posisi yang siap dan tegap.
“Melamar pekerjaan? Di sini tidak ada perusahaan.” Sahut Komandan itu.
“Ha melamar pekerjaan? Atau jangan-jangan?” Pak Didit bergumam. Dia mulai curiga orang-orang itu adalah pelamar pekerjaan untuk menjadi Babysitter-nya Alex. Tapi apa sebegitu banyaknya hingga ratusan orang. Melihat itu semua Pak Didit menganga dan di luar nalar Pak Didit.
“Permisi Pak, Saya boleh tinggal sebentar, Saya ingin mencari Istri Saya sebentar.” Tanpa dipersilahkan Pak Didit langsung meninggalkan tiga orang polisi itu. Dia masuk rumah dan mencari Istrinya.
“Adammm…” Teriak Pak Didit setelah memasuki rumahnya. Kali ini Dia berteriak di dalam dapur. Adam yang mendengar panggilan itu lekas keluar dari kamarnya. Dia keluar bersama dengan Istrinya, sepertinya Dia sedang Ena-En*. Ha? Ena-En* di pagi hari seperti ini?
“Ado apo Ayah manggil denai, ganggu sajo.” Istri Adam menyeru dalam hati menggunakan logat bahasa Padang. “Ada apa Ayah teriak terus ih.” Sahut Istri Adam. Adam keluar dengan wajah kusut hanya diam dan tetap melangkah mendekati Ayah mertuanya.
“Adam Mamak mana?” Tanya Pak Didit dengan nada tegas.
“Oh iya ya betul juga.” Pak Didit bergumam. “Ya sudah kamu berdua kembali ke kamarmu.” Perintah Pak Didit sembari mengayunkan tangan menunjuk ke kamar asal kedua orang itu keluar.
Dengan wajah yang lesu sepasang Suami Istri itu kembali masuk kamarnya. Bu Tanjung yang sedang berada di Toilet mendengar teriakan Suaminya hanya saja Dia enggan untuk menjawab panggilan itu di tengah kesibukannya menghasilkan emas batangan yang lembek. Setelah selesai segera Bu Tanjung membersihkan sisa hasil perjuangannya dan keluar dari Toilet.
Pak Didit celingak-celinguk menyusuri dapur hingga ke ruang tamu. Tak jua Dia menemukan Istrinya, lalu Dia mencoba melangkah ke arah kamar mandi. Belum sempat sampai di sana Dia melihat Bu Tanjung yang baru saja keluar dari Toilet itu.
“Ada apa Ayah?” Tanya Bu Tanjung santai, Dia merasakan sensasi lega sekarang.
“Bu memangnya yang mendaftar menjadi Babysitter berapa orang?” Tanya Pak Didit penasaran.
__ADS_1
“Kemarin yang mendaftarkan diri ada dua belas orang Yah. Memangnya kenapa Ayah?” Tanya Bu Tanjung balik.
“Dua belas? Tapi kok serame itu?” Pak Didit berkata sambil menunjuk ke arah luar rumah. Bu Tanjung yang melihat tingkah Pak Didit mengerutkan kening dan heran, segera Dia menuju ruang tamu dan mengintip dari jendela rumahnya.
“Ayahhhhh ada apa di depan? Ada Demo kah?” Teriak Bu Tanjung histeris. Mendengar teriakan itu Pak Didit langsung berlari memeluk Istrinya serta menutup mulutnya dengan tangan.
“Ibu jangan teriak di luar ada Polisi?” Ucap Pak Didit berbisik ke telinga Bu Tanjung. Bu Tanjung menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata lepaskan Aku. Tak jua Pak Didit melepaskan cengkraman tangan itu, akhirnya Bu Tanjung mencoba jalan pintas.
“ARGHHHhhh…” bergantian, sekarang malah Pak Didit yang berteriak. Dia kesakitan, Bu Tanjung menggigit tangannya. “Kenapa harus digigit Bu, Haduh fiuh fiuh.” Pak Didit meniup-niup tanganya seakan kepanasan padahal kesakitan.
“Habis Ayah udah kayak penculik.” Sahut Bu Tanjung.
Pak Polisi yang mendengar teriakan dua kali yang bergantian itu langsung berlari dan masuk ke rumah Pak Didit tanpa melepas sepatunya. Dari luar teriakan itu terdengar seperti sesuatu yang mendesak. Bu Tanjung dan Pak Didit berbarengan membulatkan matanya melihat tiga orang Polisi yang sudah berada di dalam rumahnya.
“Ada apa Pak, Bu? Kami mendengar suara teriakan dari luar tadi.” Tanya Komandan itu.
“Hehehe tidak ada apa-apa Pak. Saya hanya melihat tikus lewat Pak, jadi mau Saya injak eh yang keinjek kaki Suami Saya Pak.” Ucap Bu Tanjung sambil nyengir tidak keenakan.
“Oh seperti itu Kami pikir tadi terjadi kejadian kriminal di sini Pak. Oh ya, apa Ibu tau kenapa orang ramai mendatangi perumahan ini Bu?” Tanya polisi yang diam saja sejak tadi, kali ini Dia mengambil kesempatan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
“Hmm.. itu Pak anu..” Bu Tanjung mencoba menjawab dengan terbata-bata, Dia merasa gugup, agaknya Dia takut menjadi tersangka kasus ini. “Pak kalau Saya berkata jujur apa Saya akan di tangkap akibat keramaian ini?” Bu Tanjung bertanya terlebih dahulu sebagai wanti-wanti.
“Tentu tidak Bu, selama tidak ada hukum yang dilanggar.” Jawab Komandan ringkas.
__ADS_1
“Begini Pak, tetangga Saya adalah seorang Youtuber terkenal bernama Alex. Dia punya banyak fans dan sedang mencari orang untuk menjaga anaknya atau Babysitter. Jadi saya mencarikan orang di media sosial. Kemarin yang mendaftar ada dua belas orang jadi karena ada banyak, Pak Alex mau menyeleksi orang-orang itu hari ini. Tadi malam Saya membuat pengumuman melalui media sosial Saya seperti FB, IG, Tiktok, Twitter dan lain-lain. Saya menuliskan bahwa bagi siapapun yang telah mendaftarkan diri untuk menjadi Babysitter-nya Alex bisa datang pagi ini. Tetapi Saya tidak pernah menyangka bahwa yang datang akan seramai itu Pak.” Jelas Bu Tanjung, Dia berkata sambil gemetaran.