Duren Kampus

Duren Kampus
Nafas Naga


__ADS_3

“Eliana jika sudah keluar kelas, bisakah kau menemuiku?” Alex menuliskan pesan itu lalu mengirimkannya kepada Eliana. “Okay.” Balas Eliana singkat.


Seketika Alex tersenyum dan kembali merasakan semangat dalam dirinya. Alex menaruh gendongannya ke dalam tas. Mengelap bibir cemot Anaknya lalu memegang tangan Hendra dan mengajaknya berjalan bersama.


Alex berjalan menuju kantin, perutnya terasa lapar sekarang. Alex mengambil tempat duduk di sudut kantin berharap tak ada yang memperhatikannya. Alex memesan dua porsi nasi goreng kampung dan dua air mineral. Nasi goreng satunya dipesan khusus agar tak memakai cabai ataupun merica hingga Hendra bisa memakannya dengan nyaman.


Tak lama pesanan Alex datang. Pertama Dia memberi makan Hendra. Karena porsinya untuk orang dewasa, nasi goreng milik Hendra masih bersisa banyak. Lalu setelahnya Hendra diberikan Ipad untuk bermain. Kemudian Alex memakan nasi goreng kampung itu hingga habis.


Tak lupa Alex bersendawa setelahnya. Alex mengernyit, Alisnya mengkerut bergelombang. Dia seakan melupakan sesuatu tetapi entah apa itu. “Oh iya Pak Didit! Astaghfirullah.” Alex berbicara sendiri sambil menepuk jidatnya.


Lekas Alex mengambil ponsel dan menelepon Pak Didit. “Halo Pak Didit, ke kantin saja Pak sekarang. Kita makan!” Ujar Alex pada panggilan suara itu.


“Iya siap Pak Alex, memang kebetulan perutku sudah keroncongan ini.” Jawab Pak Didit pada panggilan suara itu. “Ok. Saya tunggu Pak.” Sahut Alex lalu memutuskan panggilan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Alex membuka buku mata kuliah Pengantar Hukum Indonesia. Dia mencoba belajar sendiri agar tak ketinggalan pelajaran. “Nanti Aku bisa tanya Najwa sampai mana Ibu itu menjelaskan tadi.” Gumamnya.


Berselang beberapa menit Pak Didit datang menghampiri Alex. “Silahkan, langsung duduk saja Pak Didit dan pesan makanan sesuai selera Pak Didit.” Ujar Alex. “Baik Pak.” Jawab Pak Didit singkat.


Kemudian Pak Didit memesan Ayam Geprek Sambal Mata dan Es Susu. Sebentar saja makanan itu habis tak bersisa. Sungguh benar bahwa Pak Didit tengah kelaparan. Ergh! Pak Didit sendawa hinnga mengeluarkan bau yang masuk ke hidung Alex.


“Dasar ini Pak Didit, bau nafasnya bau Naga!” Alex menyeru dalam hati. Alex menutup hidung dan mulutnya berpura-pura ingin bersin agar tak ketahuan dengan Pak Didit kalau ia tengah menutup hidung.

__ADS_1


“Pak Alex, Pak Alex.” Panggil Pak Didit kepada Alex setengah berbisik. “Pak Alex pinter juga ya. Milih meja di sudut sini.” Tambah Pak Didit. “Memangnya kenapa Pak?” Tanya Alex bingung.


“Di meja sini setiap mahasiswi yang masuk ke kantin jelas keliatan semuanya hihihi… Pak Alex emang keren.” Ujar Pak Didit yang tertawa bahagia bisa mencuci mata sambil makan gratis.


“Ada-ada saja Pak Didit.” Sahut Alex sambil tertawa. “Bukan itu sih Pak, Aku disini biar bisa menyendiri dan belajar.” Alex bergumam. Sengaja Alex tak menyampaikan alasannya, karena Dia tak mau menganggu Pak Didit yang saat ini tengah kegirangan bisa mencuci mata tanpa sepengetahuan Bu Tanjung.


“Pak Didit jika ingin memesan lagi silahkan Pak. Saya ingin melanjutkan membaca buku.” Ujar Alex yang berkata tanpa melirik supirnya. Mata Alex masih tertuju pada sebuah buku yang sedang terbuka itu.


“Benaran Pak? Kalau gitu Saya mau pesan kentang goreng dan Kopi.” Kata Pak Didit sembari mengeluarkan sebungkus rokok yang diletakkan di atas meja.


“Iya silahkan Pak. Pesan saja makanan yang Bapak mau tapi..” Alex berpikir kala Dia melirik sebungkus rokok yang ada di depannya itu. “Tapi apa Pak?” Jantung Pak Didit mulai berdegup kalau-kalau Dia disuruh membayar semua makanannya itu. Uang di dompetnya hanya dua puluh ribu, itupun hanya jatah uang rokoknya.


“Oh begitu, Iya Pak aman.” Sahut Pak Didit. “Alhamdulillah, tetep dapat makan gratis.” Pak Didit menyeru dalam hati. Lalu Pak Didit melanjutkan meneguk Kopi miliknya. “Permisi Pak Alex Saya mau merokok sebatang rokok dulu, bibir Saya sudah masem.” Kata Pak Didit yang sudah berdiri itu.


“Silahkan Pak.” Sahut Alex tanpa menoleh. Kemudian Pak Didit pergi untuk menghabiskan sebatang rokok. Niatnya sih sebatang rokok, tetapi saat rokoknya habis, Dia mengambil satu batang lagi jadi Dia menghisap dua batang rokok baru kembali duduk di meja Alex.


Pak Didit duduk dan melanjutkan meminum Kopi serta menyantap kentang goreng yang sudah dingin itu.


“Ayahhh…” Hendra menarik lengan baju Alex. “Iya nak?” sejenak Alex menghentikan membaca buku dan menoleh ke arah Hendra.


“Itu.. mau…” Kata Hendra sembari menunjuk kentang goreng yang sedang berada di tangan Pak Didit. Kentang goreng itu tepat berada di depan mulut Pak Didit yang sedang menganga hendak melahap kentang goreng tersebut.

__ADS_1


“Jangan yang itu, yang ini saja ya.” Alex mengambil sepotong kentang goreng dan memberikannya kepada Hendra. “Nooo..” Sahut Hendra menolak. “Itu..” Hendra menunjuk kembali kentang goreng yang berada di depan mulut Pak Didit.


Saat Hendra menunjuk kentang goreng yang sedang dipegang Pak Didit itu, memang Pak Didit langsung mematung tanpa bergerak.


“Kenapa harus yang itu sih Hen, itukan sudah bau Naga.” Alex menyeru dalam hati. “Hm.. Pak Didit Hendra maunya kentang goreng yang sudah dipegang Pak Didit itu.” Ujar Alex setengah hati.


“Oh tidak masalah, ini sayang ini silahkan. Aaa.. Ammm!” Pak Didit langsung menyuapi Hendra dan di makan oleh Hendra. “Glek” Alex menelan ludahnya sendiri lalu mengabaikan hal itu dan membaca buku lagi.


Gerkkk… ponsel Alex bergetar. Alex melirik layar ponselnya. Eliana. Segera Alex menutup buku PHI itu dan mengambil ponsel yang ada di meja.


“Kamu di mana? Aku sudah keluar kelas.” Isi pesan tersebut. Lekas Alex membalasnya “Di kantin, ke sini aja, ayok makan bareng.” Ajak Alex. Kemudian pesan itu tidak dibalas lagi oleh Eliana.


Sementara itu, Eliana sedang berjalan bersama Dinda keluar kelas. Eliana menatap layar ponselnya “Emmm…” Eliana bersuara rendah. “Ada apa Eliana?” Tanya Dinda penasaran.


“Tadi pas dikelas Alex kirim pesan agar segera menemuinya saat keluar kelas. Jadi barusan ku tanyain tuh posisinya lagi dimana.” Jelas Eliana.


“Terus dibalas nggak sama Alex?” Tanya Dinda lagi. “Yah dibales sih, katanya lagi di kantin dan ngajak makan bareng. Tapi kok males ya Din.” Ujar Eliana cemberut.


“Kenapa males sih.” Sahut Dinda. “Engga tahu nih, kalau soal Duda satu itu kadang-kadang rasa males ku bisa kumat.” Terang Eliana. “Ya sudah Kita samperin aja yuk, lagian Kita berdua juga belum makan kan. Noh liat perutmu kempes.” Ujar Dinda sembari menyentuh perut langsing Eliana.


“Yang penting ada Kamu deh. Nanti kalau Alex banyak tanya Aku ngandelin Kamu ya hehe….” Ujar Eliana sembari merangkul lengan Dinda. Kemudian mereka berencana menyusul Alex ke kantin.

__ADS_1


__ADS_2