
Eza hanya tersenyum sambil menatap lekat netra Andini yang nampak ragu-ragu menatapnya. "Aku, guru Matematika di sekolah kamu."
"Kalau itu saya sudah tahu, Pak."
"Oke kalau sudah tahu. Ayo? Biar gak kemalaman kalau pulang."
Andini hanya melongo. Benar-benar seorang lelaki yang tak terbantahkan.
Eza membukakan pintu untuk Andini, tapi Andini masih saja spechless. Dia tak juga menggerakkan dirinya.
"Ayo?" Eza mengulurkan tangannya. Berharap Andini mau menyambut uluran tangannya dengan sukacita tapi tidak, Andini justru menolaknya.
"Maaf, Pak. Saya bisa sendiri."
Eza hanya tersenyum sambil memberinya jalan. Setelah Andini keluar dari mobil, Eza menutup pintu kembali lalu berjalan di samping Andini.
Andini hanya terdiam. Sebenarnya dia sudah merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuan Eza yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Kalau di luar jam sekolah kamu tidak perlu panggil aku Bapak. Lagian, pasti umur kita juga cuma terpaut 5 tahun saja."
Lagi, perkataan Eza benar-benar diluar logikanya. "Entah di sekolah, atau di luar sekolah status kita tetap sama. Guru dan siswi."
Ucapan Andini berhasil membuat Eza tersenyum. Mau status berubah lain? Oke, waiting for this, Angel.
Mereka masuk ke dalam restoran. Lalu duduk di sebuah meja dekat jendela dengan pemandangan taman yang cukup indah. Andini tak bicara apapun. Bahkan saat Eza memesan beberapa makanan, Andini hanya iya-iya saja.
Beberapa saat kemudian, waiter datang dengan membawa beberapa jenis makanan. Andini hanya mengernyitkan dahinya, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini. Pasti dia hanya menghabiskan chicken steak dan dessert saja perutnya sudah kenyang.
"Irvan, gue mau ngomong sama lo."
"Lo mau ngomong apa?"
Suara itu? Andini menoleh sumber suara yang sangat dia kenal. Dia menoleh demi memastikan mereka. What the hell. Kenapa mereka juga berada di restoran itu? Jangan sampai mereka melihat Andini sedang berdua bersama Pak Eza. Bisa jadi gosip panas jika diolah oleh Clarissa.
Eza yang mengetahui hal itu juga melihat ke arah samping. Memang tak jauh darinya ada Irvan yang sedang bersama Clarissa.
"Udah biarkan saja. Kamu makan ya. Mereka pasti gak bakal lihat kamu." kata Eza sambil mengusap sesaat punggung tangan Andini.
Andini kembali mengunyah makanannya. Meski telinganya kembali menangkap percakapan mereka.
"Orang tua kita kan mau jodohin kita. Kenapa lo tolak?" terdengar suara Clarissa.
__ADS_1
"Karena gue gak punya perasaan sama lo. Udahlah, lagian kita masih SMA ngapain ngurusin perjodohan. Orang tua kita pasti juga cuma iseng."
"No, gue serius."
"Gue juga serius. Gue gak mau dijodohkan."
"Oke fine kalau lo gak suka sama gue. Terus lo suka cewek yang kayak gimana? Kayak Andini?"
Perkataan Clarissa berhasil membuat Andini hampir tersedak hingga membuatnya terbatuk.
"Pelan-pelan. Nih, minum dulu." Eza menyodorkan segelas air putih yang langsung diminum oleh Andini.
"Berhenti ikut campur sama perasaan gue." Setelah itu nampak Irvan berdiri dan meninggalkan Clarissa yang masih uring-uringan. Lalu dia juga berdiri dan melangkah cepat keluar dari restoran.
"Hmm, kalau gak nyaman kita bisa pulang sekarang." tawar Eza. Seandainya dia tahu akan ada Irvan, dia tidak akan mengajak Andini ke restoran itu.
"Gak papa." Andini melanjutkan makannya. Meski mereka kini lebih banyak diam. Andini masih memikirkan perkataan Clarissa tentang perjodohannya dengan Irvan. Sadar Andini, Irvan itu gak mungkin bisa sama lo.
Eza terus menatap Andini sambil tersenyum kecil. Aku pastiin, suatu saat nanti hanya ada aku seorang di hati kamu...
...***...
"Oke, gue harus bisa memulai kehidupan baru."
Andini mengambil tasnya yang terletak di atas meja dekat dengan tiga paper bag pemberian Eza semalam yang sempat dia tolak tapi tetap tidak bisa. Dia kini membukanya. Paper bag pertama di dalamnya ada sebuah dompet dan tas branded ternama. Andini hanya menggelengkan kepalanya dan menelan salivanya. Paper bag kedua berisi beberapa dress dari merk ternama juga sama seperti yang dia pakai semalam. Paper bag ketiga ada tulisan Ms Glow, sudah pastilah itu produk skin care. Saat dia lihat dalamnya, dia melebarkan matanya. Itu paket perawatan terlengkap mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Andini mulai pusing mengira-ngira berapa nominal dari barang-barang itu. Pasti sudah menghabiskan berjuta-juta.
"Buat apa sih Pak Eza beliin ini semua? Bikin gue pusing. Mana Pak Eza itu salah satu tipe manusia tanpa penolakan lagi."
Andini kini memakai tasnya lalu keluar dari rumah. Tak lupa menguncinya terlebih dahulu.
"Pagi..."
Suara itu berhasil membuat Andini menjatuhkan kuncinya. Pak Eza ngapain pagi-pagi ke sini? Lalu mengambilnya kembali.
"Pak Eza ada perlu apa?"
"Mau ajak kamu berangkat bareng ke sekolah."
"Tidak usah Pak, terima kasih. Saya biasa naik angkot kalau pagi." Andini mulai melangkah ke tepi jalan.
__ADS_1
"Masa' dandanan cantik begini mau naik angkot."
Andini menghentikan langkahnya, lalu tersenyum pada Eza. "Ya, tidak apa-apa Pak. Kan memang saya biasanya naik angkot."
Eza membiarkannya menunggu angkot di pinggir jalan. Sampai beberapa menit tidak ada juga angkot yang lewat.
Andini melihat jam di tangannya. Bentar lagi udah masuk. Tumben banget angkotnya lama.
"Ayo, daripada terlambat." ajak Eza lagi tapi kini dia sudah berada di dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya.
Andini memutar bola matanya. Tidak ada pilihan lain. Akhirnya dia masuk dan duduk di kursi depan. "Turun sebelum sampai di sekolah ya, Pak. Saya tidak mau ada yang melihat saya berangkat sama Pak Eza."
"Oke, siap."
Eza mulai melajukan mobilnya. Jarak rumah Andini ke sekolah sedang. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat.
Eza kini menghentikan mobilnya sebelum sampai di sekolah sesuai permintaan Andini. Dia turun dan jalan sekitar 15 meter menuju pintu gerbang.
Saat dia memasuki gerbang sekolah, beberapa pasang mata kini menatap Andini.
"Eh, siapa dia? Murid baru? Cantik banget."
Andini hanya menundukkan kepalanya. Masih belum bisa percaya diri dengan penampilan barunya ini.
Sampai melewati lorong kelas, beberapa pasang mata terus memandangnya takjub.
Dia kini berhenti di dekat kelasnya saat ada seseorang menghalangi langkahnya dengan dada bidangnya.
"Andini?"
Dia kini mendongak mendengar suara Irvan.
"Lo Andini?" Irvan kini menatap lekat yang membuat Andini merasa semakin gugup.
"I-iya."
Irvan hanya terdiam sambil terus menatap Andini. Dia memang cantik.
"Siapa lo!?" Satu tarikan ke belakang berhasil membuat Andini mundur beberapa langkah.
Clarissa melebarkan matanya melihat penampilan baru Andini. Dia sangat terkejut. "Lo si cupu?!?!"
__ADS_1