
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Eza sekarang fokus pada istri dan calon anaknya. Soal pekerjaan dia serahkan pada Papanya untuk sementara karena Rendi juga tidak mungkin bisa lagi menghandle secara maksimal. Sampai hampir dua bulan Rendi masih saja merasakan morning sickness, pasangan yang benar-benar romantis yang hampir mengalahkan keromantisan Eza itu juga sedang berbahagia menanti buah hati mereka.
Hari itu, Eza terus mengenggam tangan Andini sebelum masuk ke dalam ruang operasi.
"Mas, aku takut. Nanti Mas temani ya di dalam."
"Iya sayang, nanti aku temani kamu setelah dokternya suruh aku masuk ya." Eza mencium pipi Andini. Lalu dia mengusap perut yang sudah sangat besar itu. "Sayang, sebentar lagi kita ketemu. Semoga operasinya lancar ya."
Beberapa saat kemudian seorang suster datang ke ruangan itu sambil mendorong kursi roda. "Mari Bu Andini, kita ke ruang operasi."
Jantung Andini semakin berdetak tak karuan. Ini pertama kalinya dia akan memasuki ruangan itu. Seperti apakah rasanya? Apa nyawa seperti di ujung tanduk?
Eza membantu Andini naik ke atas kursi roda.
"Sayang, semoga berhasil. Mama doakan yang terbaik buat kamu dan cucu oma." Bu Sonya mencium kedua pipi Andini sebelum suster itu mendorong kursi rodanya.
"Makasih, Ma."
Mereka mengikuti sampai depan ruang operasi karena akan dilakukan tindakan terlebih dahulu sebelum operasi.
Eza terus berjalan mondar-mandir, sudah tidak sabar menanti panggilan untuk masuk. Tangannya kini mulai dingin dan berkeringat, jantungnya terus berdetak tak beraturan.
"Pak Eza, boleh masuk."
Mendengar suara suster, Eza segera masuk ke dalam ruang operasi setelah sebelumnya memakai pakaian steril yang berwarna hijau itu. Nampak Andini sudah berbaring di atas meja operasi sambil menatap langit-langit dengan segala macam peralatan yang telah terpasang.
"Sudah kebas? Sudah tidak terasa apa-apa?"
Andini hanya menggeleng.
"Sayang.." Eza yang kini duduk di dekat brangkar langsung menggenggam tangan Andini yang sama dinginnya seperti dirinya. Berusaha menyalurkan kekuatan pada istrinya.
"Mas Eza."
"Iya sayang, aku akan temani kamu di sini." Eza mendekatkan dirinya dan menempelkan pipinya di pipi Andini sambil terus berbisik kata-kata dan motivasi yang membuat Andini semakin tenang.
Hal yang sangat dinanti adalah saat terdengar suara tangisan pertama dari buah hatinya.
"Wah, tampan sekali," kata seorang suster yang mengelap tubuh bayi itu sesaat lalu dia letakkan di dada Andini untuk melakukan IMD dan skin to skin yang pertama kalinya.
Rasa bahagia dan haru menjadi satu. Eza dan Andini tersenyum dalam air mata bahagianya. Melihat putranya yang kini bergeliat dengan bibir yang tengah mencari sumber kehidupannya.
__ADS_1
"Wellcome Rayn Handoko. Rayn artinya orang yang setia dan penyayang. Semoga kamu kelak selalu menyayangi Bunda yang telah berjuang buat kamu dan adik kamu."
"Dan juga sayang sama Ayah kamu, yang selalu ada untuk kita." tambah Andini sambil mengusap lembut punggung bayi yang masih merah itu.
Eza tersenyum lalu mencium puncak kepala Andini.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tangis bayi yang kedua.
"Selamat ya, yang ini juga tampan. Wajahnya sangat mirip. Jangan sampai tertukar ya namanya." seloroh suster itu sambil meletakkan bayi satu nya di dada sebelah kiri Andini.
Andini kini mendekap dua bayi merah yang ada di dadanya. Mereka bergeliat lucu.
"Hai Ryan Handoko. Ryan, si raja kecil. Kelak jadi raja yang penyayang juga ya, terutama sama bunda dan kakak kembar kamu," ucap Eza sambil mengusap pipi lembut itu yang bergerak-gerak mencari sumber kehidupannya.
Lagi-lagi Andini harus menambah kalimat Eza. "Dan juga sayang sama Ayah kamu."
Eza tersenyum bahagia. Dia usap air matanya yang masih sesekali menetes. Dia cium Andini dengan sepenuh jiwanya. "Makasih sayang."
"Sama-sama Mas. Aku bisa melalui ini semua karena Mas Eza selalu ada untuk aku." Setelah mereka bertatap penuh cinta. Mereka kini menatap kedua putranya yang sudah berhasil menemukan sumber kehidupannya dan menghisapnya.
"Tuh kan, hasil stimulasi setiap hari bisa langsung dinikmati," bisik Eza di dekat telinga istrinya.
"Ih, Mas Eza."
"Bagus, ASI nya sudah keluar," ucap Dokter kandungan itu sambil berjalan mendekat. "Maaf ya Pak. Pak Eza tunggu diluar dulu kami akan melakukan perawatan terlebih dahulu untuk ibu dan bayi nya."
"Iya." Sebelum keluar Eza mencium pipi Andini. "Aku tunggu diluar ya. Bentar ya sayang, nanti Ayah gendong." Eza mencium kecil kedua putranya. Lalu dia keluar dari ruang operasi yang langsung disambut oleh Pak Handoko dan Bu Sonya tak tertinggal juga Arjuna yang sedari tadi juga ikut menunggu di depan ruang operasi.
"Eza, gimana? Lancar kan?"
"Lancar, Ma." ucap Eza dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Gimana dua cucu Papa. Ganteng kayak Papa?"
"Ya, ganteng kayak Eza lah, Pa." Mereka semua tertawa bersamaan.
Setelah selesai perawatan, Andini dan kedua putranya dipindah ke ruang rawat vvip. Semua keluarga kini berkumpul di ruangan itu.
Andini hanya tersenyum sambil menatap mereka yang sangat berbahagia menyambut kedua buah hatinya. Apalagi Eza, dia kini menggendong Ryan, setelah sebelumnya dia sudah menggendong Rayn. Kedua bayi menggemaskan itu masih tertidur nyenyak setelah kenyang meminum ASI.
"Gantengnya cucu Oma. Ini Rayn? Oma harus hafalin mulai sekarang biar gak tertukar manggilnya." Bu Sonya terus menimang cucu pertamanya itu.
__ADS_1
"Iya Ma, mereka mirip sekali. Sini gantian, Papa juga mau gendong."
"Tuh, Ryan aja yang di Eza. Biar Eza makan dulu."
Eza seperti enggan memberikan bayi mungil itu pada Papanya tapi dia juga harus menyuapi Andini. "Ini Pa. Bisa gak?"
"Bisa. Dulu kan Papa juga sering gendong kamu." kini kedua orang tua Eza tersenyum bahagia melihat cucu kembarnya berada di gendongan masing-masing.
Eza kini mendekati Andini yang sedari tadi ditemani Arjuna.
"Juna, kamu kalau butuh sesuatu bilang sama aku. Aku dengar kamu kerja sambilan juga di cafe," kata Eza yang kini duduk di samping brangkar.
"Gak apa-apa, Kak. Aku juga mau mandiri."
"Ya sudah. Tapi tetap jaga kondisi kamu ya."
"Iya Kak. Aku pamit dulu ya, Kak. Besok aku ke sini lagi." Arjuna mencium tangan Andini lalu Eza.
"Iya, hati-hati."
Setelah Arjuna berlalu, kini Eza bertatap sesaat dengan Andini, seperti seseorang yang sedang kasmaran.
"Tadi Dokter pesan, kalau kamu sudah buang angin baru boleh makan. Sudah?"
Andini mengangguk pelan.
"Kok gak dengar?" goda Eza sambil mengambil makanan yang telah tersaji di atas nakas.
Andini hanya tersenyum kecil. Dia tidak berani tertawa keras yang menimbulkan gerakan di perutnya.
"Makan dulu aku suapin, terus istirahat."
"Tapi bentar lagi waktunya ASI Mas. Sudah dua jam."
"Iya, kamu makan dulu biar produksinya melimpah. Setelah itu aku bantu pegang baby kita ya pasti perut kamu mulai terasa sakit."
Andini mengangguk pelan lalu mulai memakan suapan dari Eza dengan lahap karena perutnya sudah terasa lapar sedari tadi.
💞💞💞
.
__ADS_1
.