
"Next on." Eza membuka piyamanya. Walau pernah melihatnya secara virtual tapi tubuh Eza yang begitu bagus dengan dada bidang dan otot-otot keras yang lumayan menonjol begitu menggoda. Apalagi sesuatu yang terkekang di dalam sangkar itu membuat Andini menelan salivanya berkali-kali.
"Kenapa sayang? Rileks aja. Gak akan sakit kok."
Andini menutup matanya saat Eza berhasil meloloskan penutup terakhir yang melekat di tubuhnya.
"Kok malah tutup mata. Sini kenalan dulu." Eza meraih tangan Andini agar mau menyentuhnya.
Andini membuka matanya. Dia kini memberanikan diri untuk melihat sesuatu yang sangat keras itu. Tanpa sadar tangannya justru menyusuri setiap inci otot yang sangat menegang itu.
"Punya kamu. Dan pasti, kamu bakal sering cariin ini karena ketagihan."
Wajah Andini memerah dia melepas tangannya. "Ih, Mas Eza."
Eza kini berpindah posisi ke atas Andini dengan pinggang yang sudah berada di antara paha Andini. Dia sudah bersiap untuk melakukan peperangan.
Eza kembali mendekatkan dirinya. Mencumbunya dengan lembut hingga membuat Andini kembali diajaknya ke atas awan.
"Sudah siap?"
"Sakit kah?"
"Sedikit. Banyak enaknya."
"Ih, Mas Eza."
Eza tersenyum melihat wajah Andini yang sering kali memerah saat dia menggodanya.
Andini mengalungkan tangannya di leher Eza. Mereka saling menatap dengan penuh cinta dan gelora.
__ADS_1
Di saat waktunya pas. Eza kini mengarahkannya menuju pintu kenikmatan. Menerobosnya dengan hentakan yang cukup kuat.
"Mas.." Andini meringis menahan sakit. Dia mencengkeram punggung Eza cukup kuat.
"Baru setengah sayang. Tahan ya..."
Eza kembali mendorong lagi sampai terbenam sepenuhnya. Dia diamkan beberapa saat untuk beradaptasi.
"Mas, sakit." Panas, perih, sakit bercampur jadi satu.
"Sakitnya cuma bentar kok sayang." Eza mengusap pipi Andini lalu kembali mencumbunya dengan mesra agar Andini kembali rileks dan menikmati.
Tangan Eza tak tinggal diam. Dia menyusuri setiap inci area sensitif Andini hingga memancing desa han Andini.
Eza mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Menikmati setiap alur yang dia ciptakan. Semakin lama terasa semakin memabukkan.
Entahlah sejak kapan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat. Andini mulai menikmati setiap gerakan Eza. Suara indah itu sudah terlepas dari bibirnya, semakin lama semakin keras yang membuat Eza semakin menggebu.
Deruan napas dan lenguhan yang bersahutan semakin menambah rasa panas di dalam kamar. Peluh mereka bersatu membanjiri kulit yang saling bersentuhan.
Mendayung indah serasa terbang ke angkasa.
"Mas Eza... Mas..." Panggilnya disela napas yang semakin tersenggal.
"Iya sayang. Mau sampai?" Eza semakin mempercepat gerakannya. Semakin dalam menciptakan sensasi.
"Mas.." Andini semakin meracau, tubuhnya mengejang beberapa saat.
Eza merasakan rema san yang hangat dibawah sana. Semakin membuatnya tidak tahan dan segera menyudahinya dengan era ngan yang cukup keras.
__ADS_1
Andini membuka matanya saat merasakan kehangatan di atas perutnya.
"Maaf calon anak Ayah, terpaksa tidak aku biarkan berenang di dalam. Nunggu Bunda lulus sekolah ya, baru kamu boleh bebas berenang."
Andini tertawa mendengar celoteh Eza yang sangat absurd. "Ih, Mas Eza ada-ada aja."
Eza mengulum senyum lalu dia turun dari ranjang mengambil tisu basah. "Sebentar aku bersihkan." Dengan gerakan halus Eza membersihkan semua cairan hasil pekerjaannya.
"Eh, Mas biar aku sendiri."
"Gak papa." Meski sudah dilarang Eza tetap membersihkannya dengan perlahan. Eza tersenyum bangga saat melihat cairan pink yang sekarang dia hapus.
Setelah membuang tisu-tisu ke dalam sampah, Eza kembali naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuh polos Andini. "Makasih sayang udah mau terbang bersama aku."
"Sama-sama." Andini menenggelamkan diri di dada Eza yang kini telah menjadi tempat favoritnya.
"Masih sakit gak sayang?"
"Hmm, sedikit."
"Mau lagi boleh?"
Andini mendongak. Mau lagi? Baru juga selesai?
Tanpa menunggu jawaban, Eza kembali memposisikan dirinya. Mengulang lagi percintaan panas mereka, seolah tenaga Eza tidak ada habisnya.
"I love you Andini..."
"I love you..."
__ADS_1
"I love you..."
Entah sampai berapa kali Eza mengulang tiga kata itu yang hanya dibalas. "Heem.." saja oleh Andini karena dia kini merasa sangat lelah sudah beberapa kali dibuat meletup-letup di udara bersama Eza.