
Sepulang sekolah, Andini buru-buru keluar dari kelas karena dia sudah tidak sabar menjalankan misinya hari ini. Tidak seperti biasanya yang menunggu lorong sepi baru pulang. Dia kini berjalan bersama Rara.
Lagi-lagi dia bertemu dengan Clarissa dan temannya yang berniat membegal kakinya tapi kali ini Andini berhasil menghindar.
"Tumben buru-buru, takut kita siram lagi!!"
Andini tak menggubris mereka. Dia kembali melangkahkan kakinya karena dia harus menjalankan misi penting untuk merubah hidupnya. Dia tidak mau lagi direndahkan terus-menerus.
"Heh!! Udah berani ya sekarang!!" Satu tarikan di rambut Andini berhasil membuat Andini menghentikan langkahnya dan mendongak merasakan sakit di kepalanya karena tarikan dari Clarissa.
"Clarissa, lepasin!!" pekik Andini.
"Clarissa lo keterlaluan banget sama Dini." Rara kini unjuk suara karena dia merasa kasihan Andini terus dibully oleh Clarissa.
Clarissa melepaskan tangannya dari rambut Andini dan justru kini menuding Rara. "Lo si gendut ikut-ikutan aja urusan gue!"
Andini menepis tangan Clarissa. "Jangan pernah bentak Rara!!"
Rupanya Clarissa semakin geram. Dia kini mendorong tubuh Andini cukup keras hingga dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjerambab ke belakang.
Sepasang tangan berhasil menahan tubuh Andini. Tatapan mata mereka bertaut beberapa saat. Irvan...
Pandangan itu semakin membuat Clarissa geram. Dia tak habis pikir mengapa Irvan terus saja menolong Andini. Andini dan dirinya jelas jauh secara penampilan. Bagai langit dan bumi.
"Eh, makasih." kata Andini seiring dilepaskannya tangan Irvan dari lengannya.
"Clarissa, lo jangan keterlaluan." kata Irvan pada Clarissa. "Apa yang lo lakuin itu bahaya. Gue baru aja kena teguran, tidak boleh lagi ada perundungan di sekolah ini."
Perkataan Irvan yang tertangkap di telinga Andini sudah mampu menggetarkan dadanya. Dia tidak pernah mengira akan dibela oleh seseorang yang diam-diam dia sukai.
"Kena teguran atau ada hal lain? Kenapa lo belain Andini? Jangan bilang lo suka sama Andini!" Clarissa menatap netra Irvan berusaha mencari jawaban yang sebenarnya. Dia sangat takut kalah saing dengan Andini yang jelas-jelas bukan levelnya.
Irvan justru membalikkan badannya. "Meskipun gue gak suka sama Andini tapi gue juga gak akan suka sama lo." Lalu dia kembali melangkahkan kakinya pergi.
__ADS_1
"Sakitnya..." Clarissa memegang dadanya sendiri yang terasa sakit namun tak berdarah mendengar ucapan Irvan secara terang-terangan.
Merasa mendapat tatapan tajam dari Clarissa lagi, Andini dan Rara buru-buru melangkahkan kakinya pergi sebelum Clarissa membullynya lagi.
"Awas ya lo Andini!!"
Di ujung lorong, terlihat seseorang yang sedang berdiri sambil melipat tangannya. Dia sekarang bagai seorang stalker handal yang terus mengikuti langkah gadis incarannya.
Jadi Irvan cowok yang kamu sukai. Mengejutkan. Tinggi juga seleranya. Bersaing sama ketua OSIS? I'll to be a winner.
...***...
Sampainya di rumah, Andini segera membersihkan dirinya. Setelah berpakaian rapi dan sedikit bersolek, dia memasukkan dompet ke dalam tasnya lalu segera memesan ojek online.
Andini keluar dari rumahnya dengan senyum riang. Berharap apa yang akan dilakukannya ini bisa merubah hidupnya.
Dia menunggu si tukang ojek online di depan rumahnya setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang terselempang di pundaknya.
Beberapa saat kemudian ojek yang memakai jaket hijau itu berhenti di depannya. "Mbak Andini?"
Setelah sampai di tempat tujuan, Andini segera turun dari motor tukang ojek itu. "Makasih ya, Mas."
"Iya, sama-sama."
Setelah ojek itu berlalu, Andini masih berdiri sesaat di pinggir jalan guna mengecek ponselnya. Tapi belum juga mengambil ponselnya, tiba-tiba ada seseorang yang merampas tasnya hingga membuat tali yang hanya terkait itu terlepas.
"Hei, tas aku!!!" Andini sangat panik saat melihat pencopet itu berlari dengan kencang. "ATM, uang, hp, semua dalam tas itu." Andini segera mengejar copet itu walau langkahnya kalah gesit. "Copet!! Berhenti!!"
Andini membungkukkan dirinya. Dia mengambil napas yang seolah kehabisan oksigen. Dia kini mulai menangis, semua uang untuk menyambung hidupnya ada dalam tas itu. Belum lagi ponselnya. Orang-orang yang lalu lalang seolah tak peduli dengan nasibnya.
"Kenapa?" Suara itu berhasil membuat Andini menatapnya.
"Pak Eza?" Andini menatap Pak Eza heran, bagaimana dia bisa bertemu dengan Pak Eza di tempat ini. Apa hanya satu kebetulan kah? "Tas saya dicopet."
__ADS_1
"Kemana copetnya?"
"Ke sana."
Pak Eza segera berlari sesuai arah yang ditunjuk Andini.
Andini harap-harap cemas. Semoga tasnya bisa kembali. Kalau tidak bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya nanti.
Dia berjalan dengan resah. Ingin dia menyusul tapi lebih baik dia menunggunya saja di tempat itu agar ketika Pak Eza kembali, dia tidak mencarinya.
Andini duduk di depan sebuah ruko yang telah tutup. Menanti Pak Eza dengan harap-harap cemas. Do'a-do'a baik pun kini tercurah.
"Ini tas kamu."
Seketika Andini mendongak saat Pak Eza memberikan tasnya di hadapan Andini.
Andini tersenyum bahagia menyambut tas itu dari uluran tangan Pak Eza. Kemudian dia mengecek isi tasnya yang masih lengkap. Dia hapus sisa-sisa air matanya lalu Andini berdiri dan memegang tangan kanan Pak Eza dengan kedua tangannya. "Makasih, Pak. Terima kasih banyak. Kalau tidak ada Pak Eza, entahlah bagaimana nasib hidup saya selanjutnya."
Kedua tangan yang memegang tangan kanannya berhasil membuat dadanya berdesir. Seperti inikah rasanya menyentuh seseorang yang dia kagumi di dunia maya. Lebih indah daripada apapun.
Pak Eza meletakkan tangan kirinya di atas tangan Andini dan mengeratkan genggamannya. "Sama-sama.."
Merasakan tangan Pak Eza seketika Andini melepaskan tangannya. "Eh, ma-maf..." Dia mengalihkan pandangannya. Dia sekarang justru bingung harus pulang atau tetap lanjut ke salon. Setelah kejadian pencopetan barusan mood-nya tiba-tiba sudah menguar.
"Kamu mau kemana?" tanya Pak Eza yang melihat Andini hanya berdiri terdiam.
"Saya mau.. Hmmm..." Andini hanya menggigit bibir bawahnya beberapa saat.
"Kemana? Biar aku antar?"
"Saya mau ke salon itu, yang ada di dekat tempat ini. Mau potong rambut, iya mau potong rambut. Tapi sepertinya tidak jadi. Saya mau pulang saja. Sekali lagi terima kasih sudah menolong saya." jawab Andini sebisanya. Dia benar-benar tidak terlatih menangani keadaan canggung seperti ini. Terlebih seorang yang sekarang ada di hadapannya ini adalah seorang guru di sekolahnya.
Apa Pak Eza percaya begitu saja, tentu tidak. Dia kini justru menahan tangan Andini saat akan melangkah pergi. "Mau ke salon? Yuk, aku antar. Tapi tidak di salon ini. Ikut aku!"
__ADS_1
"Ke-kemana? Tidak perlu repot-repot, Pak."
"Anggap saja ini balasan karena aku sudah menolong kamu."