Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Tugas Untuk Arka


__ADS_3

Setelah sampai di depan rumah Eza, mobil yang dikemudikan Arka berhenti.


"Ka, jangan pulang dulu ya. Aku mau bicara sama kamu."


"I-iya Pak." Jantung Arka berdetak dengan cepat. Apa Eza akan memarahinya karena tahu dia menyukai istrinya?


Setelah turun dari mobil, Andini dan Eza masuk ke dalam rumah dengan tangan Eza yang masih setia merengkuh tubuhnya.


"Mas, mau bicara apa sama Arka? Gak marahi dia kan?" tanya Andini merasa penasaran.


"Ngapain marah? Dia kan udah nolong kamu. Ya, aku tahu sih sekarang pasti dia sedang patah hati sama kamu." Eza tertawa di ujung kalimatnya.


"Sayang, gimana hasilnya?" Bu Sonya sedari tadi sudah sangat tidak sabar menunggu kedatangan mereka berdua. Setelah mereka sampai di ruang tengah, Bu Sonya langsung mendekat.


Dengan senyum merekah, Andini menunjukkan hasil USG nya pada Bu Sonya.


Bu Sonya melihat hasil USG itu. "Dua?" tanya Bu Sonya karena terlihat ada dua kantong janin di dalam gambar itu.


"Iya, dua." jawab Eza sambil terus mengulum senyumnya.


"Maksudnya kembar?"


Mereka berdua mengangguk.


Bu Sonya langsung memeluk Andini. "Alhamdulillah sayang kamu langsung dapat gantinya dua sekaligus. Kamu jaga kondisi badan kamu baik-baik ya." Bu Sonya merenggangkan pelukannya. "Mulai sekarang kamu banyak istirahat, jangan melakukan aktifitas yang cukup berat. Katanya hamil kembar itu lebih cepat lelah."


"Iya, Ma. Makasih ya Ma." Mata Andini tak hentinya berkaca-kaca. Dia kini benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Kok makasih? Mama yang harusnya makasih sama kamu. Udah buat hidup Mama lebih bahagia dan penuh warna." Bu Sonya mengusap pipi Andini sesaat lalu melepas tangannya. "Sekarang makan dulu ya. Jangan sampai telat makan."


"Hmm, makan?" Andini justru melirik Eza.


"Kenapa? Mau disuapin lagi?" tanya Eza yang tanggap dengan tatapan istrinya.


Andini mengangguk malu. Entahlah, dia sekarang tidak selera makan kalau bukan dari tangan suaminya.


"Ya sudah. Tunggu 10 menit lagi ya, aku udah terlanjur mau bicara sama Arka."


"Iya Mas." Andini mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Bu Sonya menuju ruang makan terlebih dahulu.


Eza bergegas ke depan rumah menghampiri Arka yang sedang duduk di teras rumah.


"Arka." Eza ikut duduk di dekat Arka.


"Iya, Pak."


"Kamu sekarang sudah semester berapa?"

__ADS_1


"Mau semester 5, Pak."


Eza nampak berpikir sejenak. "Nanti setelah lulus kamu bisa langsung kerja di kantor sebagai PR ya."


"Eh, tapi Pak..."


"Kenapa? Masih mau mencoba kerja di tempat lain. Iya, tidak apa-apa kalau itu keinginan kamu."


"Bukan seperti itu Pak. Saya belum ada pengalaman apa-apa."


"Tidak apa-apa. Aku bisa menilai kepribadian kamu yang cocok di posisi itu."


Arka hanya mengangguk pelan.


"Setelah ini, kamu tolong jaga Andini di kampus. Kamu awasi dia, jangan sampai ada yang ganggu dia, atau mungkin dia sedang gak enak badan kamu langsung hubungi aku ya."


Arka terdiam tak menjawab. Dia menjaga istri orang yang pernah dia sukai. Bagaimana dia bisa profesional? Dia takut khilaf. Dia takut berdosa.


"Arka? Bisa? Tenang aja nanti aku kasih bonus." kata Eza lagi karena Arka tak juga menjawab.


"Bukan masalah itu, Pak. Tapi... Maaf sebelumnya, sebenarnya saya sempat menyukai istri Pak Eza. Saya salah. Saya benar-benar tidak tahu kalau Andini istri Pak Eza."


Eza menanggapi pengakuan Arka dengan santai. "Tidak apa-apa, Andini juga sudah pernah cerita soal kamu. Namanya juga anak muda. Aku bisa mengerti. Aku yakin kamu masih punya batasan."


Arka hanya mengangguk pelan.


"Iya Pak, saya usahakan."


"Ya sudah, kamu biar diantar sama Pak Wawan sama sekalian aku mau titip barang. Bilang ke Ayah kamu nanti aku kirim apa aja yang harus di beli lewat WA."


"Iya Pak, saya panggil Ayah dulu di belakang." Arka berdiri dan berjalan lewat samping rumah sedangkan Eza langsung masuk ke dalam rumah.


Arka langsung menghampiri Ayahnya yang sedang menata tanaman di dekat dapur. "Ayah!" panggilnya.


"Arka." Seketika Pak Wawan berdiri karena sedari tadi dia memang tidak tahu kalau Arka ada di rumah itu. "Kamu kok ada di sini?"


"Iya Yah, tadi habis antar Pak Eza sama istrinya ke rumah sakit."


"Loh, siapa yang sakit Ka?" tanya Pak Wawan sambil mencuci tangannya.


"Istrinya Yah periksa ke dokter kandungan."


"Bu Andini hamil lagi? Syukurlah sudah dapat ganti dari yang keguguran kemarin."


Arka hanya terdiam. Dia hanya bisa menebak, pasti Eza sangat protektif karena tidak mau kejadian serupa terulang lagi.


"Kamu ketemu dimana sama mereka Ka?"

__ADS_1


"Di kampus Yah. Kita kan satu kampus."


"Oiya, Ayah sampai lupa kalau kamu satu kampus sama Bu Andini."


"Ya sudah, Ayah antar aku ke kampus ya mau ambil motor. Sama sekalian Pak Eza suruh beliin barang. Dikirim ke hp Ayah pesanannya."


"O iya." Mereka berdua segera berlalu.


Sedangkan di ruang makan, Eza sedang menyuapi istrinya. "Kalau kayak gini aku tiap hari jemput kamu ke kampus ya sekalian makan siang. Setelah itu kalau memang ada pekerjaan penting baru aku balik ke kantor."


Andini hanya mengangguk sambil menelan makanannya. "Mas Eza jadi repot. Gak tahu kenapa kayak gak selera aja kalau makan sendiri."


Eza tersenyum kecil. "Gak papa, itu bawaan dua jagoan aku yang ada di perut kamu. Manja banget ya sama Ayah." Lagi-lagi Eza mengusap lembut perut Andini yang masih rata. Entah sudah ke berapa kali yang jelas setiap Eza mengusap lembut perutnya, perasaan Andini terasa hangat dan nyaman.


"Kamu minum dulu ya." Eza mengambilkan air minum untuk Andini yang langsung diminumnya. Sedangkan Eza kini mulai menyuapi dirinya sendiri dengan lahap karena perutnya memang sudah terasa sangat lapar..


"Kalau mau istirahat ke kamar dulu aja gak papa."


Andini menggelengkan kepalanya. "Aku nunggu di sini aja. Tuh, nasinya aja tinggal dua sendok."


"Lapar." Eza mengambil air putih setelah makanannya habis tak tersisa.


"Yuk, istirahat. Aku temeni mumpung gak ada kerjaan penting di kantor."


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam kamar. Eza segera melepas kemejanya lalu masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu.


Sedangkan Andini kini mengambil pakaian miliknya dan milik suaminya.


Dia berganti pakaian terlebih dahulu lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Terlihat suaminya kini mengambil ponsel untuk membaca beberapa pesan dari Rendi. "Haduh, udah ganti baju suruh ke kantor ada meeting dadakan." Eza berdengus kesal lalu memakai kembali kemeja dan celana kerjanya.


"Mau balik ke kantor?"


"Iya sayang. Maaf ya, gak jadi nemeni kamu istirahat."


"Gak papa."


Setelah rapi, Eza kini berjalan mendekati istrinya lalu mencium mesra bibir Andini sebagai ganti karena dia tidak jadi menemaninya istirahat.


"I love you." ucap Eza setelah melepas tautannya.


"I love you too."


"Temani Bunda ya." Eza mengecup hangat perut Andini. "Jangan buat bunda mual lagi. Nanti malam main lagi sama Ayah."


Andini terkekeh. Belum juga genap dua bulan, Eza sudah mengajaknya berbicara sedemikian rupa.

__ADS_1


__ADS_2