
Setelah sampai di kampus, Andini segera menghampiri Rara yang sudah menunggunya di dekat tempat parkir. Rendi juga ikut keluar dari mobil dan berjalan mengikuti mereka.
"Kalian yakin mau ambil jurusan tata boga? Jurusan lain kan banyak," kata Rendi yang kini berjalan di sisi Rara.
"Emang kenapa kak? Kan bermanfaat buat kehidupan sehari-hari."
"Oiya, lupa. Berguna banget buat para ibu rumah tangga." Rendi melirik Rara yang masih terdiam.
"Kak Rendi kok ikut aja sih. Kenapa gak tunggu di mobil?" kata Andini. Meskipun sebenarnya dia sudah tahu kalau Rendi memang sengaja ikut untuk mendekati Rara.
"Ya, mau jalan-jalan. Gak enak nunggu di parkir."
"Oo, mau kenalan sama mahasiswi kampus sini?"
"Nggak, aku mau nemenin cewek yang ada di sebelah aku."
Andini hanya tersenyum. Sedangkan Rara hanya terdiam sambil memutar bola matanya.
"Ra, ruang registrasinya dimana ya?" tanya Andini yang mulai bingung sendiri dengan kampus yang cukup luas itu.
"Lurus aja bos. Di kampus utama."
"Kak Rendi tahu?"
"Iya, aku dulu pernah kuliah di sini sebelum akhirnya pindah ke luar negri sama bos."
Andini hanya mengangguk. Dia kini sudah menemukan ruang registrasi. Andini dan Rara masuk ke dalam. Sedangkan Rendi masih setia menunggu di luar. Dia tidak pecicilan seperti biasanya walau banyak mahasiswi yang cantik dan sexy di kampus itu. Rendi sama sekali tidak berniat untuk mengajak mereka berkenalan. Dia begitu penasaran dengan Rara. Dia harus bisa mendekati Rara.
__ADS_1
Rendi berdiri saat melihat mereka keluar dari ruang registrasi.
"Hmm, aku mau ke toilet dulu ya. Kak Rendi tunggu di sini saja sama Rara."
"Din, gue ikut lo aja."
"Gak papa tunggu sini saja sama Kak Rendi, gue cuma sebentar kok." kata Andini yang sudah berjalan meninggalkan mereka berdua.
Ini kesempatan bagi Rendi. Dia tersenyum kecil. Bu Bosnya itu memang baik sekali pasti dia sengaja memberi kesempatan pada Rendi dan Rara untuk mengobrol berdua.
"Duduk sini, Ra." ajak Rendi saat Rara tak juga duduk.
Rara berpikir sampai beberapa detik, baru akhirnya Rara mau duduk di sebelah Rendi.
"Sudah selesai kan registrasinya. Kapan mulai masuk?" tanya Rendi memulai pembicaraan.
"Oo," Rendi berpikir sesaat. Entahlah, mengapa tiba-tiba dia juga merasa membeku. Padahal biasanya dia dengan mudahnya meluncurkan kata-kata buayanya untuk menjerat mangsanya. "Ra, minggu depan ada acara gak?"
Rara hanya menggelengkan kepalanya.
"Jalan yuk?"
"Gak bisa Kak. Gak boleh sama Papa." jawab Rara. Sebenarnya jawaban asal untuk menolak ajakan Rendi. Dia tidak mau terlalu mudah menerima bujuk rayu buaya yang mungkin belum juga tobat.
"Nanti aku yang minta izin sama Papa kamu."
"Memang Kak Rendi tahu rumah aku?"
__ADS_1
"Kan dulu aku pernah antar kamu."
Iya, Rara masih ingat betul. Saat itu Rendi mengantarnya sambil uring-uringan dan dia bilang hanya menyusahkan. Sejak saat itu, Rara tidak mau bertemu lagi dengan Rendi. Tapi sekarang justru Rendi begitu ingin mendekatinya. Dunia terbalik.
"Oo, waktu itu kan kata Kak Rendi aku cuma nyusahin aja."
"Eh, nggak bukan kayak gitu. Waktu itu kan bos yang nyuruh."
"Sama aja."
"Iya, aku minta maaf soal dulu." kata Rendi dengan sungguh-sungguh.
"Minta maaf percuma sih Kak, gak akan menarik kata-kata yang sudah terucap."
Rendi kini menatap Rara. Baru kali ini dia berada di posisi seperti ini. Biasanya dia sekali mendekati gadis, pasti gadis itu langsung terperangkap. "Iya, aku ngerti. Terus bagaimana cara aku buat nebus kesalahan aku."
Rara hanya mengangkat bahunya.
"Oke, aku akan berusaha. Pokoknya minggu depan aku akan tetap datang ke rumah kamu. Tunggu itu. Kalau kamu gak mau bertemu denganku ya gak papa, aku bisa ngobrol sama orang tua kamu." Rendi begitu serius dengan perkataannya. Dia tahu, dulu dia telah berbuat kesalahan. Menyia-nyiakan seseorang yang dia anggap hanya kerikil jalan ternyata seorang berlian yang indah.
Mengapa penyesalan selalu datang terlambat....
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Like dan komen yuk, ramaikan..