
Setelah turun dari mobil Eza beberapa meter sebelum sekolah, Andini mempercepat langkah kakinya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
Dia bernapas lega setelah berhasil melewati gerbang. Demi apa, jantungnya yang memang telah memacu cepat karena jalan tergesanya kini justru mendapati tatapan Eza yang sedang berdiri di depan mobilnya sambil menyunggingkan senyum. Pacuan jantungnya kembali berkejaran. Karena kini dia ke sekolah sudah menyandang status baru. Istri dari Eza tentunya.
Andini menjadi salah tingkah. Dia semakin mempercepat langkahnya agar segera hilang dari pandangan Eza.
"Wow, cantik!!"
"Upik abu udah berubah!"
"Kirain siapa tadi."
Ketika Andini melangkahkan kakinya melintasi lorong, banyak teman cowoknya yang menggodanya. Bagaimana tidak, dia semakin cantik sekarang. Seragam yang biasanya kebesaran di tubuhnya, kini dia memakai seragam yang pas hingga menampakkan body nya yang sangat bagus. Aroma harum juga menguar dari dirinya. Belum lagi tas, sepatu dan jam tangan yang di pakai merupakan keluaran terbaru dari brand ternama.
"Bening banget sekarang." Rafka kini memberanikan diri untuk mendekat. "Jalan yuk, nanti siang."
"Maaf, gue gak bisa."
"Hei, jangan ganggu my crush (gebetan)." Irvan menarik tangan Andini agar menjauh dari Rafka.
"Hei bro, baru crush, belum pacar."
"Oke, lo tunggu aja tanggal mainnya."
Andini mengernyitkan dahinya. Dia kini menarik tangannya agar terlepas dari Irvan. Oke, mungkin dulu dia ingin berubah menjadi cantik salah satunya agar bisa dekat dengan Irvan. Sekarang keinginan itu sudah hilang entah kemana. Tujuan utamanya sekarang hanya untuk melawan Clarissa bukan yang lain.
"Lo sakit apa sampai dua hari gak masuk?"
"Gue habis jatuh."
"Jatuh? Jatuh dimana? Apanya yang terluka."
Andini kini menatap Clarissa yang berpapasan dengannya di depan kelas. "Gue habis jatuh karena seseorang yang sengaja melakukannya."
"Siapa? Clarissa?"
"What!! Irvan kok lo jadi nuduh gue!"
Andini tak menggubris lagi mereka berdua. Dia kini duduk di bangkunya yang sudah ada Rara duduk dengan anteng.
"Wow, Andini. Cantik." Rara tersenyum tapi sedetik kemudian dia justru berkomentar dengan barang yang Andini pakai. "Jam tangan lo bagus banget. Ih, ini kan keluaran terbaru. Mahal banget."
Andini hanya sedikit tersenyum. "Ini dikasih tante gue yang jadi tkw."
"Terus tas lo sama sepatu lo. Dikasih tante lo juga?"
Andini hanya memutar bola matanya. Dia menelan salivanya beberapa kali. Dia harus menjawab apa? Hah, sudahlah biarkan saja.
__ADS_1
Clarissa yang penasaran dengan obrolan mereka kini mendekat dan melihat secara langsung barang-barang milik Andini. "Gila! Ini semua asli. Lo gak mungkin mampu beli ini semua!!"
Bentakan Clarissa berhasil membuat Andini berdiri dan menatap tajam ke arahnya. "Emang lo pikir lo aja yang mampu beli!"
"Halah, bilang dikasih tante. Pasti juga dikasih om-om hidung belang yang suka jajan. Atau jangan-jangan lo udah jadi wanita simpanan!"
Plak!! Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Clarissa. "Jaga ya mulut lo!"
"Lo berani sama gue! Zaman sekarang ingin punya barang branded, gampang tinggal pasang tarif." Clarissa akan balik menampar Andini tapi tangannya berhasil ditahan.
Andini mendorong Clarissa hingga dia hampir terjatuh. "Selama ini gue diam aja lo bully. Tapi mulai detik ini, gue akan balas apa yang udah lo lakuin sama gue."
"Lo!!!"
"Ada apa ini ribut-ribut! Tidak dengar bel masuk sudah berbunyi."
Mendengar suara Eza, Clarissa kembali ke tempat duduknya sambil terus merutuki Andini.
Sedangkan Andini, kini malah beradu tatap dengan Eza sesaat. Lalu dia duduk dengan kaku.
Eza memulai pelajarannya hari ini.
Lagi-lagi Andini tidak begitu fokus. Ditambah seseorang yang mengajarnya di depan kelas itu adalah suaminya. Iya, suaminya. Mengingat kejadian tadi pagi saja membuat pipi Andini bersemu merah.
Ini aku kenapa gerogi terus sih tiap lihat Mas Eza. Oke, dia sekarang suami aku tapi kan sebelumnya aku gak ada perasaan apa-apa. Kalau dia jadi guru terus gini bisa-bisa bukan materi pelajarannya yang masuk tapi materi lain. Ayo fokus, fokus.
Suara Eza tak juga menyadarkan lamunan Andini.
"Andini, lo dipanggil Pak Eza." Tepukan dari Rara yang akhirnya menyadarkan lamunan Andini.
"Eh, iya M.. Pak. Iya ada apa Pak Eza?"
"Saya perhatikan dari awal ikut pelajaran saya kamu selalu melamun."
Andini hanya terdiam. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Yang lainnya kerjakan di rumah halaman 49 soal 1-10. Buat kamu Andini, saya kasih tugas dobel sampai halaman 51."
"Hahaha, kapok lo Andini. Dia sudah gak niat sekolah Pak, niatnya jualan." celetuk Clarissa.
"Eh, apa lo bilang!!"
"Sudah diam!"
Suara keras Eza membuat mereka semua terdiam hingga pelajaran selesai.
Pelajaran Matematika pun akhirnya selesai. Andini kini bisa bernapas lega. Lalu dia mengambil ponselnya yang bergetar beberapa kali.
__ADS_1
Sorry, my wife. Nanti aku bantu belajar ya.. 😘
Hanya mendapat pesan singkat dari Eza saja membuatnya tersenyum sendiri.
"Din, lo kenapa sih tiap pelajaran Pak Eza kayak gak fokus gitu?" tanya Rara yang membuat Andini kembali menyimpan ponselnya.
"Kan, dari dulu gue gak suka pelajaran Matematika."
"Iya sih. Gue tahu lo. Eh, nanti ada latihan drama lagi. Lo udah hafal teksnya? Kemarin waktu lo gak masuk Bu Isti sempat mastiin kesiapan lo soalnya kan pertunjukan tinggal beberapa hari lagi."
"Udah kok, gampang kalau lupa teks tinggal improvisasi aja."
...***...
Andini dan Clarissa saling melempar tatapan tajam. Mereka kini berada di atas panggung teater bersiap untuk latihan drama.
"Oke, Clarissa dan Andini yang serius kalau latihan biar nanti tinggal tampil."
"Iya bu."
"Clarissa jangan berbuat ulah lagi, kalau kamu masih berbuat ulah kamu tidak saya masukkan dalam drama ini dan nilai kamu kosong."
Andini tersenyum miring pada Clarissa yang sudah merah padam menahan marah seolah dia ingin menelan Andini hidup-hidup.
Latihan berjalan dengan lancar, hingga di saat terakhir saat Cinderella berdansa dengan pangeran. Irvan seolah ingin memanfaatkan kesempatan yang ada. Andini memang terlalu awam perihal dansa tapi sentuhan Irvan di pinggangnya yang terlalu intens membuatnya merasa tidak nyaman.
"Hmm, maaf kalau soal dansa saya rasa sudah cukup kan bu." Andini melepas tangan Irvan dari pinggangnya.
"Oiya, gampang nanti tinggal ditambah sedikit saja waktu pertunjukkan disesuaikan sama backsoundnya."
Andini bernapas lega. Dia memang pernah menaruh hati pada Irvan, dulu. Untuk saat ini entahlah, dia hanya merasa tidak nyaman saja dekat dengan Irvan. Terlebih Irvan berani mendekatinya ketika dia sudah berubah menjadi cantik seperti sekarang. Itu tandanya cintanya tidak tulus bukan.
"Dini, pulang bareng gue yuk?" Irvan menahan tangan Andini setelah keluar dari ruang teater.
Mereka sempat bertatapan beberapa saat.
"Gak usah. Gue bisa pulang sendiri kok."
"Ayolah. Sekali ini aja. Rumah kamu di Jalan Pahlawan kan?"
Andini terdiam beberapa saat. Bagaimana Irvan bisa tahu rumahnya. Oke, mungkin Irvan pernah melihat biodatanya.
"Iya, tapi gue gak langsung pulang. Gue mau ke rumah tante dulu. Gak usah yah, makasih."
"Gak papa, gue antar ya."
Di ujung sana terlihat Eza sedang memperhatikan mereka berdua sambil bersedekap santai. Dia menyunggingkan sebelah bibirnya.
__ADS_1
Irvan, Irvan, mau lewat jalur mana kamu dekati Andini. Semua jalur udah aku tutup. Berani sekali dekati Andini setelah dia berubah..