
Jantungnya semakin dag dig dug. Dia menutup matanya sesaat menunggu hasil garis dari sensitif compact yang dia pegang.
Setelah satu menit, perlahan dia membuka matanya dan melihat hasil dari alat itu dan hasilnya adalah garis dua. Itu berarti positif. Kedua alat itu menunjukkan hasil yang positif.
Setetes air mata bahagia menetes di pipinya. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin memberi tahu Eza.
Dia letakkan dua testpack itu di dekat washtafel lalu dia bergegas untuk mandi. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Andini mencari sebuah kotak kecil. Setelah berhasil mendapatkannya dia letakkan dua tespack itu di dalam lalu menutupnya dan melilitnya dengan pita.
Dia menyisir rambutnya dan bersiap untuk pergi memberi kejutan pada Eza.
Sudah hampir jam 11, perkiraan dia sampai di kantor Eza saat makan siang.
Andini telah memesan grab car. Menunggunya sesaat di pinggir jalan lalu setelah mobil pesanannya tiba, Andini segera naik. Dia tak hentinya memandangi kotak berpita yang dia pegang dengan senyum merekah. Rasanya dia sudah tidak sabar melihat ekspresi Eza.
...***...
Eza menatap layar laptopnya dengan kesal. Hari itu setelah rapat usai, Stefi terus mengekorinya sampai masuk ke dalam ruangannya meskipun sudah dia usir beberapa kali.
"Stefi, kamu keluar sekarang! Aku masih banyak kerjaan."
"Kerja apa? Biasanya kan kamu tinggal suruh Rendi saat menghabiskan hari-hari kamu bersama istri kamu itu." Stefi kini justru duduk di depan meja Eza dan terus menatapnya. "Tambah ganteng aja sih kamu. Oke, aku akui pasti kamu sudah bahagia bersama istri kamu sampai kamu gemukan gini."
Eza hanya melirik Stefi sesaat lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
__ADS_1
"Kamu kenapa dulu menolak aku?"
"Karena aku gak cinta sama kamu."
"Memang kamu cinta sama istri kamu?"
"Ya, jelas."
"Karena apa? Pasti cuma karena fisiknya kan?"
Eza menatap jengah Stefi. "Aku bukan kamu, yang memandang orang karena fisik atau harta."
Stefi tertawa kecil. "Aku masih bisa menunggu kamu."
"No, aku mau lihat kamu bekerja di sini." Stefi semakin tersenyum menggoda.
Eza sama sekali tidak tertarik. Daripada dia pusing ditunggui hantu gentayangan seperti Stefi lebih baik dia pulang menemani istri tercintanya untuk makan siang.
"Oke, kalau kamu gak mau keluar, biar aku aja yang keluar." Eza mematikan laptopnya lalu menutupnya. Dia berdiri lalu mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Stefi yang tidak mau Eza tinggal.
"Bukan urusan kamu!" Eza tak menggubris cegahan Stefi.
__ADS_1
"Tunggu dulu!!" Stefi menahan tangan Eza. "Za, aku tuh cinta sama kamu."
"Kamu tahu kan, aku dari dulu gak cinta sama kamu. Dari pada kamu menggoda lelaki orang kayak gini, lebih baik kamu mencari lelaki lain diluar sana!" Eza berusaha melepas tangan Stefi.
"Eza, gak ada lelaki seperti kamu diluar sana." Stefi justru memeluk Eza.
"Stefi lepasin!!" Eza mendorong Stefi tapi tangan Stefi begitu kuat melingkar di pinggangnya.
"Aku bisa gantiin posisi istri kamu kapan saja."
"Gak akan ada yang bisa gantiin. Lepasin!!"
"Mas Eza..." suara serak yang diiringi dengan suara jatuh dari benda kecil di ambang pintu berhasil membuat Eza terkejut. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan berlari.
"Andini!!!" Eza semakin mendorong tubuh Stefi dengan keras. "Keluar sekarang!! Dan jangan pernah lagi masuk ke dalam ruangan aku!!"
"Eza, kamu berani bentak aku kasar kayak gini!! Oke, aku akan buat perhitungan sama kamu!" Stefi menghentakkan kakinya kasar dan melangkah keluar dari ruangan Eza.
Eza mengacak rambutnya sesaat. Pasti Andini akan salah paham dengan apa yang dia lihat. Tapi apa yang membuat Andini datang ke kantornya?
Eza melangkahkan kakinya ingin menyusul Andini. Dia hampir menginjak sebuah kotak kecil yang berpita cantik yang tergeletak di ambang pintu. Dia mengambil kotak itu. Jika tidak salah lihat, kotak itu berada di tangan Andini sebelum akhirnya terjatuh.
"Apa ini?" Eza membuka kotak itu. "Ini kan..." Dia mengambil dua buah testpack itu dan mengamatinya. Tertera jelas ada dua garis di tespack itu. "Andini positif hamil.." Senyum mengembang di bibir Eza dengan mata yang berkaca. Air mata bahagia itu sudah terbendung di pelupuk matanya karena kerja kerasnya setiap hari sudah membuahkan hasil.
__ADS_1
"Harusnya ini jadi moment yang spesial tapi..." Eza menghela napas kasar lalu dia melangkah cepat untuk mencari keberadaan Andini. "Maafin aku sayang..."