Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Time to Time


__ADS_3

"Mas Eza..."


Eza yang saat itu sedang menundukkan kepalanya di dekat tangan Andini seketika mendongak. Ada beban yang luruh saat mendengar suara yang sangat dia nantikan sedari tadi.


"Sayang, akhirnya kamu sadar." Dengan mata berbinarnya Eza menatap Andini yang telah membuka matanya itu.


"Mas, kok aku di rumah sakit? Aku sakit apa? Ini sudah jam berapa?"


"Sudah jam 6 sore. Sudah, kamu jangan mikir apa-apa dulu ya. Kamu fokus sama kesembuhan kamu agar cepat pulang."


Andini terkejut mendengar perkataan Eza. Sudah jam 6 sore? Seingatnya tadi dia terbangun waktu subuh. "Mas, kita pulang aja ya. Rayn sama Ryan pasti nungguin di rumah."


"Mereka aman sama Mama."


"Tapi Mas, mereka gimana minum ASI nya?" Andini mulai khawatir. Dia sangat memikirkan kedua buah hatinya itu.


"Sssttt..." Eza mengusap lembut pipi Andini agar dia lebih tenang. "Kamu masih harus dirawat di sini. Kamu kena anemia akut. Lihat tangan kamu sebelah kiri, itu bekas transfusi darah."


"Transfusi darah Mas? Aku..." Dia tidak pernah mengira bisa sakit sampai separah ini. Yang jelas badannya sekarang terasa sangat lemas dan tanpa tenaga sama sekali.


"Iya, aku takut banget kehilangan kamu. Jangan sakit lagi ya. Rasanya dunia aku runtuh lihat kamu sampai drop kayak tadi. Kalau kamu capek bilang sama aku, jangan dipaksa."


Tiba-tiba saja Andini menangis. Dia sangat merindukan kedua buah hatinya. "Mas aku kangen sama si kembar. Mereka minum apa Mas?"


"ASIP sayang. Tadi udah aku bantu pompa, syukurnya ASI kamu masih lancar. Aku vc in ya."


Andini mengangguk.


Eza mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Mamanya. Beberapa saat kemudian panggilan video itu terhubung.


"Ma, Andini mau lihat si kembar."

__ADS_1


"Syukurlah Andini udah sadar. Nih mereka lagi tidur."


Eza mendekatkan ponselnya pada Andini. Dengan mata berkaca Andini melihat kedua putranya yang sedang tertidur nyenyak. "Bunda kangen sayang. Yang pinter ya sama oma. Bunda janji akan cepat pulang."


Eza terus mengusap pundak Andini untuk memberinya ketenangan.


Rasanya dia ingin terus memandangi wajah pulas kedua putranya itu. Baru sehari tapi rindu itu sudah menggunung.


"Sayang, sudah ya. Nanti kita vc lagi."


Andini mengangguk meskipun dengan berat hati.


Setelah mematikan panggilannya, Eza meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. "Aku panggil dokter dulu biar periksa kondisi kamu sekarang. Setelah itu makan ya. Makan yang banyak biar cepat sehat."


...***...


Tiga hari sudah berlalu, hari ini Andini sudah boleh pulang dari rumah sakit. Saat perjalanan menuju rumah, tak hentinya dia tersenyum. Rasanya seperti akan bertemu dengan pujaan hati yang telah lama berpisah.


Eza semakin merengkuh tubuh itu sebagai ungkapan rasa yang sama. Karena dia juga sangat merindukan kedua buah hatinya. Selama tiga hari, dia hanya menjaga Andini tanpa pulang sama sekali.


"Mulai sekarang kamu jangan capek-capek ya. Makan yang banyak, minum susu juga, aku juga udah beliin booster sesuai rekomendasi dari dokter biar gak kekurangan zat besi lagi. Aku gak mau kamu sampai ngedrop lagi."


Andini menganggukkan kepalanya. "Aku juga gak mau ninggalin si kembar lagi Mas."


Setelah mobil mereka berhenti di depan rumah. Eza segera membantu Andini keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tuh, Bunda sama Ayah udah pulang."


Andini langsung meraih Rayn dari gendongan Bu Sonya. Bayi yang chubby itu langsung diserbu ciuman dari Andini. "Bunda kangen banget."


Hal yang sama dilakukan Eza. Dia meraih Ryan dari gendongan Rara yang kebetulan ada di rumah Eza karena menyambut kepulangan Andini. "Ayah juga kangen banget." Eza juga terus menciumi pipi chubby itu.

__ADS_1


"Rendi lo ngapain di sini?" tanya Eza yang kini duduk berdempet dengan Andini biar Andini bisa memandangi kedua putranya yang sangat dia rindukan.


"Nih, antar bumil."


"Iya, Din. Maaf ya gue gak bisa jenguk lo di rumah sakit."


"Iya, gak papa."


Mereka mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya Ryan menangis karena dia sudah haus.


"Sayang ke kamar aja ya,"


"Ra, gue tinggal dulu ya. Mereka haus."


"Iya Din. Bentar lagi gue juga mau pulang."


Setelah sampai di kamar, Andini segera duduk dan bersandar di headboard. Dia buka tiga kancing atasnya dan mengeluarkan sumber kehidupan yang akan dinikmati secara langsung oleh putranya. Awalnya Ryan bingung karena beberapa hari ini dia minum dari botol. Tapi setelah tahu rasanya, akhirnya dia menghisapnya dengan rakus.


Andini terus mengusap rambut-rambut halus itu. Akhirnya hari-hari yang menyedihkan itu berlalu. Dia bisa bersama lagi dengan kedua buah hatinya.


Eza yang telah meletakkan Rayn di tengah ranjang terus menggodanya. Dia sentuh ujung bibirnya dengan jarinya. Rayn menoleh dan mengikuti kemana arah ujung jari itu pergi. "Udah haus ya. Sabar ya. Rayn kan selalu sabar." Eza terus menggoda Rayn dengan ujung jarinya.


"Ih Mas, Rayn kena php." Andini ikut tersenyum melihat interaksi antara ayah dan anak itu.


"Mulai sekarang biar mereka tidur di sini aja ya. Biar kamu enak gak perlu naik turun ranjang."


"Tapi Mas, tempat Mas Eza jadi sempit."


"Gak papa. Yang sempit lebih hangat."


Eza terus memandangi tiga orang kesayangannya dalam hidupnya. Sepanjang hidupnya, dia berjanji akan selalu menjaga mereka. Tidak ada yang lebih berarti selain mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2