
"Kamu belum ngantuk?" tanya Eza yang kini duduk bersandar di headboard sambil merengkuh tubuh istrinya.
Andini menggelengkan kepalanya. "Sebentar Mas masih kenyang."
Eza tersenyum mengingat porsi makan Andini barusan. Benar-benar seperti orang kelaparan. Bukan seperti lagi tapi memang kelaparan.
"Kenapa? Kok senyum? Masih nertawain porsi makan aku ya?" Andini semakin menyandarkan dirinya di dada Eza. Mencari kenyamanan untuknya.
"Seneng aja lihat kamu doyan makan. Biar kamu dan baby twins sehat." Tangan Eza kini mengusap lembut perut buncit itu yang langsung disambut tendangan dari dalam. "Senengnya kalau Ayah usap. Aktif banget ya sayang. Jadi gak sabar ingin cepat bertemu."
"Sama Mas."
"Aku jadi punya dua saingan nih. Jagoan Ayah semua. Nanti di atas 36 minggu kalau memang beratnya sudah ideal dan organ dalamnya sudah sempurna kita bisa langsung rencanakan tanggal buat operasi."
Andini tersenyum lalu mengikuti tangan suaminya bermain di atas perutnya.
"Sebenarnya pengen normal Mas. Gimana ya rasanya?"
"Iya nanti adiknya baby twins ya kalau memang gak kembar."
"Mas Eza baby twins aja masih dalam perut sudah mikir adiknya."
Eza terkekeh lalu menciumi pipi Andini karena dia merasa sangat gemas. Ciuman itu kini beralih pada bibir. Mulai mencumbunya secara perlahan yang semakin lama semakin menuntut.
"Sayang, nengok baby twins ya?"
Mereka saling menatap. Sejak hamil, sebelum melakukan kegiatan malamnya, Eza selalu meminta izin terlebih dahulu karena takut jika istrinya sedang capek atau memang sedang tidak ingin.
Andini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Eza kembali mengecup singkat bibir itu. Lalu dia kini menyingkap daster longgar itu dan meloloskannya melewati kepala istrinya.
"Mas badan aku kaya bola ya." Andini merasa malu sendiri. Tidak hanya perutnya tapi bagian sensitif tubuhnya juga ikut menonjol.
"Tambah sexy dan cantik. Mau stimulasi ini dulu biar cepat keluar ASI nya." Eza membuka penutup itu. Memijitnya secara perlahan dua benda yang semakin bulat dan berisi itu.
__ADS_1
Andini semakin meremang saat Eza semakin memberi stimulasi pada puncaknya. Apalagi saat kini terasa sapuan hangat dan hisapan-hisapan di sana.
Eza terus menyesapnya dengan sesekali memberi sapuan dengan lidahnya secara berganti kanan dan kiri. Tiba-tiba saja dia menghentikan gerakannya saat dirasa ada sesuatu yang keluar dari benda yang dia hisap itu.
"Sayang kayaknya ASI nya udah keluar," kata Eza sambil mendongak.
"Hem? Masak sih Mas."
"Iya. Gak papa. Bagus kan, jadi nanti baby twins lahir bisa langsung dapat ASI." Eza kembali melanjutkan stimulasinya dan terasa semakin kuat saja hisapannya.
"Ih, Mas kalau udah keluar jangan dihisap terus gitu nanti habis."
Seketika Eza menghentikan aktifitasnya dan tertawa mendengar kalimat istrinya. "Justru semakin dihisap akan semakin banyak sayang. Nanti tanya deh sama dokter."
"Tapi Mas, nanti baby twins jadi minum sisa ayahnya dong."
Eza semakin tergelak. Istrinya memang terlalu menggemaskan. "Gak papa sayang. Nanti bisa terus produksi dan ganti baru lagi. Mumpung masih kurang beberapa minggu sebelum hak milik diambil sama dua jagoan ayah."
Andini menyerah. Terserah apa yang akan dilakukan suaminya. Dia hanya pasrah dan menikmati setiap sentuhan lembut itu.
Andini tertawa geli mendengar celotehan Eza yang berada di atas perutnya. Sejak usia kandungannya baru satu bulan sampai sekarang Eza sering sekali mengajak calon anaknya yang masih berada di dalam perut berkomunikasi. Meskipun terkadang terbilang absurd.
Setelah melepas pakaiannya Eza mulai memposisikan dirinya. Dia berlutut dan mulai mengarahkan miliknya. Dia lakukan secara perlahan dengan irama yang teratur dan penuh perasaan.
Jika kata orang rasanya lebih nikmat ketika istri sedang hamil, yah, itu memang benar adanya. Rasanya semakin hangat dan menggigit. Eza sudah dibuat mabuk kepayang. Dia seolah enggan cepat-cepat menyudahi permainannya.
Tapi dia tidak mau membuat istrinya sampai kelelahan. Bahkan kini Andini sudah mencapai puncak untuk yang kedua kalinya. Perutnya terasa kencang sesaat ketika kehangatan membasahi inti Eza dengan rema san.
"Sayang sebentar ya." satu tangan Eza mengusap lembut perut Andini, sedangkan tangan satunya menahan tubuhnya. Eza semakin mempercepat gerakannya untuk meraih gelombang dahsyatnya. Dengan erangan yang tertahan akhirnya Eza menuntaskan hasratnya.
Setelah melepas penyatuannya, Eza mencium lembut perut Andini. "Sampai jumpa lagi sayang." Lalu dia kini beralih mengusap rambut istrinya yang terlihat kelelahan. "Maaf ya terlalu lama. Sampai lemas gini. Pakai baju dulu, sini aku bantu." Eza memakai piyamanya dengan cepat lalu mengambil pakaian Andini yang berserak dan mulai membantunya.
"Aku mau ke kamar mandi Mas."
"Ayo, aku gendong ya." Eza meraih tubuh Andini lalu mengangkatnya.
__ADS_1
"Jangan Mas. Aku berat. Gendong tiga orang kan."
"Gak papa."
Iya, memang berat tapi Eza dengan senang hati melakukannya. Dia menggendongnya dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Lalu menurunkannya dekat toilet. "Aku bantu." Eza membantu istrinya sampai selesai. Setelah itu, dia kembali menggendong istrinya kembali ke ranjang.
"Kok badan aku tiba-tiba lemas ya Mas," kata Andini sambil duduk bersandar di headboard.
Perkataan Andini membuat Eza sedikit panik. Dia segera mengambilkan air putih untuk istrinya. "Banyak minum air putih biar gak dehidrasi."
"Kalau banyak minum nanti bolak balik ke kamar mandi Mas."
"Gak papa. Kalau capek nanti aku gendong."
Akhirnya Andini meminum air putih itu sampai habis satu gelas.
"Sekarang kamu tidur. Sini aku usap pinggangnya biar enakan." Andini merebahkan dirinya secara perlahan memunggungi Eza.
"Besok biar Arka urus izin kuliah kamu ya? Kamu istirahat saja di rumah," kata Eza dengan tangan yang terus mengusap pinggang istrinya.
"Apa gak terlalu cepat?"
"Gak sayang. Bentar lagi udah 8 bulan kan, pasti udah cepat lelah dan berat buat gerak. Perut kamu udah sebesar gini. Kali ini nurut apa kata aku ya."
"Iya Mas." Andini akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. Merasakan nyamannya usapan Eza di pinggangnya membuat rasa kantuk segera singgah, Andini kini mulai memejamkan matanya dan beberapa detik kemudian dia benar-benar terlelap.
Setelah dirasa Andini benar-benar nyenyak, Eza kini memeluknya dari belakang. Dia mulai memejamkan matanya juga. Meskipun demikian dia harus siap mendengar jika Andini terbangun untuk ke kamar mandi atau ingin minum. Bahkan sejak trimester ketiga, tak jarang Andini terbangun hanya ingin diusap perut atau punggungnya oleh Eza. Eza selalu menurutinya, karena inilah salah satu momen penting bagi Eza. Dia harus bisa menjadi suami siaga dan menuruti semua keinginan Andini baik yang terucap maupun tidak karena Eza sendiri sadar dia tidak bisa merasakan apa yang Andini rasakan.
💞💞💞
.
.
.
__ADS_1
Suami kayak Mas Eza ini cari dimana sih? Author pesan satu. Eh, maaf author udah punya, gak jadi deh.. ðŸ¤ðŸ¤