Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Keyakinan Hati


__ADS_3

"Bos!" Tanpa mengetuk pintu dan tanpa permisi lagi Rendi masuk ke dalam ruangan Eza di pagi hari menjelang siang itu.


"Ada masalah apa? Pak Leon gak jadi tanda tangan kontrak?" tanya Eza sambil mengalihkan pandangannya dari layar laptop menatap Rendi yang sudah duduk di depannya.


"Bukan masalah itu Bos. Pak Leon udah beres dari kemarin."


"Terus?" Eza kembali menatap layar laptopnya.


Rendi terdiam beberapa saat. Dia tidak tahu lagi harus berkonsultasi dengan siapa selain dengan bosnya ini. "Gue mau melamar Rara. Orang tua gue minggu ini mau ke sini. Bos ikut ya."


Seketika Eza menghentikan pekerjaannya. "Lo serius?" tanya Eza memastikan. "Nanti kalau lamaran lo ditolak sama Rara gimana? Orang tua lo bisa kecewa."


Rendi menghela napas panjang. "Jangan buat gue pesimis dong bos. Hanya dengan cara ini gue bisa buktiin kalau gue benar-benar serius."


"Emang lo beneran serius? Udah gak mau jadi player lagi?" tanya Eza lagi.


Rendi mencebikkan bibirnya. Bosnya yang satu ini memang selalu tidak pernah percaya dengan omongan Rendi saat menyangkut urusan pribadinya.


"Gue serius bos. Bos sendiri juga tahu, gue udah hampir satu tahun gak pacaran. Sejak bos nikah sama Andini, jadi gue terinspirasi untuk menjalin hubungan yang serius aja gak ganti-ganti pasangan lagi."


"Ya udah, gue bantu lo buat pastiin perasaan Rara."


Seketika senyum merekah di wajah Rendi. "Gini baru bos yang the best."

__ADS_1


...***...


Sedangkan di kampus, Andini sedang duduk bersama Rara di taman dekat kelasnya.


"Lo sakit? Kok lo pakai syal terus dari tadi?"


Andini hanya tersenyum. Dia memang sengaja memakai syal hari itu untuk menutupi tanda merah dari Eza yang lebih dari satu di lehernya. Antara kesal dan senang sebenarnya. Kesal karena malu jika dilihat orang, senang karena rasanya seperti tersengat listrik di sekujur tubuh.


"Ditanya kok malah senyum-senyum gitu. Bucin dasar!!"


"Nanti kalau lo udah punya suami juga bakal tahu."


"Eh, jadi syal itu cuma kamuflase dari..."


Rara tertawa. "Otw buat baby lagi ya, Din."


Andini hanya tersenyum lalu dia mengambil ponselnya yang bergetar beberapa kali. Ada sebuah pesan masuk dari Eza yang membuat Andini semakin tersenyum.


"Bucin lo parah banget ya ternyata. Dapat pesan dari suami aja langsung senyum kayak gitu."


"Ih, makanya lo cepat nikah gih biar ketularan bucin." Andini kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Gimana soal Kak Rendi?"


"Kak Rendi? Kok lo tiba-tiba tanya Kak Rendi?"

__ADS_1


"Soalnya gak ada lagi kandidat selain Kak Rendi yang cocok buat lo." Andini berusaha meyakinkan Rara.


"Gue gak tahu perasaan gue kayak gimana?"


Andini mengenggam tangan Rara memberi keyakinan pada sahabatnya itu. "Ra, percaya deh. Lo gak bakal salah pilih. Kalau seandainya sewaktu-waktu Kak Rendi ke rumah lo buat melamar, lo harus siap ya. Lo harus cari jawaban yang tepat. Lo harus bisa yakinkan diri lo sendiri."


"Melamar? Memang lo tahu soal itu?"


Andini tersenyum sambil mengangguk. "Mungkin dalam dekat ini."


Jantung Rara seketika berdetak lebih cepat. Dia merasa benar-benar belum siap. "Aduh, Din. Gue belum siap."


"Kalau lo bilang belum siap sampai kapanpun ya lo belum siap. Makanya mantapkan hati lo. Hmm, lo sebenarnya suka gak sama Kak Rendi. Atau pernah gak terbesit rasa kagum di hati lo?"


"Ya, jujur sih iya. Siapa sih yang gak kagum sama wajah Kak Rendi."


"Tuh kan! Jadi ngapain harus bingung lagi. Gue yakin, lo pasti bahagia. Orang tua lo pasti juga udah merestui kan?"


Rara mengangguk. "Kak Rendi malah udah bilang duluan sama orang tua gue soal ini."


"Itu berarti Kak Rendi udah benar-benar serius. You must say yes. Oke. Gue akan jadi saksi kisah cinta kalian berdua."


Rara tersenyum lalu memeluk sahabatnya yang telah menemaninya selama bertahun-tahun itu. "Lo emang bestie gue, Din."

__ADS_1


__ADS_2