Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Hamil?


__ADS_3

Eza tersenyum melihat Andini yang masih saja meringkuk di atas tempat tidur, sedangkan dirinya sudah rapi dan bersiap pergi ke kantor. Dia memang sengaja tidak membangunkan Andini. Mungkin saja istrinya itu sedang capek karena pergulatan panas semalam.


"Berangkat dulu ya sayang." satu kecupan mesra mendarat di kening Andini.


Merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh keningnya, Andini mengerjapkan matanya. Dia kini bisa menangkap bayangan Eza yang telah rapi dengan harum parfum kesayangannya.


"Jam berapa Mas?" Andini duduk lalu bersandar di headboard untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.


"Jam 7 sayang. Udah kamu tidur lagi gak papa. Aku ada meeting jam 8 jadi harus cepat berangkat." Eza mengusap puncak kepala Andini.


"Mas Eza udah sarapan?"


"Udah. Sarapan kamu juga udah aku siapin."


Andini menatap Eza dengan binar matanya. Dia merasa sangat beruntung mendapat suami yang perhatian dan pengertian seperti Eza. "Makasih ya Mas."


"Udah, jangan bilang makasih lagi. Aku sayang sama kamu." Eza mendekatkan dirinya. Mencium bibir Andini dengan mesra. Sesaat tapi cukup dalam. "Aku berangkat dulu ya. Kalau kamu kesepian Rara suruh ke sini aja."


"Iya, Mas." Lalu Andini mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati Mas."


"Iya. Oiya, Arjuna hari apa pindah ke sini?"


"Katanya dua hari lagi Mas. Tapi dia gak mau tinggal di apartemen dia maunya tinggal di rumah lama."

__ADS_1


"Ya udah, kalau butuh apa-apa bilang ya." Satu kecupan mendarat di pipi Andini sebelum Eza keluar dari kamar.


Andini tersenyum lalu kembali merebahkan dirinya dan menarik selimut. Dia benar-benar merasa sangat malas hari itu. Padahal biasanya dia tidak suka menjadi tim rebahan tapi entahlah akhir-akhir ini rasanya semakin malas untuk gerak.


Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Ingin dia biarkan tapi ponsel itu berbunyi lagi. Akhirnya Andini meraih ponsel yang berada di atas nakas dengan malas.


"Rara?" Andini mengangkat panggilan masuk dari Rara sambil tetap dalam posisi rebahan. "Iya, apa Ra?"


"Andini, kamu kapan registasi? Hari ini sudah buka loh registrasinya."


"Hmm, sampai berapa hari Ra?"


"Masih lama sih, sampai dua minggu batas registrasinya. Lo masih tidur sekarang?"


"Iya, tiduran aja. Ya udah minggu depan aja kalau gitu. Gue lagi males banget mau ngapa-ngapain."


"Nggak tuh. Waktu honeymoon juga udah mager banget. Sampai malas buat cari oleh-oleh. Sorry ya, oleh-olehnya cuma aksesoris aja."


"Iya gak papa. Eh, jangan-jangan lo hamil Din."


Seketika Andini membuka matanya dengan lebar. "Hem, hamil?"


"Iya, soalnya kakak gue juga lagi hamil muda. Bawaannya tiduran muluk. Lo ada mual gak? Atau pusing?"

__ADS_1


"Iya sih, kadang memang tiba-tiba pusing. Kalau mual cuma kemarin aja karena gak cocok makanan. Lo udah kayak bu bidan aja tahu hal kayak gini. Gue aja gak ngeh loh ciri-ciri hamil kayak gimana."


"Ya ampun Dini, lo itu sebagai cewek juga harus ngerti dong soal gitu, kan lo juga udah punya suami. Lo telat gak?"


"Iya, udah dua minggu malah. Kirain telat biasa."


"Tuh, kan. Coba deh beli testpack siapa tahu beneran positif."


Andini kini bangun dari tidurnya. Benarkah dia hamil?


"Ya udah, buruan gih. Ditunggu kabar baiknya ya. Gak sabar buat jadi aunty."


"Iya Ra, thanks ya."


Andini mematikan panggilannya dengan Rara. Dia letakkan kembali ponselnya. "Hamil?" Dia kini beranjak dari ranjang lalu menatap pantulan dirinya di cermin yang masih memakai piyama itu. Perutnya masih terlihat rata, belum ada perubahan bentuk lain kecuali dadanya yang memang lebih besar dan padat.


Seingat dia ada apotik di lantai bawah dan bisa diantar. Dia menuju ruang tamu lalu mencari nomor apotik yang berada di buku telepon. Setelah ketemu, dia menghubungi apotik dengan telepon apartemen. Dia pesan dua testpack yang paling akurat.


Setelah itu, dia menuju meja makan untuk sarapan sambil menunggu pesanannya datang. Dadanya sudah berdebar-debar tidak karuan membayangkan hasilnya. Kalau memang dia hamil, Eza pasti sangat bahagia.


Tepat saat sarapannya tandas, pesanannya datang. Dia membuka pintu lalu membayarnya setelah mengambil barang yang di pesan, Andini kembali menutup pintunya.


Dengan langkah cepat Andini menuju kamar mandi. Dia ikuti sesuai petunjuk pemakaian.

__ADS_1


Jantungnya semakin dag dig dug. Dia menutup matanya sesaat menunggu hasil garis dari sensitif compact yang dia pegang.


Setelah satu menit, perlahan dia membuka matanya dan melihat hasil dari alat itu dan hasilnya adalah.....


__ADS_2