
Malam itu Andini mengerjakan PR Matematikanya di dalam kamar. Sebenarnya dia sangat malas. Tidak bisakah Eza meringankan tugasnya. Guru Matematika itu suaminya sendiri kan?
Dia memang suami di rumah, tapi kalau di sekolah hubungan mereka tetap guru dan murid. Meski hanya guru samaran. Jadi tidak boleh ada kecurangan di dalam pelajaran sekolah.
"Sini aku bantuin." Tiba-tiba Eza sudah duduk di samping Andini. Bahkan Andini tidak menyadari Eza masuk ke dalam kamarnya sangking fokusnya dia pada angka-angka yang sangat tidak dia sukai.
Eza sedikit membungkukkan badannya lalu mengambil alih buku Andini dan melihat sampai mana dia mengerjakan soalnya. "Baru nomor 3?" Eza hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Andini tersenyum masam. Dia sangat lelet ketika harus mengerjakan soal Matematika.
"Sini aku ajarin. Kamu simak dan tulis ya."
"I-iya." Lagi-lagi Andini tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Bahkan dia sampai beberapa kali salah menulis apa yang disebutkan Eza.
"Kenapa? Gerogi banget keliatannya."
"Eh, nggak Mas. Cuma agak ngantuk aja."
"Ya udah kamu kerjakan sampai nomor 10 saja."
Eza kembali menjelaskan soal berikutnya. Tapi sekarang rasa gerogi itu sudah pergi yang diganti dengan rasa kantuk yang teramat sangat. Pandangannya mulai kabur melihat deretan angka-angka yang berjajar itu.
Eza kasihan juga melihat Andini yang sudah terkantuk-kantuk. "Kalau ngantuk kamu tidur aja."
"Tapi ini belum selesai."
"Udah gak papa."
Andini sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Dia akhirnya berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan dirinya. Tak butuh waktu lama dia sudah pergi ke alam mimpi.
Eza tersenyum kecil melihat Andini yang sudah tertidur lelap. Lalu dia kembali membungkukkan badannya dan mengerjakan PR Andini dengan cepat.
"Selesai." Eza kini menutup buku-buku itu lalu menumpuknya rapi di atas meja.
__ADS_1
Eza berdiri dan berjalan mendekati ranjang Andini. Terlihat Andini sedang tidur nyenyak dengan posisi miring.
"Andini..." Eza naik ke atas ranjang lalu merebahkan dirinya di belakang Andini. Menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka dan satu tangannya memeluk perut Andini.
"Nyaman.." gumam Eza sebelum akhirnya dia ikut terbang ke alam mimpi menyusul Andini.
...***...
Andini merebahkan tubuhnya dari posisi miring karena dia mulai terasa pegal. Ada sesuatu yang berat menindih perutnya.
"Apa sih ini?" Andini hanya merabanya karena matanya masih sangat berat untuk terbuka. Tersadar bahwa dia menyentuh kulit seseorang, seketika dia langsung membuka matanya dan menoleh ke sisi kanannya. Terlihat Eza masih tertidur dengan pulas sambil memeluknya.
"Mas Eza! Kenapa tidur di sini?"
Suara terkejut Andini berhasil membangunkan Eza. "Hem?" Dia melepaskan pelukannya yang membuat Andini menjauh dari Eza. "Maaf, aku ketiduran di sini."
"Mas Eza gak ngapa-ngapain kan?" Andini melihat dirinya yang masih lengkap memakai piyama dan merasakan dirinya sendiri kalau tidak ada rasa aneh yang tertinggal.
"Aku cuma ketiduran aja. Gak ngapa-ngapain. Ya udah, kamu lanjut tidur aja. Aku mau ke kamar." Eza beranjak dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju kamarnya.
Dia mengambil lagi buku tugas Matematikanya. Berniat untuk mengerjakan soal yang belum selesai semalam. Tapi saat membukanya, "Sudah selesai semua. Ini tulisan Mas Eza." dia menatap tulisan rapi Eza yang ada di bukunya. Tiba-tiba saja wajahnya bersemu merah mengingat semua perlakuan manis Eza padanya.
Andini kembali menutup bukunya lalu dia mempersiapkan buku mata pelajaran hari ini. Setelah semua masuk ke dalam tas. Dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu dia keluar dari kamar dan menuju dapur. Seperti yang telah dia rencanakan. Dia ingin memasak pagi hari itu.
"Hmm, buat nasi goreng spesial saja."
Andini mulai beroperasi di dapur. Hidupnya yang terbiasa mandiri sejak kecil membuatnya bisa mengerjakan pekerjaan rumah termasuk memasak. Walau mungkin rasanya tidak seenak beli di restoran. Dia cuma berharap, "Semoga Mas Eza suka."
Andini mulai meracik bumbu nasi goreng khasnya sendiri. Untunglah semalam dia sudah menanak nasi jadi tinggal membuatnya saja.
"Andini, kamu ngapain? Ini masih pagi banget." Suara Eza berhasil mengejutkan Andini
__ADS_1
"Mau masak."
"Jadi kamu serius mau masak?" Eza kini berjalan mendekat dan berdiri di belakang Andini. Melihat gerakan tangan Andini dari atas bahunya.
"Iya Mas. Kan kemarin kita sudah beli bahan-bahannya. Tapi masakan aku emang gak seenak masakan restoran sih."
"Kalau kamu yang buat sih, sudah jelas enak."
Tiba-tiba Eza melingkarkan tangannya di perut Andini dan menempelkan dadanya. Ya, seperti tindakan mesra seorang suami pada istrinya. Perbuatan Eza membuat Andini terkejut sampai pisau yang dia pegang berhasil menggores jarinya.
"Aw."
"Eh, kena pisau ya. Maaf," Seketika Eza melepaskan pelukannya lalu melihat jari Andini yang sedikit berdarah dan segera menghisapnya agar darah itu berhenti mengalir.
Sekujur tubuh Andini bagai tersengat listrik. Lagi, jantungnya memompa aliran darah begitu cepat.
Udah dong... Bisa pingsan aku kalau kayak gini.
Eza melepas jari Andini dari bibirnya. Lalu menggenggam tangannya dengan erat.
Dia kini menatap wajah Andini. Senyum simpul mengembang saat Eza berhasil menangkap raut grogi di wajah Andini. Rasanya dia semakin ingin menggoda Andini saja.
"Hmm, Mas. Aku..." Andini berusaha melepas tangannya tapi Eza justru menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
Kedua mata mereka saling menatap. Waktu seolah berhenti berputar beberapa saat. Mereka seperti ingin menyelami semua perasaan yang ada.
Lagi-lagi Eza mendekatkan dirinya, kali ini tanpa permisi. Tangan kanannya sudah menahan tengkuk leher Andini agar dia tidak menghindar.
Begitu lembut dan hangat yang membuat Andini dimabuk kepayang. Entah mengapa, dia merasa kecanduan dengan rasa manis ini. Ya, tentunya sangat nikmat yang memancing respon alami dari tubuh untuk saling membalas.
Eza melepas dirinya dengan satu senyuman manis. "I love you," bisiknya di telinga Andini sambil berlalu meninggalkan Andini yang merasa tidak memiliki otot untuk menopang tubuhnya saat ini.
Mas Eza, pagi-pagi udah buat spot jantung aja. Tuh kan, aku jadi bingung mau ngapain sekarang.
__ADS_1
Andini kembali menghadap meja dapur dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa saat.
Lagian aku ini kenapa sih? Jantung aku benar-benar gak bisa terkontrol tiap dekat Mas Eza. Masak iya, aku udah jatuh cinta sama Mas Eza?