Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Hasilnya adalah ....


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen, Rendi terus memakan manisan mangga kering yang sempat berebut dengan Eza itu. Memang sudah seperti seorang ibu hamil sungguhan.


"Ya ampun Ren, lo tuh udah kayak ibu hamil beneran!" kata Eza sambil sesekali melirik Rendi.


"Gak tahu bos. Rasanya enak, mual juga langsung hilang."


"Sukses deh! Gue doa in semoga beneran jadi."


"Amin..."


Eza menghentikan mobilnya di dekat jalan masuk menuju apartemen.


"Makasih ya bos," kata Rendi sambil mengantongi barang yang dia beli di apotik tadi.


"Besok jangan libur lagi."


"Iya!" ucapnya lalu keluar dari mobil Eza. Rendi berjalan cepet menuju pintu lift. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya. Setelah naik ke lantai 5, Rendi segera keluar dari lift dan menuju apartemennya.


"Kayaknya Rara udah pulang." Setelah masuk ke dalam, Rendi langsung mencari keberadaan istrinya di kamar tapi tidak ada. Lalu dia menuju dapur, rupanya Rara sedang membuat minuman di sana.


"Sayang." Tiba-tiba Rendi memeluk Rara dari belakang yang membuat Rara sedikit terkejut.


"Kak Rendi, ih, ngagetin aja."


Rendi semakin mengeratkan pelukannya sambil menempelkan dagunya di pundak Rara.


"Kak Rendi kok udah pulang? Gak enak badan lagi? Makan dulu ya? Barusan aku buat sup ayam, masih hangat biar enakan perutnya."


"Iya, sebentar lagi. Aku udah sehat, lebih sehat malah."


"Beneran udah sehat?" Rara kini membalikkan badannya lalu meraba pipi suaminya, menatapnya lekat wajah yang masih terlihat pucat itu. "Masih pucat. Makan dulu aja, terus istirahat."


Rendi menggelengkan kepalanya. "Kata bos, aku sebenarnya gak sakit."


"Terus?"


Rendi semakin mendekatkan dirinya dan menempelkan keningnya di kening Rara. "Katanya aku lagi ngidam."


"Hmm, maksudnya?"


"Ya, mungkin benar kamu hamil."


Rara menatap Rendi ragu. "Tapi aku gak ngerasain apa-apa, gak mual, gak pusing."


"Iya, biar aku saja yang merasakan semuanya. Aku seneng banget, kamu bisa berbagi rasa ini." Rendi mencium singkat bibir Rara.


"Tapi kalau ternyata tidak?"


"Ya, tidak apa-apa. Nanti kita coba buat lagi."


Pipi Rara bersemu merah. Buat lagi? Sepertinya setiap hari sudah membuatnya bahkan sehari bisa lebih dari sekali.

__ADS_1


Rendi melepas pelukannya lalu mengambil testpack yang tadi dia beli dan memberikannya pada Rara. "Kamu cek dulu aja ya."


Rara memandang tiga alat itu dengan ragu. Dia masih tidak percaya kalau memang hamil. Dia tidak merasakan apa-apa dan baru terlambat datang bulan selama satu minggu saja.


"Coba dicek dulu. Biar gak penasaran." Tiba-tiba saja Rendi menggendong tubuh Rara dan membawanya ke kamar.


"Kak, turunin. Kak Rendi kan masih sakit."


"Aku gak sakit sayang. Trust me."


Rendi menurunkan Rara di kamar mandi. "Aku tunggu diluar ya."


Rara menganggukkan kepalanya sambil menutup pintu kamar mandi.


Di dalam kamar, Rendi menunggunya dengan harap-harap cemas. Jadi seperti ini rasanya menunggu kabar bahagia itu. Tangannya sampai berkeringat bahkan dia tidak bisa hanya duduk diam saja.


Cukup lama, akhirnya Rara keluar dari kamar mandi. Rara mengenggam alat itu sambil berjalan mendekati suaminya.


"Gimana sayang?"


Rara hanya terdiam tanpa ekspresi.


"Ya sudah tidak apa-apa kalau memang hasilnya negatif," kata Rendi menarik kesimpulannya sendiri dari ekspresi datar Rara.


Sedetik kemudian Rara tersenyum sambil menunjukkan hasil dari alat itu. "Positif."


Senyum Rendi seketika merekah. Dia meraih tubuh Rara dan memeluknya dengan erat. Bahkan setetes air mata bahagia berhasil lolos dari matanya. "Makasih sayang. Aku gak pernah merasa sebahagia ini." Dia kecup puncak kepala Rara berkali-kali.


Rendi mengendorkan pelukannya lalu menghapus air mata bahagia Rara dan hal yang sama juga dilakukan Rara pada Rendi. Sedetik kemudian mereka sama-sama tersenyum.


"I love you..."


"I love you too.."


Rendi mendekatkan dirinya lagi, mencium mesra bibir yang telah menjadi candu itu sebagai ungkapan semua rasa. Semakin hangat, dalam, dan menuntut.


"Kak Rendi makan dulu ya." kata Rara saat Rendi melepaskan pagutannya.


"Iya, kita makan dulu. Kamu jangan sampai telat makan." Rendi menggandeng tangan Rara menuju meja makan. "Mulai sekarang kamu jangan capek-capek. Harus jaga kondisi. Nanti sore kita langsung periksa ke klinik."


Rendi yang biasanya memang sudah perhatian, kini semakin perhatian. Dia membantu Rara duduk lalu mengambilkan makanan untuknya.


"Kak Rendi makan saja. Biar aku ambil sendiri."


"Mulai sekarang aku yang harus manjain kamu, bukan kamu yang manjain aku."


Rara tersenyum. Dia kini mulai makan sambil sesekali menatap suaminya yang juga mengisi piringnya dengan nasi. Tapi hanya beberapa suap, Rendi sudah menghentikan makannya.


"Kak, dihabiskan."


"Iya, sebentar." gerak Rendi semakin slow motion.

__ADS_1


Merasa tidak tega Rara mengambil sendok yang ada di tangan suaminya dan mulai menyuapinya. "Kak Rendi itu harus makan yang banyak. Aku juga gak mau Kak Rendi sakit."


Rendi tersenyum lalu menerima suapan demi suapan. Memang terbalik, harusnya Rara yang bersikap manja buka malah Rendi. Tapi mau bagaimana lagi, selama tiga hari ini dia hanya makan dari tangan Rara.


"Makasih sayang. Harusnya aku yang manjain kamu, bukan malah kebalik gini." Rara meletakkan sendok di atas piring yang telah kosong.


"Sama aja, Kak." Rara mengambilkan minum untuk Rendi. Lalu dia bergegas untuk membereskan terlebih dahulu piring-piring kotor.


"Sayang, udah biarkan dulu. Nanti aku aja."


"Gak papa Kak. Aku itu gak papa."


"Nggak." Rendi justru meraih tubuh Rara agar duduk di pangkuannya. "Ibu hamil gak boleh kecapekan."


"Ini kan cuma kerjaan kecil. Biasa aku kerjakan sehari-hari."


"Aku maunya manjain kamu."


"Kan, Kak Rendi yang gak enak badan jadi aku saja yang manjain Kak Rendi."


Rendi justru tersenyum. Dia sangat bersyukur telah menemukan Rara dalam hidupnya.


"Kak, kalau seandainya aku kembali gemuk seperti dulu apa Kak Rendi masih cinta sama aku?" tanya Rara sambil memainkan kancing atas kemeja Rendi. Karena dia sadar diri, nafsu makannya naik pesat akhir-akhir ini.


"Kamu tanya apa sih? Ya jelas masih cinta dong. Kamu itu wanita terbaik yang ada dalam hidup aku. Kalau mau makan, jangan ditahan. Makan aja semau kamu. Biar kamu dan calon anak kita sehat."


Rara mengangguk lalu melingkarkan tangannya di leher Rendi.


Sedetik kemudian mereka saling berciuman. Menyalurkan semua rasa cinta dan kasih sayang yang tidak hanya diungkapkan dengan kata-kata.


"Udah dua hari gak main. Main yuk?" ajak Rendi dengan wajah yang sudah dipenuhi gairah.


Rara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Dengan gerak halus, Rendi menggendong Rara menuju kamar mereka. Dia turunkan secara perlahan tubuh itu di atas ranjang.


Mereka ciptakan hawa panas di kamar itu. Mulai menyusuri kenikmatan yang tak terhingga dengan gerakan pelan dan berirama. Lenguhan saling bersahutan. Mengekspresikan semua rasa tanpa malu lagi dengan keringat yang menyatu dari kedua badan polos mereka yang saling berhimpitan.


"I love you, Ra."


"I love you too..."


💞💞💞


.


.


.


Duh, manisnya mereka... 🥰

__ADS_1


Tinggalkan jejak kawan, biar author semakin semangat.. 😘


__ADS_2