Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Pendengar Setia


__ADS_3

"Siapa yang buat keributan di sini?" Suara keras Pak Eza seketika membuat seluruh orang yang berada di dalam teater terdiam.


"Maaf Pak Eza. Saya tidak bisa mencegah keributan ini." Kata Bu Isti sambil menundukkan pandangannya.


Pak Eza berjalan mendekati Clarissa. "Kamu yang buat keributan di sini?"


"Tidak Pak. Saya cuma..."


"Jangan banyak alasan. Mulai sekarang tidak boleh terjadi perundungan lagi di sekolah ini." ucap Pak Eza dengan tegas. "Sebagai hukuman kamu, kamu bersihkan semua toilet perempuan. Sekarang!"


"Pak Eza siapa? Berani hukum saya." Perkataan Clarissa semakin membuat Pak Eza marah. Berani sekali dia berbicara tidak sopan terhadap guru.


"Loh, saya guru dan kamu murid! Kamu harus patuh dengan perintah dan tata tertib sekolah ini! Kerjakan sekarang! Atau hukuman kamu saya tambah!!"


Clarissa berdengus kesal. Dia kini membalikkan badannya dan keluar dari ruang teater bersama kedua sahabatnya.


"Cuma gara-gara Andini gue jadi kena hukum. Lagian siapa sih Pak Eza berani-beraninya hukum gue!" Sambil berjalan ke toilet Clarissa terus mendumel.


"Lo berdua bersihin toilet! Gue mau nunggu di depan." Suruh Clarissa pada Nova dan Sasa.


"Loh, kok kita sih?!"


"Kenapa?! Mau melawan gue juga!!"


Mereka berdua terpaksa mengerjakan hukuman Clarissa. Sedangkan Clarissa kini justru memainkan ponselnya dan menghubungi Papanya.

__ADS_1


"Hallo, Pa. Clarissa dapat hukuman di sekolah."


"Siapa yang berani hukum kamu?"


"Pak Eza, Pa. Guru baru di sini."


"Pak Eza? Kamu melakukan kesalahan apa?"


"Aku cuma iseng, Pa. Lagian Pak Eza siapa sih sampai berani hukum aku."


"Ya sudah kamu kerjakan saja hukumannya. Papa lagi sibuk ya.." Kemudian panggilan itu diakhiri oleh Papa Clarissa.


"Papa! Ih. Kayaknya Pak Eza bukan orang sembarangan. Gue harus hati-hati." Clarissa melipat tangannya sambil berdiri di dekat toilet.


...***...


"Pak Eza, ada perlu apa?" tanya Pak Budi selaku penjaga ruang kontrol cctv di sekolah itu.


"Bisa tolong cek cctv di depan ruang teater, kira-kira 15 menit yang lalu."


"Oke." Pak Budi segera mengerjakan perintah Pak Eza. Dia menunggu beberapa detik video itu berjalan.


"Stop Pak!" Terlihat Andini keluar dari ruang teater sambil berlari. "Tolong telusuri kemana gadis itu pergi."


"Iya Pak." Pak Budi segera menghubungkan beberapa kamera yang mengintai arah langkah kaki Andini. "Sepertinya dia mengarah ke gudang belakang yang sudah tidak terpakai."

__ADS_1


"Gudang belakang? Di sana ada cctv?"


"Tidak ada, Pak. Soalnya cctv di sana seringkali terkena petir."


"Oke. Bagus. Oiya, boleh saya minta tolong."


"Iya Pak? Pasti saya bantu dengan senang hati."


"Tolong kumpulkan semua video tentang perundungan di sekolah ini lalu kirim ke e-mail saya."


"Bapak mau mengusut masalah ini? Bagus Pak. Selama ini tidak ada yang berani menangani kasus perundungan yang seringkali terjadi di sekolah ini."


Pak Eza menepuk bahu Pak Budi. "Segera Bapak cari ya..."


"Siap, Pak."


Pak Eza segera keluar dari ruang kontrol lalu menuju kantornya terlebih dahulu untuk mengambil blazernya. Setelah itu dia berjalan santai menuju gudang belakang agar tidak ada yang mencurigainya.


Sampainya di gudang, dia masuk dan menatap kelu pada seorang gadis yang sedang menangis terisak. Dia berjalan perlahan lalu memakaikan blazernya ke tubuh Andini untuk menutupi pundaknya.


Andini menghentikan tangisnya. Dia tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang memakaikannya blazer. Dia kini mendongak dan menatapnya. "Pak Eza?"


Pak Eza tersenyum lalu dia kini duduk di sebelah Andini. Tangannya terulur untuk menghapus sisa-sisa air mata Andini. "Jangan menangis lagi ya. Kalau butuh apa-apa, kamu bilang sama aku. Atau mungkin kamu butuh seseorang untuk berbagi cerita, aku bisa jadi pendengar setia buat kamu."


Sudah begitu lama Andini tak mendengar kalimat itu. Pendengar setia buat kamu. Ya, terakhir kali dia mendengar kalimat itu lebih dari satu tahun yang lalu yaitu dari ibunya saat masih hidup dan sekarang dia bisa mendengarnya lagi dari Pak Eza. Andini kembali menangis lagi. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu boleh nangis sepuasnya biar perasaan kamu lega." satu rengkuhan kini berhasil membuat kepala Andini bersandar di pundaknya.


Ingin Andini menolak, tapi rasa ini terlalu nyaman...


__ADS_2