Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Berapa Tarif Lo?


__ADS_3

"Masih ngantuk gak?" tanya Eza sambil mengendarai mobil pagi hari itu menuju sekolah.


Andini malah tersenyum mengingat petualangannya bersama Eza semalam.


"Kok malah senyum? Hah, rasanya ingin balik aja ke apartemen lagi."


Satu cubitan kini mendarat di pinggang Eza. "Mas, aku udah gak masuk dua hari."


"Bercanda sayang. Kan kamu memang sakit kemarin."


"Iya, sakitnya gara-gara Mas Eza."


Eza semakin terkekeh. Dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan cinta Andini secepat ini. Kini hidupnya terasa sempurna dengan adanya Andini yang akan selalu di sisinya.


Eza menghentikan mobilnya beberapa meter sebelum sekolah seperti biasanya.


Setelah mencium punggung tangan Eza dan mendapatkan satu kecupan di keningnya, Andini bersiap untuk turun.


"Gak ada yang ketinggalan kan?"


"Gak ada Mas." kata Andini sambil turun lalu kembali menutup pintu mobil. Dia melangkahkan kakinya menuju sekolah. Setelah melewati gerbang sekolah, dia masih bisa melihat Eza yang berdiri di depan mobilnya sambil mengawasinya.


Andini berjalan sedikit cepat. Saat melintasi lorong dia justru berpapasan dengan Irvan.


"Andini, lo kemarin ada apa sama Pak Eza?"


Andini menoleh Irvan sesaat lalu kembali meluruskan pandangannya lagi. "Gue kemarin lagi gak enak badan."


"Oiya, lo kemarin katanya masuk rumah sakit. Sakit apa?"


"Asam lambung gue kambuh."


"Sekarang udah sembuh kan?"


Andini hanya mengangguk.


"An, nanti sepulang sekolah jalan yuk? Ada yang mau gue omongin sama lo."


"Maaf, gue gak bisa." kata Andini sambil mempercepat langkahnya masuk ke dalam kelas. Dia tidak mau terjadi salah paham antara dirinya dan Eza lagi.


"Yang habis jalan sama Pak Eza, udah masuk sekarang."


Andini tak menanggapi omongan Clarissa. Dia kini duduk di bangkunya.

__ADS_1


"Irvan, lo masih aja deketin Andini. Asal lo tahu ya, Andini itu cewek BO. Kalau lo mau deketin Andini, lo harus bayar lah. Kan dia pasang tarif."


Masih pagi, tapi emosinya sudah terpancing. Dia sampai harus menggedor mejanya cukup keras. "Clarissa! Jaga ya omongan lo!"


"Emang bener kan! Gue akan buktiin kalau lo itu memang cewek gak bener. Kemarin aja mau digandeng Pak Eza kayak gitu. Kalah start lo Irvan pasti Pak Eza udah bayar Andini duluan."


"Lo mau cari bukti apa? Bukti pembayaran gue! Mana ada! Lagian, kalau gue dekat sama Pak Eza atau cowok lain pun bukan urusan lo! Gue juga gak ngerugiin siapa pun dan gue juga bukan perebut laki orang!!"


"Andini jadi lo benar ada hubungan sama Pak Eza?" tanya Irvan yang kini telah berdiri di dekat meja Andini.


Andini mendongak menatap Irvan. Ingin dia menjawab iya tapi sepertinya ini bukan saatnya. "Gak ada. Bukan kayak gitu maksud gue."


Irvan menatap Andini curiga. Sepertinya ada kalimat yang tertahan di bibirnya karena bel masuk sudah berbunyi jadi dia harus segera duduk di bangkunya.


Sampai jam istirahat, Andini masih di dalam kelas. Bahkan ajakan Rara untuk ke kantin pun dia tolak. Dia tidak mau bertemu dengan mereka yang akan menuduhnya yang bukan-bukan.


"Andini, lo gak lapar? Kita ke kantin yuk?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Gue bawa bekal roti sandwich. Lo mau?" Andini mengeluarkan kotak bekal yang ada dalam tasnya.


"Tumben banget lo bawa bekal?"


"Iya, soalnya asam lambung gue kemarin kambuh jadi gak boleh sampai telat makan." jawabnya. Sebenarnya bekal itu adalah paksaan dari Eza. Bahkan Eza sendiri yang membuatkan untuknya. Uh, manisnya. Seulas senyum mengembang saat akan melahap roti itu.


"Lo kenapa senyum-senyum gitu?"


"Makasih ya? Lo yang buat?" tanya Rara sambil mengambil satu sandwich dari kotak bekal Andini.


"Iya."


"Eh, Din. Lo sebenarnya ada hubungan apa sama Pak Eza? Gue kemarin lihat sendiri sih waktu Pak Eza narik lo. Kayaknya sih ya dari pengamatan gue liat ekspresi Pak Eza waktu itu Pak Eza cemburu liat lo sama Irvan?"


Andini tak menjawabnya, sebenarnya dia gak bisa berbohong sama Rara.


"Ya udahlah, kalau lo emang ada hubungan spesial sama Pak Eza kan gak papa. Namanya juga manusia, kalau udah saling jatuh cinta ya gimana lagi. Yang penting gak jatuh cinta sama suami orang aja."


Andini tersenyum lalu memeluk Rara. "Makasih ya, lo emang sahabat gue yang paling pengertian. Gak kayak mereka yang selalu mikir buruk soal gue." Andini melepaskan pelukannya. Dia memang sudah bersahabat dengan Rara selama hampir 3 tahun ini.


"Jadi bener dong lo sama Pak Eza itu ada hubungan spesial?"


Andini mengangguk pelan. "Ih, pantesan lo gak mau lagi di deketin Irvan. Padahal kan Irvan crush lo dari dulu."


"Dulu Ra. Tapi Irvan deketin gue kan karena gue udah berubah. Coba aja kalau gue masih jelek kayak dulu, pasti dia gak bakal deketin gue."

__ADS_1


"Iya sih. Tapi lo hati-hati sama Irvan. Gue kemarin sempat dengar waktu dia cerita sama teman-temannya, dia bakal dapatin lo dengan cara apapun. Dia gak mau kalah saing sama Pak Eza."


Dapatkan dengan cara apapun? Andini tidak akan tergoda oleh siapapun selain pesona Eza.


...***...


Sepulang sekolah, dia memutuskan untuk menunggu Eza di dekat gerbang sekolah karena sekolah memang sudah mulai sepi saat itu. Dia berjalan perlahan.


Sebelumnya, dia memang sudah mendapat pesan dari Eza untuk menunggunya beberapa saat karena dia masih ada rapat dengan kepala sekolah.


Andini menghentikan langkahnya di pinggir jalan. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti. Pemilik mobil itu keluar dan menarik tangan Andini dengan kasar.


"Irvan! Lepasin! Mau apa sih lo!"


"Ikut gue! Ada sesuatu yang mau gue omongin please!!" Irvan terus menarik tangan Andini.


"Nggak!! Gue mau pulang."


Irvan menarik paksa Andini dengan mencekal kedua tangannya hingga dia berhasil dibawa masuk ke dalan mobil.


"Pak cepat jalan Pak!"


"Irvan lepasin gue!!" Andini berusaha dengan sekuat tenaga melepas cekalan kedua tangan Irvan. Tapi tenaganya masih kalah besar dengan Irvan. "Lo mau apa sih?!"


"Nanti lo bakal tahu apa yang gue mau!!"


"Ini penculikan! Gue bisa laporin lo!!" Andini berusaha memberontak.


"Gue terpaksa lakuin ini karena lo gak mau gue ajak jalan! Lo selalu nolak gue!"


"Karena gue gak suka sama lo!"


"Terus lo suka sama Pak Eza!"


"Bukan urusan lo!"


"Berhenti Pak!" Irvan menyuruh sopirnya menghentikan mobilnya di dekat sebuah gudang kosong.


"Irvan lo mau apa?!" Andini terpaksa mengikuti tarikan Irvan.


Irvan terus menarik paksa Andini sampai masuk ke dalam sebuah gudang yang kosong. Lalu dia mengungkung Andini dalam kendalinya.


"Lepasin!!" Andini berusaha mendorong dada Irvan. Tapi lagi-lagi dia kalah dengan tenaganya.

__ADS_1


"Berapa tarif lo di dunia nyata? Angel?"


Andini melebarkan matanya. Darimana Irvan tahu tentang Angel?


__ADS_2