Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Makin.. Makin..


__ADS_3

"Sayang, bagaimana honeymoon nya?" tanya Bu Sonya menyambut kedatangan Eza dan Andini di rumahnya.


Setelah sampai di bandara, sopir mereka memang langsung menuju rumah orang tua Eza karena permintaan Bu Sonya yang ingin makan bersama dengan mereka setelah pulang liburan.


"Seru, Ma." jawab Andini setelah mencium tangan Bu Sonya dan Pak Handoko.


"Seru? Padahal di sana cuma pindah tidur." Eza terkekeh sambil berlalu yang membuat bibir Andini mengerucut.


"Ih, Mas Eza."


"Iya kah? Di sana sejuk ya, emang nyaman banget buat tidur. Ya sudah, kamu ke kamar dulu, sebentar lagi kita makan siang."


"Iya, Ma." Andini melangkahkan kakinya menyusul si suami yang telah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Rupanya Eza sedang berada di kamar mandi.


Andini duduk di tepi ranjang. Dia pijit pelipisnya yang sedari tadi terasa pusing sejak naik pesawat. Sepertinya Andini masih belum terbiasa berpergian naik pesawat, dia hanya terbiasa diajak terbang oleh Eza. Terbang yang membuat dia mabuk kepayang pastinya.


"Sayang masih pusing?" tanya Eza yang melihat Andini masih saja memegangi kepalanya setelah keluar dari kamar mandi.


"Iya, Mas. Tapi udah gak terlalu kayak tadi."


"Aku suruh Buk Sri buat air jahe ya. Kayaknya kamu mabuk naik pesawat."


"Iya, Mas."


Eza keluar dari kamar sedangkan Andini menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu berganti pakaian dengan yang lebih nyaman.


Setelah selesai dia kini merebahkan dirinya di atas ranjang sambil menarik selimutnya.


"Sayang, kata Eza kamu pusing?" tanya Bu Sonya ketika masuk ke dalam kamar Eza sambil membawa secangkir jahe hangat. "Ini diminum dulu biar enakan."

__ADS_1


Andini bangun lalu bersandar di headboard. "Maaf Ma, jadi merepotkan." kata Andini sambil mengambil cangkir jahe dari tangan Bu Sonya.


"Tidak apa-apa sayang. Biasanya kalau memang tidak pernah naik pesawat bisa terasa pusing dan mual. Mama aja sampai sekarang kalau ke luar negeri masih sering pusing."


Andini mulai meneguk minuman jahe itu yang terasa sangat hangat melewati kerongkongannya.


"Kamu makan dulu ya?"


Andini menggelengkan kepalanya. "Nanti aja ya Ma. Mau istirahat dulu."


"Ya sudah, nanti biar disiapkan Eza ya." Kemudian Bu Sonya keluar dari kamar sedangkan Andini kini kembali merebahkan dirinya. Dia mulai memejamkan mata.


Cukup lama sampai hampir dua jam. Dia mulai membuka mata saat merasakan ada tangan yang merengkuh tubuhnya.


"Udah bangun?" tanya Eza yang sedari tadi dia hanya menemani Andini tanpa tertidur. "Gimana? Udah gak pusing?"


Andini menggelengkan kepalanya.


"Sebentar Mas." Andini kini justru menenggelamkan diri di dada Eza. "Nyaman banget rasanya."


Eza tersenyum simpul sambil mengusap lembut rambut Andini. "Sayang, makan dulu ya. Baru nanti lanjut tidur lagi."


Andini menganggukkan kepalanya. "Makan diluar aja Mas. Gak usah diambilin."


"Oke, yuk."


Mereka beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ruang makan.


...***...

__ADS_1


Keesokan harinya Andini dan Eza belum juga pulang ke apartemen. Mereka memutuskan kembali ke sana setelah pulang dari undangan makan malam dari teman relasi kerja Eza.


Baru kali ini dia mengajak Andini untuk memenuhi undangan itu. Biasanya Eza tidak pernah hadir, selalu diwakilkan Papanya atau Rendi. Kali ini dia juga ingin mengenalkan pada dunia bisnisnya bahwa dia sudah memiliki istri yang cantik.


"Cantik banget." kata Eza yang melihat Andini telah siap dengan gaun warna silver yang senada dengan blazer yang dia pakai.


"Iya, tadi dibantu Mama dandan."Jawab Andini yang masih saja menatap dirinya di cermin sambil berdiri. Lagi-lagi dia melihat bagian dada yang terkesan terlalu rendah.


"Sayang, ini kamu tambah padat dan berisi gini. Lambai-lambai terus ingin disinggahi."


"Iya, ini gaunnya terlalu rendah."


"Bukan." Eza semakin mendekat dan mengusap lembut kedua gundukan yang terlihat semakin menonjol keluar. "Ini kamu yang makin-makin."


Seketika wajah Andini memerah apalagi saat Eza justru menenggelamkan diri di atas dadanya. Menyapunya lembut dengan bibirnya.


"Ih, Mas Eza katanya mau berangkat."


Eza tersenyum lalu mendongakkan kepalanya. "Jadi pengen minum susu dulu."


Andini hanya tersenyum kecil. Suaminya itu semakin hari rasanya semakin nakal saja.


"Malam ini ya?" Satu kecupan singkat mendarat di pipi Andini. "Sekarang kita berangkat. Oiya, kamu pakai cardigan yang ada kancing atasnya aja. Di sana banyak om-om hidung belang nanti bisa ngiler lihatin kamu." Eza beralih menuju almari dan mencari cardigan yang cocok untuk Andini.


"Yang warna hitam aja Mas, biar netral."


Eza mengambil cardigan warna hitam yang ditunjuk Andini lalu membantu memakaikan ke tubuhnya. Dengan mengancing dua kancing atas agar bagian dada itu tertutupi.


"Gini kan gak ada yang lihat. Ini cuma milik Eza seorang." Eza merengkuh tubuh istrinya dan mengajaknya keluar dari kamar.

__ADS_1


Andini hanya tersenyum mendengar kalimat suaminya yang semakin lama semakin posesif itu.


__ADS_2