
"Mas, nanti pulang jam berapa?" tanya Andini sambil memasangkan dasi pada Eza meski sekarang cukup sulit karena sudah terhalang oleh perut yang semakin membesar.
"Kayaknya sore. Kenapa?" Merasakan perut Andini yang semakin menekan perutnya dia mengambil alih dasi dari tangan istrinya. "Sayang, udah biar aku pasang sendiri aja. Kasian dedeknya kegencet."
Andini tersenyum lalu melepaskan tangannya, dia kini beralih duduk di sisi ranjang sambil memegang pinggangnya yang terasa semakin pegal di usia kandungannya yang telah memasuki 7 bulan.
"Aku ada resep baru Mas. Nanti aku masakin ya buat makan malam."
Setelah selesai memasang dasinya dia kini berjongkok sambil menciumi perut Andini. "Iya tapi kalau capek jangan dipaksain ya. Pinggang kamu udah sering pegal kan?"
"Gak papa Mas. Mumpung gak kuliah. Nanti juga pasti dibantuin sama Bi Sum."
"Ya sudah, pokoknya jangan lupa istirahat yang teratur." Eza mengusap perut Andini yang seketika langsung merasakan tendangan cukup kuat dari dalam. "Makin aktif aja. Beberapa minggu lagi kita udah ketemu. Duh, udah gak sabar. Sehat-sehat ya sayang." Eza kembali menciumi perut Andini yang semakin terasa bergerak aktif seolah merespon sentuhan dari Ayahnya.
Dia kini berdiri lalu mencium kening istrinya. "Berangkat dulu ya."
"Iya Mas hati-hati." Andini mencium punggung tangan suaminya lalu dia berdiri dan mengantar sampai pintu rumah dengan bergelayut manja di lengannya.
Setelah suaminya berangkat, Andini kini duduk bersama ibu mertuanya sambil mengobrol dan makan cemilan. Begitulah keseharian Andini saat tidak masuk kuliah, kalau tidak beroperasi di dapur ya istirahat.
...***...
"Sayang, maaf ya mama jadi gak bisa ikut makan malam sama kamu. Tapi Mama sudah habis satu piring masakan kamu. Enak banget, Eza pasti suka." Sore itu, Bu Sonya memang sudah bersiap untuk menghadiri acara makan malam bersama teman Pak Handoko.
"Iya Ma, tidak apa-apa."
"Eza pasti bentar lagi pulang." Bu Sonya mencium kedua pipi Andini. "Bi Sum temani Andini ya." pesannya sebelum berangkat.
"Iya, Nyah."
"Hati-hati ya Ma."
"Iya sayang."
Andini dengan semangat menata masakannya di atas meja.
__ADS_1
"Biar saya aja. Bu Andini duduk saja."
"Tidak apa-apa, Bi. Bi Sum tolong ambil piring saja ya."
Setelah semua siap, kini Andini berganti pakaian dan sedikit berdandan. Tidak apalah dinner di rumah yang penting bisa sangat berkesan.
Andini kini duduk di sofa depan menunggu Eza datang. Cukup lama, sampai akhirnya Andini mencoba menghubungi suaminya tapi nomornya tidak aktif. "Mas Eza kemana sih? Udah jam 7 belum pulang. Hpnya juga gak aktif."
Andini mulai menekuk wajahnya. Satu jam telah berlalu. Kini Andini berdiri dan berjalan menuju kamar.
"Bu Andini tidak makan dulu?" tanya Bi Sum yang melihat Andini justru akan masuk ke dalam kamar sambil cemberut.
Andini hanya menggelengkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Dia merasa kesal dengan suaminya. Kalau memang tidak bisa mengapa tidak bilang sedari tadi. Dia tidak perlu capek-capek memasak dan mempersiapkan semuanya.
Andini berganti pakaian dengan daster longgarnya. Lalu dia tidur secara perlahan dan memiringkan dirinya di bantal khusus ibu hamil.
Sudah hampir pukul 9, Eza menghentikan mobilnya di depan rumah yang bersamaan dengan mobil kedua orang tuanya.
"Loh, Eza kamu baru pulang?" tanya Bu Sonya saat melihat Eza baru saja keluar dari mobil.
"Eza, kamu lupa kalau ada janji sama Andini. Dia udah masakin kamu loh. Udah nungguin kamu sedari tadi."
Seketika Eza menepuk jidatnya sendiri. Dia benar-benar lupa. Ponselnya juga kebetulan lowbath sedari tadi.
"Eza kalau kamu kuwalahan di kantor bilang sama Papa biar Papa bantu. Kasian kan istri kamu sedari tadi nungguin."
"Iya Pa." Eza bergegas masuk ke dalam rumah. Dia menuju ruang makan, hatinya mencelos saat melihat meja makan yang sudah berhias cantik dan romantis. Tapi istrinya sudah tidak ada di sana.
"Bi, Andini di kamar?"
"Iya. Kasian sedari tadi nungguin Pak Eza sampai tidak mau makan."
Eza menghela napas kasar. Dia kini masuk ke dalam kamarnya. Hatinya semakin bergemuruh saat melihat istrinya sudah tidur sambil meringkuk. Ini salahnya sampai melupakan janjinya tadi pagi, bahkan ponselnya sampai tidak aktif.
__ADS_1
Eza meletakkan tas dan jasnya lalu melepas sepatunya. Dia membersihkan dirinya dengan cepat di kamar mandi setelah selesai dan berganti baju, dia naik ke atas secara perlahan. Mengusap pelan rambut Andini yang membuatnya bergeliat.
"Sayang, maaf ya.."
Andini mengerjapkan matanya sesaat. Dia tahu, kini suaminya sudah pulang. Tapi dia memilih untuk diam dan tidak merubah posisinya.
"Maafin aku. Tadi aku ada meeting dadakan di kantor dan hp aku lowbath."
Tetap tidak ada sahutan dari Andini.
"Kamu makan ya..."
Andini menggelengkan kepalanya, kini bahunya terasa bergetar karena isak tangis.
"Sayang, jangan nangis. Maafin aku." Eza yang berada di belakang Andini mengusap lembut punggung istrinya berusaha untuk meredam emosinya.
"Mas, kalau gak bisa itu bilang. Biar aku gak perlu capek-capek masak. Gak perlu capek-capek nyiapin makan malam buat kita." Akhirnya Andini bersuara.
Ada sedikit kelegaan di dada Eza. Pasalnya setelah seluruh kosakata Andini keluar pasti sebentar lagi mood nya akan mulai membaik. Dia cukup diam saja mengiyakan.
"Badan aku rasanya udah berat buat gerak. Belum lagi pinggang aku rasanya pegal banget Mas kayak mau patah. Mas gak bisa merasakan ini semua kan? Mas Eza dengan mudahnya ingkar janji kayak gini."
Eza hanya menghela napas panjang. Iya, dia mengerti semua itu. Bahkan Eza sudah berulang kali melarang Andini untuk mengerjakan sesuatu termasuk memasak, tapi dia masih kekeh. Dan sekarang di saat Eza melupakan janjinya, si bumil ini langsung merajuk karena rasa capeknya telah sia-sia.
"Iya sayang. Iya. Aku ngerti. Maaf ya." Eza mulai memijat pelan pinggang Andini. "Kamu makan ya? Gak lapar? Kasian baby kita pasti udah lapar."
Andini hanya terdiam.
"Gak papa, kamu mau marah sama aku. Tapi yang penting kamu makan ya. Gak kasihan duo baby kita udah waktunya makan loh." Eza kini mulai mengusap lembut perut Andini.
Sejujurnya Andini memang sudah merasa lapar sedari tadi. Sampai perutnya berbunyi yang membuat Eza tersenyum kecil.
"Tuh, kan lapar. Ayo makan sama aku. Aku juga belum makan. Mau makan di kamar atau diruang makan aja?"
Kini hati Andini mulai melunak. "Diluar aja Mas. Tapi aku udah pakai daster tidur."
__ADS_1
"Gak papa. Kamu tetap cantik. Sini aku bantu." Eza membantu Andini bangun lalu menuntunnya keluar dari kamar dan duduk di meja makan.
Makan malam yang sempat tertunda itu akhirnya terlaksana. Eza kini justru melayani Andini seperti seorang waiters. Andini mulai mengembangkan senyumnya melihat tingkah suaminya itu.