Gadis Bertopeng

Gadis Bertopeng
Sejuta Cinta Untuknya


__ADS_3

"Iya, tidak, iya, tidak.."


Hampir semalaman Andini tidak bisa tidur. Dia memikirkan jawaban dari lamaran Eza yang menurutnya tidak masuk akal itu. Di sisi lain dia memang belum mencintai Eza tapi di sisi lain ini adalah kesempatannya untuk benar-benar bisa merubah hidupnya. Hidup bagai seorang putri di negeri dongeng.


Sempurna!!


Andini pasti akan mendapatkan semua yang dia inginkan. Kehidupan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. Tentu saja, mendapatkan seseorang seperti Eza yang tulus dan baik pasti sangat sulit. Hanya untuk Andini, Eza datang dan menawarkan sejuta cinta untuknya.


"Besok aku akan bicara dulu sama Arjuna dan tante."


Entah pukul berapa Andini akhirnya memejamkan matanya. Sampai matahari muncul dan bersinar terang, Andini tak juga bangun.


Ada sebuah sapuan dingin yang terasa di pipinya. Andini mengerjapkan mata beberapa saat.


"Bangun princess. Udah siang."


Sebuah tangan yang dingin kini menangkup di pipinya dan suara itu berhasil membuat mata Andini terbuka sepenuhnya.


"Pak Eza?" Andini kini duduk dan bersandar di headboard. Lupa jika semalam dia mengizinkan Eza menginap di rumahnya dan memakai kamar sebelah, milik orang tuanya dulu.


"Jam berapa sekarang?"


"Sudah jam 7 lebih. Aku udah izinin kamu ke sekolah untuk tidak masuk selama dua hari. Jadi ditambah weekend total 4 hari. Cukup untuk waktu kamu istirahat." Eza duduk di tepi ranjang.


Andini hanya terdiam. Dia kini justru menatap Eza yang sudah segar dengan rambut yang basah. Aroma harum menguar dari tubuhnya yang begitu sangat memabukkan, sebenarnya, tapi Andini tahan.


"Maaf Pak. Pak Eza pasti semalam kepanasan dan di sini juga banyak nyamuk."


"Justru aku kedinginan di sini. Apalagi airnya dingin banget."


Lagi-lagi Andini hanya menatap Eza sambil menggigit bibir bawahnya. Dia ingin bicara sesuatu tapi tertahan. Tidak tahu harus dimulai darimana.


"Kenapa? Mau ke kamar mandi?" tanya Eza yang bisa menangkap wajah gelisah Andini.


Andini menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lalu?"


"Hmm, soal jawaban kemarin..." perkataan Andini menggantung di udara.


Eza tersenyum. Dia tidak mengira akan mendapat jawaban sepagi ini dari Andini.


"Iya, saya setuju." Andini mempercepat kalimatnya.


"Are you sure? Kamu menerima lamaran aku?" tanya Eza memastikan. Memang harusnya tidak terburu seperti ini, berdasarkan urutan harusnya mereka melalui tahapan pacaran dulu, tunangan, lalu menikah. Tapi tidak untuk Eza, lebih baik Eza mengikat Andini secara resmi. Tunggu apalagi. Bahkan tidak melamar Andini secara romantis. Soal romantis nanti saja ketika mereka sudah menikah.


Andini menganggukkan kepalanya.


Seketika Eza memeluk Andini dengan gerak spontan dari tubuh karena rasa bahagianya.


"Hmm, Pak tapi ada satu syarat." Andini mendorong Eza agar melepas pelukannya.


"Oke. Apa?" Eza melepas pelukannya dan masih menatap lekat Andini.


"Saya memang setuju menikah sama Pak Eza. Tapi hmm, setelah menikah saya masih belum siap.. Kalau harus.. Kalau harus... Itu.. Hmm, itu.."


"Lalu apa? Pak Eza kan..."


"Mas Eza." pungkasnya. "Titik. No debat."


Andini hanya terdiam sambil menelan salivanya beberapa kali membayangkan panggilan nama baru itu. Mas Eza? Meskipun dia telah terbiasa memanggilnya Mas Hans sebelumnya tapi untuk kali ini terasa menggelitik. Entahlah, apa karena Andini mengenal Eza sebagai gurunya di sekolah hingga membuatnya terbiasa memandang Eza sebagai guru matematika.


"Ya sudah. Biar aku hubungi Rendi buat ngurus surat-surat kita. Dua hari lagi kita akan menikah."


"Dua hari lagi?" Andini melebarkan matanya. Dia sangat terkejut. Dia tidak pernah mengira akan menikah secepat itu. "Apa tidak terlalu cepat. Aku belum bilang Juna sama tante."


"Soal itu gampang. Nanti kamu tinggal telepon. Lalu biar besok mereka ke sini. Saya pesankan travel."


"Ta-tapi Pak. Eh, Mas. Aku belum siap apa-apa."


"Biar aku yang menyiapkan semua."

__ADS_1


Andini menyerah. Dia iyakan saja semua mau Eza.


"Sekarang kamu mau apa? Ke kamar mandi?"


Andini menganggukkan kepalanya. "Biar aku jalan sendiri saja. Kayaknya udah gak sakit."


"Jangan dulu. Tunggu sehari lagi ya. Udah gak sakit kan karena kamu udah minum obat." Setelah mengambil bathrobe, Eza meraih tubuh Andini lalu menggendongnya dan berjalan keluar dari kamar.


Andini mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan termasuk dapur. Rapi dan bersih. "Siapa yang bersihkan Pak? Eh, Mas." Masih saja Andini belum terbiasa memanggil Eza dengan sebutan Mas.


"Calon suami kamu," kata Eza sambil mengulum senyum. Dia memang sudah bangun beberapa jam yang lalu untuk beberes rumah terlebih dahulu. Meskipun seorang CEO, tapi dia juga bisa mengurus pekerjaan rumah karena dia memang sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil.


"Mas Eza? Ya ampun gak perlu repot-repot, biar aku aja. Mas Eza juga pasti gak biasa kan ngerjain hal kayak gini."


Eza menurunkan Andini di dalam kamar mandi dekat bak air. Dia kini menatap wajah Andini yang bersemu merah. Mendengar Andini memanggilnya Mas saja benar-benar sudah membuatnya begitu bahagia. "Aku udah biasa. Malah sejak kecil aku terbiasa hidup mandiri. Kedua orang tua aku sering ke luar negeri sampai beberapa hari bahkan berbulan-bulan."


Satu hal lagi yang baru Andini tahu tentang Eza. Dia memang lelaki yang sempurna. Harusnya dia bahagia bisa mendapatkan cinta Eza dengan sangat mudahnya. Tapi untuk saat ini rasanya semua terlalu cepat baginya.


"Yang belum biasa buat aku itu melakukan ini." Dengan durasi yang cepat dan akurat, Eza mengecup singkat bibir Andini yang sedikit terbuka.


Andini terkesiap. Dirinya bagai tersengat listrik tegangan tinggi. Tapi tidak membuatnya pingsan. Justru membuatnya mematung dan hanya bisa menatap Eza yang kini tersenyum miring sambil berjalan keluar dari kamar mandi lalu menutup pintu.


Andini meraba bibirnya. Gawat! Eza mulai berani sekarang. Dia khawatir, justru dirinya akan tergoda, terbuai, dan terlena oleh perlakuan dan ketampanan Eza.


Ayolah Andini, apa yang perlu dikhawatirkan. Eza itu sempurna. Dambaan setiap wanita. Balas cinta dia dan hidup kamu akan bahagia. Mudah kan?


Ya mudah memang.


Andini masih termenung beberapa saat. Dia baru ingat akan satu hal.


Orang tua Mas Eza gimana? Apa mereka akan merestui pernikahan ini?


Andini menjadi berpikir yang tidak-tidak. Dia jadi teringat dengan film-film tentang cinta yang tidak direstui hanya karena kesenjangan sosial. Apa orang tua Eza termasuk dalam kategori yang membedakan status dan pilih-pilih calon menantu dari bibit bebet dan bobotnya.


Setelah terbang ke awan, tiba-tiba dia sekarang merasa terhempas ke bumi memikirkan fakta sebenarnya yang dikaitkan dengan dugaan sementara Andini.

__ADS_1


Semoga saja itu hanya ketakutan semata...


__ADS_2