
Malam harinya, Andini masih saja melamun. Dia tak juga memejamkan matanya walau sudah tidur di atas ranjang. Dia masih saja membayangkan Pak Eza yang ternyata adalah Hans.
Merasa malu. Tentunya. Selama ini hanya Hans yang berhasil menggodanya hingga melakukan itu tanpa harus acting.
"Kenapa bisa bertemu dengan orangnya secara langsung sih?! Jangan sampai Pak Eza nyamar lagi jadi Hans."
Andini mengambil ponsel khususnya lalu mengaktifkannya. Menunggunya beberapa saat, ada banyak pesan masuk. "Untunglah gak ada pesan dari Hans, eh Pak Eza."
Andini melihat siapa saja yang mengirimkan pesan untuknya. Jempolnya berhenti di salah satu nama, "Putra?" Andini mengernyitkan dahinya. Putra memang salah satu pelanggannya yang beberapa kali melakukan VCS dengannya. Dia terlihat masih muda, dia sama-sama menyembunyikan identitasnya seperti Andini. Memakai topeng penutup mata.
Angel, sudah lama gak lihat kamu. Kangen juga rasanya. Ada waktu ya malam ini buat aku?
Andini membuka pesan itu. Sebenarnya dia malas membuka slot malam itu. Tapi, "Ya udahlah, kayaknya dia juga cuma sebentar."
"Oke, 5 menit lagi ya." Balas Andini. Lalu dia segera mengganti pakaiannya dan berdandan seperti Angel.
Udah aku tf, sekarang ya?
"Oke."
Beberapa saat kemudian video call dari Putra masuk. Andini segera menerima panggilan video itu.
"Angel, kangen sama kamu. Biasanya kamu pasti sibuk. Tumben ini kosong?"
Andini hanya tersenyum manis. Ya, biasanya Hans yang sering mengisi kerja virtualnya ini. Tapi sekarang Hans telah menemuinya di dunia nyata pasti dia tidak akan terlalu memintanya lagi di dunia maya.
Suara napas berat Putra sudah tertangkap ponselnya. Okelah, Putra masih muda pasti gairahnya masih menggebu. Putra juga pernah cerita dia menutupi identitasnya karena dia juga masih sekolah. Sama-sama masih sekolah tentunya. Tapi entah kenapa Andini tidak tergoda dengan dia, hingga dia melakukannya hanya acting belaka. Entah karena terlalu menggebu atau kurang romantis. Yang jelas dia tidak seperti Hans yang selalu berhasil membuatnya tergoda.
Ya ampun, kenapa aku jadi bayangin Hans. Andini, Hans itu ya Pak Eza. Ingat dia guru di sekolah, walau cuma guru samaran.
...***...
"Oke Andini. Kamu balik ke wujud asli ya." Andini berkaca di kamarnya. Dia menyisir rambutnya lalu menguncirnya tanpa poni. Kemudian memakai kacamata bulatnya. Dan tanpa polesan make up. "Begini baru seorang Andini. Berhenti bermimpi menjadi gadis cantik. Kamu bukan dari kalangan orang berduit." Andini masih berkata dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah siap berangkat ke sekolah, dia mengambil tasnya dan segera keluar dari rumah. Tak lupa mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu.
"Untung Pak Eza gak ke sini." Andini bernapas lega karena dia tidak melihat mobil Pak Eza di depan rumahnya. Dia segera berjalan ke tepi jalan untuk mencegat angkutan umum yang lewat.
Tak menunggu lama angkutan umum yang dinanti-nanti akhirnya lewat. Dia menghentikannya lalu segera masuk ke dalam angkutan umum itu. Sepi. Hanya ada seseorang yang berada di pojok sambil menatap ke belakang.
Sejak naik ke dalam angkot, Andini tidak memperhatikan sekitar. Dia hanya fokus pada ponselnya.
"Pagi..." Suara itu berhasil membuat ponsel Andini hampir terjatuh. Dia melihat ke samping, sudah ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Pak Eza kok ada di sini?" tanyanya bingung, dicampur dengan rasa terkejutnya.
Eza hanya mengulum senyumnya.
Andini mulai curiga, jangan-jangan Eza sengaja menyewa angkutan umum itu agar tidak ada yang naik selain dirinya.
"Kenapa dandan gini lagi?" Eza justru bertanya lain pada Andini.
"Kan aslinya memang gini." jawab Andini asal.
Andini tak menjawab. Dia benar-benar sedang berusaha mengalihkan pandangannya.
"Pak Eza kenapa naik angkot? Sengaja?"
"Iya, sengaja. Daripada maksa-maksa kamu kayak kemarin lebih baik naik angkot biar kamu sendiri yang dengan sukarela masuk ke dalam."
Andini hanya berdengus sesaat.
"Kamu kemarin online?" tanya Eza.
Online? Sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Sama siapa?" tanyanya kaku.
__ADS_1
Andini hanya menggelengkan kepalanya.
"Mulai sekarang jangan lagi online kecuali sama aku."
Seketika Andini menoleh. "Kenapa? Bapak bukan siapa-siapa saya. Sebelumnya saya juga seperti ini."
"Oke, aku ngerti. Aku gak bisa maksa kamu."
Keadaan hening sesaat. Hanya ada suara kendaraan yang terdengar. "Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama aku. Aku bisa bantu kamu tanpa kamu harus melakukan pekerjaan itu."
"Saya tidak mau bergantung hidup pada orang lain."
"Oke. Kalau gitu gimana caranya biar aku gak jadi orang lain buat kamu?"
Andini hanya mengernyitkan dahinya.
Sedetik kemudian Eza kembali berkata yang membuat Andini semakin tidak mengerti.
"Kita menikah saja yuk? Biar aku bisa jadi bagian dari hidup kamu."
"Pak, jangan bercanda."
Andini menghela napas lega saat angkutan itu telah berhenti di dekat sekolahnya.
Andini turun dan akan membayar pada sopir itu. "Sudah dibayar mbak."
Andini menatap tajam Eza yang kini juga turun dari angkutan. Dia berdengus kesal. Lalu segera mendahului langkah Eza untuk menyeberang jalan. Untunglah kendaraan tidak terlalu ramai hingga dia tidak perlu berhenti di tengah jalan.
"Andini.." Eza masih saja memanggil Andini.
"Pak, ini di sekolah. Jaga sikap Bapak. Saya tidak mau nanti ada gosip."
"Oke."
__ADS_1
Baru saja Andini menghentikan perkataannya, Clarissa dan kedua temannya sudah menangkap basah mereka berdua.
"Pak Eza, Andini? Kalian berangkat bareng ke sekolah?"